Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.
Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.
Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.
Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Perkenalan
“Apa masih ada Jadwal saya yang lain,Aru?” tanya Pak Bara sembari menyeruput kopi hitamnya.
“Hari ini jadwal bapak sudah selesai,hanya tinggal satu acara yang harus bapak hadiri,” jawab Aru sambil menyerahkan beberapa berkas. “Undangan makan malam di rumah Pak Baskara Mahendra pukul 19.30 malam.”
“Baik,” gumam Pak Bara. “ Kamu Siapkan semua keperluannya,ya.”
Aru mengangguk hormat. “Baik, Pak.”
“Oh iya,” lanjut Pak Bara sebelum berdiri, menatap Aru sejenak. “Kita langsung bertemu di rumah Pak Baskara saja. Kamu tahu rumah beliau, kan?”
“Iya, Pak. Saya tahu,” jawab Aru mantap. “Semua akan saya persiapkan.”
“Saya tunggu kamu di sana,” ujar Pak Bara singkat.
“Baik, Pak. Kalau begitu saya izin kembali ke ruangan saya dulu.”
“Baiklah.”
Setelah menyampaikan jadwal tersebut, Aru melangkah keluar dari ruangan Pak Bara menuju ruang pribadinya. Sebagai sekretaris sekaligus asisten pribadi Pak Bara, ia sudah terbiasa bergerak cepat dan sigap,memastikan setiap agenda atasannya berjalan tanpa cela.
ARUMI NARAYA WIRATAMA, atau yang lebih akrab disapa Aru, adalah seorang gadis cantik dengan kepribadian pekerja keras, sederhana, ramah, penyayang, dan mandiri. Dengan tinggi 150 cm dan usia yang baru menginjak 25 tahun, Aru telah memiliki segudang pengalaman di dunia bisnis.
Meski berasal dari keluarga kaya,pemilik Wiratama Group, perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan serta produksi alat medis dan obat-obatan,Aru memilih membangun kariernya sendiri.
Aru merupakan putri bungsu dari pasangan Andhika Naraya Diyantara Wiratama dan Yasmine Naraya Wiratama. Ia memiliki dua orang kakak laki-laki kembar. Kakak pertamanya, Alvaro Naraya Wiratama, bekerja sebagai dokter umum di rumah sakit milik keluarga mereka, Wiratama Hospital. Sementara kakak keduanya, Alvian Naraya Wiratama, menjabat sebagai Direktur Utama di Wiratama Company.
Berbeda dari kedua kakaknya, Aru memilih bekerja di Wijaya Company, perusahaan milik Bara Wijaya, sahabat dekat sang ayah.
Saat sedang asyik merapikan meja kerjanya, ponsel Aru tiba-tiba bergetar. Layar menampilkan panggilan masuk—sebuah panggilan video.
Drt… drt… drt…
Aru tersenyum kecil sebelum mengangkatnya.
“Halo, Assalamu’alaikum, Bang,” sapa Aru ceria.
“Waalaikumsalam, Dek. Lagi apa? Sibuk nggak?” tanya sang abang.
Pria di layar itu adalah Alvaro Naraya Wiratama, dokter berusia 27 tahun dengan tubuh atletis, kulit cerah, dan wajah tampan. Balutan jas putih dokter semakin menambah kesan karismanya.
“Lagi beresin meja kerja, Bang. Kebetulan hari ini adek pulang cepat,” jawab Aru. “Malam nanti adek harus nemenin Pak Bara ke acara makan malam di rumah rekan bisnis beliau.”
Alvaro mengangguk kecil. “Oh gitu."
"Tumben abang nelepon di jam kerja kayak gini? lagi nganggur ya? ”tanya Aru.
“Abang mau ajak adek makan siang,” jawab Alvaro. “Tapi kita makan di rumah aja.”
“Di rumah?” dahi Aru berkerut. “Kenapa nggak di luar, Bang? Mumpung adek pulang cepat loh.”
Alvaro mendengus kecil. “Kalau kita makan di luar berdua, nanti kakak gila kamu itu cemburu. Bisa tantrum dia dek.”
Aru langsung paham maksudnya.
“Untuk menghindari amukan dari jelmaan singa yang posesif dan super cemburuan itu,” lanjut Alvaro sambil tersenyum miring, “lebih baik kita makan di rumah aja. Nanti abang yang telepon si botak gila itu. Gimana, Dek?”
Aru terkekeh. “Adek setuju banget. Kalau kita makan di luar, bisa terjadi perang dunia ketiga, Bang.”
Ia memang sangat memahami sifat kakak keduanya itu. Jika sudah cemburu, ujung-ujungnya akan mogok makan disertai drama tantrum yang menguras kesabaran.
“Ya sudah,” kata Alvaro. “Abang tutup dulu, ya. Mau telepon si tuyul dulu.”
“Iya, abangku yang paling tampan,” goda Aru. “Tunggu adek di rumah. Assalamu’alaikum.”
“Iya, adekku yang paling cantik,” balas Alvaro sambil tersenyum. “Waalaikumsalam.”
Panggilan pun berakhir.
Aru kembali melanjutkan pekerjaannya dengan semangat. Senyum kecil menghiasi wajahnya,ia tak sabar menantikan makan siang bersama kedua kakaknya di rumah.
"************"
Sementara itu, di Perusahaan Baskara Group, sebuah “bencana” tengah terjadi.
Suasana kantor yang seharusnya tenang kini berubah mencekam. Ketegangan, kecemasan, dan ketakutan memenuhi udara. Tak satu pun karyawan berani mengangkat kepala. Keringat membasahi kening mereka, bukan karena suhu ruangan, melainkan karena aura mengerikan yang terpancar dari sang CEO.
Pendingin ruangan yang biasanya sejuk seolah kehilangan fungsinya. Udara terasa panas, sesak, dan menekan.
“APA KALIAN TIDAK BISA BEKERJA, HAH?!”
Bentakan keras itu menggema di seluruh ruangan. Wajah sang CEO memerah, rahangnya mengeras menahan amarah.
Tak ada jawaban.
Para karyawan hanya menunduk, membisu.
“JAWAB!” suaranya kembali menggelegar. “APA KALIAN TULI?!”
Seorang karyawan memberanikan diri melangkah maju. Suaranya bergetar hebat.
“Ma–maaf, Pak… atas ke–kesalahannya. Sa–saya dan tim akan memperbaiki semua laporan,-.”
“SAYA TIDAK BUTUH PERMINTAAN MAAF!” bentak sang CEO tanpa memberi kesempatan bernapas. “Saya butuh hasil!”
“Udah, Ken,” ujar seorang pria yang duduk santai di sofa. “Suruh mereka keluar dan kerjain ulang laporannya. Lo marah sampai malam juga, laporan itu nggak bakal kelar.”
Pria itu adalah Jonathan Aditiya Mahendra, atau yang akrab dipanggil Joe,asisten pribadi, sekretaris, sekaligus sepupu sang CEO.
Kenan menarik napas panjang, lalu menghembuskannya kasar.
Joe benar.
Semarah apa pun dirinya, laporan itu tak akan selesai dengan sendirinya.
Kenan akhirnya menatap seluruh karyawan di hadapannya dengan sorot mata tajam.
“Dua jam,” katanya dingin. “Dalam dua jam, semua laporan,termasuk laporan keuangan bulan lalu harus sudah ada di meja saya.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih rendah namun justru lebih mengancam.
“Dan tidak ada kesalahan untuk kedua kalinya.”
Tatapan Kenan mengeras.
“Kalau sampai ada… kalian siap-siap saya PECAT. Paham?”
Para karyawan menelan ludah dengan susah payah.
“Pa–paham, Pak,” jawab mereka serempak, nyaris berbisik.
“Kembali ke ruangan masing-masing.”perintah nya.
“Baik, Pak. Permisi,” ucap salah satu karyawan.
“Hmm.”
Hanya dengusan singkat yang keluar dari mulut Kenan.
Satu per satu karyawan keluar dari ruangan tersebut, langkah mereka tergesa seolah ingin segera menjauh dari tekanan yang mencekik.
Begitu pintu tertutup, Jonathan langsung bangkit dan duduk di kursi yang berhadapan dengan meja kerja sang CEO.
“Lo kenapa marah-marah mulu, sih?” tanyanya lelah. “Nggak capek apa?”
“Mereka nggak ada yang becus,” jawab sang CEO sambil memijat pangkal hidung dan keningnya yang berdenyut.
Jonathan mendengus. “Kalau lo kebanyakan marah, lo cepat tua. Kasihan Kai. Masih empat tahun, bapaknya udah kayak kakek-kakek panti jompo.”
“Brisik,” potong Kenan dingin.
“Ya udah, terserah lo,” Jonathan berdiri. “Gue pusing liat tingkah lo yang kayak singa kelaparan.”
Ia menatap Kenan tajam. “Mending lo istirahat. Kalau lo tumbang, gue juga yang repot.”
Kenan terdiam sejenak. Ucapan sepupunya ada benarnya.
“Urus semua kerjaan ini,” katanya akhirnya sambil berdiri. “Gue mau tidur dulu. Capek.”
“Iya,” jawab Jonathan singkat.
Kenan melangkah menuju kamar pribadinya yang berada di dalam ruang kerja itu.
Kenan Aryasatya Baskara Mahendra adalah seorang dokter dan pengusaha muda sekaligus CEO Baskara Group. Di usia 30 tahun, dengan tinggi 182 cm, wajah tampan, hidung mancung, alis tebal, dan rahang tegas, Kenan dikenal sebagai sosok yang karismatik sekaligus menakutkan di dunia bisnis.
Ia merupakan putra sulung dari pasangan Baskara Mahendra dan Amara Baskara Mahendra yang merupakan seorang pengusaha dan politisi terkemuka. Kenan memiliki seorang adik laki-laki bernama Nathan Aryasatya Mahendra, seorang dokter sekaligus Direktur Utama Aryasatya Hospitals, rumah sakit milik keluarga mereka.
Kenan adalah seorang duda. Ia memiliki seorang putra laki-laki berusia tiga tahun bernama Kaivan Al Kenan Baskara Mahendra atau biasa di panggil dengan nama Kai, yang menjadi satu-satunya alasan Kenan masih bertahan di tengah kerasnya hidup.
Sebenarnya, Kenan adalah sosok yang ramah, sopan, manja, penuh kasih sayang, dan romantis. Namun, pengkhianatan dari mantan istrinya mengubahnya menjadi pria yang dingin, keras, dan kejam,khususnya dalam dunia kerja.
Sikap itu tak pernah ia tunjukkan pada keluarga.
Namun di kantor, Kenan adalah singa yang siap menerkam siapa pun yang mengusik ketenangannya.
Bersambung.................