Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.
Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Nadi Lumpuh dan Darah Hitam
Angin musim gugur melolong melewati celah-celah dinding kayu tua yang mulai membusuk di sudut Desa Awan Biru. Di dalam sebuah gubuk yang lebih mirip kandang ternak, seorang pemuda terduduk bersila dengan keringat dingin mengucur di pelipisnya.
Dia adalah Jiangzhu. Wajahnya pucat, namun rahangnya terkatup rapat, menahan rasa sakit yang seolah membakar sumsum tulangnya.
"Satu kali lagi... hanya satu putaran energi lagi," bisiknya dengan suara serak.
Jiangzhu mencoba menarik Qi energi alam dari udara tipis di sekitarnya. Namun, saat energi itu masuk ke dalam tubuhnya, alih-alih mengalir ke pusat Dantian, energi tersebut justru hancur berantakan saat melewati meridian di dadanya.
Uhuk!
Jiangzhu menyemburkan darah segar. Namun, ada yang aneh. Darah yang keluar dari mulutnya tidak berwarna merah cerah, melainkan merah gelap cenderung kehitaman dengan uap tipis yang terasa dingin sekaligus panas secara bersamaan.
"Nadi Spiritual Lumpuh... Benarkah aku ditakdirkan menjadi sampah seumur hidupku?" Jiangzhu menatap telapak tangannya yang gemetar.
Dunia ini, Benua Longyuan, adalah tempat di mana kekuatan adalah hukum tertinggi. Tanpa kemampuan kultivasi, seorang manusia hanyalah semut yang bisa diinjak kapan saja. Sejak orang tua angkatnya meninggal tiga tahun lalu, Jiangzhu bertahan hidup dengan mengumpulkan tanaman obat di kaki Gunung Terlarang, sambil menanggung cacian dari penduduk desa yang menganggapnya pembawa sial.
Tiba-tiba, pintu gubuknya ditendang hingga hancur berkeping-keping.
BRAKK!
"Jiangzhu! Keluar kau, anjing pengemis!"
Tiga pemuda berseragam biru muda melangkah masuk dengan angkuh. Pemimpin mereka adalah Xiao Feng, putra kepala desa yang baru saja menembus Tahap Pemurnian Tubuh tingkat ketiga.
Jiangzhu menyeka darah di bibirnya, matanya menatap dingin. "Xiao Feng, apa maumu? Aku sudah memberikan jatah tanaman obatku minggu lalu."
Xiao Feng tertawa mengejek, matanya tertuju pada sebuah kalung batu hitam kusam yang melingkar di leher Jiangzhu. "Ayahku bilang batu itu mungkin punya nilai sejarah. Serahkan padaku, dan aku akan membiarkanmu merangkak di desa ini satu bulan lagi tanpa gangguan."
"Ini peninggalan orang tuaku. Aku tidak akan memberikannya," jawab Jiangzhu tegas.
"Mencari mati!" Xiao Feng bergerak cepat. Sebuah pukulan bertenaga Qi mendarat telak di perut Jiangzhu.
BUM!
Tubuh kurus Jiangzhu terpental, menabrak dinding kayu hingga jebol dan terjatuh di tanah berlumpur di luar gubuk. Tulang rusuknya terasa patah. Rasa sakitnya luar biasa, tapi yang lebih menyakitkan adalah penghinaan itu.
Xiao Feng melangkah keluar, menginjak dada Jiangzhu dengan sepatu botnya yang bersih. "Sampah tetaplah sampah. Di dunia ini, barang bagus hanya milik mereka yang kuat. Kau? Kau bahkan tidak pantas bernapas di bawah langit yang sama denganku."
Sambil tertawa, Xiao Feng merenggut paksa kalung batu hitam itu dari leher Jiangzhu hingga talinya melukai kulit leher sang pemuda.
"Kembalikan..." Jiangzhu berusaha menggapai kaki Xiao Feng, tapi tendangan keras di wajahnya membuat pandangannya menggelap.
"Ayo pergi. Menghajar mayat hidup ini hanya mengotori tanganku," ucap Xiao Feng sambil berlalu bersama pengikutnya.
Jiangzhu terkapar di tanah. Hujan mulai turun, membasahi tubuhnya yang penuh luka. Kesadarannya mulai memudar. Di ambang kematiannya, kemarahan yang luar biasa membuncah di dalam dadanya.
Mengapa? Mengapa langit begitu tidak adil?
Jika aku tidak bisa menjadi Dewa untuk keadilan, maka aku akan menjadi Iblis untuk pembalasan!
Tiba-tiba, setetes darah hitam yang keluar dari mulut Jiangzhu merembes ke tanah, tepat di tempat kalung batu itu tadi sempat jatuh dan tergores. Tanpa diketahui siapa pun, sisa energi dari "darah hitam" itu memicu sesuatu yang telah tertidur selama ribuan tahun di bawah tanah Desa Awan Biru.
Deg. Deg. Deg.
Jantung Jiangzhu yang hampir berhenti, tiba-tiba berdetak kencang. Di dalam kepalanya, sebuah suara kuno yang berat dan bergema seperti berasal dari dasar neraka sekaligus puncak langit terdengar:
Segel Tiga Dunia terdeteksi... Keturunan terlarang ditemukan... Memulai penggabungan jiwa...
Seketika, ruang di sekitar tubuh Jiangzhu terdistorsi. Pusaran hitam-putih-emas muncul dari dadanya. Luka-lukanya menutup dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Garis-garis meridiannya yang tadinya lumpuh, kini dipaksa terbuka dan melebar, dialiri oleh energi yang jauh lebih murni dari Qi manapun di dunia manusia.
Mata Jiangzhu terbuka lebar. Pupil matanya berubah; mata kirinya berwarna putih cemerlang seperti fajar, mata kanannya berwarna hitam pekat seperti lubang hitam, dan di tengah dahinya muncul simbol emas samar berbentuk segel kuno.
"Ini... kekuatan apa ini?" Jiangzhu merasa seolah-olah ia bisa meremukkan gunung dengan satu kepalan tangan.
Namun, di tengah perubahan itu, ia melihat ke arah langit. Awan hitam berputar membentuk pusaran raksasa. Petir berwarna merah menyambar-nyambar.
"Sial, seseorang sedang menerobos segel!" sebuah teriakan terdengar dari kejauhan.
Beberapa sosok berjubah hitam tiba-tiba muncul di udara, melayang di atas Desa Awan Biru. Aura mereka begitu menekan hingga penduduk desa yang berada di dalam rumah langsung pingsan.
"Energi ini... itu adalah Segel Trinitas! Cepat temukan pembawanya! Jangan biarkan dia hidup atau keseimbangan tiga dunia akan hancur!" perintah salah satu sosok itu.
Jiangzhu menyadari bahwa kekuatan baru ini bukanlah berkah semata, melainkan kutukan yang akan membuatnya diburu oleh seluruh penghuni langit dan bumi.
Dengan gigi tergeretup, Jiangzhu bangkit berdiri. Ia menatap ke arah rumah Xiao Feng dengan tatapan predator.
"Pembalasan dimulai malam ini," gumamnya, suaranya kini mengandung wibawa yang membuat tanah di bawah kakinya retak.
Warisan yang Terlarang
Rasa sakit yang sebelumnya menghancurkan tubuh Jiangzhu kini berganti menjadi sensasi dingin yang menyegarkan, seolah-olah ribuan jarum es sedang menjahit kembali otot-ototnya yang robek. Di dalam rongga dadanya, di tempat yang seharusnya menjadi pusat Dantian, sebuah pusaran tiga warna berputar dengan liar.
Sinkronisasi 15%... Jalur Meridian Manusia dibersihkan...
Sinkronisasi 30%... Inti Iblis Purba mulai berdenyut...
Sinkronisasi 45%... Benih Ketuhanan Langit tertanam...
Suara mekanis namun kuno itu terus bergema di kepalanya. Jiangzhu mencengkeram tanah, kuku-kukunya melesat masuk ke dalam lumpur. Ia bisa merasakan setiap getaran di tanah, setiap tetesan hujan yang jatuh, bahkan detak jantung tikus di bawah gubuknya. Indra sensoriknya meledak melampaui batas manusia biasa.
"Apa yang terjadi pada tubuhku?" gumam Jiangzhu.
Ia melihat luka di tangannya. Kulitnya yang sebelumnya kasar dan penuh bekas luka karena bekerja di hutan, kini menjadi halus namun sekeras baja. Darah hitam yang tadi mengucur, kini terserap kembali ke dalam pori-porinya, meninggalkan pola tato samar berbentuk rantai di pergelangan tangannya yang kemudian menghilang.
Namun, ia tidak punya waktu untuk merasa takjub. Tekanan luar biasa dari langit semakin menindas. Sosok-sosok berjubah hitam yang melayang di angkasa tadi mulai turun, menyisir desa dengan kecepatan kilat.
"Cari setiap pemuda di desa ini! Siapa pun yang memiliki fluktuasi energi yang tidak wajar, bunuh di tempat!" teriak salah satu pengejar itu. Suaranya mengandung getaran Qi yang mampu membuat telinga manusia biasa berdarah.
Jiangzhu tahu, jika ia tetap di sana, ia akan mati. Tapi ia teringat Xiao Feng. Pemuda itu tidak hanya menghinanya, tapi telah mencuri satu-satunya kenangan dari orang tuanya: Kalung Batu Hitam itu.
"Aku tidak akan pergi tanpa mengambil kembali milikku," desis Jiangzhu. Mata kanannya yang hitam pekat berkilat dengan haus darah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Itu adalah pengaruh dari Inti Iblis yang baru terbangun.
Dengan satu hentakan kaki, Jiangzhu melesat. Ia terkejut dengan kecepatannya sendiri. Tubuhnya seolah seringan bulu namun memiliki daya ledak seperti badai. Dalam hitungan detik, ia sudah sampai di depan kediaman mewah Kepala Desa.
Di dalam, Xiao Feng sedang duduk santai sambil menimang-nimang kalung batu hitam milik Jiangzhu. "Benda ini... kenapa terasa sangat dingin sekarang? Apa benar ini hanya batu biasa?"
"Batu itu bukan untuk sampah sepertimu," sebuah suara dingin terdengar dari balik bayang-bayang pintu.
Xiao Feng tersentak dan berdiri. "Siapa?! Jiangzhu? Bagaimana kau bisa berdiri setelah aku menghajarmu?"
Xiao Feng tidak menunggu jawaban. Ia merasa terhina karena "sampah" ini berani menatapnya dengan pandangan merendahkan. Ia mengumpulkan seluruh Qi di kepalannya. "Kau ingin mati kedua kalinya? Baiklah! Pukulan Pemecah Batu!"
Tinju Xiao Feng meluncur dengan kecepatan penuh, membawa angin kencang. Jika itu adalah Jiangzhu yang lama, kepalanya pasti sudah hancur. Namun, Jiangzhu yang sekarang hanya mengangkat satu tangan dengan sangat tenang.
TAK!
Jiangzhu menangkap tinju Xiao Feng hanya dengan telapak tangannya. Tidak ada getaran, tidak ada langkah mundur. Seolah-olah pukulan bertenaga ribuan kilogram itu hanyalah tepukan lalat.
"Hanya ini?" Jiangzhu menyeringai, menampakkan taring kecil yang tumbuh samar. "Sekarang, giliranku."
Jiangzhu meremas tangan Xiao Feng.
KRAKKK!
"AAAGGGHHH!" jeritan melengking memecah keheningan malam. Tulang tangan Xiao Feng hancur menjadi bubuk.
Jiangzhu tidak berhenti di situ. Ia merasakan energi hitam mengalir dari telapak tangannya masuk ke tubuh Xiao Feng, menghisap paksa seluruh kultivasi yang telah dibangun Xiao Feng selama bertahun-tahun.
"Kau... kau iblis! Kau melakukan teknik terlarang!" teriak Xiao Feng dengan wajah pucat pasi saat merasakan kekuatannya menghilang secara permanen.
"Aku bukan iblis, aku adalah pembalasmu," bisik Jiangzhu tepat di telinga Xiao Feng sebelum mengirim tendangan ke dada pemuda itu, membuatnya terpental menembus tembok rumah dan jatuh tak sadarkan diri di halaman.
Jiangzhu mengambil kembali kalungnya. Begitu tangannya menyentuh batu itu, sebuah memori asing terlintas di pikirannya: seorang wanita cantik dengan pakaian putih suci dan seorang pria dengan tanduk hitam sedang berdiri di atas ribuan mayat, menatap ke arahnya dengan kesedihan yang mendalam.
"Ibu... Ayah..."
Tiba-tiba, ledakan energi muncul di belakangnya. Salah satu pengejar berjubah hitam telah menemukannya.
"Ditemukan! Pembawa Segel Trinitas ada di sini! Tingkat kultivasinya masih rendah, cepat tangkap!"
Jiangzhu berbalik. Ia melihat seorang pria tua dengan pedang terbang yang bersinar merah mendarat di hadapannya. Tekanan dari pria tua ini jauh lebih kuat dari Xiao Feng. Ini adalah ahli tingkat Tahap Inti Bumi.
"Anak muda, serahkan jiwamu, dan mungkin aku akan memberikan kematian yang cepat," ujar pria tua itu dengan nada dingin.
Jiangzhu mengepalkan tangannya. Energi putih Langit dan hitam Iblis mulai berputar di kedua lengannya, membentuk percikan petir emas di tengahnya.
"Jika dunia tidak mengizinkanku hidup, maka aku akan menghancurkan dunia ini dan menciptakan duniaku sendiri!" teriak Jiangzhu.