NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Diam-Diam Pada CEO Cantik

Jatuh Cinta Diam-Diam Pada CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Cintapertama / CEO
Popularitas:750
Nilai: 5
Nama Author: Djginting

gimana kalo cowok pas-pasan kebelet cinta sama bosnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djginting, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PHK

Bima Pradana adalah karyawan biasa yang tidak pernah benar-benar menonjol, kecuali dalam urusan membuat orang lain menghela napas panjang. Ia bukan karyawan terburuk secara teknis, namun juga jauh dari kata baik. Ia kurang rajin, sering datang terlambat, dan memiliki bakat khusus untuk selalu merasa dirinya istimewa tanpa pernah melakukan sesuatu yang benar-benar membuktikannya. Setiap pagi, alarm ponselnya berbunyi tepat waktu, dan setiap pagi pula alarm itu dimatikan dengan keyakinan bahwa lima menit tambahan adalah investasi besar bagi masa depan.

Dalam kepalanya, Bima adalah calon orang sukses yang sedang diuji semesta. Dalam kenyataan, ia hanyalah karyawan yang sering muncul dengan kemeja kusut, napas sedikit terengah karena naik tangga terburu-buru, lalu duduk seolah semua itu adalah bagian dari citra profesional yang disengaja.

“Orang besar itu datangnya selalu terakhir,” gumamnya suatu pagi sambil menekan tombol lift yang sudah lama tertutup.

Ia tidak pernah benar-benar membenci pekerjaannya, namun juga tidak pernah cukup peduli untuk mengerjakannya dengan baik. Waktu kerjanya lebih banyak dihabiskan untuk berkhayal tentang masa depan gemilang yang tidak pernah ia usahakan secara nyata. Dalam khayalannya, ia membayangkan suatu hari nanti orang-orang yang kini duduk sejajar dengannya akan berdiri menyambut kedatangannya.

“Pak Bima sudah datang,” kata seseorang suatu hari, dan semua orang langsung berhenti bekerja.

Sayangnya, khayalan itu selalu buyar setiap kali ia membuka mata dan melihat layar komputer yang sama, meja yang sama, dan gaji yang tidak pernah berubah.

Di kantor lamanya, Bima dikenal sebagai sosok yang banyak bicara. Terlalu banyak. Ia bisa mengubah topik rapat lima menit menjadi diskusi panjang tentang filosofi hidup, motivasi semesta, atau kisah inspiratif yang sumbernya bahkan tidak ia ingat.

“Menurut saya ya,” ucapnya hampir di setiap rapat, dengan nada seolah semua orang menunggu kalimat itu.

Beberapa rekan kerja saling pandang.

“Kalau kita lihat dari sudut pandang energi alam,” lanjut Bima.

“Bima,” potong seorang supervisor, “ini rapat laporan bulanan.”

“Justru itu. Bulanan itu siklus. Hidup juga siklus.”

Tak ada yang menanggapi.

Namun hari itu, kekacauan kecil terjadi. Sebuah tugas sederhana yang sebenarnya bisa selesai dalam waktu singkat berubah menjadi masalah karena Bima salah memahami instruksi. Bukan karena ia tidak mampu, melainkan karena ia lebih sibuk membayangkan bagaimana caranya terlihat penting.

Di tengah ruang kerja yang dipenuhi suara ketikan keyboard dan dengung AC tua, Bima berdiri dari kursinya dengan wajah penuh emosi.

“Siapa suruh kamu melakukan kerjaan ini!” teriaknya.

Suasana mendadak hening. Seorang karyawan junior yang berdiri tak jauh darinya tersentak kaget.

“Maaf, tuan muda,” kata karyawan itu gugup, refleks menggunakan panggilan lama yang entah bagaimana terus bertahan.

Bima mengangkat dagu, menikmati sebutan tersebut seolah itu adalah jabatan resmi.

“Lain kali kalau kerja pakai otak,” katanya, padahal otaknya sendiri sedang sibuk berkhayal.

Ia berjalan mendekati meja dengan langkah sok berwibawa.

“Cepat tingalkan,” katanya sambil menunjuk kursi. “Ambilkan saya kopi.”

Karyawan itu ragu. “Mas… Mas Bima bukan atasan saya.”

Bima melambaikan tangan. “Di dunia profesional, kepemimpinan itu soal aura.”

Beberapa orang mulai menahan tawa.

Belum sempat Bima melanjutkan pidato dadakannya, tiba-tiba sesuatu yang dingin menyiram wajahnya. Air mengalir dari rambut ke kerah kemeja. Bima terlonjak mundur.

“Apa yang kau lakukan?!” teriaknya.

“Ngelamun aja kerjamu, Bima,” kata seorang manajer dengan nada datar sambil menurunkan botol minum.

“Saya lagi mikir strategi besar, Pak,” bantah Bima.

“Strategi datang tepat waktu dulu,” jawab manajer itu singkat.

Tawa kecil terdengar dari beberapa sudut ruangan. Bima berdiri kaku, wajahnya basah, harga dirinya lebih basah lagi.

Namun anehnya, ia tidak pernah belajaR. Ia tetap menjadi Bima yang sama. Di setiap rapat, tangannya selalu terangkat.

“Saya ada sedikit masukan,” katanya.

“Singkat saja,” ujar atasan.

“Baik, Pak. Jadi begini…”

Dan singkat versi Bima selalu berubah menjadi panjang.

“Kita ini seperti ikan di lautan,” katanya berapi-api.

“Apa hubungannya dengan laporan keuangan?” tanya seseorang.

“Belum sampai ke sana. Ini pembukaan.”

Beberapa orang menunduk, berpura-pura mencatat.

Anehnya, Bima tidak pernah merasa dirinya bermasalah. Dalam pikirannya, dunia hanya belum siap menerima kejeniusannya.

“Mereka nanti juga paham,” katanya suatu sore sambil menatap jendela. “Orang visioner memang sering disalahpahami.”

Namun hari itu, kesalahan kecil terjadi lagi. Salah input data. Sepele. Bisa diperbaiki cepat.

“Bima, lain kali lebih teliti,” kata atasannya dengan nada sabar.

“Sebentar, Pak,” jawab Bima. “Izinkan saya jelaskan dari sudut pandang personal.”

Ia pun berbicara. Panjang. Melebar. Menyentuh tekanan hidup, ketidakadilan sistem, hingga teori bahwa komputer kantor memang tidak menyukainya. Ia berbicara tanpa jeda.

Atasannya menghela napas panjang.

“Sudah,” katanya akhirnya.

“Masih ada sedikit lagi, Pak.”

“Tidak perlu,” potongnya. “Kamu dipecat.”

Bima terdiam. “Dipecat… sekarang?”

“Iya.”

“Tanpa masa refleksi?”

“Atau tanpa kamu bicara lagi,” jawab atasannya.

Saat mengemas barang-barangnya ke dalam kardus kecil, Bima masih tersenyum tipis.

“Tenang saja,” katanya pada rekan-rekannya. “Ini cuma awal.”

Seseorang berbisik pelan, “Semoga akhirnya cepat.”

Bima melangkah keluar gedung dengan kemeja setengah kering, kardus di tangan, dan kepala penuh mimpi. Ia tidak tahu bahwa pemecatan ini bukan akhir, melainkan awal dari rangkaian kejadian panjang, rumit, dan penuh kekonyolan yang akan menyeretnya ke dunia baru—dunia di mana ia akan bertemu seseorang yang sama sekali berbeda dengannya, dan yang perlahan akan mengubah hidupnya, entah ia siap atau tidak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!