Bau antiseptik yang tajam biasanya menjadi aroma kemenangan bagi Prathita Paramitha. Sebagai dokter spesialis anestesi muda dengan trah bangsawan dan kekuasaan ayah seorang bupati, rumah sakit adalah kerajaan pribadinya. Namun hari ini, kamar VIP di hospital mahal ibukota itu terasa seperti peti mati yang mewah. Thita terbaring pucat, menatap kosong langit-langit plafon sementara suara detak jam dinding terdengar seperti palu yang menghantam paku bumi. Di hadapannya, keempat sahabat sekaligus rekan sejawatnya—Kevin, Ratna, Sandra, dan Deni—berdiri dengan kecemasan yang berbeda-beda.
"Gue mimpi terus si anak PPDS itu, Rat!" tangis Thita pecah. Suaranya yang biasa angkuh kini serak dan gemetar. Sandra menyela dingin, "Maksud lu, dr. Aina yang mati bunuh diri itu?" Kevin dan Deni terlonjak, sementara Ratna hanya bisa melongo. Thita meracau tentang ketakutannya karena mereka telah merundung Aina layaknya babu, namun Sandra melangkah maju dengan tatapan menusuk. Sandra tidak terima disamakan; ia mengingatkan Thita bahwa dialah yang memanggil Aina dengan sebutan kotor, menyuruhnya makan enam bungkus nasi rendang sampai muntah, hingga memaksa junior miskin itu membayar cicilan barang mewahnya yang mencapai puluhan juta. Sandra melenggang pergi meninggalkan keheningan yang mencekam, meninggalkan Thita yang terisak meratapi bayangan wajah pucat Aina yang terakhir kali ia lihat di ruang ICU sebelum nyawa gadis itu melayang.
Setelah teman-temannya pulang, ketakutan Thita perlahan berubah menjadi kemarahan defensif. Ia merasa harga dirinya terusik karena bagi Thita, tekanan itu hanyalah "tradisi" pendewasaan. Ia merasa berhak melakukannya karena ia adalah putri dari dinasti dokter terpandang. "Tenang, Thita. Kamu aman. Orang tuamu dokter senior dan tenar. Pengaruh ayahmu kuat," gumamnya mencoba menenangkan diri. Namun, ucapan Sandra terus terngiang seperti kutukan. Merasa terancam bahwa Sandra akan bicara, Thita meraih ponselnya dan mengirim pesan kepada seseorang untuk membereskan Sandra, memerintahkan teror dalam senyap hingga temannya itu gila. Ia kemudian mencoba tidur, memimpikan Erik—mantan kekasih Aina—yang ingin ia miliki sepenuhnya.
Namun mimpi itu tidak indah. Dalam tidurnya, Erik datang dengan tuxedo hitam, tetapi wajahnya berubah menjadi abu-abu dan ia menunjuk ke arah Aina yang berdiri dengan mata merah karena kelelahan—tatapan yang sama saat Thita menyuruhnya bekerja 48 jam tanpa tidur. Thita terbangun dengan keringat dingin tepat saat sebuah notifikasi berita masuk ke ponselnya: tim investigasi independen dan kepolisian mulai menggeledah ruang stase bedah serta menyita seluruh rekaman CCTV. Jantung Thita berdegup kencang; ia teringat kejadian di tangga darurat saat ia melempar berkas ke wajah Aina dan memakinya dengan kata-kata binatang. Pukul sepuluh pagi, pintu kamarnya terbuka kasar, namun bukan perawat yang masuk, melainkan ayahnya, dr. Gunawan, bersama dua penyidik kepolisian.
Wajah ayahnya tampak hancur dan menua sepuluh tahun. Thita memohon bantuan ayahnya untuk menutup kasus ini, namun dr. Gunawan hanya menatapnya nanar. Ayahnya mengungkapkan bahwa Sandra tidak bicara, melainkan ponselnyalah yang merekam ancaman Thita. Orang suruhan Thita tertangkap saat merusak mobil Sandra dan telah mengaku. "Papa tidak bisa melindungimu lagi. Kematian dr. Aina membuka kotak pandora sistem busuk ini. Jika Papa melindungimu, seluruh keluarga kita akan hancur," ujar ayahnya parau sebelum membiarkan petugas membawa Thita.
Dua hari kemudian, saat keluar dari rumah sakit dengan status saksi kunci yang dicekal, Thita bertemu Erik di lobi. Di depan papan bunga duka cita Aina, Thita mencoba meminta bantuan, namun Erik menatapnya dengan mata sedingin es. Erik mengungkapkan bahwa Aina telah meninggalkan surat di email yang diatur untuk terkirim jika terjadi sesuatu padanya; Aina tidak mati karena lemah, ia mengorbankan nyawanya agar sistem busuk yang dipimpin Thita hancur. "Cinta tidak menghancurkan orang lain, Thita. Kamu hanya ingin memiliki 'piala' yang dimiliki Aina. Sekarang, piala itu hancur bersama nuranimu," ucap Erik sebelum berbalik pergi meninggalkan Thita yang bersimpuh di lantai marmer.
Investigasi bergerak secepat kilat. Bukti perundungan hingga pemerasan finansial terungkap ke publik, menjadikannya skandal nasional. Thita diberhentikan secara tidak hormat dan gelar dokternya terancam dicabut. Suatu malam di dalam sel tahanan, Thita menatap cermin retak dan melihat wanita yang dulu bangga menyandang jas putih namun kini memiliki kekosongan besar di dadanya. Ia teringat wajah ibunda Aina yang meraung di televisi dan akhirnya merasakan sesak yang luar biasa—sadar bahwa jas putihnya kini telah bernoda darah yang tak bisa dicuci bersih. Kasus ini menjadi titik balik dunia medis dengan lahirnya "Undang-Undang Aina". Di sudut selnya, Thita memegang buku catatan dan menuliskan satu kata dengan tangan bergetar: "Maaf". Ia baru menyadari bahwa kekuasaan tanpa empati hanyalah tirani yang pada akhirnya akan memakan penciptanya sendiri.