Mereka bilang, dulu kami sama
Dewa dan Dewi kedudukannya setara, menciptakan dunia dengan napas yang sama. Laki-laki dan perempuan berjalan berdampingan, bahu boleh sama tinggi
Lalu datanglah Hari Keretakan
Tak ada yang tahu pasti apa yang memicunya
Yang jelas, perang saudara para penguasa alam itu berlangsung lama tanpa henti
Yang tersisa hanya tiga Dewi. Dan sebagai tanda kemenangan abadi, mereka melakukan sesuatu pada realita
Sejak saat itu, setiap anak laki-laki yang lahir akan tumbuh lebih pendek dari saudara perempuannya. Bahu mereka tak akan selebar leluhur mereka
Suara mereka tak akan menggema seperti para Dewa dulu. Mereka hidup dalam dunia yang didominasi perempuan, bukan hanya dalam kekuasaan, tapi juga dalam postur, dalam kekuatan fisik, dalam segala hal yang kasatmata
Aku Sany, tidak terlalu peduli dengan legenda itu. Yang penting adalah bagaimana caranya menghilangkan Bisikan ini, setelah itu pergi mencari kerja
Bagaimana kisah Sany selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal mula
Di sebuah kota Ness, terdapat bangunan yang memiliki berbagai bentuk yang unik.
Masing-masing bangunan mewakili ciri khas pemiliknya, seperti toko disebelah sana.
Yang dimiliki oleh seorang penyihir, dengan ciri genteng berwarna kegelapan dan tembok berwarna cerah.
Pada pagi hari, di saat cuaca cerah dan panas.
Sany menemukan sebuah toko yang dipercaya orang-orang, bisa menyelesaikan banyak masalah.
Meski terlihat biasa, jasanya sangat berarti bagi orang-orang.
Letaknya tidak jauh dari tempat tinggalnya, Sany merasa beruntung bisa menyelesaikan masalahnya dengan cepat.
Tanpa ragu, Sany mendorong pintu toko. Lonceng di atasnya berdering nyaring, seketika muncul seorang penyihir yang entah dari mana datangnya.
Sany sama sekali tidak kaget, dia sudah sering menghadapi tingkah sang penyihir.
"Bibi, udah deh, jangan lebay gitu," ucap Sany yang bosan dengan.
Penyihir itu tak lain adalah sepupu ibunya, Sany sudah hafal dengan semua triknya.
"Ada apa keponakan bibi, datang ke sini?" tanya bibi dengan penuh rasa ingin tahu.
"Aku ingin menghilangkan bisikan yang terus menggangguku," jawab Sany sambil menjelaskan keluhannya.
Bibi mulai memutari Sany, sambil memeriksa tubuhnya, selesai memeriksa.
Dia hanya menutup mata, menghela nafas panjang dan menggelengkan kepala.
Dari raut wajah dan gelengan kepala bibinya, Sany langsung paham. Bibi tercintanya tak bisa membantunya kali ini.
"Begitu ya..." kata Sany yang terlihat murung.
Bibi menyentuh bahu keponakannya dengan lembut.
"Maafkan bibi, andai saja bibi punya kenalan dengan orang suci atau Magical, mungkin mereka bisa membantumu." ucap Bibi yang suaranya penuh dengan penyesalan.
Sekilas harapan muncul di mata Sany, tapi segera pudar. Petunjuk itu jelas, namun sama sekali tak membantu.
Di mana dia bisa menemukan orang-orang seperti itu?
"Ah, mungkin ini bisa membantu!" ucap bibi dengan jari yang menunjuk ke sebuah poster yang menempel di dinding kayu.
Dengan cepat, Sany menghampiri dan matanya membaca setiap kata di poster itu.
"Datanglah ke festival bulan, selesaikan semua tantangan dan raih semua impianmu secara gratis," ucap Sany sambil membaca dengan suara pelan.
"Apa-apan poster ini!?" kata Sany yang merasa aneh dengan suara keras yang memecah kesunyian toko.
Bibi hanya mengangkat bahu dan matanya menghindari pandangan Sany.
"Bibi juga tidak tahu siapa yang menaruhnya, sejak pagi poster itu sudah ada di sana," ucap bibi yang tidak mengetahuinya.
Sany membalikkan badannya, dan menatap bibinya dengan tatapan yang tajam.
"Kenapa Bibi membiarkannya? Inikan toko Bibi!" tanya Sany yang penasaran dengan jawaban bibinya.
Sany merasa heran dengan tingkah bibinya, dia membiarkan orang asing menempelkan poster di dalam tokonya.
"Kau tau nak, penyihir tidak suka menghapus objek," jawab bibi sambil menjelaskan sesuatu.
"Kenapa?" tanya Sany yang tidak paham.
"Walaupun objeknya terhapus, tapi informasinya masih ada," jawab bibi sambil menjelaskan sesuatu.
Karena informasinya masih ada, siapapun bisa membentuk kembali objek yang terhapus melalui informasi.
Itulah kenapa penyihir lebih suka menghapus informasi daripada objeknya.
Sany langsung berbalik arah melihat poster, kemudian berbalik arah lagi.
"Bagaimana caraku mengikuti festival?" tanya Sany yang tidak mengerti caranya.
"Sederhana, kau tinggal menyentuh poster itu, nanti kau akan berpindah tempat," jawab bibi sambil memberitahu caranya.
"Kedengarannya seperti sihir berpindah tempat," ucap Sang dalam hati.
Sany mulai menyentuh poster itu.
"Sebaiknya kau membuat persiapan lebih dulu," kata bibi sambil mengingatkan sesuatu.
Sany langsung berhenti seketika, dan langsung berbalik arah.
"Bibi bertingkah seperti orang tuaku saja, dia bahkan memberikan tas kecil ajaib padaku," ucap Sany dalam hati.
Sany tanpa ragu langsung mengenakan tas itu di punggungnya.
"Terima kasih, maaf soal sebelumnya," ucap Sany yang merasa bersalah.
Bibi hanya mengangguk sebagai ungkapan pengertiannya.
Sany mulai berbalik arah dan mulai menyentuh poster itu.
"Kau tidak perlu membuka tas itu, nanti barangnya akan keluar sesuai keinginanmu," kata bibi sambil mengingatkan sesuatu.
Membuat Sany berhenti bergerak dan menoleh ke arah bibi.
"Iyah, terima kasih," ucap Sany sambil menahan emosinya.
Sany kembali menoleh ke arah poster dan menyentuhnya. Setelah menyentuhnya, tanpa dia sadari sudah berada di tempat yang asing baginya.
Dimana cahaya ditempat itu, seperti matahari yang hampir terbenam.
Sany melanjutkan perjalanan sambil melihat sekelilingnya, dia melihat sebuah cahaya yang di arahkan ke langit.
Dia mengira, itu sebuah petunjuk dari festival tersebut.
Sebelum menemui sumber cahaya, Sany harus melewati hutan yang terlihat aneh baginya.
Dimana daunnya memiliki warna yang berbeda-beda. Namun, dia tidak memperdulikannya dan terus melanjutkan perjalanan.
Dalam perjalanan, Sany tidak sengaja mendengar pertarungan.
Letak pertarungannya tidak jauh darinya, Sany mengintip diantara dedaunan terdekat, dia penasaran siapa yang sedang bertarung.
Itu merupakan pertarungan antara seorang manusia bersama monsternya, melawan sebuah robot.
Sany merasa heran dengan kehadiran robot tersebut.
"Kenapa ada robot di sini?" tanya Sany dalam hati.
Manusia dan monster menyerang dari dua arah yang berbeda, robot yang sudah memprediksinya berhasil menggagalkan serangan mereka.
Keduanya tergeletak dan hendak diserang menggunakan laser yang ada dimatanya.
Sebelum menembak, Sany melempar batu ke arah robot itu dan kabur setelah melemparnya.
Robot yang mengetahuinya, mulai mengejar Sany.
Robot itu terbang sambil menembakkan laser, setiap serangan yang dilancarkan, tidak ada satupun yang mengenainya.
Sampai robot itu diserang dari arah lain dan membuatnya terjatuh.
Ledakannya terdengar cukup jelas, Sany yang mengetahuinya bingun dengan hal yang barusan terjadi.
Setelah dirasa aman, Sany kembali melanjutkan perjalanan.
Dia sempat memikirkan keadaan petarung tadi.
"Aku harap, mereka bisa pulang dengan selamat," ucap Sany dalam hati.
Sany yang merasa lapar, menginginkan makanan yang enak.
Seketika ada suara resleting terbuka dan mengeluarkan kotak makanan dari dalam tas.
Makanan itu terbang menuju ke tangannya, Sany yang memahaminya langsung memegang makanan tersebut.
Setelah menerimanya, ada suara resleting tertutup dari tasnya. Sany mulai duduk di dekat pohon dan mulai membuka kotak makanan.
Sebelum Sany menyantapnya, terdengar suara petarung dari arah lain.
Kali ini dia mengabaikannya, dan mulai memakan makanannya.
"Paling cuma bertarung sebentar," kata Sany dalam hati.
Kemudian saat sedang makan, suara pertarungan tadi mendadak menghilang.
Apa yang dia ucapkan dalam hati beneran terjadi, dia mulai menghabiskan makanannya dan bergegas memasukannya ke dalam tas.
"Kenapa suara pertarungan tadi mendadak hilang?" tanya Sany yang keheranan.
Sany pergi mencarinya, karena suara pertarungan sebelumnya tidak jauh darinya.
Dia hanya menemukan pedang yang menancap di tanah dan sisa kerusakan akibat pertarungan.
Tanah di sekitarnya letak, beberapa pohon tumbang, ada bekas ledakan, dan berbagai jenis kerusakan lainnya.
Dia merasa dirinya bersalah, karena asal mengucapkan sesuatu.
Perhatian Sany teralihkan oleh cahaya pedang itu, dia mulai mendekatinya dan berharap memilikinya.
Sany langsung memegang dan menariknya. Dia tidak menyangka akan semudah itu menariknya.
"Pedang ini cukup ringan, mungkin pedang ini bisa terbang dan mengikuti perintah tuannya," ucap Sany yang asal bicara.
Seketika pedangnya terlepas dari pegangan dan terbang melayang di sekitarnya.
"Sudah kuduga, akhirnya aku mempunyai senjata," ucap Sany yang terlihat senang.
Setelah sekian lama, akhirnya dia memiliki senjata. Itulah yang menyebabkan, Sany bahagia.
Dia melanjutkan perjalanan bersama pedangnya yang melayang, tiba-tiba ada serangan yang mengarah ke arahnya.
Pedangnya dengan sigap menangkis semua anak panah yang mengarah kepadanya, sepertinya perjalanan Sany tidak akan mudah.
Bersambung....