Kisah Shen Xiao Han dan Colly Shen adalah kelanjutan dari Luka dari Suami, Cinta dari Mafia, yang menyoroti perjalanan orang tua mereka, Holdes Shen dan Janetta Lee.
***
Shen Xiao Han dan Colly Shen, putra-putri Holdes Shen dan Janetta Lee, mewarisi dunia penuh kekuasaan dan bahaya dari orang tua mereka, Holdes dan Janetta.
Shen Xiao Han, alias Little Tiger, menjadi mafia termuda yang memimpin kelompok ayahnya yang sudah pensiun—keberanian dan kekejamannya melebihi siapa pun. Colly Shen, mahasiswi tangguh, terus menghadapi rintangan dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan.
Di dunia di mana kekuasaan, pengkhianatan, dan ancaman mengintai setiap langkah, apakah mereka akan bertahan atau terperangkap oleh bayangan keluarga mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Suatu tempat gelap hanya diterangi satu lampu tiang yang berkelip lemah.
Di halaman sebuah bangunan sekolah lama yang terbengkalai, beberapa remaja pria dan wanita berdiri sambil tertawa puas.
Di depan mereka, seorang gadis terikat pada pagar besi.
Tubuhnya berdiri terkulai, kedua tangan terikat di atas kepala. Kepalanya menunduk, tak bergerak—pingsan.
Pakaikannya robek dan dipenuhi bercak darah, bekas cambukan kasar yang baru saja diterimanya.
Jenny melangkah mendekat, menatap gadis itu dengan senyum penuh kemenangan.
“Colly Shen,” ucapnya mengejek.
“Bukankah kau selama ini sangat hebat? Akhirnya… kau kalah juga.”
Salah satu gadis di belakangnya tampak ragu. Ia mendekat dan berbisik pelan, matanya sesekali melirik ke arah Colly.
“Jenny… apa tidak masalah kita menyiksanya seperti ini? Kakaknya pernah datang ke kampus. Dia terkenal sangat kejam.”
Jenny mendengus kecil, lalu menyeringai meremehkan.
“Sekejam apa pun dia, dia tidak akan menemukan adiknya,” jawabnya dingin.
“Colly sudah seharian ada di sini. Tempat ini tidak ada yang tahu. Bangunan sekolah lama yang sudah dilupakan semua orang.”
Eco, salah satu pria yang berdiri di samping pagar, menelan ludah. Ada kegelisahan di wajahnya.
“Lalu… apa rencana kita sekarang?” tanyanya pelan.
Jenny menoleh, matanya berkilat kejam.
“Eco, Alan,” katanya santai namun berbahaya,
“kalian permalukan saja dia. Kami akan merekam semuanya.”
Ia mengeluarkan ponselnya, senyumnya semakin lebar.
“Setelah itu, videonya kita sebarkan ke kampus. Biar dia diusir. Aku yakin, dia akan menanggung malu seumur hidup.”
Juna, yang sejak tadi diam, tampak semakin gelisah.
“Apa tidak terlalu berlebihan?” tanyanya ragu.
“Dia bisa saja kehilangan nyawa…”
Jenny tertawa kecil, dingin dan tanpa empati.
“Kalau dia tidak tahan, biar saja bunuh diri,” katanya ringan.
“Setelah ternoda dan dilihat semua orang, hidupnya juga tidak berguna lagi. Mati adalah jalan terbaik.”
Suasana menjadi mencekam.
Jenny lalu melambaikan tangan dengan malas.
“Lepaskan dia. Kalian lakukan saja sesuka hati kalian.”
Eco kembali bertanya, suaranya bergetar.
“Jenny… apa kau yakin kakaknya tidak akan tahu kalau kita pelakunya?”
Jenny tertawa keras.
“Siapa kakaknya?” katanya sombong.
“Aku putri pejabat. Aku hanya butuh satu perintah untuk menangkap kakaknya ... yang bahkan bukan siapa-siapa!”
Atas perintah itu, Eco dan Alan mulai melepaskan ikatan di tangan Colly. Tubuh gadis itu hampir roboh, namun mereka menahannya dengan kasar.
Jenny mengangkat ponselnya, kamera sudah menyala.
“Lepaskan pakaiannya,” perintahnya dingin.
“Dan kita mulai merekam.”
Di saat Eco dan Alan hendak merobek pakaian Colly, gadis itu tiba-tiba membuka matanya, menatap tajam, dan menahan tangan kedua pria yang juga teman sekelasnya.
Kedua tangannya menekankan pergelangan tangan Eco dan Alan dengan kekuatan yang mengejutkan.
“Bukankah kau sudah pingsan?” tanya Eco, suaranya terdengar gugup saat menghadapi Colly.
“Sekelompok orang bodoh macam kalian, mana bisa membuatku pingsan?” jawab Colly dingin, sambil mematahkan pergelangan tangan kedua pria itu dengan mudah.
“Aaahh!” jeritan Eco dan Alan pecah serentak, suara mereka terdengar menyayat.
Jenny dan Juna melebarkan mata mereka, tak percaya dengan apa yang terjadi.
“Colly Shen… kau hanya berpura-pura?” tanya Jenny, suaranya menahan kekesalan dan ketakutan sekaligus.
“Kalau aku tidak berpura-pura, mana mungkin aku bisa tahu siapa saja rekanmu?” jawab Colly dengan tajam. “Jenny… kau benar-benar sampah yang tidak berguna. Memanfaatkan kekuasaan untuk melawanku… kau salah orang!”
Dengan satu gerakan cepat, Colly melayangkan tangannya ke arah Jenny dan Juna.
Plak! Plak! Dua benturan keras terdengar jelas, tubuh Jenny dan Juna tersungkur, kesakitan dan terhenyak.
“Kalau kau berani menyentuhku, papaku akan menangkapmu!” kecam Jenny, darah mengalir dari sudut bibirnya.
Colly menurunkan kakinya, lalu menginjak dada Jenny tanpa ragu.
“Aaagg!” jerit Jenny kesakitan, tubuhnya kejang di tanah.
“Apakah kau benar-benar berpikir ayahmu bisa melindungimu?” tanya Colly dingin. “Ayahmu sendiri bahkan tidak mampu melindungi dirinya… apalagi dirimu.”
Jenny terdiam, napasnya tersengal.
“Saat ini,” lanjut Colly sambil menyilangkan tangan di dada, “ayahmu sedang berhadapan langsung dengan kakakku. Dan apa yang kau lakukan barusan ... setiap cambukan, setiap hinaan ... telah ditonton oleh mereka berdua.”
Wajah Jenny memucat.
Pada saat itu, sejumlah pria berbadan tegap muncul dari balik kegelapan, melangkah keluar satu per satu. Mereka mengepung lokasi dengan rapi dan terlatih. Dua di antaranya langsung menahan Eco dan Alan yang masih meringis kesakitan.
“Kau…” suara Juna bergetar, wajahnya pucat pasi. “Kau sudah tahu semuanya sejak awal?”
“Tentu saja,” jawab Colly datar. “Dasar bodoh. Untuk menghadapi kalian, aku bahkan tidak perlu mengunakan tenaga.”
Colly menatap mereka satu per satu, sorot matanya tajam dan dingin.
“Aku hanya membiarkan kalian mempertontonkan kebodohan sendiri,” lanjutnya. “Sekarang pikirkan baik-baik. Jika rekaman penyiksaan yang kalian lakukan ini disebarkan… apakah kau yakin jabatan ayahmu masih aman? Dan kau—” matanya berhenti pada Jenny, “—masih bisa menginjakkan kaki di kampus itu lagi?”
"Sebelum mencari masalah denganku, seharusnya kau cari tahu siapa aku," kata Colly.
***
Di sisi lain gedung tinggi, sebuah ruangan kantor terlihat hancur. Meja dan kursi berantakan, dokumen berserakan di lantai. Di tengah kekacauan itu, seorang pria paruh baya terkapar, darah mengalir dari mulutnya. Dialah Marcus He, pejabat yang dikenal dan dikagumi oleh rakyatnya.
Di depannya, seorang pria muda duduk dengan tenang, mengelap tangan yang berdarah dengan sapu tangan yang diberikan asistennya.
"Siapa kau? Kenapa menyerangku?!" suara Marcus penuh amarah sekaligus ketakutan.
Pria muda itu menatapnya dingin. "Namaku Shen… Xiao… Han. Putrimu telah menyinggung adikku. Aku datang untuk membalas… karena kau tidak mampu mendidik anakmu."
"Kau tahu siapa aku, masih berani menyinggungku," kata Marcus.
"Aku bisa menghancurkanmu dalam waktu lima menit, apakah kau percaya? Seluruh masyarakat negara ini akan menyingkirkanmu. Aku memiliki kemampuan untuk membuatmu dan keluargamu kehilangan segalanya ... bahkan makam leluhurmu juga tidak akan luput," kecam Xiao Han.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Hai, teman-teman yang belum pernah membaca kisah kedua orang tua Shen Xiao Han dan Colly Shen, silakan mampir ke karya berjudul 👇👇👇