Ketika Cinta Tak Lagi Milik Hati
Di bawah langit Jakarta tahun 2045 yang tak lagi menyisakan rona jingga akibat kepungan neon digital, aku berdiri mematung. Di pergelangan tanganku, sebuah gelang tembaga berpendar biru—The Match-Mete
0
2
Secangkir Boba Terakhir
Kematian, bagi Satya, tidak datang dengan sangkakala atau aroma kamboja yang dramatis. Ia datang melalui sebutir mutiara tapioka yang tersangkut di tenggorokan, di antara tawa saat menonton video kuci
0
2
Jas Putih Penuh Darah
Bau antiseptik yang tajam biasanya menjadi aroma kemenangan bagi Prathita Paramitha. Sebagai dokter spesialis anestesi muda dengan trah bangsawan dan kekuasaan ayah seorang bupati, rumah sakit adalah
0
3
Detak Nadi yang Berbeda
Di sebuah lorong rumah sakit yang biasanya tenang, suasana mendadak riuh. Bisik-bisik perawat dan pasien terdengar di mana-mana. Penyebabnya satu: Esa, aktor muda yang sedang naik daun, baru saja dila
0
2
Jangan Bawa Maksiat Dimari!
Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar tidur. Cahaya lampu merkuri memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi. Bang Maman, seorang pria asli Rawabelong dengan kumis melintang yang rapi, sedang me
0
2
Hello Kitty di Kamar 304
(Bagian I – Undangan Pink yang Terlalu Manis) Tidak ada yang terasa menyeramkan dari warna pink. Itu yang kupikirkan sebelum semuanya dimulai. Namaku Nara Adistya Wulandari, mahasiswa semester akhi
0
1
Blue for you 🥀
langit sore ini begitu gelap, awan-awan gelap mulai bergantungan dan perlahan mulai menangis deras,udara dingin kian menusuk lapisan -lapisan kulit. sepasang mata sibuk mengamati air hujan yang turu
0
1
Di Balik Tawa yang Paling Keras
luka diam-diam seorang sahabat. .. Senja di Jakarta selalu punya cara untuk terlihat menyakitkan bagi mereka yang sedang menyimpan rahasia. Bagi Tio, langit berwarna oranye keunguan sore itu terasa s
0
0
Pesawat Dari Kertas
Di kampung kecil bernama Oesapa Lolo, di antara bukit-bukit cokelat yang retak saat kemarau dan menghijau malu-malu saat hujan, lahirlah seorang anak perempuan bernama Mara Lado. Namanya berarti “pahi
0
1
Perempuan Pilihan Papa
Lantai marmer rumah mewah itu berkilau tertimpa cahaya lampu kristal, tapi suasana hati Bram jauh dari kata terang. Ia duduk di sofa kulit dengan kaku, seperti terpidana mati yang menunggu ketukan pal
0
1
Musim Gugur di Daegyo
Seoul di Oktober adalah hamparan warna jingga dan emas nan lembut, namun bagi Kim Da-eun, kota ini hanyalah deretan angka tagihan yang tak pernah habis. Di sebuah toko roti kecil bernama Gureum yang b
0
1
ART TKW BERKAMAR DI WC
Laras menyeka peluh yang bercucuran di dahi dengan punggung tangan yang mulai kasar. Di tangannya, sebuah sikat lantai masih menari-nari di atas ubin marmer yang mengilap. Apartemen di kawasan Mid-Lev
0
1
JEJAK TINTA DI BIBIR OMBAK
Kabut tebal menggantung di atas lautan, menyelimuti perahu kayu Sky seperti kain sutra yang menyembunyikan wajah seorang wanita cantik. Sky, dengan rambutnya yang basah oleh embun laut dan mata yang t
0
0
Ikatan Cinta Mantan
Namanya Alana Paramitha Lestari. Perempuan dengan garis wajah tegas dan langkah yang selalu tahu ke mana harus menuju. Setidaknya begitu kesan yang ia bangun bertahun-tahun lalu—saat ia memutuskan men
0
1
Senja di Tegalrejo
Tegalrejo, 1825. Angin sore menyapu ladang tebu dan padi yang menguning, membawa aroma tanah basah dan keringat para petani. Di kejauhan, azan Magrib mengalun lembut dari langgar kecil beratap rumbia
0
1
Darah Di Bawah Sajadah
Bagian II – Yang Dikubur Tidak Pernah Diam Subuh itu datang dengan suara azan yang sumbang. Bukan dari masjid. Tapi dari arah hutan. Ayesha berdiri kaku di ambang kamar. Ayyash terbaring pucat. Na
0
1
Ketika Kamboja Mekar di Kuburan Negeri Kamboja
Negeri Kamboja, 1975. Langit Phnom Penh berwarna kelabu ketika tentara berpakaian hitam memasuki kota. Mereka menyebut diri Angkar—organisasi tanpa wajah, tanpa nama, tanpa Tuhan. Rakyat dipaksa kelu
0
1
Bayang di Cermin Chao Phraya
Namanya dahulu Anurak Phanich, lelaki tulen dari distrik Nonthaburi yang tubuhnya tegap dan sorot matanya tajam seperti mata burung elang yang melintas di atas Sungai Chao Phraya. Ia anak kedua dari p
0
2
Hello Kitty di Kamar 304
Bagian II – Yang Paling Bersalah Tidak ada yang tidur malam itu. Nadine sadar sekitar lima belas menit setelah pingsan. Wajahnya pucat seperti kertas yang terlalu lama direndam air. Tasya terus meme
0
1
Hello Kitty di Kamar 304
Bagian III – Tanpa Mulut Farel sudah mati. Tidak ada yang berani menyentuh tubuhnya. Darah tipis mengalir dari pelipisnya, kontras dengan lantai kayu terang. Pita merah kecil di dahinya terlihat se
0
1