Alurnya mengandung kontroversi, jadi cerdaslah dalam menyikapinya. Jika penasaran mengapa mengambil alur semacam ini disarankan membaca hingga tuntas agar paham akan pesan yang ingin disampaikan melalui cerita ini.
Yang tidak kuat dengan alur semacam ini harap diskip saja 😊🙏.
Terima kasih dan selamat membaca.
*****
Kisah tentang seorang gadis bernama Bunga berusia 23 tahun yang sering mendapatkan pertanyaan dari orang-orang terdekatnya. Sebuah pertanyaan yang menjadi stigma di masyarakat dan paling ingin dihindari oleh setiap orang yang tak kunjung mempunyai pasangan.
"Umur kamu sudah segitu, kapan menikah?"
Pertanyaan yang seakan sederhana bagi yang bertanya, tetapi tidak bagi orang yang mendapatkannya.
Kemudian dia bertemu dan jatuh cinta kepada lelaki yang bernama Sastra Prawira, seorang Sastra dengan sejuta pesona yang menyihir dirinya yang tak berpengalaman.
Namun, sayangnya Sastra adalah sosok yang tidak percaya terhadap ikatan pernikahan karena trauma masa lalu yang dialaminya, bertolak belakang dengan Bunga yang sangat mengejar status tersebut akibat tekanan dari orang-orang di sekitarnya.
Kisah dua jiwa terluka, yang tertatih-tatih mencari penawarnya.
Bagaimanakah kelanjutannya? Akankah berlabuh pada ikatan suci tersebut atau malah sebaliknya?
Selamat membaca....
---
Warning 21+ ⚠️. Harap bijak memilih bacaan.
DILARANG PLAGIAT CERITA INI!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjahari_ID24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KM Part 1
Di pagi hari, saat begitu padatnya aktivitas orang-orang terlihatlah seorang gadis berlari tergopoh-gopoh menuju halte bus.
Dialah Bunga, dengan rambut dikuncir kuda, riasan seadanya hanya menggunakan bedak bayi dan lip glos. Bunga mempunyai tinggi badan yang cukup proporsional dengan kulit kuning langsat berwajah cantik oriental bermata agak sipit.
Sambil sesekali menggigit bibir, dia terus menerus melirik jam tangannya karena takut terlambat sampai di swalayan tempatnya bekerja.
"Kenapa sih busnya lama sekali? Haduh, bisa-bisa si bos ngomel-ngomel lagi,” gerutunya sendiri.
Di saat persaingan kerja yang begitu ketat, Bunga bersyukur masih bisa diterima bekerja walaupun hanya sebagai karyawan swalayan. Dia sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk biaya kursusnya, juga untuk membantu keuangan keluarganya yang pas-pasan.
Padahal, Bunga merupakan salah satu anak yang berprestasi dengan nilai akademik yang sangat memuaskan, bahkan dia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Bunga melewatkan kesempatan itu dan lebih memilih untuk segera mencari pekerjaan saja, karena walaupun biaya kuliah mendapatkan beasiswa, tetapi untuk biaya sehari-hari tetap harus merogoh kocek sendiri.
la tidak bisa egois melanjutkan kuliah seperti teman-temannya karena adik-adiknya lebih membutuhkan biaya untuk bersekolah. Untuk itulah Bunga mengalah, lebih memilih bekerja agar bisa membantu keuangan kedua orang tuanya serta membantu membiayai sekolah adik-adiknya.
Tak lama berselang, terlihatlah bus yang ditunggu-tunggu dan Bunga akhirnya tersenyum lega. Dari halte menuju tempat kerjanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh lima menit untuk sampai di tujuan. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh tiga puluh dan jadwal masuk karyawan adalah pukul delapan pagi, jadi saat sampai di swalayan Bunga masih mempunyai waktu untuk sekadar merapikan penampilannya yang acak-acakan akibat berlarian tadi.
Pukul delapan tepat, Bunga pun sampai di tempat kerjanya dan sudah ada temannya Deni yang lebih dulu tiba di sana. Deni melambai lalu menyapa.
"Hei, raflesia arnoldi. Tumben baru sampai, biasanya kamu selalu datang bahkan sebelum fajar mengintip," celetuknya sambil terkekeh.
Bunga memutar bola matanya malas sambil mencebikkan bibir. "Itu mulut diem aja deh, daripada ngomong yang nggak guna. Lagian namaku itu Bunga, bukan Raflesia Arnoldi, kau pikir aku bau bangkai apa!" balas Bunga dengan mimik muka sebal.
Deni hanya terbahak-bahak melihat Bunga yang sedang mengerutu dan bersungut-sungut sambil merapikan rambutnya. Saking asyiknya tertawa, Deni nyaris terjengkang ke belakang.
Di swalayan ini para pekerja harus datang lebih awal mengingat mereka bukan hanya menjual barang-barang kering dalam kemasan, tetapi juga sayur-mayur dan buah-buahan segar yang harus ditata dan disortir sebelum swalayan dibuka pada pukul sembilan tepat. Gajinya memang tidak besar, tetapi Bunga tetap bersyukur bisa mempunyai penghasilan sendiri, berharap bisa cukup untuk dibagi dengan kebutuhan orang tua juga untuk sekolah adik-adiknya.
Hidup memang tidak selalu mudah. Bagi sebagian orang mereka harus mampu menyambung hidup dengan uang yang pas-pasan. Dituntut pandai mengatur keuangannya sedemikian rupa dan berhemat sebisa mungkin. Seperti Bunga yang saat menerima gaji dia tidak bisa berfoya-foya walaupun hanya untuk sekedar nongkrong di kafe ataupun membeli sepotong pakaian baru. Dia harus benar-benar mempertimbangkan apa yang dibelinya adalah hal yang benar-benar dibutuhkan, bukan membeli karena keinginan.
Bersambung.