NovelToon NovelToon
Ling Tian

Ling Tian

Status: tamat
Genre:Komedi / Petualangan / Karir / Ahli Bela Diri Kuno / Murid Genius / Bepergian untuk menjadi kaya / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:6M
Nilai: 4.8
Nama Author: Adib Mudzofar

Mengisahkan sosok Jamal si bocah biasa dari desa, namun akhirnya mampu meroket hingga kekancah dunia. Entah itu dunia nyata atau bahkan dunia imajinasi.

Dia dipilih menjadi murid pribadi Sang Pendekar Legenda. Dilatih berbagai ilmu tentang pendekar. Seperti jurus-jurus, alcemis, formasi, dan penempaan senjata.

Ada apakah? Mengapa demikian? Simak kisahnya!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adib Mudzofar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dirundung Pilu Dan Kegundahan (revisi)

Bagi yang tidak mau bertele-tele dan ingin masuk ke fantasinya bisa langsung loncat ke chapter 22 (awal mula). Namun pasti akan menemukan beberapa poin pertanyaan yang jawabannya ada di chapter 1 - 21. Terima kasih dan selamat membaca. Juga mohon maaf jika tulisannya di awal-awal bab sangatlah acak-acakan.

***

Sepoi-sepoi angin malam terasa dingin menusuk tulang, menggerakkan dedahan pohon disana-sini, gesekan daun-daunnya membunyikan melodi khas alam, juga rintik-rintik hujan terdengar diatas genting menambah syahdunya suasana itu. Ia masih terduduk didepan kamar pondoknya. Kamar 15 komplek c. Terkadang ia masuk ke kamar hanya sekedar ingin tahu jam berapa, lekas tahu ia kembali keluar dan duduk ditempat semula, sejak pukul 22.00 WIB ia duduk termenung, hingga kini sudah menginjak pukul setengah tiga pagi.

Pondok Pesantren Al-MUKHLIS atau lebih akrabnya diucap dengan singkatan PPAM, berdomisili di Jati Agung, sebuah nama desa kecil di kabupaten Pringsewu Lampung, asuhan sekaligus dirian KH Habib Seggaf Baa Alawi, merupakan salah satu cucu baginda Nabi saw keturunan Syaikh Faqihul Muqoddam, baru saja tadi siang dititipi dan diamanahi oleh orang tua bocah lanang yang sedari tadi duduk terdiam sejuta bahasa. Entah apa yang ada di dalam fikirannya, ia terus-terusan diam dan hanya diam, bahkan rasa kantuk pun seolah tak mendatanginya malam ini.

Ia hanya teringat akan dua hal yang menjadi pesan untuknya. Pertama, dari guru barunya abah Seggaf yang mengatakan:

"Yang istiqomah untuk jama’ahnya yaa nak!"

Ucapan yang sangat halus ia rasakan, begitu merasuk dalam palung hatinya. Dan yang kedua dari ayahnya sendiri setelah menghantarnya ke kamar bersama lurah pondok dan kemudian berpamitan undur diri pulang dan meninggalkan sang anak jagonya itu.

Sang ayah juga di lingkungannya dikenal sebagai tokoh masyarakat yang biasa dipanggil dengan sebutan kiai. Datuk-datuknya pun rata-rata seorang ulama.

Hanya saja sosok sang ayah ini tidakk tergiur sedikitpun dengan sesuatu yang bernama dunia. Beliau berjiwa zuhud tinggi! Baginya hidup di dunia hanyalah seperti numpang lewat atau bahkan lebih dari itu. Ada pesangon untuk bekal hidup hari ini dan besok, beliau katakan kita sudah hidup kaya.

Ya! Memang demikianlah tuntunan syari’at Nabi yang sebenarnya! Sang ayah berpesan simple tapi padat,

“Yang nurut dan berbaktilah dengan kiaimu! Jangan sampai tidak! Ingat-ingat pesan Aby ini terus ya!"

Kedua pesan itu hanya ia jawab,

“Iya, insya allah.”

Karena dua pesan itulah ia hampir semalaman terjaga, membuat hati pilu seolah berkabut penuh pertanyaan, mulai dari ucapan guru barunya yang hanya berpesan sholat jama’ah.

“Mengapa hanya disuruh berjama’ah? Tidak disuruh mengajinya juga yang rajin?” gumamnya dalam relung batinnya yang paling dalam.

Ditambah lagi pesan ayahnya yang biasa ia panggil dengan sebutan ‘Aby Syakur’ itu.

“Mengapa kedua orang yang sudah mendapat gelar kiai itu tak satupun menyuruhku untuk mengaji?”

Pertanyaan itu terus berputar-putar berulang kali dalam benaknya. Berfikir mendalam, itu memang kebiasaannya. Hingga acapkali batinnya goyah, terfokus pada satu titik saja namun ternina bobo untuk hal lainnya! Yang demikian terjadi dikala jutaan pertanyaan batin tak kunjung terjawabkan.

Ia duduk dengan mengangkat kedua pahanya hingga tertempel diperutnya, ia letakkan pipi diatas lutut kaki kirinya, sembari memandangi gelapnya malam pertamanya di pondok pesantren itu.

Ia terus diam termenung, namun hatinya melaju kencang tak berarah hingga bergulirnya sang waktu. Detik demi detik, berubah menit demi menit terus berjalan.

“Kriiiiiiing kriiiiing.” Alarm jam milik satu temannya berbunyi menandakan sang waktu telah tepat pukul 03:00 pagi.

“Kreeeek.”

Luitan esel pintu berbunyi. Sedikit demi sedikit pintu kamar terbuka bersama wujud kang Ghoffar si pemilik jam alarm itu.

“Lho, kang Jamal belum istirahat?" tanyanya.

“Belum ini kang, nggak tau kenapa saya tidak bisa tidur! Fikiran melayang! Hehe..” jawab Jamal sambil cengengesan.

“Emmm.. Memangnya kenapa? Apa yang difikiri kang Jamal?” tnya Ghoffar lagi.

“Hehe.. ndak ada apa-apa kang Ghoffar! ! Cuma ndak bisa tidur saja!” jawab Jamal dengan bahasa medoknya.

“Owalah.. Yasudah kalau begitu.. Saya mau kekamar mandi dulu!" ucap Ghoffar.

“Iya kang! Silakan!” Jawab Jamal singkat.

Ghoffar pun pergi meninggalkan Jamal seorang diri.

Sedikit sapaan dari Ghoffar agaknya membuat jiwanya sedikit gusar! Tak lagi bisa menikmati lamunan panjangnya yang sedari tadi ia lakukan.

Tidak mau berlama-lama, ia pun bangkitkan badannya dengan sedikit menghentakkan kakinya tanda nafsunya penuh akan kesal. Dia turun dari lantai atas dan menyusul Ghoffar kekamar mandi untuk bersuci.

Lekas berwudlu, ia kembali kekamarnya. Mengganti sarung dan baju yang ia kenakan lalu setelahnya menggelar sajadah gambar ka’bahnya itu.

4 raka’at shalat tasbih memang sudah menjadi kebiasaannya kala batin hampa dan pelupuk mata tak kunjung bisa dipejamkannya. Ia juga tipekal orang yang suka akan wirid. Seperti membaca shalawat, istighfar, tasbih, tahmid atau membaca ratib-ratib dan hizb-hizb.

Selesai melaksanakan shalat tasbihnya, ia langsung berwirid dengan putaran tasbih yang ia genggam. Sedikit melegakan kehampaan itu rupanya. Ia terus melanjutkan bacaan itu. Disamping menjadi sebuah amaliyyah teruntuknya, ia sangat mengetahui bahwa sebuah wirid atau lantunan dzikir itu bisa menjadi penenang hati yang kisruh dan jiwa yang gundah.

Sangat cocok dengan apa yang telah Allah firmankan didalam al-Qur’an:

“Alaa bidzikrillahi tathmainnul quluub.”

(ketahuilah, bahwasanya dengan berdzikir hati akan merasa tenang).

Juga hadits-hadits Nabawi atau atsar para shohabat dan maqolah ulama salaf, diantaranya ucapan shahabat Abi Dzarr al-Ghifari:

“Likulli syai’in jalaa’ wajalaa’ul qolbi dzikrulloh.”

(tiap-tiap sesuatu itu ada pembersihnya, dan pembersih hati adalah dzikrulloh).

Jamal terus berdzikir hingga beduk dan adzan tanda waktu shubuh telah tiba.

1
kanjeng ribet
bagus banget
kanjeng ribet
lebih sadis dari pada kaisar iblis cok 😡😡
🌠Galih Tinarbuko👁
Lumayan
Hary
CENGENG... nyesel lo belum di ewek. paeh...
Hary
MC nya DONGOK macam Penulisnya
Hary
MC TIDAK BERGUNA, BUNUH DIRI SAJA
Hary
belum di ewek. geus paeh...
Hary
yg DUNGU MC ATAU THOOOR YA
Hary
ngencuk sik, ben fresh otakmu...
🤣🤣🤣
Hary
dalam bentuk burung Phoenix pasti tidak pakai celana dalam tuh...
ngintip dong lobang pantatnya... 🤣
Hary
ngarep. com
Hary
SAPI
Hary
PEMALAS, SELALU BANYAK ALASAN...!!!
Hary
KAMPRET...
PEMALAS...!!!
Hary
KAMPRET...!!!
ISI SATU JILID TAK SEBANDING DG IKLAN...
DASAR PENULIS MALAAAS...!!!
My: bikin VIP bg,,, biar nggk ada iklan.. cuman 30 rebu ko,, 😅
total 1 replies
Hary
NGENTOOOOOOT.....
HARAM JADAH IKLAN NYA, SANGAT MENGGANGGU...!!!
Hary
PELAJARAN SBG SANTRI DI PONDOK PESANTREN, LENYAP SDH...!!!
Hary
NGENTOOOOOOT... IKLAN BANGSAAAT
Pujianto Ajha
Lumayan
Lukman Santoso
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!