Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
BAB 3
DI BALIK KAIN HITAM
Ketegangan di lantai 47 itu bisa dirasakan seperti listrik statis yang memenuhi udara. Adrian Aratama tidak pernah sekalipun dalam hidupnya merasa kehilangan kata-kata, namun saat ini, ia merasa seolah logika yang ia agungkan sedang ditertawakan oleh kenyataan di depannya.
Ia menatap sosok wanita yang berdiri di tengah ruang rapatnya. Wanita itu mengenakan pakaian yang sangat kontras dengan desain interior kantornya yang ultra-modern. Di tengah dinding kaca dan furnitur monokrom yang mahal, Aisha Humaira berdiri seperti sebuah anomali. Kain hitam yang menutupi wajahnya hanya menyisakan sepasang mata yang, meski tampak tenang, memiliki kedalaman yang sulit diartikan.
"Anda..." Adrian memulai, suaranya lebih tajam dari biasanya, sebuah pertahanan otomatis saat ia merasa kendalinya goyah. "Anda adalah 'A.A'?"
Aisha mengangguk perlahan. Ia tidak bergerak mendekat, menjaga jarak profesional yang sangat tegas. "Benar, Pak Adrian. Saya Aisha Humaira. Saya yang merancang konsep Green Oasis yang Anda setujui minggu lalu."
Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, lalu tertawa pendek—tawa yang tidak mengandung humor sedikit pun. Ia melempar bolpoin Montblanc miliknya ke atas meja eboni dengan bunyi tak yang menggema.
"Sarah," panggil Adrian tanpa mengalihkan pandangan dari Aisha. "Apa ini semacam lelucon atau kampanye branding keberagaman yang tidak aku ketahui?"
Sarah, yang berdiri di dekat pintu, tampak canggung. "Pak, dokumen dan sertifikasi teknis atas nama Aisha Humaira sudah divalidasi. Beliau adalah pemegang lisensi arsitek utama untuk firma yang mengirimkan draf tersebut."
Adrian berdiri. Ia berjalan mengelilingi meja besarnya, melangkah mendekati Aisha. Ia berhenti tepat dua meter di depan wanita itu. Tinggi badan Adrian yang menjulang membuatnya tampak sangat mengintimidasi, namun Aisha tidak mundur satu inci pun.
"Dengarkan saya, Nona Aisha—jika itu memang nama Anda," Adrian menyilangkan tangan di dada. "Proyek Green Oasis adalah proyek senilai ratusan miliar. Ini bukan sekadar membangun taman di atas gedung. Ini adalah integrasi teknologi mutakhir, sistem aerodinamika, dan keberlanjutan. Saya membutuhkan seseorang yang bisa berkomunikasi dengan cepat, bekerja di lapangan yang panas dan kotor, serta bernegosiasi dengan kontraktor-kontraktor kasar yang tidak punya waktu untuk menebak apa yang Anda katakan di balik kain itu."
Aisha menatap tepat ke arah mata Adrian. "Pak Adrian, saya tidak merancang gedung ini dengan wajah saya. Saya merancangnya dengan otak saya. Dan sejauh yang saya tahu, kain ini tidak menutupi sel saraf atau kemampuan kognitif saya untuk memberikan solusi teknis."
Rahang Adrian mengeras. Skeptisismenya bukan sekadar masalah estetika; itu adalah masalah prinsip. "Dalam dunia bisnis saya, transparansi adalah segalanya. Bagaimana saya bisa mempercayai seseorang yang bahkan tidak bersedia menunjukkan identitas visualnya kepada kliennya? Bagaimana saya tahu Anda bukan hanya 'wajah'—atau dalam hal ini, 'topeng'—untuk karya orang lain?"
"Kepercayaan dalam arsitektur dibangun di atas perhitungan beban, efisiensi energi, dan integritas struktur, Pak," jawab Aisha, suaranya tetap lembut namun sekeras baja. "Jika Anda meragukan orisinalitas karya saya, silakan buka halaman 42 dari dokumen teknis yang saya kirim. Di sana ada perhitungan algoritma distribusi beban angin yang saya kembangkan sendiri. Saya bisa menjelaskannya sekarang juga, variabel demi variabel, tanpa melihat catatan."
Adrian menyipitkan mata. Ia merasa tertantang. Selama ini, tidak ada yang berani menjawabnya dengan ketenangan seperti itu. Orang-orang biasanya gemetar atau berusaha menjilatnya. Namun wanita di depannya ini seolah memiliki jangkar yang sangat kuat di dalam dirinya.
"Mari kita bicara jujur," Adrian melangkah selangkah lagi, suaranya merendah, penuh dengan nada meremehkan yang kental. "Anda hidup di dunia yang penuh dengan batasan kuno. Anda harus sholat pada jam-jam tertentu, Anda tidak bisa bersentuhan dengan lawan jenis, dan Anda menutupi diri Anda seolah dunia ini adalah tempat yang haram untuk dilihat. Bagaimana mungkin seseorang yang begitu terikat pada dogma masa lalu bisa menciptakan gedung masa depan?"
Aisha menarik napas panjang. Ia sudah menduga ini. Adrian Aratama adalah representasi sempurna dari ateisme modern yang menganggap agama adalah beban bagi kemajuan.
"Justru karena saya menghargai Sang Pencipta alam semesta, saya sangat menghargai hukum-hukum alam yang Dia ciptakan," balas Aisha. "Gedung masa depan bukan tentang seberapa banyak kaca yang Anda pasang, tapi seberapa efisien gedung itu menghargai lingkungan sekitarnya. Ideologi saya tidak menghambat pekerjaan saya; ia justru memberi saya disiplin. Jika saya bisa disiplin dengan aturan Tuhan saya, maka saya akan jauh lebih disiplin dengan tenggat waktu dan anggaran Anda."
Adrian mendengus. "Kata-kata yang indah. Tapi saya tidak membayar untuk khotbah. Saya membayar untuk hasil."
Ia kembali ke mejanya dan menekan tombol intercom. "Sarah, batalkan semua pertemuan saya setelah ini. Saya ingin Nona Aisha mempresentasikan ulang bab struktur utama sekarang juga. Jika ada satu saja kesalahan logika dalam argumennya, batalkan kontraknya saat ini juga dan bayar biaya pembatalannya."
Adrian menatap Aisha dengan tatapan menantang. "Silakan, Nona Aisha. Buktikan bahwa kain itu tidak menghalangi Anda untuk melihat kenyataan di lapangan."
Aisha berjalan menuju meja rapat besar. Ia mengeluarkan tabletnya dan menghubungkannya ke proyektor ruangan. Cahaya dari layar memantul di mata hitamnya yang jernih. Di ruangan yang dingin itu, ia merasa seperti sedang berdiri di medan perang, namun anehnya, ia tidak merasa gentar.
Selama dua jam berikutnya, ruangan itu berubah menjadi arena perdebatan intelektual yang sengit. Adrian menyerang dengan pertanyaan-pertanyaan teknis yang menjebak—hal-hal yang biasanya hanya dipahami oleh insinyur sipil senior. Ia bertanya tentang koefisien ekspansi termal baja pada suhu ekstrem Jakarta, tentang turbulensi udara di ketinggian 200 meter, hingga masalah logistik pembuangan limbah konstruksi.
Setiap serangan Adrian disambut Aisha dengan jawaban yang presisi. Ia tidak hanya menjawab dengan teori, tapi juga dengan angka-angka yang akurat. Ia menjelaskan bagaimana cadarnya justru membuatnya lebih fokus, karena ia tidak perlu menghabiskan waktu untuk memikirkan pandangan orang lain terhadap fisiknya; ia hanya peduli pada kualitas kerjanya.
Adrian memperhatikan cara Aisha berbicara. Suaranya tidak pernah naik, namun memiliki otoritas yang tidak terbantahkan. Ia juga memperhatikan tangan Aisha yang bergerak lincah di atas layar tablet, menjelaskan diagram-diagram rumit. Tangan itu terbungkus handshock hitam, hanya menyisakan jemari yang bergerak anggun.
Ada sesuatu yang mulai mengusik Adrian. Bukan lagi soal keraguan akan kemampuannya, tapi rasa penasaran yang mulai tumbuh secara tidak logis. Ia terbiasa membaca orang dari ekspresi wajah—senyum palsu, kerutan dahi karena cemas, atau gerakan bibir yang ragu. Namun pada Aisha, ia hanya punya mata itu. Dan mata itu tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
"Cukup," potong Adrian saat Aisha sedang menjelaskan sistem irigasi vertikal.
Aisha berhenti bicara dan menatapnya. "Ada yang salah, Pak?"
Adrian terdiam sejenak. Ia memandangi maket digital di layar, lalu beralih ke sosok wanita di depannya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, egonya harus mengakui sesuatu yang tidak ia sukai.
"Secara teknis... penjelasan Anda tidak bercelah," ucap Adrian dengan nada berat, seolah kata-kata itu sulit keluar dari tenggorokannya. "Tapi saya masih skeptis tentang bagaimana Anda akan menangani orang-orang di lapangan. Konstruksi bukan ruang rapat yang ber-AC, Nona Aisha. Itu adalah tempat yang kasar."
"Saya tahu, Pak Adrian," jawab Aisha sambil merapikan tabletnya. "Dan saya tidak meminta Anda untuk percaya pada saya sekarang. Saya hanya meminta Anda untuk melihat hasilnya. Jika di tengah jalan saya terbukti tidak mampu karena penampilan saya, saya sendiri yang akan mengundurkan diri tanpa menuntut satu rupiah pun."
Adrian menatapnya lama. Skeptisismenya belum hilang, tapi rasa hormat yang enggan mulai merayap di sudut hatinya. "Baik. Kita mulai proyek ini. Tapi ingat satu hal, Nona Aisha: di gedung ini, saya adalah hukumnya. Saya tidak peduli pada waktu sholat atau pantangan Anda jika itu menghambat kemajuan. Anda bekerja di dunia saya sekarang."
Aisha hanya memberikan anggukan tipis. "Saya akan bekerja secara profesional, Pak. Dan insya Allah, Anda akan melihat bahwa dunia saya dan dunia Anda tidak seberseberangan yang Anda pikirkan."
Saat Aisha berjalan keluar dari ruangan, Adrian tetap berdiri di sana, menatap pintu yang tertutup. Ia merasa kesal, tertantang, sekaligus terpesona secara intelektual. Ia belum pernah bertemu dengan teka-teki yang begitu tertutup rapat—baik secara fisik maupun ideologis.
"Cadar itu..." gumam Adrian pelan pada dirinya sendiri. "Apa yang sebenarnya dia sembunyikan? Kejeniusan, atau sekadar dogma yang keras kepala?"
Adrian kembali duduk, namun pikirannya tidak lagi pada dokumen di depannya. Ia baru saja memulai kerja sama dengan seseorang yang merupakan antitesis dari dirinya. Dan jauh di lubuk hatinya, sebuah suara kecil berkata bahwa mulai hari ini, hidupnya yang sempurna dan terukur tidak akan pernah sama lagi.