Bagian II – Yang Dikubur Tidak Pernah Diam
Subuh itu datang dengan suara azan yang sumbang.
Bukan dari masjid.
Tapi dari arah hutan.
Ayesha berdiri kaku di ambang kamar. Ayyash terbaring pucat. Nafasnya ada, tapi seperti ditarik dari tempat yang jauh. Melek berdiri di ruang tamu, memandang sajadah yang biasa dipakai Ayesha.
“Rumah ini indah,” katanya pelan. “Sayang fondasinya busuk.”
“Apa maksudmu?” suara Ayesha serak.
Melek menoleh. Tatapannya tidak lagi sekadar penuh pesona. Ada sesuatu yang dingin dan puas.
“Tidak semua yang datang itu dipanggil olehku, Kak.”
Kalimat itu membuat udara terasa retak.
---
## 1 – Rahasia di Bawah Lantai
Siang itu, Ayyash akhirnya sadar. Lemah. Linglung.
Ayesha menggenggam tangannya.
“Apa yang kau lindungi, Ayyash?”
Tatapan lelaki itu kosong beberapa detik, lalu berubah menjadi takut.
“Kita tidak seharusnya tinggal di rumah ini,” bisiknya.
“Kenapa?”
“Ayahku… dulu… melakukan sesuatu.”
Jantung Ayesha berdegup keras.
Rumah itu warisan keluarga. Dibangun oleh ayah Ayyash puluhan tahun lalu. Orang yang dikenal keras dan misterius.
“Apa yang dia lakukan?” tanya Ayesha pelan.
Ayyash memejamkan mata.
“Dia mencari jalan pintas untuk kaya.”
Kalimat itu sederhana, tapi berat.
“Ayahku bekerja sama dengan seseorang dari hutan. Seorang lelaki tua. Sebelum Hoca Rahman.”
Darah Ayesha terasa surut.
“Kerja sama… bagaimana?”
Ayyash tak menjawab langsung.
Ia hanya menunjuk lantai ruang tamu.
“Di bawah rumah ini… ada sesuatu yang tidak pernah dikubur dengan benar.”
---
## 2 – Malam Penggalian
Malam itu, saat Melek menghilang entah ke mana, Ayesha memberanikan diri.
Ia memindahkan meja.
Mengangkat karpet.
Di bawah sajadahnya—tempat ia bersujud bertahun-tahun—lantai kayu terasa lebih longgar.
Dengan tangan gemetar, ia mencungkil papan itu.
Bau tanah lembap langsung menyergap.
Dan di dalamnya—
Sebuah kotak kayu tua.
Terikat kain hitam.
Ayesha membukanya.
Di dalamnya ada:
* Tulang kecil yang sudah menguning.
* Foto ayah Ayyash bersama seorang lelaki tua berjanggut panjang.
* Dan secarik kertas berisi tulisan tangan:
> “Satu generasi ditukar dengan keberuntungan.
> Jika perjanjian dilanggar, yang tersayang akan diambil.”
Tangan Ayesha gemetar hebat.
Satu generasi?
Ayyash adalah anak tunggal.
Ayahnya meninggal mendadak saat Ayyash berusia dua puluh tahun.
Dan sejak itu, usaha keluarga mereka naik drastis.
Ayesha tiba-tiba sadar.
Mereka tidak pernah punya anak.
Bukan karena medis.
Tapi karena sesuatu menagih.
---
## 3 – Melek Bukan Dalang
Pintu rumah terbuka keras.
Melek berdiri di sana. Rambutnya terurai. Wajahnya pucat.
“Kau sudah menemukannya,” katanya pelan.
“Kau tahu?” suara Ayesha bergetar antara marah dan takut.
Melek tertawa kecil. Tapi tawanya pahit.
“Aku juga korban.”
Hening.
“Ayah Ayyash menjanjikanku pada seseorang. Sebagai bagian dari… perjanjian.”
Ayesha tak mengerti.
“Aku seharusnya menikah dengan Ayyash. Tapi bukan untuk cinta. Untuk menyelesaikan kontrak.”
Udara terasa semakin dingin.
“Aku menolak,” lanjut Melek. “Aku lari ke kota. Kupikir semuanya selesai. Tapi perjanjian tidak peduli pada cinta.”
“Lalu kenapa kau kembali?”
Melek menatap Ayesha dengan mata berkaca.
“Karena aku mulai melihat bayangan itu lagi.”
Bayangan.
Makhluk.
Yang berdiri di sudut ruangan malam tadi.
“Dia tidak ingin aku,” bisik Melek. “Dia ingin darah keluarga ini.”
---
## 4 – Kebenaran yang Terlambat
Tiba-tiba Ayyash menjerit dari kamar.
Mereka berlari.
Tubuhnya kejang. Mulutnya mengeluarkan darah tipis.
Dan suara yang keluar bukan suaranya.
“Perjanjian belum lunas.”
Ayesha menutup telinganya.
Melek jatuh berlutut.
“Ambil aku!” teriaknya. “Aku yang seharusnya!”
Tapi suara itu tertawa.
“Bukan kamu.”
Lampu meledak satu per satu.
Dinding retak.
Tanah di bawah lantai bergetar.
Dan dari lubang tempat kotak tadi diambil—
Asap hitam membumbung.
Membentuk sosok tinggi.
Tak berwajah.
Tak berkaki.
Hanya kabut padat dengan mata merah menyala.
Ayesha merasakan sesuatu menghimpit dadanya.
Lalu suara lain terdengar.
Bukan dari makhluk itu.
Dari dalam dirinya sendiri.
Sebuah kesadaran yang selama ini ia abaikan.
Ia teringat satu hal.
Ia dan Ayyash pernah mencoba pengobatan alternatif bertahun-tahun lalu.
Seorang ustaz tua pernah berkata, “Rumah kalian berat. Ada janji lama yang belum selesai.”
Mereka tidak menggubris.
Mereka pindah ke rumah warisan itu justru karena ingin “memulai dari awal”.
Tanpa sadar, mereka pindah tepat ke pusatnya.
---
## 5 – Plot Twist
Makhluk itu mendekat.
“Apa yang kau mau?” teriak Ayesha.
“Pengganti.”
Ayesha membeku.
“Generasi.”
Tiba-tiba Melek menoleh tajam pada Ayesha.
“Kau pernah hamil.”
Dunia seperti runtuh.
“Apa?”
“Tiga tahun lalu,” suara Melek gemetar. “Kau pingsan. Dokter bilang hanya gangguan hormon. Tapi aku dengar ibumu menangis di telepon.”
Ingatan itu datang seperti kilat.
Tiga tahun lalu.
Ayesha sempat merasa mual, pusing.
Lalu pendarahan.
Dokter mengatakan itu hanya siklus yang terganggu.
Tapi ibunya sempat berkata pelan, “Mungkin itu ujian.”
Ayesha tak pernah memeriksanya lebih lanjut.
Makhluk itu mendekat.
“Keturunan pertama telah diambil.”
Tangis Ayesha pecah.
Jadi bukan belum punya anak.
Tapi sudah pernah.
Dan diambil.
Sebagai cicilan.
---
## 6 – Pengorbanan
Melek berdiri.
Wajahnya berubah tegas.
“Perjanjian dibuat oleh manusia. Maka manusia yang harus memutusnya.”
Ia meraih kotak kayu itu.
Menggenggam tulang kecil di dalamnya.
“Ayahmu menjanjikan generasi. Tapi ia tidak berhak atas yang belum lahir.”
Makhluk itu bergetar marah.
Rumah berguncang hebat.
Ayyash terlempar ke dinding.
Ayesha menjerit.
Melek menatap Ayesha.
“Bacalah.”
Ayesha tahu maksudnya.
Dengan suara patah, ia membaca ayat-ayat perlindungan yang ia hafal sejak kecil.
Setiap kalimat seperti menekan udara.
Makhluk itu mundur sedikit.
Melek melempar kotak itu ke dalam lubang.
“Tidak ada lagi perjanjian!”
Teriaknya menggema.
Cahaya putih tiba-tiba memancar dari bawah lantai.
Jeritan panjang terdengar—bukan dari manusia.
Makhluk itu terbelah seperti asap tertiup angin.
Lalu hening.
Sunyi.
Rumah kembali diam.
---
## 7 – Akhir yang Tidak Benar-Benar Tenang
Pagi datang dengan azan yang normal.
Desa kembali seperti biasa.
Hoca Rahman tidak pernah ditemukan lagi.
Rumah tua di hutan benar-benar hilang.
Melek berdiri di depan rumah Ayesha.
“Aku tidak pernah ingin merusak rumah tanggamu,” katanya pelan.
“Lalu kenapa kau tetap datang?” tanya Ayesha.
Melek tersenyum sedih.
“Karena sebagian dari diriku masih mencintainya. Dan bagian lain ingin memastikan semuanya selesai.”
Ia pergi tanpa menoleh.
---
## Epilog – Darah di Bawah Sajadah
Beberapa bulan kemudian, Ayesha hamil.
Kali ini nyata.
Dokter memastikan.
Ayyash menangis untuk pertama kalinya sejak mereka menikah.
Mereka pindah dari rumah itu.
Membangunnya kembali dari nol di tempat lain.
Semua terlihat baik.
Sampai suatu malam, saat Ayesha hendak salat.
Ia membentangkan sajadah baru.
Saat bersujud, ia mencium bau tanah lembap.
Dan di bawah sajadah—
Ada bercak kecil merah.
Bukan darah segar.
Tapi seperti noda lama yang muncul kembali.
Di sudut ruangan, bayangan kecil berdiri.
Seukuran anak kecil.
Tanpa wajah.
Tanpa suara.
Hanya menatap.
Ayesha membeku.
Lalu bayangan itu perlahan menghilang.
Dan di dalam rahimnya—
Bayi itu bergerak.
Lebih kuat dari sebelumnya.
Seperti mengetuk dari dalam.
---
### Tamat