Kematian, bagi Satya, tidak datang dengan sangkakala atau aroma kamboja yang dramatis. Ia datang melalui sebutir mutiara tapioka yang tersangkut di tenggorokan, di antara tawa saat menonton video kucing di layar ponselnya. Dunia mendadak kedap suara. Pandangannya memudar, seperti baterai ponsel yang mencapai 0%.
Ia terbangun di sebuah ruangan yang luasnya tak terhingga, namun ganjilnya, beraroma seperti kertas stensil dan keringat pegawai negeri.
"Saudara Satya?" suara itu berat dan berwibawa, seperti suara komandan batalyon dalam rapat divisi.
Seorang pria berseragam safari abu-abu duduk di balik meja kayu jati yang kokoh. Di dadanya tersemat papan nama: Kepala Urusan Keluhan Kosmis. Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan gaun sutra berwarna biru pucat—khas karakter dalam dongeng-dongeng yang ditulis dengan jemari lentur—sedang merapikan kuku-kukunya yang bercahaya seperti perak.
"Ini di mana, Pak? Saya sudah di surga?" tanya Satya gagap.
"Surga?" Wanita itu tertawa, suaranya seperti denting kristal yang jatuh ke lantai marmer. "Kau terlalu optimis, Sayang. Kau mati karena boba. Itu kematian yang sangat konyol, bahkan untuk standar Gen Z. Kau berada di Kantor Pelayanan Publik Alam Semesta. Bagian Pengaduan Entitas Tak Bernyawa."
Pria berseragam itu berdehem, suaranya kering seperti arsip sejarah. "Saudara Satya, menurut Undang-Undang Eksistensi No. 49, setiap makhluk yang mati tanpa pencapaian heroik wajib mengabdi pada birokrasi langit sebelum diizinkan tidur panjang. Anda akan ditempatkan di bagian Customer Service."
"Tapi saya tidak punya pengalaman kerja, Pak!" seru Satya. "Saya cuma bisa scrolling TikTok."
"Justru itu," sahut sang wanita sambil tersenyum misterius. "Kau punya jempol yang lincah. Cocok untuk membalas pesan-pesan depresi dari Galaksi Andromeda."
Satya duduk di depan monitor yang terbuat dari uap air. Tugasnya sederhana namun di luar nalar. Sebuah notifikasi muncul dengan bunyi ping yang sangat jernih.
Pengirim: Matahari (G-Type Main Sequence Star)
Pesan: "Aku lelah bersinar. Manusia-manusia itu terus mengeluh kepanasan, padahal mereka sendiri yang merusak atmosfer. Aku ingin mogok kerja dan jadi Black Hole saja."
Satya teringat cara ia menghadapi netizen di kolom komentar. Ia mengetik dengan cepat: "Kak Sun, jangan gitu. Kalau Kakak jadi Black Hole, nanti estetikanya hilang. Ingat, Kakak itu center-nya sistem ini. Tanpa Kakak, bumi nggak punya filter Golden Hour buat selfie."
Dalam hitungan detik, ia menerima balasan: "Benar juga. Baiklah, aku bersinar lima miliar tahun lagi."
Di layar sebelah kiri, muncul angka: +5 Menit Kehidupan Terusan.
"Itu upahmu," kata sang wanita berbaju biru yang kini berdiri di belakangnya, aroma melati menguar dari rambutnya. "Kau bisa mengumpulkan menit-menit itu. Untuk siapa kau bekerja, Satya? Untuk dirimu yang sudah kaku di kamar kos itu?"
Satya terdiam. Ia membayangkan si Belang, kucing kampung yang selalu menunggunya pulang untuk sekadar meminta sisa pindang. "Untuk kucing saya, Bu. Saya ingin dia hidup lebih lama dari umur manusia."
Pria berseragam safari itu mengangguk takzim. "Sebuah pengabdian yang punya nilai loyalitas. Teruskan tugasmu, Saudara. Masih ada sepuluh ribu lubang hitam yang sedang mengalami krisis identitas dan butuh teman curhat."
Satya kembali mengetik. Di dunia sana, ia mungkin hanya mayat yang ditemukan tetangga karena bau boba yang basi. Namun di sini, di bawah pengawasan birokrasi yang kaku dan sentuhan magis yang ganjil, ia adalah pahlawan bagi bintang-bintang yang kesepian.