Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?
Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.
Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.
Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.
Risikonya? Hampir mati setiap hari.
Akankah Arjo bertahan?
Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Enak Ya, Jadi Bupati
Kereta bupati melaju di jalan utama Kota Kadipaten. Kereta dengan kabin tertutup berlapis pernis hitam mengkilap, lambang kadipaten bercat emas di kedua pintu, ditarik empat ekor kuda gagah berbulu cokelat tua.
Tiga pengawal berkuda mengawal di depan, dua di belakang, tombak tegak, seragam kadipaten rapi, wajah tegas mengawasi sekeliling.
Satu pengawal yang paling depan berteriak lantang, “Minggir … kereta Bupati lewat!”
Kereta-kereta di depan menepi dengan patuh. Di dalam kereta bupati yang lapang, Sutarjo duduk bersandar di jok beludru merah dengan kaki disilangkan.
Jemarinya mengapit cerutu tebal dari kotak pribadi bupati, tembakau Deli kualitas terbaik, dicampur cengkeh Zanzibar yang harganya setara gaji mandor perkebunan sebulan penuh.
Asap mengepul tipis, aromanya mewah.
Arjo menyibak tirai sutra sedikit, mengintip ke luar jendela kaca yang dibuka.
Di sepanjang jalan, orang-orang menepi. Rakyat jelata berjongkok dengan tangan membentuk sembah.
‘Semua orang begitu menghormati.’
Tapi bukan menghormatinya, tentu saja. Tapi tetap saja rasanya... nikmat.
Arjo menghisap cerutunya dalam-dalam, lalu mengembuskan asap perlahan sambil tersenyum puas.
‘Enak jadi bupati.’
Di depan toko perhiasan, berdiri tiga orang perempuan ningrat. Para raden ayu muda berkebaya sutra dan kain batik halus. Wajah mereka terawat, kulit kuning langsat khas priyayi yang tak pernah terjemur matahari ladang. Mereka menoleh ketika kereta bupati lewat.
Arjo menilai pandangan mereka. Tatapan penuh kekaguman. Salah satu dari mereka bahkan menatap dengan tatapan menggoda, dada membusung indah.
Arjo nyaris melambaikan tangan sebelum akal sehatnya berteriak.
‘Jangan bodoh. Kau bukan bupati sungguhan.’
Ia memilih mengangguk samar, penuh wibawa, misterius, seperti yang sering dilakukan tuannya. Kemudian menutup tirai kembali, menyembunyikan seringai lebarnya.
‘Duh Gusti. Enaknya jadi turunan ningrat. Dihormati sejak lahir, jadi bupati, dipandang perempuan cantik dengan mata berbinar...
\~\~\~
Kereta meninggalkan kawasan ramai, memasuki jalan yang lebih lengang menuju perbatasan kota untuk meninjau pembangunan jalur kereta api baru.
Sang Bupati sendiri yang meminta Arjo menggantikannya karena ia harus mengurus hal lain yang tak bisa diwakilkan, atau lebih tepatnya, urusan perempuan.
Jalan semakin sepi. Pepohonan rindang mengapit kanan kiri. Semilir angin terasa semakin segar seiring kereta menjauh dari kota. Arjo meregangkan tubuh, menguap lebar. Sekali lagi mengisap cerutu dalam-dalam.
Dan saat itulah, Wusssh … jleb!
Sesuatu menembus jendela, merobek tirai sutra, dan menancap di dinding kayu kereta, hanya sejengkal dari hidungnya.
Anak panah. Ujungnya berkilat kehitaman.
Beracun.
Cerutu jatuh dari bibirnya.
Semua kenikmatan lenyap dalam sekejap. Tubuhnya yang tadi bersandar malas kini menegang. Indra langsung terjaga; pendengaran menajam, mata menyipit, napas tertahan.
‘Mode rakyat jelata. Mode bertahan hidup.’
Di luar, terdengar kekacauan. Derap kuda yang panik. Teriakan pengawal. Dentang logam beradu.
"Lindungi kereta!"
Wussh. Wussh. Wussh.
Tiga anak panah lagi menghantam dinding kereta. Dinding tebal dari kayu jati itu menahan semuanya, tapi Arjo tahu ia tak bisa selamanya berlindung di sini.
Pemuda itu bergerak cepat, mengunci pintu kanan, lalu pintu kiri. Punggung merapat ke dinding, menghindari jendela. Pertarungan di luar terdengar semakin ramai.
“Modar aku.”
Melalui celah tirai yang robek, ia mengintip ke luar. Bayangan-bayangan bergerak cepat di antara pepohonan. Sosok-sosok berpakaian serba hitam, wajah tertutup kain, menyerang para pengawal dengan pedang panjang.
‘Lima—tidak, delapan orang. Gerakan terlatih. Ini bukan perampok biasa.’
Para pengawal kadipaten bertarung mati-matian. Suara pedang beradu memenuhi udara. Seseorang berteriak kesakitan.
Arjo meraih pistol di pinggang, hendak membantu teman-temannya. Tapi di detik berikutnya…
Brakk.
Dari jendela yang tak diperhatikan. Sosok berpakaian hitam yang tampak paling langsing di antara para penyerang yang berbadan besar, meluncur masuk seperti anak panah, menendang pistol hingga benda itu terlempar ke luar.
Penyerang itu cepat, lincah, pisau menyambar ke arah leher. Arjo menangkis dengan tangan, melempar tas kulit ke wajah penyerang, yang ditangkis dengan mudah.
Mereka bertarung sengit, kereta bergoyang-goyang. Dan dalam jarak sedekat ini, Arjo melihat dengan jelas mata penyerangnya.
Mata yang terlihat dari celah penutup wajah. Mata dengan bulu lentik. Iris cokelat terang dengan bintik keemasan. Tajam, berbahaya tapi juga… Cantik. Mata indah yang rasanya tidak asing.
Sedetik ia terpana, dan penyerang itu memanfaatkannya. Tendangan ke tulang kering membuatnya mengaduh, cengkeraman di pergelangan tangannya terlepas.
Pisau itu terayun lagi.
Arjo menangkap pergelangan tangan penyerang, memeluntirnya ke belakang punggung perempuan itu. Tubuh mereka bertubrukan. Dalam usaha untuk mengungkap jati diri si penyerang, telapak tangannya mendarat di sesuatu yang... kenyal.
‘Eh. Wedok?’ (Perempuan)
Waktu seolah berhenti.
Penyerang menatap tangannya. Mata membelalak, bukan karena takut, tapi karena murka.
“Kau punya dada besar yang kencang,” bisik Arjo dengan menilai dada yang lain.
"Bajingan." Suara perempuan. Rendah, serak karena amarah, tapi jelas suara perempuan. “Singkirkan tanganmu!”
Hidungnya menukik ke leher yang terbuka. “Kau juga wangi. Aku baru tahu ada rampok yang wangi.”
“Bangsat, lepaskan aku!” Perempuan itu meronta, tangan Arjo yang di dada berlari ke belakang, mengamankan tangan sang penyerang yang nyaris lepas.
"Biar kulihat kau secantik apa?"
Dengan giginya ia menarik turun menutup wajah, namun baru terbuka sedikit, kepala itu mundur ke belakang dan menghantam hidung Arjo sebelum penutup wajah selesai dibuka. Arjo terhuyung ke belakang, punggung membentur dinding kereta. Pandangan menggelap sejenak, darah mengucur dari hidung.
Perempuan itu menyerang membabi buta, setiap gerakan dipenuhi kemarahan pribadi yang melampaui sekadar misi membunuh.
Arjo menangkis dengan lincah, tangannya terus mencari celah untuk membuka penutup wajah, ia yakin pernah melihat mata indah ini, tapi entah di mana?
Di luar, suara pertarungan mulai mereda. Para pengawal tampaknya berhasil menguasai keadaan.
Siulan panjang terdengar dari kejauhan.
Perempuan itu berhenti seketika. Matanya melirik ke luar, lalu kembali menatap Arjo dengan tajam. Untuk sedetik, mata mereka bertemu. Pisau masih teracung.
‘Di mana aku pernah melihat mata ini?’ batin Arjo.
Pemuda itu terkecoh, sabetan pisau yang dilayangkan ke selangkangan mendorongnya mundur ke sudut, ruang terbuka di antara mereka, secepat kilat, perempuan itu meluncur ke luar, menghilang ke arah pepohonan seperti bayangan yang ditelan kegelapan.
Arjo melompat keluar dari kereta, hendak mengejar. Kakinya baru menginjak tanah ketika dua pengawal menghadang.
"Jangan! Bisa saja ini jebakan untuk memancing kita masuk lebih dalam ke sarang mereka!"
Arjo menyeka darah di hidungnya dengan sapu tangan, matanya masih mengikuti bayangan hitam yang kini melompat dari dahan ke dahan, menjauh ke arah hutan dengan kelincahan luar biasa.
Pemuda itu menoleh ke kanan kiri jalanan yang sepi, berganti pada cara bicaranya yang biasa.
“Bajing loncat kae wedok, Cah! Ono yo wedok koyo ngunu?” (Bajing loncat itu perempuan, Teman. Ada ya, perempuan seperti itu?)
deg" sir ya Jo, kui persembahan nggo bupati yo
kira" bsk kalau udah tau soedarsono ini kakak'y dr ayah yg sama kira" gmn ya reaksi arjo