Dunia ini bukanlah tempat bagi mereka yang lemah si kaya terbang membelah awan layaknya naga, sementara si miskin terinjak sebagai debu di bawah kaki sang penguasa. Di tengah kejamnya takdir, hiduplah Zhou Yu, bocah laki-laki yang jiwanya jauh lebih dewasa dibanding usianya yang baru delapan tahun. Sejak kecil, ia adalah pelita bagi orang tuanya, sosok anak berbakti yang rela menghabiskan masa bermainnya di pasar demi menyambung hidup keluarga.
Namun, langit seolah runtuh saat Zhou Yu pulang membawa harapan kecil di tangannya. Aroma darah dan keputusasaan menyambutnya di ambang pintu. Ia menemukan sang ayah pria yang selama tiga bulan terakhir berjuang melawan sakit tergeletak mengenaskan dalam napas terakhirnya. Di sudut lain, ibunya terkulai lemas, tak berdaya, bersimbah darah dan dengan kondisi yang mengenas. Di detik itulah, kepolosan Zhou Yu mati. Dalam tangis yang tertahan, sebuah dendam dan ambisi membara ia tidak akan lagi mengubah nya menjadi sosok yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati kecil yang terluka
Dunia ini adalah sebuah panggung sandiwara yang kejam, di mana hukum rimba berlaku mutlak yang kuat terbang tinggi menyerupai naga, sementara yang lemah diinjak-injak hingga menjadi debu di bawah telapak kaki para penguasa. Bagi Zhou Yu, langit tidak pernah benar-benar biru langitnya selalu kelabu, tertutup asap kemiskinan dan peluh keringat ayahnya yang mengucur setiap hari demi sekeping koin perak
Sore itu, langit di atas pemukiman kumuh distrik bawah berwarna merah darah, seolah memberikan pertanda akan tragedi yang akan mengoyak jiwa seorang bocah berusia delapan tahun itu. Zhou Yu melangkah dengan riang, tangannya yang mungil dan kasar memegang bungkusan roti kecil sebuah kemewahan yang ia beli dari hasil jerih payahnya membantu di pasar. Ia membayangkan senyum ayahnya yang sedang sakit dan binar mata ibunya yang lembut saat melihat oleh-oleh sederhana itu.
Namun, kegembiraan itu sirna seketika saat ia mencapai ambang pintu rumahnya yang reyot. Bau anyir darah dan hawa dingin yang mencekam menusuk hidungnya.
"Ayah... Ibu... Aku pulang," suaranya bergetar, mengecil saat melihat pintu kayu rumahnya terbuka.
Pemandangan di hadapannya adalah neraka dunia. Ayahnya, pria yang selama tiga bulan terakhir hanya bisa terbaring lemah karena paru-parunya yang rusak, kini tergeletak di lantai dingin. Tubuh kurusnya bersimbah darah, matanya yang sayu menatap kosong ke langit-langit seolah memprotes ketidakadilan Tuhan. Ayahnya telah tiada, jantungnya berhenti berdetak dalam upaya terakhir untuk melindungi apa yang paling ia cintai.
Dan di sudut kamar, ibunya. malaikat pelindung Zhou Yu terkulai lemas dengan pakaian bagian bawah yang robek dan tatapan mata yang hancur. Di depannya berdiri seorang pria berpakaian mewah yang sedang mengenakan celananya, seorang kultivator dari klan kecil yang merasa berhak melakukan apa pun hanya karena ia memiliki emas di kantongnya.
"Hanya sampah miskin,untung nya wajah mu lumayan menarik." gumam pria itu dengan nada rendah yang penuh kebencian, sambil merapikan jubah sutranya seolah-olah baru saja menyelesaikan tugas remeh. "Lain kali, bayar hutang suamimu tepat waktu, atau nyawamu yang akan menyusul."
Tanpa rasa bersalah, pria itu melangkah keluar, menendang tubuh tak bernyawa ayah Zhou Yu dengan ujung sepatunya yang mengkilap. Zhou Yu terpaku di tempatnya. Roti di tangannya jatuh ke lumpur. Dunianya runtuh. Kehangatan keluarganya musnah dalam satu senja yang kelam.
Selama berhari-hari setelah kejadian itu, Zhou Yu hidup dalam kehampaan. Ibunya, yang jiwanya telah mati sebelum tubuhnya, akhirnya menyerah pada duka dan trauma. Ia meninggal dalam pelukan Zhou Yu seminggu kemudian, meninggalkan bocah itu sendirian di dunia yang haus akan darah orang miskin.
Zhou Yu menjadi yatim piatu yang menggelandang. Ia tidur di bawah emperan toko, memakan sisa-sisa makanan dari tempat sampah, dan membiarkan amarah membara di dalam dadanya seperti bara api yang tak kunjung padam. Ia bersumpah, suatu saat nanti, ia akan menjadi naga yang akan membakar mereka yang telah menginjak-injak keluarganya.
Namun, kenyataan lebih pahit dari ambisi. Suatu malam, di tengah hujan badai yang mengguyur kota, Zhou Yu menggigil hebat di depan gerbang sebuah penginapan mewah. Demam tinggi menyerang tubuh kecilnya yang kekurangan gizi. Ia merasa ajalnya sudah dekat, dan mungkin itu lebih baik daripada hidup menanggung beban luka yang tak kunjung sembuh.
"Tuhan... Jika kau memang ada... Kenapa naga harus memangsa debu?" bisiknya sebelum pandangannya menggelap.
Tepat saat kesadarannya hampir hilang, sebuah kereta kuda yang ditarik oleh empat kuda putih gagah berhenti di depannya. Pintu kereta terbuka, dan seorang pria paruh baya dengan jubah berwarna zamrud turun. Pria itu adalah Tuan Lu, seorang saudagar besar yang dikenal karena kekayaan yang melimpah namun juga karena kebijaksanaan yang jarang dimiliki oleh kaum atas.
Tuan Lu melihat bocah kecil yang gemetar itu. Ia melihat tangan Zhou Yu yang masih mengepal kuat, bahkan dalam keadaan pingsan sekalipun. Ada sesuatu di wajah bocah ini sebuah tekad yang bahkan badai pun tak bisa memadamkannya.
"Bawa dia masuk," perintah Tuan Lu kepada pengawalnya. "Jangan biarkan benih naga ini mati kedinginan di sini."
Zhou Yu terbangun di atas ranjang yang sangat empuk, sesuatu yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Aroma kayu cendana dan teh hangat menyerbak di ruangan yang luas dan indah itu. Sinar matahari pagi masuk melalui jendela sutra, menerangi kulitnya yang kini telah dibersihkan.
"Kau sudah bangun, Anak Muda?" suara tenang Tuan Lu menyambutnya dari kursi di sudut ruangan.
Zhou Yu mencoba bangkit, namun tubuhnya masih lemah. "Di mana... di mana aku? Siapa kau?"
Tuan Lu mendekat dan memberikan segelas air hangat. "Kau berada di kediaman keluarga Lu. Aku menemukanmu hampir mati di tengah hujan. Katakan padaku, siapa namamu dan mengapa matamu menyimpan api sedalam itu?"
Zhou Yu terdiam sejenak. Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya tumpah. Dengan suara serak, ia menceritakan semuanya tentang kemiskinan keluarganya, tentang kematian ayahnya yang mengenaskan, dan pelecehan yang dialami ibunya. Ia berbicara tentang ketidakadilan yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
Tuan Lu mendengarkan tanpa memotong. Setelah Zhou Yu selesai, ia menghela napas panjang dan meletakkan tangannya di bahu kecil bocah itu.
"Dunia ini memang tidak adil, Zhou Yu. Tapi membenci naga tidak akan membuatmu menjadi kuat. Kau harus belajar bagaimana caranya terbang lebih tinggi dari mereka agar kau tidak bisa dijangkau oleh kaki-kaki kotor itu," ujar Tuan Lu dengan bijak.
"Aku akan memberimu tempat tinggal yang layak. Aku akan memberimu pendidikan, makanan, dan pakaian. Namun, aku tidak akan memberimu kekuatan secara cuma-cuma. Kau harus berjanji padaku satu hal gunakan amarahmu bukan untuk menghancurkan dunia, tapi untuk membangun sebuah dunia di mana tidak ada lagi bocah yang menangis di ambang pintu rumahnya."
Sejak hari itu, kehidupan Zhou Yu berubah total. Di bawah perlindungan Tuan Lu, ia tidak lagi menjadi sampah di bawah kaki manusia. Ia mulai mempelajari ilmu dagang, strategi, dan bela diri dengan ketekunan yang menakutkan bagi anak seusianya. Ia tahu bahwa kesempatan ini adalah anugerah dari langit yang berdarah.
setidaknya itu yang awal nya di pikirkan nya saat pertama kali mendengar kata kata penuh harapan keluar dari mulut tuan lu, entah rintangan apa yang akan Zhou Yu temui kedepannya di tengah badai yang menerpa kehidupan nya.mampu kah ia bertahan dari seleksi alam yang tak manusiawi ini.dan apakah benar Masi ada manusia baik di dunia yang kejam ini.
Bersambung....