NovelToon NovelToon
Rahasia Jarum Naga Emas

Rahasia Jarum Naga Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Dokter Ajaib / Ahli Bela Diri Kuno / Roh Supernatural / Mata Batin / Mengubah Takdir
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: O'Liong

Fauzan Arfariza hanyalah seorang mahasiswa tingkat awal, hidup sederhana dan nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota. Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia menelan harga diri dan berjuang mengumpulkan uang pengobatan, satu demi satu, di bawah terik dan hujan tanpa keluhan.

Namun takdir kejam menantinya di sebuah persimpangan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan, dikemudikan oleh seorang wanita yang mengabaikan aturan dan nyawa orang lain.

Dalam sekejap, tubuh Fauzan Arfariza terhempas, darah membasahi aspal, dan dunia seolah runtuh dalam kegelapan. Saat hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu helaan napas, roda nasib berputar.

Di ambang kesadaran, Fauzan Arfariza menerima warisan agung Pengobatan Kuno—sebuah pengetahuan legendaris yang telah tertidur selama ribuan tahun. Kitab suci medis, teknik penyembuhan surgawi, dan seni bela diri kuno menyatu ke dalam jiwanya.

Sejak hari itu, Fauzan Arfariza terlahir kembali.
Jarum peraknya mamp

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon O'Liong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Paman

Ia pernah berkata pada dirinya sendiri, “Jika satu hari aku mati tanpa mewariskan ilmu ini kepada orang yang layak, maka seluruh hidupku akan sia-sia.” Kalimat itu menjadi sumpah yang terukir di relung hatinya, menjadi bara yang tak pernah padam.

Karena itulah, ketika Fauzan Arfariza berdiri di hadapannya—tenang, sederhana, berpakaian biasa, namun memancarkan aura terdalam yang tersembunyi—hati Sanro Maega bergetar hebat. Getaran itu tidak lahir dari rasa takut, bukan pula dari iri hati, melainkan dari pengakuan naluriah seorang pencari kebenaran terhadap seseorang yang telah melangkah lebih jauh di jalan yang sama. Ia merasakan tekanan halus di dadanya, seakan Energi Vital di sekeliling ruangan bergerak mengikuti napas Fauzan.

Sanro Maega mengangguk perlahan. Nada suaranya mantap, jernih, dan sarat ketulusan yang tidak bisa dipalsukan.

“Ini adalah keberuntungan besar bagiku. Mulai hari ini, engkau adalah saudara Senior-ku.”

Ia merapatkan kedua telapak tangannya, lalu membungkuk dalam busur panjang yang nyaris menyentuh lantai. Gerakan itu tenang, penuh kesungguhan, tanpa sedikit pun keraguan.

“Senior, terimalah penghormatanku.”

Busur itu bukanlah formalitas kosong. Sebagai seorang Dokter tradisional yang memegang teguh aturan leluhur, Sanro Maega memahami bahwa satu busur tulus lebih berat nilainya daripada seribu janji lisan. Itu adalah sumpah diam, pengakuan dari hati ke hati, pengikatan nasib antara satu generasi dengan generasi berikutnya.

Fauzan Arfariza terdiam sejenak. Matanya menatap lelaki tua beralis tebal dan berjanggut panjang di hadapannya—sosok yang namanya disegani di dunia pengobatan, sosok yang pernah ia dengar sejak lama sebagai pilar keilmuan. Melihat orang seperti itu membungkuk dan memanggilnya Senior menghadirkan rasa canggung yang sulit dijelaskan. Namun di balik rasa aneh itu, Fauzan tahu, inilah jalan yang paling lurus, jalan yang dipilih oleh takdir dan diperkuat oleh kehendak leluhur.

“Bangkitlah,” ucap Fauzan pelan. “Ilmu tidak memandang usia. Yang tua tidak selalu lebih tinggi, yang muda tidak selalu lebih rendah.”

Kata-kata itu membuat Sanro Maega menunduk lebih dalam, dadanya terasa lapang seolah beban puluhan tahun terangkat.

Setelah semuanya jelas, Karaeng Araba memberi perintah singkat. Para pelayan bergerak cepat menyiapkan tempat ibadah. Di tengah ruangan, tablet peringatan Resi Purbaya Arfrizal ditegakkan dengan penuh khidmat. Asap dupa naik perlahan, melingkar, berpilin seperti naga halus yang menembus batas antara dunia fana dan alam roh. Rangkaian doa dilantunkan dengan suara rendah namun tegas, menggetarkan udara dan menyentuh lapisan terdalam jiwa.

Di hadapan altar itu, Sanro Maega bersujud, dahinya menyentuh lantai.

“Guru, murid terlambat, namun tidak pernah lupa,” ucapnya lirih.

Fauzan Arfariza berdiri di samping altar. Atas nama sang Resi, ia menerima Sanro Maega ke dalam Sekte Medis Kuno sebagai murid luar. Dengan demikian, garis warisan leluhur kembali tersambung, seperti sungai tua yang menemukan kembali hulunya.

Ketika ritual usai, Karaeng Galesong melangkah maju. Tubuhnya tegap, sorot matanya tajam, suaranya berat dan penuh wibawa.

“Saudara Sanro, mulai sekarang Saudara Fauzan adalah saudara Senior-mu. Maka kita bertiga, sebagai saudara seperguruan, akan berinteraksi setara.”

Ucapan itu jatuh seperti palu. Karaeng Araba dan Karaeng Fatimah terpaku. Makna di balik kalimat itu tidak ringan. Posisi generasi mereka bergeser, tatanan lama berubah dalam sekejap.

Terutama Karaeng Fatimah. Gadis yang tadi penuh amarah dan keberanian itu kini menelan kenyataan pahit. Ia berada satu generasi di bawah Fauzan Arfariza. Seseorang yang seusianya—bahkan tampak lebih muda—kini secara adat adalah pamannya. Dadanya bergolak, harga dirinya tercekik oleh aturan yang tidak bisa ia bantah.

Karaeng Galesong mengangkat tangan, memutus kebisuan. Tatapannya beralih ke Karaeng Araba.

“Nak Araba, cepat sapa Paman Fauzan.”

Karaeng Araba terdiam. Wajahnya menegang. Sebagai tokoh besar di Kota Jakarta, dikenal luas di dunia usaha dan dunia bawah, ia terbiasa diperintah, bukan diperintah untuk menunduk. Memanggil seorang pemuda sebagai Paman terasa seperti menelan duri.

Fauzan Arfariza tersenyum tipis, memecah ketegangan.

“Sudahlah, tak perlu dipaksakan. Mari kita saling memanggil nama saja. Kita berinteraksi setara.”

Karaeng Araba menghela napas lega, menepuk dadanya.

“Baik, Saudara Fauzan. Jika kelak ada apa pun di Kota Jakarta, katakan saja. Aku akan mengurusnya.”

Namun Karaeng Galesong belum selesai. Tatapannya beralih tajam ke Karaeng Fatimah.

“Fatimah, kemarilah. Sapa Paman Besarmu.”

“Tidak!” Karaeng Fatimah menghentakkan kaki. “Kakek, aku tidak mau! Dia bahkan tidak lebih tua dariku!”

Wajah Karaeng Galesong mengeras.

“Fatimah, jangan kurang ajar. Adat tidak boleh dibuang. Tanpa adat, kita bukan apa-apa.”

Bagi keluarga seperti mereka, adat adalah tulang punggung kehormatan, pondasi yang tidak boleh retak.

Fauzan Arfariza tidak berkata apa-apa. Ia hanya tersenyum, menatap Karaeng Fatimah dengan sorot mata tenang. Gadis itu telah merepotkannya sejak awal. Sedikit menggoda bukanlah dosa, melainkan pelajaran kecil tentang kerendahan hati.

Dengan wajah memerah, Karaeng Fatimah akhirnya menyerah.

“Halo… Paman Arfa.”

Suaranya nyaris tak terdengar. Fauzan menangkupkan telinga.

“Pendengaranku sudah tidak setajam dulu. Apa yang kau katakan?”

Gigi Karaeng Fatimah bergemeletuk menahan amarah.

“Halo, Paman Riza! Apakah sekarang kau mendengarnya?”

“Mendengar, mendengar,” jawab Fauzan sambil tersenyum. Ia mengeluarkan kertas dan pena, menulis cepat, goresannya mantap. “Sebagai Paman, aku harus memberi hadiah. Ikuti resep ini. Tubuhmu akan segera pulih.”

Karaeng Galesong mengangguk puas.

“Cepat ucapkan terima kasih.”

“Terima kasih… Paman Fauzan,” kata Karaeng Fatimah, meski di dalam hatinya terukir sumpah untuk membalas rasa kesal itu suatu hari nanti.

Tak lama kemudian, ponsel Fauzan berdering. Nama Nora Ananta muncul di layar.

“Fauzan, kau di mana?” suara itu hangat, penuh kedekatan.

“Kita makan malam. Restoran baru di Jakarta, Zoe Bellagio. Aku sudah memesan Ruang Nomor Satu. Jam enam.”

“Aku ke sana,” jawab Fauzan singkat.

Di luar, Karaeng Fatimah mengantarnya dengan wajah masam. Begitu melangkah keluar, ia merobek resep itu tanpa ragu dan membuangnya ke tempat sampah.

“Tidak perlu nasihat darimu,” gumamnya.

Fauzan hanya tersenyum. Ia tahu, penyakit di dada gadis itu akan kembali menyiksa, dan waktu akan menjadi pengajar yang paling kejam.

Di halaman, Karaeng Fatimah sengaja memilih sebuah Carry tua, bukan mobil sportnya.

“Masuk!” katanya ketus.

Di tengah perjalanan, mereka berhenti di pusat peralatan dapur. Fauzan membeli alat-alat untuk meracik Obat Herbal, pengganti tungku alkimia yang belum ia miliki. Setiap barang yang ia pilih seolah telah ditentukan sejak lama.

Namun tak lama setelah mereka pergi, beberapa SUV melaju kencang dan mengepung Carry itu. Puluhan preman bersenjata turun, langkah mereka berat dan penuh ancaman. Seorang botak mengayunkan golok panjang, menghancurkan kaca depan mobil dengan satu tebasan.

“Keluar sekarang!” teriaknya.

Dalam sekejap, mobil Carry itu hancur berantakan. Suara logam dan kaca pecah menggema, menjadi pertanda bahwa badai besar telah dimulai, dan jalan Fauzan Arfariza di Kota Jakarta akan segera dipenuhi benturan kehormatan, pertarungan nasib, serta ujian yang jauh lebih kejam daripada yang pernah ia bayangkan.

1
Achmad
gasss thor
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat Thor lanjut jangan pernah kendor
culuns
ini cerita Indonesia apa cina kok campur2
Nanang: translit ing
total 1 replies
Hary
PEREMPUAN MA GAMPANG, yg SUSAH itu DUIT...!!!
MOTTO : Menghadapi wanita tidak tau diri
KENAL, PIKAT, SIKAT, MINGGAT
O'Liong: ➕2️⃣1️⃣🤭
total 1 replies
sitanggang
novelnya mirip bgt, kek sebelah...tapi disebelah pakai nama china/Korea gitu. 🫣🫣
O'Liong
Sip
O'Liong
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!