Bagian II – Yang Paling Bersalah
Tidak ada yang tidur malam itu.
Nadine sadar sekitar lima belas menit setelah pingsan. Wajahnya pucat seperti kertas yang terlalu lama direndam air. Tasya terus memeluknya. Farel mondar-mandir seperti hewan terperangkap. Dimas mencoba menelepon pemilik villa.
Tidak ada sinyal.
Tidak ada jaringan.
Padahal tadi masih ada.
Aku berdiri dekat tangga.
Kepala boneka Hello Kitty itu masih di lantai. Mata hitamnya kosong. Tanpa ekspresi. Tanpa mulut.
Tapi sekarang ada tambahan lain.
Senyum.
Senyum tipis digambar dengan spidol merah.
Aku yakin itu tidak ada sebelumnya.
---
## 1
“Kita harus pergi sekarang,” kata Farel.
“Mobil cuma dua,” jawab Dimas. “Dan jalan turun berkabut parah. Kita bisa celaka.”
“Lebih baik celaka daripada di sini!”
Aku akhirnya bicara. “Kalau ini prank, pelakunya ada di antara kita.”
Mereka menoleh kepadaku.
“Logikanya begitu,” lanjutku. “Seseorang tahu detail tentang Mika. Tentang kamar 304. Tentang grup lama.”
Tasya menggeleng cepat. “Kita semua tahu detail itu.”
“Tidak semua tahu apa yang terjadi malam sebelum Mika mati,” suaraku pelan tapi tajam.
Semua mata beralih ke Nadine.
Dia menunduk.
“Aku nggak bohong,” bisiknya. “Aku memang lihat dia malam itu.”
“Dengan siapa?” tanyaku lagi.
Nadine menggigit bibirnya.
“Dengan… Dimas.”
Hening.
Sejenak aku hanya mendengar detak jam dan napasku sendiri.
Dimas tertawa pendek. Terlalu cepat. Terlalu defensif.
“Itu nggak benar.”
“Aku lihat kalian di parkiran kosnya,” Nadine bersikeras. “Kalian bertengkar.”
Tasya mundur setapak.
“Bertengkar soal apa?” tanyaku.
Dimas menatap Nadine dengan tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya—tajam, penuh peringatan.
“Kamu salah lihat.”
“Dia nangis!” suara Nadine meninggi. “Mika nangis!”
Suasana menegang seperti tali yang siap putus.
Dan tepat saat itu—
Lampu kembali mati.
Tapi kali ini bukan hanya mati.
Semua jendela menutup sendiri dengan suara keras.
Pintu utama terkunci.
Kami terjebak.
---
## 2
Saat lampu menyala lagi, ada sesuatu yang berubah.
Di meja ruang tamu kini ada enam cangkir teh.
Enam.
Uapnya masih mengepul.
“Ini nggak mungkin…” Tasya mundur.
Aku menghitung cepat.
Kami berlima.
Siapa cangkir keenam?
Di samping cangkir itu ada ponsel lama.
Model lama. Warna pink.
Aku mengenalnya.
Itu ponsel Mika.
Yang katanya hilang saat kematiannya.
Layar menyala sendiri.
Video diputar otomatis.
Rekaman CCTV parkiran kos Mika.
Tanggal: malam sebelum dia meninggal.
Di layar terlihat Mika dan—
Dimas.
Mereka memang bertengkar.
Tidak terdengar suara, tapi gesturnya jelas.
Mika terlihat marah. Dimas frustrasi.
Lalu—
Seseorang ketiga masuk frame.
Sosok berjaket hoodie.
Wajah tertutup.
Aku menahan napas.
Sosok itu mendekat.
Mika terlihat kaget.
Video berhenti.
Layar menjadi hitam.
Lalu muncul tulisan:
> **Siapa yang terakhir melihat Mika hidup?**
Aku merasakan sesuatu mengunci di dadaku.
Karena aku tahu jawabannya.
Aku.
---
## 3
“Apa maksudnya ini?” Farel hampir berteriak.
Aku mundur pelan.
“Aku… ketemu dia setelah itu,” kataku pelan.
Semua mata kini beralih padaku.
“Malam itu dia chat aku. Dia minta aku datang.”
“Kenapa kamu nggak pernah cerita?” Tasya bertanya, suaranya gemetar.
“Karena… aku nggak anggap penting.”
Aku memejamkan mata, memaksa ingatan yang selama ini kutekan muncul.
Mika duduk di kasurnya. Kamar penuh boneka Hello Kitty.
Dia bilang dia takut.
Dia bilang seseorang mengancamnya.
Aku bilang dia terlalu drama.
Aku bilang dia cuma overthinking.
Aku pergi.
Setengah jam kemudian, menurut laporan polisi, dia meninggal.
“Dia masih hidup waktu aku pergi,” suaraku pecah.
Ponsel di meja bergetar lagi.
Pesan baru muncul di layar.
> *Benarkah?*
Jantungku membeku.
Video kedua diputar.
Rekaman dalam lorong kos.
Waktu menunjukkan 22.47.
Aku keluar dari kamar Mika.
Wajahku kesal.
Tapi yang membuat darahku dingin—
Pukul 23.02.
Aku kembali.
Masuk lagi ke kamar Mika.
Aku terdiam.
Aku tidak ingat kembali.
Aku bersumpah aku tidak pernah kembali.
“Ra…” suara Tasya terdengar jauh.
Video memperlihatkan aku keluar lagi pukul 23.10.
Dan lima menit setelah itu—
Lampu lorong mati.
Rekaman berhenti.
---
## 4
“Ini editan!” aku berteriak.
“Tapi itu kamu,” Farel mundur.
Dimas menatapku dengan ekspresi sulit dibaca.
“Apa kamu kembali malam itu?”
“Tidak!” aku menggeleng keras. “Aku nggak ingat!”
Sebagai mahasiswa psikologi, aku tahu tentang dissociation. Tentang memori yang terblokir akibat trauma.
Tapi ini bukan teori kelas.
Ini hidupku.
Dan seseorang sedang membedahnya.
Tiba-tiba terdengar suara langkah dari lantai atas.
Pelan.
Berirama.
Seperti seseorang berjalan santai.
Kami semua mendongak.
Suara itu berhenti tepat di atas kepala kami.
Lalu—
Suara gesekan tali.
Krek… krek…
Persis seperti yang terdengar tadi malam.
Tasya menutup telinganya.
Nadine mulai menangis lagi.
Pintu kamar 304 terbuka sendiri.
Perlahan.
Lampunya menyala.
Dan kali ini—
Ada sesuatu tergantung di tengah ruangan.
Siluet tubuh.
Rambut panjang.
Kaki menggantung.
Kami semua membeku.
“Itu… Mika,” bisik Nadine.
Aku tidak bisa bergerak.
Sosok itu perlahan berputar.
Dan saat wajahnya menghadap kami—
Bukan Mika.
Itu boneka Hello Kitty ukuran manusia.
Dengan wajah kosong.
Tanpa mata.
Tanpa hidung.
Tanpa pita.
Hanya kain putih.
Dan di dadanya tertulis:
> **RA INGAT SEMUANYA.**
Aku jatuh terduduk.
Karena dalam kepalaku—
Sebuah potongan memori retak.
Aku memang kembali malam itu.
Bukan karena peduli.
Tapi karena marah.
Mika mengancam akan membuka sesuatu.
Sesuatu tentang kami berlima.
Sesuatu yang terjadi di study tour Jogja.
Kamar 304.
Hotel Sakura.
Tahun 2018.
Seseorang merekam.
Seseorang dipermalukan.
Seseorang dihancurkan.
Dan Mika punya videonya.
Tiba-tiba aku sadar—
Ini bukan hanya tentang kematian.
Ini tentang rahasia yang kami kubur bersama.
Ponsel Mika berbunyi lagi.
Pesan terakhir malam itu muncul.
> *Kebenaran tidak mati. Ia hanya menunggu.*
Lalu tambahan kalimat:
> *Dan satu dari kalian sudah mengingat.*
Lampu padam total.
Jeritan terdengar.
Seseorang jatuh dari tangga.
Tubuh menghantam lantai dengan suara mengerikan.
Ketika lampu darurat menyala—
Farel tergeletak di bawah tangga.
Lehernya patah.
Matanya terbuka lebar.
Dan di dahinya—
Digambar pita merah kecil.
---
Kami kini bukan lagi lima.
Kami empat.
Dan seseorang—atau sesuatu—sedang menghitung mundur.
---
Bersambung