langit sore ini begitu gelap, awan-awan gelap mulai bergantungan dan perlahan mulai menangis deras,udara dingin kian menusuk lapisan -lapisan kulit.
sepasang mata sibuk mengamati air hujan yang turun,di balik kaca jendela gedung lantai dua itu. suasana kelas yang semakin sepi, hampir semua populasi sekolah sudah berlomba-lomba pulang sebelum hujan turun membasahi bumi, terkecuali 'dia. Naylenna Sabiru,si penyuka hujan,dan si pembenci senja! memang terdengar aneh tapi itu kenyataannya.
Naylenna atau sapaanya nayla, entah mengapa ia masih enggan beranjak dari bangkunya,entah karena menunggu hujan reda? atau, mungkin karena hal lain.
di tengah kesetiaannya menatap air hujan, suara langkah kaki menyapu pendengaran nya , seketika membuatnya berpaling dan menatap siapa pemilik derap kaki itu.
dan siapa sangka? seorang laki-laki berpostur tinggi tegap dan berahang tegas kini berdiri di depannya,yang tak lain adalah teman sekelasnya. Adillio Kaisar sebuah nama yang tertulis dan tercantum dalam namtag bajunya.
" tumben belum pulang nay?" tanya lio
" hujan masih deras-derasnya , lupa bawa payung juga" jelas nayla
" mau pulang bareng gak? kebetulan aku bawa payung." tawar lio yang tak langsung menimbulkan ekspresi tanya dalam wajah nayla
"ya.. meski cuma 1 tapi bisalah nahan basah sampai halte depan." sambungnya seolah tahu apa yang di pikiran gadis itu
"boleh deh.." disertai anggukan dan senyum tipis di bibirnya.
keduanya kini mulai berjalan meninggalkan ruangan dan gedung itu dengan bermodal 1 payung untuk menerjang derasnya air hujan ,agar bisa pulang .
keesokan harinya,cuaca begitu mendukung,langit cerah dangan awan putih yang menggantung di sana.
lapangan utama SMA Sagitarius kini di padati semua populasi sekolah,Apel pagi sudah berjalan dari 30 menit yang lalu, namun tak ada tanda- tanda apel itu akan berakhir. terik matahari yang kian memanas hingga banyak orang yang terlena dan jatuh dalam pesonanya,
Nayla?, gadis itu terus menyerka keringat di dahinya, wajahnya yang cantik berseri kini berganti dengan raut sayu, tangan lentik nya tak henti meremas perutnya, banyak teman yang mulai menghawatirkan keadaannya.namun apa pedulinya? bahkan ucapan temannya bagai angin lalu untuknya.
waktu berjalan sangat lambat, 10 menit terasa sangat lama. apel pagi baru saja selesai, banyak orang berbondong-bondong lari kedalam kelas,
tak terkecuali nayla, gadis itu berjalan tertatih dengan salah satu sahabatnya yang menjadi penyeimbang tubuhnya. langkahnya yang gontai tanpa sadar membuat nya jatuh dalam sebuah dekapan tangan.
dekapan tangan yang bukan milik sahabatnya,tapi mungkin milik seseorang yang ia harapkan,
wajahnya mengadah, menatap sang empu yang telah menahan tubuhnya, seorang laki-laki dengan raut kaget dan panik yang masih tersirat dalam wajahnya
" nay kamu sakit?" khawatir laki- laki itu
"sedikit" ringis nayla pelan
" sedikit apa!,daritadi dia sakit tapi nekat ikut apel sampai akhir" omel Nirbita, sahabat Nayla yang menjadi penyeimbang tubuhnya tadi
" keras kepala banget si jadi cewek!" kesal laki-laki itu
" apasih li!" nayla merasa tak terima atas ucapan lio itu. adillio, seseorang yang tanpa sengaja menahan tubuh nayla dengan dekapan tangannya.
" ayo,aku antar ke UKS" ajak lio dengan memapah tubuh nayla secara perlahan.
tanpa di sadari , sebuah rasa yang lama terpendam kini semakin membara. rasa ketertarikan yang lebih dari sekedar 'teman, kini kian muncul dan menginginkan status baru
sebuah perhatian kecil, yang membuat perubahan besar dalam hidup pada saat itu juga.
Cinta dalam diam? cinta dalam pertemanan? mungkin itu yang di rasakan nayla saat ini. 2 tahun lebih bukan lah waktu yang singkat, banyak hal yang terjadi dalam hidupnya, tak terkecuali jatuh cinta pada laki - laki humoris yang juga merupakan teman satu kelasnya, banyak perhatian perhatian kecil yang membuatnya terlena dan terjebak rasa nyaman yang ternyata hanya sebatas teman itu.
hingga,suatu ketika masa datang , entah takdir yang mendukung pendekatan mereka atau hanya sebuah kebetulan.
keduanya berada dalam 1 project bersama dalam salah satu mata pelajaran di sekolahnya, keduanya larut dalam diskusi, namun sesekali nayla mencuri pandang kepadanya,tak ada situasi canggung di antara keduanya,hingga tak di sadari mereka berdua tampak asyik bersenda gurau di sela pengerjaan tugas itu.
" apa yang lebih kamu sukai? hujan atau senja? " tanya lio tiba-tiba
" hujan.." jawab Nayla dengan yakin
" kenapa? hujan bisa buat kita sakit sedangkan senja? dia tidak bisa membuat kita sakit ?" bingung lio
" terkadang yang indah justru yang paling menyakiti " ucap nayla
"oke..,kalau kamu suka hujan kenapa tidak menerjangnya saja saat itu? kenapa harus menunggu reda?" tanya lio
"hujan itu menenangkan ketika hanya rintik, tapi ketika guyuran datang dan kita tanpa persiapan,kita akan kalah dan akan jatuh, begitu pun dengan kata suka, ketika suka sesuatu nikmati keindahan tapi jangan terlena bagi kamu yang belum memiliki persiapan yang matang" jelas nayla yang kemudian di balas senyum tipis dan terukir indah dalam wajah lio
sejak adanya project itu keduanya semakin dekat, tak hanya sekedar sendau gurau, tapi terkadang perhatian perhatian kecil saling mereka lakukan satu sama lain.
ada rasa senang dalam hati nayla, senyum tipisnya,raut bahagianya, perhatian kecilnya.
Namun? semuanya hanyalah semu belaka
bell sekolah telah berbunyi hampir 10 menit yang lalu, kelas kelas sudah mulai di tinggalkan oleh penghuninya, nayla dan Nirbita yang keasikan bersenda gurau hingga lupa waktu pulang, hingga keduanya baru berjalan melewati koridor sekolah 10 menit setelah bell bunyi. mereka berdua berjalan beriringan, melewati ruang demi ruang di koridor sekolah hingga suatu titik membuat naya tertarik, yaitu taman sekolah.
matanya tertuju pada tempat itu, sepasang tangan yang saling bergandengan terlihat oleh pupil mata nayla. hatinya bergetar,rasa sakit menjalar secara tiba-tiba,hatinya hancur lebur bagai kertas yang menjadi abu,
sepasang manusia yang sedang di mabuk asmara, bergandengan tangan dan asyik bersendau gurau disana, siapa lagi kalau bukan Adillio kaisar dan seorang gadis yang di duga bernama Zellya Ansleyy , gadis blasteran berdarah Australia -indonesia itu.
sejak saat itu, nayla mulai menjaga jarak dari lio, mengubur semua harapannya ,mengubur semua rasa sukanya,rasa kagumnya. meski hatinya memberontak apa boleh buat, jika laki laki yang ia suka, diam -diam telah menjalin hubungan dengan gadis lain yang ternyata teman masa kecil lio sendiri.
di tengah itu semua ,hari demi hari pergi tanpa aba-aba dan hanya meninggalkan kenangan yang tersisa.
masa putih abu yang telah mencapai titik puncaknya,kini terpaksa harus di tinggalkan dan menjadi kenangan.
di tengah hiruk-pikuk panggung perpisahan,nayla justru duduk termenung di bangku taman sekolah, menunggu seseorang yang mungkin? hanya akan menjadi bagian terindah di masa ini
hingga, sebuah kaki terlihat di depan matanya, dia mengadakan kepalanya dan lantas berdiri dari duduknya.
" kenapa nay?" tanya lio yang baru saja tiba, yang justru di balas senyum tipis oleh nayla.
"maaf.." ucap nayla dengan senyum getirnya.
" buat?" bingung lio
" karena sudah mencintai kamu" ucapan spontan nayla yang membuat lio membeku di tempat.
" Kamu, seperti blue for you rosee,mawar biru yang terlihat mustahil untuk di dapatkan di dunia, unik, indah,tapi menyakitkan" suara nayla yang makin terdengar sumbang, dan mata yang tiba-tiba tiba ber embun.
" nyatanya benar,aku menyukai hujan karena ketenangannya,tapi terkadang aku selalu lupa menyediakan payung,hingga saat hujan deras tiba aku harus menerjangnya dan berujung sakit"
" maaf.." satu kata lolos dari bibir lio
" tidak ada yang perlu di maafkan, semuanya hadir tanpa di minta,sebuah perasaan yang seharusnya tak pernah ada dan semua perhatian yang ternyata hanya perikemanusiaan belaka" senyum getir terbit lagi dari bibir nayla di sertai dengan lolosnya 1 butiran air matanya
" kamu dan senja itu tidak ada bedanya lio.. datang tanpa di minta, menebarkan keindahannya,lalu pergi meninggalkan semua kenangan " nayla terkekeh pelan dengan hati yang ter iris
" maaf,jika aku mengganggu mu, maaf jika aku membuatmu tak nyaman.." ucao nayla
" tidak, aku tidak pernah beranggapan begitu" ucap lio membenarkan
" aku yang minta maaf, aku yang terlalu berlebihan kepadamu,aku tak bisa memahami maksud mu, dan maaf jika aku menyakitimu " ucap lio tulus
" untukmu " tangan nayla terulur memberikan sepucuk surat
" kejarlah mimpi mu, dan aku mengejar mimpiku, terimakasih atas semuanya dan selamat bertemu di ketidak sengajaan selanjutnya " ucap nayla dengan senyum tipis dan mulai berjalan menjauh meninggalkan tempat itu.
meninggalkan lio yang terdiam mencerna semuanya. dengan tangan sedikit gemetar dia muali membuka surat itu dan membacanya, sebuah puisi indah yang tertulis rapi oleh tangan nayla
"senyummu ,bagai Sendyakala..
Nirmala, Dikara , Adiwarna
Netramu mungkin tak secantik Purnacandra..
tapi mengenalmu adalah Harsa tiada tara
Kita adalah Atma yang Aksa
Kamu sebatas Fatamorgana yang tak pernah ada..
Jika Pranaya tetap Niskala,
Hei Jumantara! sampaikan Renjanaku untuknya."
puisi singkat yang mampu membuat hati lio terasa berat. entah rasa bersalah,atau rasa sakit seperti yang nayla rasakan. entahlah hanya lio yang mengetahui itu adalah semua.
" terimakasih atas cintamu untukku, maafkan aku yang tak bisa membalas perasaanmu, semoga kamu tumbuh menjadi lebih baik dan mendapatkan orang yang jauh lebih baik" batin lio tulus.
SELESAI --
" terkadang apa yang kita kira indah, adalah suatu hal yang membuat kita sakit se sakit-sakitnya" ~ Naylenna Sabiru
" maafkan aku yang telah menghancurkan segalanya tanpa sempat memperbaikinya"
~ Adillio kaisar
" biarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya, tidak ada yang menyakitiku, aku hanya terluka karena harapanku" ~ Naylenna Sabiru
" jika kau..dan aku tak bisa jadi kita. maka,izinkanlah namamu Amerta dalam aksaraku" ~ Naefaa