Di kampung kecil bernama Oesapa Lolo, di antara bukit-bukit cokelat yang retak saat kemarau dan menghijau malu-malu saat hujan, lahirlah seorang anak perempuan bernama Mara Lado. Namanya berarti “pahit dan pedas”, kata ibunya, sebab hidup sering kali tak menawarkan rasa manis.
Mara tumbuh bersama angin kering yang membawa debu, bersama langkah kaki ibunya yang saban pagi meniti jalan berbatu menuju kebun orang, dan bersama napas ayahnya yang berat setiap kali musim paceklik datang lebih panjang dari doa.
Sekolah dasar mereka berdinding papan, beratap seng yang memekik tiap disentuh matahari. Di sanalah Mara pertama kali mengenal huruf-huruf yang tampak seperti pagar kecil yang berbaris rapi. Ia menyukai huruf M karena mirip gunung, dan huruf A karena seperti rumah.
Namun, menyukai sesuatu tak selalu berarti mampu memilikinya.
Suatu pagi, ketika teman-temannya sudah mengeluarkan buku tulis baru dengan sampul bergambar kartun impor dari kota kabupaten, Mara hanya menunduk. Di tas plastiknya tak ada buku. Tak ada pensil. Yang ada hanya satu lembar kertas bekas pembungkus gula yang ia lipat-lipat semalam.
“Mana bukumu, Mara?” tanya Bu Rini, wali kelasnya, dengan suara yang tidak keras tapi cukup untuk membuat pipi Mara terasa panas.
Mara berdiri. Ia ingin menjawab, tapi kata-kata seperti tersangkut di tenggorokan. Teman-temannya mulai berbisik. Ia merasa lebih kecil dari semut yang kadang merayap di sela-sela papan lantai.
“Maaf, Bu… belum ada uang,” katanya lirih.
Bu Rini tak langsung bicara. Ia hanya memandang Mara dengan mata yang tak menghakimi. Mata yang seperti telaga, dalam dan tenang. Hari itu, Mara duduk tanpa mencatat. Ia menghafal semua yang bisa ia tangkap, menyimpannya di kepala seperti menyimpan air di tempayan bocor.
Sepulang sekolah, ia berjalan sendiri melewati ladang jagung kering. Angin meniup kertas di tangannya. Tanpa sadar, jemarinya melipat kertas itu—membentuk sayap, badan, ekor. Ia pernah melihat anak-anak kota di televisi membuatnya.
Ia lemparkan ke udara. Pesawat itu terbang sebentar, lalu jatuh di tanah merah.
Mara tersenyum kecil. “Nanti kau terbang lebih tinggi,” bisiknya, entah kepada pesawat itu atau kepada dirinya sendiri.
Keesokan harinya, Bu Rini memanggilnya sepulang sekolah.
“Ini untukmu,” kata Bu Rini, menyerahkan satu pak buku tulis, dua pensil, dan sebuah penghapus kecil berbentuk hati.
Mara mematung. “Saya… tak bisa bayar, Bu.”
“Ilmu tak selalu menunggu orang kaya,” jawab Bu Rini pelan. “Kadang, ilmu justru memilih orang yang paling lapar.”
Sejak hari itu, Mara belajar seperti orang yang menemukan mata air di padang kering. Ia membaca setiap buku yang dipinjamkan Bu Rini. Ia menulis hingga pensilnya tinggal separuh kuku. Ia membantu ibunya di kebun sebelum subuh dan belajar di bawah lampu minyak saat malam.
Ayahnya sering berkata, “Sekolah tinggi itu untuk anak kota, Mara.”
Tapi Mara selalu menjawab dalam hati: Langit tak pernah membedakan sayap.
Tahun demi tahun berlalu. Mara menjadi satu-satunya siswa dari kampungnya yang lolos ke SMA favorit di Kupang. Ia mendapat beasiswa. Ia naik bus reyot sendirian, meninggalkan kampungnya yang seperti titik kecil di peta.
Di kota, ia kembali merasa kecil. Bahasa Indonesianya kaku, logat Timurnya kental. Ia pernah ditertawakan saat presentasi. Pernah juga tak punya uang makan hingga hanya minum air putih seharian.
Namun setiap kali hampir menyerah, ia teringat pesawat kertasnya. Ia teringat Bu Rini. Ia teringat ibunya yang menahan lapar agar ia bisa membawa bekal.
Di bangku SMA, ia menemukan perpustakaan yang luasnya seperti lapangan bola. Ia jatuh cinta pada buku-buku tentang pendidikan dan pembangunan desa. Ia ingin kembali, bukan sebagai anak miskin yang menunduk, tapi sebagai perempuan yang membawa cahaya.
Ia lolos ke universitas negeri di Jawa dengan beasiswa penuh. Di sana, ia bekerja paruh waktu sebagai penjaga perpustakaan. Ia belajar tentang kebijakan publik, tentang ketimpangan, tentang bagaimana angka-angka bisa menyembunyikan air mata.
Skripsi yang ia tulis tentang akses pendidikan di daerah 3T mendapat penghargaan. Namanya mulai dikenal dosen-dosen. Ia ditawari untuk mendaftar beasiswa luar negeri.
Negeri yang hanya pernah ia lihat di peta dan buku sejarah. Negeri dengan kanal-kanal dan sepeda, dengan musim dingin yang asing bagi kulitnya.
Saat email penerimaan itu datang, Mara sedang duduk di kos sempitnya. Ia membaca berkali-kali, takut itu hanya ilusi. Beasiswa penuh untuk program S2 Pendidikan dan Pembangunan Internasional.
Ia menangis. Bukan karena jauh, tapi karena ia tahu, pesawat kertas itu akhirnya menemukan angin.
Di Amsterdam, Mara belajar dalam bahasa Inggris yang dulu terasa seperti teka-teki. Ia berdiri di depan kelas, mempresentasikan riset tentang kampungnya. Tentang anak-anak yang berjalan lima kilometer untuk sekolah. Tentang guru-guru yang dibayar seadanya tapi mengajar sepenuh jiwa.
Profesor-profesor mendengarkan.
Untuk pertama kalinya, cerita dari kampung kecil itu menggema di ruang akademik dunia.
Musim gugur tiba. Daun-daun jatuh seperti surat cinta dari langit. Mara sering duduk di tepi kanal, memandangi air yang tenang. Ia teringat tanah merah, seng berisik, dan pesawat kertas.
Suatu hari, ia menerima kabar bahwa Bu Rini sakit keras.
Mara pulang sebelum wisuda. Ia tiba di kampung dengan mantel tebal yang terasa asing. Bu Rini terbaring lemah, tapi matanya tetap seperti telaga.
“Saya dengar kau terbang jauh, Mara,” bisik Bu Rini.
“Karena Ibu memberi saya sayap,” jawab Mara, menggenggam tangan kurus itu.
Bu Rini tersenyum. “Tidak, Mara. Sayap itu sudah ada. Saya hanya menunjukkan caranya membuka.”
Beberapa hari kemudian, Bu Rini pergi.
Mara kembali ke Belanda dengan hati yang retak, tapi tekad yang utuh. Ia menyelesaikan tesisnya—tentang model sekolah komunitas berbasis kearifan lokal untuk wilayah terpencil di NTT. Tesis itu mendapat pujian dan tawaran kerja di lembaga internasional bergengsi di Eropa.
Gajinya besar. Kantornya megah. Kariernya menjanjikan.
Ia hanya perlu tinggal.
Malam sebelum menandatangani kontrak, Mara duduk di kamar kecilnya. Ia membuka koper lama yang selalu ia bawa. Di dalamnya, terselip satu benda yang sudah menguning dan rapuh: pesawat kertas dari pembungkus gula.
Ia menyentuhnya pelan.
Tiba-tiba ia sadar sesuatu.
Selama ini ia mengira cita-cita adalah tentang terbang sejauh mungkin. Tentang pergi dari tanah yang retak dan debu yang melekat. Tentang membuktikan bahwa anak miskin pun bisa berdiri di negeri orang.
Tapi mungkin, cita-cita bukan soal seberapa jauh kita terbang.
Melainkan ke mana kita mendarat.
Keesokan harinya, Mara menolak kontrak itu.
Ia pulang ke NTT.
Banyak yang menyayangkan. “Sayang sekali peluangnya,” kata teman-temannya.
Mara hanya tersenyum. Ia tahu, pesawat kertas tak diciptakan untuk selamanya di langit.
Beberapa tahun kemudian, berdirilah sebuah sekolah komunitas di Oesapa Lolo. Dindingnya kokoh. Perpustakaannya penuh buku. Anak-anak tak lagi duduk tanpa pensil.
Di ruang guru, terpajang foto Bu Rini.
Dan pada hari pertama tahun ajaran baru, seorang anak perempuan berdiri dengan wajah tertunduk.
“Mana bukumu?” tanya seorang guru muda.
Anak itu menggeleng.
Sebelum guru itu sempat berkata apa-apa, seorang perempuan berambut panjang dengan mata seteduh telaga berlutut di hadapan si anak.
“Ini untukmu,” katanya, menyerahkan buku dan pensil.
Anak itu menatapnya kagum. “Ibu guru dulu juga miskin?”
Perempuan itu tersenyum. “Dulu, saya hanya punya pesawat dari kertas.”
Anak itu tertawa kecil. “Sekarang Ibu punya apa?”
Perempuan itu memandang langit NTT yang biru tanpa batas.
“Saya punya tempat untuk mendarat.”
Dan di saku roknya, pesawat kertas yang hampir rapuh itu masih ia simpan—bukan sebagai bukti bahwa ia pernah miskin, tetapi sebagai pengingat bahwa kadang, yang paling ringan justru mampu membawa kita paling tinggi.