Ding! [Terdeteksi host dalam bahaya. Mengaktifkan skill utama memori Materialization. Memanggil Item]
Dibuang dan difitnah hanya karena alur sebuah game VR? Itu bukan gaya Aruna. Terbangun di tubuh Auristela Vanya von Vance, seorang putri terbuang dengan Mana besar yang tersegel, Aruna memutuskan untuk mengacaukan skenario dunia ini.
Bermodalkan Project: Fate Breaker—sebuah sistem aneh yang hobi error di saat kritis—ia justru asyik menciptakan kekacauan versinya sendiri. Namun, satu masalah muncul: Asher de Volland, sang Ksatria Agung sedingin es, kini terpaksa menjadi pelindungnya.
Akankah petualangan ini mengungkap rahasia besar yang sengaja dikubur, atau justru membuat benua Xyloseria semakin kacau?
Ding! [Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh."]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Sinkronisasi Jiwa yang Cacat
"Ugh..." Pandangan Aruna buram, tertutup oleh lapisan kabut putih yang memisahkan jiwanya dengan realita. Hal pertama yang ia rasakan bukanlah kepanikan, melainkan rasa sakit berdenyut yang menusuk di sekujur tubuhnya. Seperti ditarik paksa, menciptakan sensasi yang tidak tertahankan. "Ngh..." ia mencoba menggerakkan jemarinya yang terasa kaku dan dingin.
"Ouch... sensor sakitnya... kenapa terasa sekuat ini? Harusnya ada batas aman untuk pengguna..." gumamnya dengan suara serak yang bahkan tidak ia kenali.
Sret... Aruna memaksakan kelopak matanya yang berat untuk terbuka. "Eh?" Bukannya melihat langit-langit kamar apartemennya yang minimalis atau antarmuka login Game VR World of Vance, pemandangan di depannya justru rimbunnya dedaunan raksasa yang menutupi langit biru.
Shiiing...
Sinar matahari yang menyelinap di antara celah pohon, menusuk matanya hingga ia harus berpaling dengan dahi berkerut.
"Ungh" Ia mencoba duduk perlahan, namun tubuhnya terasa seperti robot berkarat yang dipaksa bekerja. "Huuh?"
Gaun putih yang ia kenakan sudah menyerupai kain pel—kotor, penuh noda tanah, dan robek di bagian bahu serta ujung kaki. Helaian rambut panjang berwarna perak (silver) yang asing jatuh menutupi dadanya, berkilau redup di bawah sinar matahari.
"Rambut perak? Sejak kapan aku pakai avatar ini?" Aruna meraba lengannya yang kurus. Di kulitnya yang sepucat porselen, bertebaran noda-noda keunguan bekas memar yang terasa sangat perih saat tersentuh kain gaunnya. "Ouch!" 'Rasa sakit ini... gak mungkin sekadar efek visual... Rasanya terlalu nyata!'
"Eh? Tunggu, bukannya aku baru saja menekan tombol Start?"
Secara refleks, Aruna mencoba menggerakkan tangannya, mencari perintah sensor game. "Menu! Pengaturan! Log out! Keluar dari game sekarang juga!"
Whuush.... Chip! Chip! Chip!
Tidak ada layar hologram atau apapun yang muncul. Tidak ada bar status yang mengambang di pojok penglihatan.
"Developer g!la!! apa mereka melakukan pembaruan tanpa pemberitahuan?! Aaahhh!! Di mana tombol pengaturnya?!" Aruna mulai merasa dongkol. Ketakutan mulai muncul dibenaknya. Ia meraba-raba sekali lagi, berharap ia bisa menemukan bug atau apapun yang bisa memicu menu sistem.
Zztt... zztt... Sebuah kotak dialog transparan muncul dengan peringatan merah yang berkedip-kedip.
Ding!
[Aktivasi Sistem 'Project: Fate Breaker' Berhasil.
PERINGATAN: Terdeteksi ERROR pada sistem.
Status: Sinkronisasi Jiwa Berhasil 70%.
Selamat Datang, Host Aruna!
Identitas Terdeteksi: Auristela Vanya von Vance.
Status: Dibuang / Sekarat.]
Aruna terdiam, matanya terpaku pada kata 'Sekarat'. "..." Ia mengerjapkan matanya berulang kali, mencoba mencerna kalimat yang mengambang itu.
"Auristela? Putri buangan dari Kerajaan Vance yang nasibnya sungguh malang di pembukaan? Sebagai tumbal plot?!"
"Arrgghh, kok jadi karakter sampingan sih? Aku sudah menghabiskan banyak uang untuk pre-order! Kenapa aku malah masuk ke tubuh yang bahkan tidak punya jatah hidup?!"
Kruyuuukk...
Kalimat protes Aruna terputus oleh suara nyaring yang memalukan dari perutnya sendiri. "Ugh..." Rasa lapar yang sangat menyiksa menyerang. Bersamaan dengan rasa lapar itu, Syurr... potongan-potongan ingatan milik Auristela membanjiri kepalanya seperti air bah.
Bayangan tentang tatapan dingin seolah ia adalah sampah tak berguna. Bayangan tentang bisikkan sesuatu yang tak jelas. Hingga ingatan terakhir: disiksa oleh pelayan suruhan permaisuri baru dan dibuang ke hutan ini tanpa diberi makan selama tiga hari.
"M4ti karena lapar? Benar-benar cara m4ti yang paling menyedihkan untuk seorang putri kerajaan," keluh Aruna sambil memegangi perutnya yang terasa perih seperti disayat belati.
Ding!
[Terdeteksi kondisi tubuh Host sangat lemah.
Mengaktifkan protokol pemulihan...
Sirkuit Memori ditemukan! Mengonversi sisa energi jiwa menjadi kemampuan aktif...
Zztt... Zztt...
Sistem berusaha memperbaiki Bug... Mengaktifkan Skill Utama: 'Memory Materialization'!
Sub-skill Terbuka: 'Magi Catering'!
Memanggil Item: Ikan Goreng Tepung Krispi dan... Pendamping!]
Puff! Puff!
Aroma gurih bawang putih, bumbu rempah, dan tepung krispi yang digoreng sempurna langsung menyerbu indranya, membuat air liurnya hampir menetes. Di atas tanah yang lembap, kini tersaji sepiring ikan goreng yang masih mengepulkan uap panas.
"Eh?" Perhatian Aruna teralihkan oleh gumpalan bulu yang muncul di samping piring tersebut. Seekor kucing oranye gembul dengan wajah luar biasa sombong sedang duduk manis di sana.
"Meow." (Berisik sekali manusia ini. Cepat makan atau ini jadi milikku.)
"Kenapa ada kucing? Sistem, kenapa kau malah memberiku beban tambahan?! Lihat! Dia mencoba mencuri ikanku!" Aruna berteriak protes sambil dengan sigap menyambar piring tersebut.
Srek! Srek! Srek!
Semak-semak di sekeliling Aruna bergerak liar. Tiga pasang mata merah menyala menatapnya dari balik kegelapan. Tiga ekor serigala hutan berukuran raksasa keluar dengan posisi mengepung, air liur mereka menetes menatap target empuk di depan mereka.
"?!" Aruna membeku. Tangannya masih memegang erat piring ikan goreng. Ia menatap ketiga serigala itu, lalu beralih ke kucing oranye di sampingnya yang justru tidak peduli dan asyik menjilati cakarnya sendiri.
"Cari makanan lain sana, gih! Ini cuma cukup buat aku dan... kucing aneh ini!" teriak Aruna ketus, berusaha menutupi rasa takutnya yang luar biasa.
Salah satu serigala melompat dengan taring terbuka, mengincar leher Auristela. Aruna refleks memejamkan mata dan meringkuk, bukannya melindungi kepalanya dia justru mendekap piring ikannya erat-erat ke dadanya. "Jangan ini ikanku!" teriaknya pasrah.
SLASH!
Sebuah embusan angin dingin yang tajam menyambar lewat di depan wajahnya, disusul oleh suara tebasan yang sangat berat.
Tik. tik. tik. Aruna tidak merasakan taring serigala menembus kulitnya. Sebaliknya, ia mendengar suara debu yang luruh ke tanah.
'Eh?' Ia membuka mata perlahan. Seorang pria dengan punggung tegap berbalut zirah perak berdiri tepat di hadapannya. Cahaya matahari membuat rambut emas pria itu berkilau menyilaukan.
Slash! Slash!
Dengan dua gerakan kilat yang bahkan tidak bisa ditangkap oleh mata Aruna, dua serigala sisanya habis tertebas. Detik-detik saat tubuh monster-monster itu hancur menjadi debu hitam keajaiban, angin membawa abu tersebut terbang dan mendarat tepat di atas piring ikan goreng yang sedang didekap Aruna.
Boom... Wajah Aruna memerah seketika. Pembuluh darah di dahinya seolah mau pecah.
"KAU!" Aruna berteriak kencang, mengabaikan fakta bahwa pria di depannya baru saja menyelamatkan nyawanya. "Apa yang kau lakukan?! Kau baru saja merusak makananku dengan abu kotor itu, NPC lancang!"
Pria itu menyarungkan pedangnya dengan gerakan yang sangat tenang. Ia menoleh perlahan, menatap Aruna dengan tatapan tajam yang sedingin es abadi. Aura dominan dari seorang Ksatria Agung terpancar kuat darinya.
"Putri Auristela?" suara Asher terdengar berat, datar, dan tidak memiliki nada emosi sedikit pun.
Aruna tidak peduli dengan aura membeku itu. Ia mengangkat piringnya yang kini penuh abu monster ke depan wajah Asher. "Putri atau bukan, itu tidak penting! Lihat ini! Gara-gara abumu, ikanku kotor! Kau tahu betapa susahnya mendapatkan makanan ini di tengah sistem yang error?! Cepat ganti rugi!"
Asher melirik kucing oranye di samping kaki Aruna yang mulai mencuri bagian ikan yang masih bersih di pinggir piring, lalu kembali menatap Aruna dengan wajah kaku. Ia seolah sedang melihat makhluk paling aneh di seluruh Benua Xyloseria.
"Ikut aku," ucap Asher singkat tanpa menanggapi ocehan soal ikan goreng. Ia berbalik pergi, jubahnya berkibar dengan gagah.
"Hei! Enak saja main perintah! Kau belum minta maaf soal ikanku!" Aruna melemparkan piring keramik yang sudah kotor itu ke tanah dengan perasaan dongkol. Prang! Piring itu hancur berkeping-keping.
"Kau pikir aku mau jalan kaki dengan kondisi tubuh lemas begini tanpa kompensasi?! Setidaknya bantu aku bawa kucing beban ini!" Aruna kemudian membungkuk, menyambar si kucing oranye gembul itu dengan kasar dan menyodorkannya ke arah punggung Asher.
Asher sama sekali tidak menoleh ataupun menghiraukan tawaran 'kucing' tersebut. "Jika kau tidak mau jalan, diamlah di sini. Monster yang lebih kuat akan segera datang karena bau darah," ucapnya dingin.
"Aaargh! S!alan!" Aruna menjerit frustrasi. Meskipun kakinya terasa seperti jeli dan memar di tubuhnya berdenyut nyeri, ia terpaksa menyeret kakinya yang gemetar sambil menggendong kucing oranye yang beratnya tidak main-main.
Ia mulai melangkah tertatih-tatih, mengikuti punggung zirah perak yang semakin menjauh di depan. Di dalam benaknya, Aruna sudah menyusun ribuan rencana untuk membalas dendam pada ksatria tidak peka itu.
Ding!
[Misi Tersembunyi Berhasil: Bertahan hidup dari pertemuan pertama dengan Ksatria Utama!
Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 2%.
Bonus/Catatan: Target berpikir Anda adalah seorang putri yang sudah kehilangan akal sehatnya akibat trauma di hutan.]
"Cuma dua persen?! Dasar Es batu pelit!" geram Aruna.
Asher mengabaikan Aruna, namun langkahnya perlahan melambat. Sesekali ia melirik gadis di belakangnya.
Sring...