Shabiya seharusnya tidak memiliki harapan bisa memenangkan hati suaminya, ketika pernikahan mereka saja terjadi atas keinginan satu pihak. Wanita itu seharusnya mengubur semua impian tentang keluarga cemara yang selalu didambakan olehnya setiap malam.
Apalagi, ketika ia sudah mengetahui bahwa kehadirannya di hidup suaminya hanya untuk menggantikan posisi seseorang. Dan ketika Shabiya ingin menyerah, tidak ada celah untuknya melarikan diri. Dia sudah terperangkap. Pria tersebut tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.
Akankah semesta membantunya untuk lepas dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Pemilik Kegelapan
Hembusan asap cerutu Cohiba meliuk-liuk di udara, menari di bawah temaram lampu gantung kristal yang menggantung di kantor lantai 52 gedung Gemilar Tower. Di balik meja marmer hitam yang dingin, Galen Abraar Gemilar duduk dengan punggung tegak, matanya tak lepas dari barisan grafik berwarna hijau dan merah yang berkedip di tiga monitor besar di hadapannya.
Bagi dunia luar, Galen adalah pemuda jenius di balik kebangkitan Gemilar Corp, sebuah imperium logistik dan perhotelan yang menguasai bursa saham Asia Tenggara. Namun, di balik angka-angka legal itu, Galen adalah seorang penguasa kehancuran. Ia tidak membutuhkan senapan mesin untuk membantai musuhnya, ia hanya butuh beberapa menit sebelum penutupan pasar saham untuk membuat sebuah keluarga konglomerat kehilangan seluruh harta mereka dan berakhir dengan seutas tali di leher.
"Sepuluh detik menuju penutupan pasar, Tuan," suara Arsen Mahawira —tangan kanan Galen— terdengar dari sudut ruangan. Arsen, pria dengan rahang tegas dan mata yang terlihat tidak pernah berkedip, telah menjadi bayangan Galen selama satu dekade.
Galen menyesap wiskinya, membiarkan cairan amber itu membakar tenggorokannya. "Eksekusi."
Dengan satu ketukan jari Arsen pada kibor, sebuah perintah jual besar-besaran dilepaskan ke bursa saham. Dalam hitungan detik, saham Wijaya Construction yang menjadi ival utama Gemilar di sektor infrastruktur terjun bebas. Grafik hijau yang tadinya mencoba merangkak naik tiba-tiba patah, berubah menjadi garis merah yang menukik tajam menuju dasar.
Galen menyaksikan kehancuran itu dengan wajah tanpa ekspresi. Baginya, melihat angka-angka itu hilang sama seperti melihat lawan bicaranya kehabisan napas. Tidak ada empati. Hanya ada kalkulasi. Malam itu, keluarga Wijaya kehilangan hampir 40% kekayaan bersih mereka. Besok, mereka akan datang ke kantor Galen, bersujud, memohon pinjaman dengan bunga yang mencekik, atau menyerahkan aset strategis mereka sebagai tumbal.
"Pekerjaan yang bersih, Arsen," ucap Galen datar. Ia berdiri, membetulkan letak kancing jas custom-made miliknya. "Siapkan mobil. Kita punya acara amal yang harus dihadiri."
"Apakah Anda yakin ingin datang, Tuan? Anda membenci acara seperti itu."
Galen menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Pria berusia 32 tahun dengan mata yang menyimpan rahasia gelap dan luka yang tak kunjung sembuh. "Aku harus memastikan para hyena di bawah sana tahu siapa yang memegang kendali hutan ini. Lagipula, aku butuh sedikit hiburan setelah menghancurkan satu dinasti malam ini."
Grand Ballroom Hotel Gemilar.
Ruangan yang hampir tidak terlihat ujungnya itu telah disulap menjadi taman yang mewah. Bunga-bunga lili putih yang diimpor langsung dari Belanda menghiasi setiap sudut, menebarkan aroma manis yang memuakkan bagi Galen. Ia masuk melalui pintu samping, menghindari sorotan kamera jurnalis yang sudah menunggu di pintu utama.
Galen berdiri di balkon VIP yang menghadap langsung ke area utama. Dari ketinggian itu, ia bisa melihat semua orang tanpa harus berinteraksi dengan mereka. Di matanya, mereka semua hanyalah pion. Ada politisi yang butuh suntikan dana kampanye, ada pengusaha yang ingin menjilat, dan ada wanita-wanita sosialita yang memandangnya seolah-olah ia adalah hadiah utama dalam sebuah kompetisi.
"Kau terlihat seperti malaikat pencabut nyawa yang sedang mengawasi pesta perpisahan korbannya," sebuah suara sinis menginterupsi kesunyian Galen.
Elfahreza Labda Sahika atau yang kerap disapa 'Reza' melangkah maju, pria itu memegang gelas sampanye dengan gaya yang sangat santai. Reza adalah satu dari sedikit orang yang berani berbicara seperti itu kepada Galen. Mereka tumbuh di lingkungan yang sama, tapi memilih jalan yang berbeda untuk menjadi kejam.
"Reza. Kupikir kau sedang sibuk mengurus pelabuhanmu yang baru saja kusegel secara hukum," balas Galen tanpa menoleh.
Reza tertawa pendek, sebuah suara yang kering. "Hanya kerugian kecil. Aku bisa menanggungnya. Tapi kau, Galen ... kau terlihat semakin pucat setiap kali kita bertemu. Sampai kapan kau akan terus memeluk hantu?"
Tangan Galen yang memegang gelas wiski mengencang. Cincin perak di kelingkingnya terasa dingin. Sebuah nama dan wajah seorang wanita langsung terbesit dalam benaknya. Thana. Nama itu adalah luka terbuka yang ia siram dengan garam setiap hari. Thana Malaika, wanita yang tewas dalam ledakan bom yang sebenarnya ditujukan untuk Galen lima tahun lalu. Sejak saat itu, Galen tidak pernah lagi membiarkan siapa pun masuk ke dalam hidupnya. Ia membangun tembok yang begitu tinggi, begitu dingin, hingga ia sendiri pun terkadang merasa membeku.
"Jangan sebut namanya," desis Galen.
"Kenapa? Karena kau takut menyadari bahwa kau sudah gila? Kau membangun imperium ini hanya untuk membuktikan pada mayat itu, bahwa kau bisa berkuasa? Itu menyedihkan." Reza kemudian berpaling, matanya memindai kerumunan di bawah. "Tapi lihat itu ... Sepertinya, takdir sedang ingin bercanda dengamu malam ini."
Galen awalnya tidak ingin merespons, namun nada bicara Reza yang aneh membuatnya terpaksa melayangkan pandangan ke bawah, ke arah instalasi seni lukis di tengah ruangan.
Dan di sanalah dunianya berhenti berputar.
Di antara kerumunan orang-orang berbaju hitam dan gelap, seorang gadis berdiri seperti seberkas cahaya yang salah arah. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna krem yang memeluk tubuhnya dengan sopan namun anggun. Ia tidak memakai perhiasan berlebihan, hanya sebuah kalung mutiara tipis di lehernya yang jenjang.
Namun bukan pakaiannya yang membuat Galen terpaku.
Gadis itu sedang tertawa kecil, kepalanya sedikit miring ke kanan saat mendengarkan lawan bicaranya. Ia memiliki cara unik saat tertawa, menutup mulutnya sedikit dengan jemari tangannya yang lentik. Rambut hitam panjangnya bergelombang, jatuh dengan sempurna di bahunya.
"Thana..." bisikan itu keluar dari bibir Galen tanpa ia sadari.
Gelas di tangannya hampir tergelincir. Matanya membelalak, pupilnya melebar. Rasanya seperti jantungnya yang sudah lama membatu tiba-tiba dipukul oleh palu besar. Rasa sakit, rindu, dan kengerian bercampur menjadi satu.
"Namanya Shabiya Sena Cantara," suara Reza terdengar seperti gema yang jauh. "Putri bungsu dari pemilik Cantara Logistik. Perusahaan yang baru saja kau 'cekik' suplai bahan bakarnya minggu lalu. Cantik, bukan? Mirip sekali dengan 'dia'. Bahkan tahi lalat di bawah matanya berada di posisi yang sama."
Galen tidak mendengar apa pun lagi. Fokusnya hanya tertuju pada wanita yang terus dibicarakan oleh Reza. Wanita itu bukan hanya mirip, tapi dia adalah reinkarnasi visual dari Thana. Setiap gerak-geriknya, cara matanya berbinar saat berbicara tentang lukisan di depannya, hingga cara dia menarik napas.
Obsesi yang gelap dan purba mulai bangkit di dalam diri Galen. Selama lima tahun, ia mencari cara untuk mengembalikan apa yang hilang. Ia telah mencoba segala cara untuk melupakan, namun malam ini, ia sadar bahwa ia tidak ingin melupakan. Ia ingin memiliki kembali.
"Dia bukan Thana, Galen. Jangan lakukan hal bodoh," peringatan Reza kini terdengar lebih serius.
Galen mengabaikannya. Ia memanggil Arsen dengan isyarat tangan yang tajam. Arsen muncul dalam hitungan detik.
"Tuan?"
"Kau lihat gadis di bawah sana? Yang berdiri di dekat lukisan abstrak?" suara Galen bergetar karena emosi yang tertahan.
Arsen melihat ke bawah, dan untuk pertama kalinya, pria yang biasanya dingin itu menampakkan keterkejutan di wajahnya. "Nona Thana?"
"Bukan. Itu Shabiya Sena Cantara. Aku ingin kau mencari tahu segalanya tentang dia. Di mana dia sekolah, siapa teman-temannya, apa ketakutan terbesarnya, dan siapa pria terakhir yang berani menyentuh tangannya." Galen menjeda, matanya kini berkilat dengan kegilaan yang tenang. "Dan batalkan semua rencana untuk menghancurkan Cantara Logistik. Kita tidak akan menghancurkan ayahnya."
"Lalu apa perintah Anda, Tuan?"
Galen tersenyum tipis, sebuah senyum yang akan membuat siapa pun yang melihatnya merasa ngeri. "Kita akan menjerat ayahnya dalam hutang yang begitu rumit sehingga hanya satu hal yang bisa ia berikan sebagai jaminan. Putrinya."
Pria itu turun dari balkon VIP. Ia tidak lagi menghindari kerumunan. Ia berjalan menembus barisan orang-orang dengan aura yang begitu mengintimidasi hingga orang-orang secara otomatis memberinya jalan. Ia menuju satu titik, Shabiya.
Saat ia semakin dekat, aroma parfum Shabiya mulai tercium. Bukan aroma melati seperti yang biasa Thana gunakan, melainkan aroma vanila dan mawar yang segar. Ini sedikit mengusik Galen, namun ia segera menepisnya. 'Aroma itu bisa diganti nanti,' pikirnya dalam hati.
Shabiya sedang berbicara dengan ayahnya, seorang pria tua yang tampak lelah itu bernama Bramasta Cantara. Saat Galen berdiri, yang hanya berjarak dua meter dari mereka, Bramasta segera menyadari kehadiran sang penguasa Gemilar. Wajah pria tua itu mendadak pucat.
"Tuan... Tuan Gemilar. Sebuah kehormatan," suara Bramasta bergetar.
Shabiya berbalik. Dan saat mata mereka bertemu, Shabiya merasakan dorongan energi yang aneh. Pria di depannya ini sangat tampan, dengan pahatan wajah yang sempurna namun memiliki sepasang mata yang paling gelap yang pernah ia lihat. Mata itu tidak memandangnya sebagai seorang manusia, melainkan sebagai sesuatu yang telah lama dicari.
"Tuan Cantara," suara Galen berat dan magnetis. Matanya sama sekali tidak melirik Bramasta, ia terus menatap Shabiya. "Saya tidak tahu Anda memiliki permata seindah ini di rumah Anda."
Shabiya mengerutkan kening, merasa risih dengan cara pria ini menatapnya. Posesif, tajam, dan seperti merusak, menurutnya. "Terima kasih atas pujiannya, Tuan Gemilar. Saya Shabiya," ucapnya dengan nada sopan namun menjaga jarak.
Galen meraih tangan Shabiya sebelum gadis itu sempat bereaksi. Ia tidak menjabatnya, ia mengangkat punggung tangan Shabiya ke bibirnya dan mengecupnya lama. Mata Galen tetap terkunci pada mata Shabiya saat ia melakukannya.
"Shabiya," Galen mengulang nama itu, merasakannya di lidahnya. "Nama yang indah. Tapi kurasa kau akan lebih cocok dengan nama yang lebih... abadi."
Shabiya menarik tangannya dengan canggung. "Maaf?"
"Abaikan saja," Galen tersenyum misterius. "Tuan Cantara, kita perlu bicara serius besok pagi di kantor saya. Mengenai... masa depan perusahaan Anda. Dan mungkin, masa depan putri Anda."
Bramasta hanya bisa mengangguk kaku, keringat dingin mulai membasahi dahinya. Ia tahu siapa Galen. Ia tahu bahwa jika Galen menginginkan sesuatu, Galen akan mendapatkannya, tak peduli berapa banyak nyawa yang harus dikorbankan.
Galen berbalik, meninggalkan Shabiya yang terpaku dengan perasaan tidak enak yang menjalar di tengkuknya. Galen berjalan kembali menuju mobilnya dengan langkah penuh kemenangan.
Di dalam limusin hitamnya, pria itu duduk bersandar. Ia membuka laci rahasia di samping tempat duduknya dan mengambil sebuah bingkai foto kecil yang ia simpan di sana. Foto Thana. Ia menempelkan foto itu ke pipinya.
"Dia sudah kembali, Thana. Aku menemukannya. Kali ini, aku tidak akan membiarkanmu mati lagi. Aku akan mengurungmu di tempat yang paling aman, di mana tidak ada satu pun peluru atau bom yang bisa menyentuhmu."
Galen memejamkan mata. Di dalam pikirannya, ia sudah menyusun rencana gila itu. Ia tidak butuh cinta dari Shabiya. Ia hanya butuh Shabiya ada di sana, bernapas, bergerak, dan terlihat seperti seseorang yang selalu menghantui pikirannya.
Malam itu, Shabiya Sena Cantara tidak tahu bahwa kebebasannya baru saja berakhir. Sang pemilik kegelapan telah memutuskan untuk membangun sebuah sangkar emas, dan Shabiya adalah satu-satunya penghuni yang ia inginkan di dalamnya. Perang besar di pasar saham mungkin sudah berakhir malam ini, tapi perang untuk memiliki jiwa Shabiya baru saja dimulai.
Dan bagi Galen, dalam perang maupun cinta, ia tidak pernah berencana untuk kalah.
baru mulai... ky'a seru