NovelToon NovelToon
Melodi Yang Tidak Tersentuh

Melodi Yang Tidak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Yumine Yupina

Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.

Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?

Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1 — Kota yang Membiarkan Orang Datang

Aozora City tidak menyambut siapa pun dengan gegap gempita. Kota itu hanya ada—dengan langit biru yang terlalu luas, angin laut yang asin, dan suara burung camar yang terdengar seperti komentar singkat tentang hidup orang lain. Tapi bagi Kirishima Airi, kota itu terasa seperti napas panjang yang akhirnya bisa ia tarik setelah bertahun-tahun menahan dada.

Ia berdiri di depan gerbang Universitas Aozora, memegang koper kecil dengan satu tangan dan map pendaftaran di tangan lainnya. Orang-orang berlalu-lalang, sebagian tertawa, sebagian sibuk dengan ponsel, sebagian lagi terlihat gugup seperti dirinya. Airi mengamati semuanya dengan jarak yang aman, seolah takut terseret terlalu dalam oleh suasana baru.

“Kalau kamu terus berdiri di situ,” suara datar terdengar dari sampingnya, “kamu bakal ketinggalan orientasi.”

Airi menoleh, lalu mendengus kecil.

“Kenapa kamu selalu muncul pas aku lagi mikir?”

Hayasaka Ren berdiri di sana, mengenakan jaket tipis warna gelap dan tas gitar yang disampirkan santai di punggungnya. Rambut hitamnya sedikit lebih panjang dari terakhir Airi melihatnya, tapi ekspresinya sama—tenang, terlalu tenang, seperti danau yang tidak pernah menunjukkan riak.

“Karena kamu kebiasaan mikir sambil melamun,” jawab Ren singkat.

Airi memutar mata. “Aku bukan melamun. Aku sedang mencerna kenyataan bahwa aku sekarang mahasiswa.”

“Berarti kamu akhirnya mencerna juga,” kata Ren. “Bagus.”

Airi hampir tertawa, tapi menahannya. Bersama Ren, ia selalu berada di antara ingin tersenyum dan ingin memukul bahunya. Hubungan mereka terlalu lama untuk diberi nama sederhana. Mereka tumbuh bersama—jatuh, bangkit, dan diam dalam jeda yang sama.

“Jadi,” Airi melangkah masuk ke area kampus, “kamu beneran keterima di sini?”

Ren mengangguk. “Seperti rencana.”

“Kamu bilang itu kayak kebetulan.”

“Beberapa kebetulan direncanakan.”

Airi meliriknya curiga. “Kamu aneh.”

Ren tidak menyangkal.

Di tengah langkah mereka, sebuah suara pelan memanggil nama Airi.

“Airi…”

Airi menoleh, lalu wajahnya langsung melunak.

Sato Hinami berdiri beberapa meter dari mereka, memeluk tas kain besar yang tampak terlalu berat untuk tubuhnya yang kecil. Rambutnya diikat sederhana, dan di tangannya ada buku manga yang setengah tersembunyi, seolah refleks.

“Hina,” kata Airi, senyumnya muncul tanpa usaha.

Hinami mendekat, langkahnya pelan tapi pasti. “Kalian cepat sekali.”

“Kamu telat,” kata Airi, tapi nadanya sama sekali tidak terdengar marah.

“Aku ke toko buku dulu,” jawab Hinami lirih. “Cuma sebentar.”

Ren mendesah pelan. “Definisi ‘sebentar’-mu tidak pernah berubah sejak SMP.”

Hinami tersenyum kecil, nyaris tidak terlihat.

Bagi Airi, melihat Hinami di kampus yang sama seperti menemukan benda familiar di tempat asing. Sahabatnya sejak SMP itu selalu hadir tanpa banyak suara—tanpa pertanyaan yang menuntut jawaban, tanpa dorongan yang memaksa Airi untuk baik-baik saja.

Mereka berjalan bersama menuju gedung utama orientasi. Airi memperhatikan bayangan mereka di lantai kampus yang terang—tiga orang dengan langkah yang tidak sepenuhnya sinkron, tapi selalu bergerak ke arah yang sama.

Orientasi berjalan panjang dan melelahkan. Nama-nama dosen, jadwal, aturan kampus—semuanya terasa menumpuk di kepala Airi seperti suara radio yang tidak disetel benar. Ia mencatat seperlunya, lalu lebih sering menggambar garis-garis kecil di pinggir buku catatan.

Ketika akhirnya sesi berakhir, Airi merasa seperti baru keluar dari ruangan tanpa udara.

“Aku butuh makan,” katanya begitu mereka keluar gedung.

Ren mengangguk. “Kafetaria?”

“Yang paling dekat,” sahut Airi cepat.

Mereka belum sampai lima langkah ketika suara lain menyela.

“Kirishima?”

Langkah Airi terhenti.

Ia menoleh perlahan, dan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat—bukan karena takut, melainkan karena ingatan yang tiba-tiba muncul.

Kurose Haruto berdiri di sana, lebih tinggi dari yang ia ingat, dengan rambut hitam sedikit berantakan dan tatapan yang sama seperti dulu: dingin di permukaan, tapi terlalu fokus untuk benar-benar acuh.

“Haruto…” Airi mengucapkannya tanpa sadar.

Haruto mengangguk singkat. “Kupikir salah lihat.”

Ren langsung berdiri sedikit lebih dekat ke Airi, refleks yang bahkan ia sendiri mungkin tidak sadari. Hinami mengamati mereka berdua tanpa bicara.

“Kamu masuk sini juga?” tanya Haruto.

“Iya,” jawab Airi. “Jurusan Seni Digital.”

“Masuk akal,” kata Haruto. “Kamu dari dulu nggak pernah jauh dari seni.”

Airi tertawa kecil, canggung. “Kamu sendiri?”

“Manajemen Event.”

Ren mengangkat alis. “Kakak kelas SMA?”

Haruto melirik Ren, menilai sebentar. “Teman masa kecil?”

Ren tidak menjawab, hanya mengangguk.

Suasana menjadi aneh—bukan tegang, tapi penuh ruang kosong yang diisi oleh hal-hal yang tidak diucapkan. Airi bisa merasakannya. Dulu, di SMA, ia hanya mengenal Haruto sebagai kakak kelas yang jarang bicara, tapi selalu hadir di setiap acara musik sekolah.

Ia tidak tahu bahwa Haruto mengingat suaranya.

Haruto tidak tahu bahwa Airi masih mengingat tatapannya di rooftop sekolah.

“Kalian mau ke mana?” tanya Haruto akhirnya.

“Makan,” jawab Airi.

“Kalau begitu…” Haruto ragu sepersekian detik. “Aku ikut. Sekalian lihat kafetaria.”

Airi mengangguk. Ia tidak menolak, meski ada rasa asing yang berdesir di dadanya.

Mereka duduk di meja panjang dekat jendela. Cahaya siang masuk, membuat suasana terasa ringan. Haruto lebih banyak diam, Ren sesekali berbicara soal jadwal, Hinami fokus membuka bekalnya.

“Airi,” kata Haruto tiba-tiba, “kamu masih nyanyi?”

Pertanyaan itu sederhana. Tapi dada Airi mengencang.

“Masih,” jawabnya pelan.

“Bagus,” kata Haruto singkat. “Suaramu… sayang kalau berhenti.”

Ren menoleh cepat ke arah Airi. Ia melihat bahu Airi menegang sesaat, lalu perlahan rileks kembali. Airi tersenyum kecil, tapi matanya tidak sepenuhnya ikut tersenyum.

“Makasih,” katanya.

Tidak ada yang tahu bahwa pujian, bagi Airi, selalu datang bersama bayangan yang tidak diundang.

Setelah makan, mereka berpisah. Haruto harus mengurus administrasi jurusan, Ren menuju gedung musik, dan Hinami pamit karena ingin kembali ke toko buku.

Airi berjalan sendirian menyusuri kampus. Ia melewati papan pengumuman, gedung seni, dan taman kecil yang dipenuhi mahasiswa baru yang tertawa keras. Ia merasa… tidak sepenuhnya asing, tapi juga belum benar-benar pulang.

Di dekat kafetaria, matanya tertumbuk pada sebuah poster.

OPEN AUDITION

BAND CAMPUS

SILENT ECHO

Airi berhenti.

Ia membaca poster itu sekali, lalu sekali lagi.

Band kampus.

Audisi terbuka.

Dadanya bergetar kecil, seperti ada nada yang disentuh pelan.

Ia tidak tahu siapa yang membuat band itu. Tidak tahu siapa saja yang akan datang. Ia hanya tahu satu hal—musik selalu menjadi tempatnya bersembunyi, sekaligus satu-satunya tempat di mana ia merasa jujur.

Airi menatap poster itu lama, sebelum akhirnya tersenyum kecil.

“Mungkin…” gumamnya pelan, “aku bisa mencoba.”

Langit Aozora tampak cerah hari itu.

Dan tanpa disadari Airi, kota ini perlahan mempertemukannya kembali dengan masa lalu—dan sesuatu yang baru, yang belum berani ia beri nama.

1
Esti 523
suemangad nulis ka
mentari anggita
iihh hati aku ikut panas dan sesak. Amarah Ren kerasa nyata, tapi lebih sakit lagi waktu dia harus berhenti demi Airi dan orang tuanya. 😭
Huang Haing
Semangat kak, penulisan nya bagus banget! 👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!