NovelToon NovelToon
Menikah Karena Wasiat Kakek

Menikah Karena Wasiat Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sarah Mai

Wasiat dua kakek yang bersahabat sejak lama menetapkan Adam dan Hawa sebagai pasangan di masa depan. Namun ketika waktu itu tiba, Adam justru menolak perjodohan tersebut. Ia merasa belum siap dan memilih fokus pada hidup serta pekerjaannya di Australia. Demi menghindari perjodohan itu, Adam mendorong adiknya Harun untuk menggantikan posisinya menikahi Hawa. Keputusan itu ternyata menjadi titik awal munculnya berbagai masalah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Adam tolak perjodohan

Disclaimer

Novel ini adalah karya fiksi. Segala kejadian, nama tokoh, tempat, atau lokasi yang muncul hanyalah hasil imajinasi penulis dan digunakan semata-mata untuk tujuan hiburan. Apabila terdapat kesalahan dalam penulisan nama, tempat, atau detail lainnya, penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya, Karena penulis masih dalam tahap belajar dan sangat berharap karya ini dapat tetap dinikmati oleh para pembaca.

Australia, 2 Agustus 2024

Ponsel Adam bergetar keras di atas meja kerjanya, membuyarkan fokus Adam dari tumpukan laporan penjualan yang baru saja ia selesaikan. Bibirnya tersenyum sumringah dengan hasil penjualan yang cukup memuaskan namun tiba-tiba ia terperanjat saat nada dering ponselnya bergetar dan layar menampilkan nama My Mom.

Adam menghela napas sejenak, menepuk-nepuk bahunya yang pegal, lalu mengangkat telepon itu.

“Assalamualaikum, Adam,” terdengar suara ibu yang ceria.

“Waalaikumsalam, Ma,” jawabnya lembut.

“Bagaimana kabarmu, Nak?”

“Baik, Ma. Alhamdulillah.”

“Syukurlah.” Nada Rani terdengar lega, lalu berubah lebih serius. “Bagaimana penjualan kayu jati di Sydney?”

Adam tersenyum kecil. “Wah, Alhamdulillah, Ma. Setahun ini peningkatannya pesat sekali. Pesanan bahkan datang dari Kuwait, Arab Saudi, Oman… pokoknya negara-negara Timur Tengah benar-benar suka ukiran kayu jati dari Indonesia.”

“Syukurlah, Sayang,” gumam Rani. Namun setelah itu suaranya menurun pelan. “Adam… ada hal penting yang harus Mama sampaikan dan Mama rasa kamu sudah tahu hal ini!"

Adam memejamkan mata. Nada ibunya itu seperti membawa firasat tidak enak.

“Berdasarkan wasiat almarhum Kakekmu… kamu harus menikahi cucu dari kakek Surip. Namanya Hawa.”

Adam tersedak napasnya sendiri. “Hawa? Hawa yang dulu ingusan itu, Ma?”

Ingatan masa kecilnya melintas seperti film cepat: seorang gadis kecil berlari-lari dengan hidung meler, rambut dikepang dua, pipi belepotan es lilin. Adam langsung merinding membayangkannya.

“Betul,” jawab Rani. “Tapi itu kan dulu. Sekarang Hawa sudah dewasa, cantik, mandiri, sholehah. Usianya dua puluh tiga, dan dia bekerja sebagai seorang perawat.”

Adam berdiri dari kursinya, berjalan gelisah ke arah jendela apartemennya yang menghadap Opera House. “Haduh, Ma… ini sudah zaman robot. Masa iya! Masih ada perjodohan segala?”

“Ini bukan main-main, Adam.” Nada ibunya mengeras. “Almarhum Kakekmu, Sulaiman, menetapkan itu sebagai amanah besar. Karena itu juga beliau rela memberikan usaha kayu jatinya kepadamu. Kamu tidak boleh mengingkari.”

“Ma, Adam belum siap menikah!” Suaranya merendah, dingin, dan keras kepala.

“Umurmu sudah tiga puluh tahun, Adam. Apanya yang belum siap? Mama dengar kamu punya banyak pacar di sana. Mama cuma ingin kamu menikah, bukan berzina!” seru Rani dengan nada tinggi. “Pokoknya Mama tidak mau tahu. Kamu harus menikah dengan Hawa. Karena kami sudah melamarnya dua hari yang lalu untukmu!”

“Ma—”

Trup.

Telepon terputus. Begitu saja.

“Ma… Mama!” Adam melotot pada layarnya, tak percaya.

Ia melempar ponsel itu ke sofa. “Arrgh!”

Kekesalan dan rasa tidak berdaya bercampur menjadi satu. Ia merasa seakan hidupnya dipaksa berbelok ke jalan asing yang tidak pernah ia inginkan.

Malam itu, Adam gagal tidur. Ia memandangi foto-foto Hawa yang dikirim ibunya. Benar, Hawa sudah berubah. Ia terlihat cantik, sopan, dan anggun dengan mata bulat yang lembut.

Tapi hati Adam tetap tak tersentuh.

Bahkan semakin ia melihat foto itu, semakin muncul penolakan.

Ia meraih ponselnya dan menekan kontak adiknya bernama Harun.

“Harun,” panggilnya tergesa-gesa saat sang adik mengangkat telepon!“Bagaimana kalau kamu saja yang menikah dengan Hawa, seperti apa yang kakek sudah wasiatkan?”

Harun terdiam beberapa detik. “Tapi, Kak…hal itu sudah diamanahkan kepada kakak, lagian aku sudah punya tunangan. Aku cinta banget sama Raisa. Mana mungkin aku meninggalkannya begitu aja?” tolak Harun.

“Aku tahu.” Adam menelan ludah dan menghidupkan satu batang rokoknya “Dengar dulu. Ini cuma sementara.”

“Sementara bagaimana maksudnya?”

“Kamu menikah kontrak dengan Hawa. Hal ini hanya kita berdua yang tau. Kau menyentuhnya atau tidak itu terserah kamu. Lalu setelah beberapa bulan, kau ceraikan Hawa. Setelah itu kau bebas menikahi Raisa.”

Harun terdiam lama.

Adam menambahkan umpan pamungkas.

“Kalau kau setuju, perusahaan anak cabangku yang ada di Sumatera… aku serahkan untukmu.”

Harun refleks menahan napas. Ia tahu perusahaan itu besar. Stabil dan menggiurkan.

“Baik, Kak… Aku bersedia," ucap Harun tanpa ragu.

Senyum puas mengembang di wajah Adam. Ia mengira masalahnya selesai.

Namun ia belum tahu bahwa keputusan itu justru akan merusak hidup banyak orang.

Dua Minggu Kemudian

Adam menolak keras pernikahan wasiat yang telah kakeknya tetapkan dengan berbagai alasan. Atas dasar skenario Adam. Harun kemudian menyampaikan keinginannya untuk menikahi Hawa kepada keluarga. Awalnya semua yang mendengar terkejut. Namun karena Adam menolak, mereka pikir Harun adalah pengganti terbaik untuk memenuhi wasiat sang kakek.

Persiapan berlangsung sangat cepat. bahkan Harun merasa belum siap.

Dari Australia, Adam terus memantau semua jalan persiapan pernikahan melalui video call. Dari butik, masjid, hingga rumah kediaman Hawa yang mulai sibuk menerima tamu. Harun meminta kepada Adam agar pernikahan berlangsung tertutup dan tidak megah.

Begitu mendengar rencana itu, Raisa sang kekasih Harun meledak marah.

“Harun, apa yang kamu lakukan?!” teriaknya sambil menangis. “Kamu mau nikah sama perempuan lain, lalu bagaimana dengan aku?!”

“Sayang… Sayang dengar aku dulu,” Harun mencoba meraih tangan Raisa dengan lembut. “Ini hanya pernikahan sementara. Begitu semua selesai, perusahaan Adam yang ada di Sumatera bakal jadi milik kita seutuhnya.”

Raisa memelototinya tajam. “Kamu pikir aku percaya begitu saja? Kamu pikir aku bodoh, Harun?” bentak Raisa.

Harun mengusap wajahnya. “Aku janji. Aku nggak akan sentuh Hawa demi kamu.”

Raisa terdiam dengan mata memerah tebal.

“Baiklah tapi ada syaratnya.”

Harun menelan ludah. “Apa?”

“Setelah kamu menikah dengan Hawa… kamu juga harus menikah siri dengan dan kau tidak boleh menyentuhnya sedikitpun" ucap tegas Raisa.

Harun terpaku dan berpikir keras. Tak ingin ribet pria itu akhirnya mengangguk, terjebak antara ambisi dan cintanya.

“Baiklah, Sayang aku janji.”

Raisa memeluk Harun dengan erat, seolah memastikan pria itu tetap miliknya.

*

Jakarta 20 Agustus 2024.

Hari pernikahan kediaman rumah Hawa.

Hawa duduk di depan cermin, mengenakan kebaya putih sederhana. Jemari ibunya sibuk merapikan jilbabnya. Hawa menunduk, menahan air mata yang menggenang.

“Hawa ikut saja, Ma…” ucapnya lirih. “Kalau ini amanah keluarga… Hawa nurut.”

Ibunya tersenyum lembut. “Mama cuma ingin kau bahagia, Nak. Walaupun tidak menikah dengan Adam, Harun adiknya juga anak yang baik dan pekerja keras. Yang terpenting masih keturunan kakek Sulaiman, sesuai permintaan kakekmu, mudah-mudahan dia bisa jadi imam yang baik buat kamu!" peluk sang ibu dengan cinta dan kasih sayang yang hari itu harus merelakan Hawa menikah.

Hawa mengangguk lemah. Ada rasa takut yang tidak bisa ia jelaskan. Ia sama sekali belum mengenal Harun. Tapi ia percaya bahwa pernikahan adalah ibadah.

Hawa akan menjalaninya dengan sepenuh hati.

1
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
pasrahkan saja jalan yang akan di lalui pada yang memberi hidup.
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
dalam hati Adam berharap juga kan bisa menikah dengan Hawa setelah badai itu pergi
🍁𝑴𝒂𝒎 2𝑹ᵇᵃˢᵉ🍁
klo jodohnya kamu Adam mau lari kemanapun pasti ketemu Hawa
🍁𝑴𝒂𝒎 2𝑹ᵇᵃˢᵉ🍁
janda tapi perawan dong
𝐙⃝🦜🅰🆈🅰𒈒⃟ʟʙᴄ
kalo suka bilang suka jangan pura2 ga ada rasa malah bilang belum mau menikah udah jelas dulu kamu yang maksa hawa untuk menggantikan malam pertama bersama Harun karna cemburu,jangn jadi laki2 muna deh🙄
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻
jangan sampai Hawa semakin ilfil sama kamu dam,,kalau memang suka jangan menyangkalnya
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻
betul hawa
υɐnſɐnH🎐ᵇᵃˢᵉ𝐙⃝🦜
kira² yang akan jatuh cinta duluan siapa ya.. Adam atau Hawa 😳
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻: kurasa Adam kak 🤭
total 1 replies
υɐnſɐnH🎐ᵇᵃˢᵉ𝐙⃝🦜
sebentar lagi Adam mau belah duren 🤣🤣🤣
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
sebenernya kasihan Hawa dam Adam. karena perjanjian kedua kakek mereka.mereka yang jadi korban dan menanggung akibatnya
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
jadi sekarang yang kena teror gantian bapaknya Hawa
Paradina
seru kak, lanjut 😍
Qothrun Nada
setelah nikah jangan harap ada jatah,stok rasa sabar mu seluas samudra Adam 😀
Qothrun Nada
hooh orang pintarnya pak penghulu 😀
Qothrun Nada
andai bapaknya Hawa bisa seperti pak Joko, pasti ibunya Adam bisa menyeret Adam untuk tetap menikahi Hawa dulu
Qothrun Nada
😅😅😅
Qothrun Nada
jangan nyalahin Hawa dong, kasihan dia
Qothrun Nada
marah seperti kakek Sulaiman
Qothrun Nada
kapok, makanya jadi bapak itu yg tegas, kalau dulu dia menolak tentu Hawa gk nikah sama Harun karena gk ada walinya
Qothrun Nada
heem jadi adam 2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!