NovelToon NovelToon
Bernafas Tanpamu

Bernafas Tanpamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

Udara terasa berbeda hari itu lebih berat, lebih sunyi. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang telah lama ia simpan, berharap waktu masih cukup untuk mendengarnya kembali.

Tak ada balasan.

Hanya diam yang terlalu lama untuk diabaikan.

Detik demi detik berlalu tanpa perubahan, seakan sesuatu telah bergeser tanpa bisa dikembalikan. Kata cinta itu menggantung, tidak jatuh, tidak pula sampai, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab.
Apakah kejujuran memang selalu datang terlambat?

Atau ada perasaan yang memang ditakdirkan untuk tak pernah didengar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Anatomy of Loneliness

​Dunia tidak pernah meminta izin untuk menjadi kejam. Bagi Liora Elowyn, hidup adalah sebuah prosesi panjang menuju ketiadaan. Di usianya yang ke-21, saat gadis-gadis lain sibuk memoles mimpi dengan warna-warna cerah, Liora justru sibuk menghitung berapa banyak lagi sisa napas yang bisa ia beli dengan rasa lelahnya.

​Malam itu, hujan di Jakarta turun seperti tangisan yang tidak kunjung usai. Liora berdiri di halte bus yang bocor, memeluk tas kanvasnya yang sudah mulai robek di bagian sudut. Ia baru saja menyelesaikan shift kerja lemburnya di sebuah firma akuntansi kecil, tempat di mana ia diperlakukan tak lebih dari mesin fotokopi yang bisa bernapas.

​Ia hidup sebatang kara. Kost kecilnya di gang sempit adalah satu-satunya saksi bisu betapa seringnya ia hanya makan mi instan agar bisa membayar biaya kuliah yang kian mencekik. Tidak ada orang tua, tidak ada sandaran. Liora adalah definisi dari "ada namun dianggap tiada".

​"Tuhan," bisiknya lirih, uap napasnya keluar di udara dingin. "Kenapa setiap tarikan napas terasa begitu berat?"

​Namun, langit tidak menjawab. Hanya suara petir yang menggelegar di kejauhan, seolah menertawakan doa-doanya yang tak pernah sampai ke atas.

​Di sisi lain kota, di dalam sebuah mobil Rolls-Royce Ghost yang kedap suara, Leo Alexander Caelum sedang menatap layar tabletnya. Wajahnya yang simetris dan tegas terlihat seperti pahatan pualam yang tidak memiliki pori-pori sempurna, namun mati.

​Leo adalah CEO dari Caelum Empire, sebuah dinasti bisnis yang tangannya mencengkeram hampir seluruh sektor ekonomi negara. Namun, di balik kemegahan itu, Leo adalah pria yang telah mematikan fungsi hatinya. Baginya, empati adalah penyakit mental, dan air mata adalah sampah biologis yang tidak memiliki nilai jual.

​"Tuan, kita akan sampai di lobi dalam dua menit," suara sopir pribadi memecah kesunyian yang mencekam.

​Leo tidak menjawab. Matanya yang berwarna kelabu gelap, sedingin badai salju, hanya terpaku pada angka-angka saham. Baginya, manusia hanyalah bidak catur. Jika tidak menguntungkan, maka harus disingkirkan. Tidak ada kompromi. Tidak ada belas kasih.

​Takdir akhirnya mempertemukan dua kutub yang tidak seharusnya bersentuhan.

​Liora tiba di gedung pusat Caelum Empire untuk mengantarkan dokumen audit yang tertinggal oleh manajernya. Ia berlari menembus hujan, membuat kemeja putihnya basah kuyup dan menempel di kulitnya yang pucat. Rambutnya lepek, dan wajahnya yang polos tampak sangat kontras dengan kemewahan lobi gedung tersebut.

​Saat ia sedang terburu-buru menuju meja resepsionis, pintu lift pribadi terbuka.

​Leo melangkah keluar dengan langkah panjang yang penuh otoritas. Ia dikelilingi oleh sekumpulan asisten yang tampak seperti prajurit bayangan. Liora yang sedang panik tidak melihat arah jalannya.

​Brak!

​Tubuh kecil Liora menabrak dada bidang Leo yang sekeras batu. Dokumen-dokumen di tangan Liora terbang ke udara, berserakan di atas lantai marmer yang mengkilap seperti cermin. Liora kehilangan keseimbangan dan terjatuh, lututnya menghantam lantai dengan keras hingga menimbulkan bunyi yang menyakitkan.

​Hening. Seluruh lobi seolah membeku.

​Liora mendongak dengan gemetar. Ia melihat sepasang sepatu pantofel seharga ribuan dolar tepat di depan wajahnya. Ketika ia menatap ke atas, ia bertemu dengan tatapan Leo. Dingin, tajam, dan penuh penghinaan.

​"Ma-maaf... maafkan saya, Tuan. Saya tidak sengaja," suara Liora pecah, tangannya yang dingin segera merayap di lantai untuk memunguti kertas-kertasnya yang kini kotor terinjak.

​Leo tidak bergerak sedikit pun untuk menghindar, apalagi membantu. Ia justru menekan ujung sepatunya tepat di atas jemari Liora yang sedang berusaha mengambil salah satu kertas.

​Liora meringis, rasa sakit menjalar dari ujung jarinya ke seluruh tubuhnya. "Tuan... kaki Anda..."

​Leo menunduk sedikit, suaranya keluar rendah dan sangat menyayat hati. "Lantai ini baru saja dibersihkan dari kotoran, dan tiba-tiba kau muncul membawa bau kemiskinan ke sini."

​Liora terpaku. Kata-kata itu lebih sakit daripada injakan di tangannya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun ia menahannya sekuat tenaga.

​"Saya hanya menjalankan tugas, Tuan," bisik Liora, suaranya bergetar hebat.

​"Tugasmu adalah menjadi sampah di luar sana, bukan mengotori pandanganku," sahut Leo tanpa emosi. Ia menarik kakinya dan melangkah melewati Liora seolah-olah gadis itu hanyalah tumpukan debu yang tidak berarti. "Bersihkan kekacauan ini, atau aku akan memastikan tidak ada satu pun perusahaan di kota ini yang mau menerima sampah sepertimu."

​Leo terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Ia meninggalkan Liora yang masih bersimpuh di lantai marmer yang dingin, dikelilingi oleh tatapan sinis para staf gedung.

​Liora memeluk dokumen-dokumen rusaknya. Di ruangan semegah itu, ia menyadari betapa murahnya harga nyawanya di mata orang-orang seperti Leo Alexander Caelum. Ia menarik napas dalam-dalam, namun paru-parunya terasa sesak.

​Ternyata, bernapas tanpa memiliki harga diri jauh lebih menyakitkan daripada kematian itu sendiri.

​"Liora baru menyadari bahwa oksigen di gedung ini terlalu mahal untuk orang miskin sepertinya. Sedangkan bagi Leo, menghancurkan hidup seseorang hanyalah hobi di sela-sela waktu minum kopinya."

1
brawijaya Viloid
Thorr update setiap harii bintang 6 untuk author 🥰🥰
Ra H Fadillah: "Wow, terima kasih atas rating bintang 5 nya 💞! 🙏 Rasanya senang banget ceritanya bisa menyentuh hati kamu. Kalau penasaran dengan kisah lain yang penuh emosi dan drama, aku baru saja merilis ‘Breathing Without You’. Siap-siap terbawa perasaan, ya!"
total 1 replies
Anonymous
mo nangiss bgt wajib baca sihh 😢
Anonymous
jgn ngagantung dong authro plis 😭
Anonymous
awas menyesal leo 🥺
Anonymous
seru bgt mo nangisss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!