Seoul di Oktober adalah hamparan warna jingga dan emas nan lembut, namun bagi Kim Da-eun, kota ini hanyalah deretan angka tagihan yang tak pernah habis. Di sebuah toko roti kecil bernama Gureum yang bermakna "Awan", di kawasan Seongsu-dong, Da-eun menghabiskan 12 jam sehari menguleni adonan. Tangannya yang kasar karena deterjen dan tepung adalah saksi bisu perjuangannya sebagai "tulang punggung yang retak".
Di rumah atap atau oktapang yang sempit, Da-eun harus merawat Han Myung-sook, ayahnya yang kini kehilangan separuh ingatannya akibat stroke, dan ibunya, Kim Sang-hoon, yang meski fisiknya sehat, namun jiwanya telah lama layu karena depresi menahun. Belum lagi Kim Ji-soo, keponakannya yang baru berusia tujuh tahun—anak dari kakaknya yang kabur meninggalkan utang menumpuk. Ji-soo sering bertanya, "Aunty, kapan kita bisa makan daging panggang?" dan Da-eun hanya bisa menjawab dengan senyum getir sambil menyodorkan sisa roti dari toko.
Seorang bernama Lee Do-yun telah lama menjadi pelanggan toko Gureum. Ia bukan orang biasa. Dia adalah putra mahkota dari Seungri Group, sebuah konglomerat logistik yang sedang mencoba merambah bisnis kuliner. Namun, di mata Da-eun, Do-yun hanyalah pria dengan tatapan hangat yang selalu memesan cinnamon roll setiap jam tujuh malam.
"Kau terlihat lelah, Da-eun-ssi," ucap Do-yun suatu malam, sembari memberikan sebotol minuman vitamin.
Da-eun hanya menunduk tanpa menyambut pemberian sang pria gagah itu, "Ini hanya musim gugur, Do-yun-ssi. Semua orang merasa sedikit lebih berat saat daun-daun mulai gugur."
Do-yun tahu itu bohong. Dia tahu Da-eun sering melewatkan makan siangnya agar keponakannya bisa membeli buku gambar baru. Do-yun mencintai Da-eun bukan karena kecantikannya yang sederhana, tapi karena ketangguhan gadis itu yang mengingatkannya pada bunga liar di antara beton kota Seoul. Do-yun memiliki rahasia: sebuah pertunangan dalam keluarganya telah disiapkan untuknya. Calon istrinya tentunya bukanlah gadis cantik santun sangat sederhana dihadapannya yang tanpa make up itu.
---
Cinta diantara kedua insan itu diwarnai konflik yang memuncak ketika Go Yoo-ra muncul di toko Gureum. Yoo-ra, gadis kaya raya itu adalah definisi dari kesempurnaan yang megah—putri pemilik bank konvensional multinasional dengan selera fashion yang harganya setara dengan sewa rumah Da-eun selama setahun. Dia adalah calon istri yang dipilihkan orang tua Do-yun!
"Jadi, ini gadis miskin yang membuat Do-yun mengabaikanku?" tanya Yoo-ra dengan nada menghina, memandang remeh apron Da-eun yang bladus dan banyak terkena noda tepung.
Yoo-ra tidak datang untuk berbicara baik-baik. Dia datang untuk memberi pelajaran. Dengan koneksinya, dia membuat pemilik toko roti memecat Da-eun. Tidak berhenti di situ, Yoo-ra menyebarkan fitnah di media sosial bahwa Da-eun adalah wanita penggoda yang mengincar harta pria kaya untuk membayar utang keluarganya yang begitu besar.
Dalam semalam, pertahanan Da-eun runtuh. Ayahnya, Han Myung-sook, dilarikan ke rumah sakit karena sesak napas, sementara ibunya, Kim Sang-hoon, hanya bisa menangis tanpa henti. Di sekolah, Kim Ji-soo dirundung karena berita viral bibinya.
---
Hujan musim gugur yang dingin mengguyur ibukota Seoul. Da-eun berdiri di tepi Jembatan Banpo, menatap aliran Sungai Han yang gelap. Dia merasa seperti sepotong roti yang sudah terlalu lama direndam air lalu hancur, tak berbentuk, dan tak diinginkan siapapun.
"Aku sudah memberikan segalanya," bisik Da-eun pada angin. "Tapi kenapa dunia begitu kejam dan tetap meminta lebih?"
Saat dia hendak melangkah lebih dekat ke pagar pembatas, sebuah tangan menariknya dengan kasar. Itu Do-yun. Napasnya terengah-engah, jas mahalnya basah kuyup.
"Jangan berani-berani, Kim Da-eun!" teriak Do-yun, suaranya pecah karena ketakutan.
"Lepaskan aku, Do-yun-ssi. Pergilah pada Go Yoo-ra, yang akan menjadi istrimu kelak! Kalian berasal dari dunia dan langit yang sama. Aku hanya debu di bawah kakimu. Gadis miskin yang terjerat utang yang menggunung!"
"Aku sudah meninggalkan langit itu!" balas Do-yun, memeluk Da-eun erat-erat. "Aku sudah melepaskan hak warisku. Aku sudah memutuskan hubungan dengan orang tuaku demi berdiri di sini, bersamamu. Jika kau terjun, aku akan ikut terjun. Kita akan menjadi debu bersama-sama, atau kita mulai membangun hubungan dari nol lagi."
Da-eun diam seribu bahasa sambil menatap lelaki baik itu. Ia menahan isak tangis. Bulir-bulir air mata tertahan di sepasang bola matanya yang indah.
---
Musim dingin mulai menyapa, namun di sebuah kedai kecil di pinggiran kota, suasananya terasa hangat. Da-eun kini mengelola usahanya sendiri, sebuah toko kue kecil yang ia bangun bersama Do-yun. Han Myung-sook tampak lebih tenang duduk di sudut toko, sementara Kim Sang-hoon mulai belajar menghias kue, perlahan menemukan kembali gairah hidupnya.
Kim Ji-soo berlari masuk membawa nilai ujiannya yang bagus, disambut tawa oleh Do-yun yang kini tak lagi mengenakan jas mewah, melainkan apron yang sama dengan Da-eun.
Apa kabar Go Yoo-ra? Dia baik-baik saja dan tetap berada di singgasana emasnya yang mewah namun dingin. Ia tak pernah mengerti mengapa pria sesempurna seperti Do-yun lebih memilih aroma tepung di tangan Da-eun daripada aroma parfum mahalnya.
Di bawah langit Seoul yang kini bersih setelah hujan, Da-eun menyadari satu hal: menjadi "generasi sandwich" mungkin berat, tapi ketika kau menemukan seseorang yang bersedia berbagi beban itu, sandwich tersebut bukan lagi sisa makanan yang sia-sia, melainkan jamuan yang paling manis.
---
Lampu kristal di restoran privat lantai 81 Lotte World Tower berpijar ogah-ogahan, memantulkan kemewahan yang terasa mencekik leher. Di meja berbentuk bundar itu, Kim Da-eun duduk dengan punggung tegak, meskipun tangannya yang tersembunyi di bawah meja gemetar hebat. Ia mengenakan gaun pinjaman salon yang terasa terlalu ketat di bagian dada, seolah-olah baju itu pun tahu Da-eun tidak pantas berada di sana.
Di hadapannya, duduk kedua orang tua Do-yun. Ayahnya, Tuan Lee, menatap Da-eun seolah-olah gadis itu adalah serangga yang masuk ke dalam sup mahalnya. Di samping mereka, Go Yoo-ra duduk dengan anggun, menyesap wine merah dengan senyum kemenangan yang misterius.
"Jadi," suara Ibu Do-yun memecah keheningan, tajam seperti pisau bedah. "Ini gadis yang membuat putraku mengabaikan tanggung jawabnya? Putri dari Han Myung-sook, pria yang bahkan tidak bisa mengingat namanya sendiri?"
Wajah Da-eun memucat. "Ayah saya sedang sakit, Nyonya. Tapi dia tetap pria yang terhormat."
Yoo-ra tertawa kecil, suara denting gelasnya terdengar menyakitkan. "Terhormat? Da-eun-ssi, mari kita bicara realistis. Di dunia kami, kehormatan dibayar dengan saham dan koneksi. Apa yang kau punya? Tepung di tanganmu? Atau keponakan kecilmu, yang mungkin akan berakhir menjadi pelayan juga jika kau terus egois mengejar Do-yun?"
Lee Do-yun menggebrak meja, membuat sendok perak berdenting. "Cukup, Yoo-ra! Eomma, aku membawa Da-eun ke sini bukan untuk kalian hakimi!" Suara itu begitu mengagetkan.
"Kau membawanya ke sini untuk mempermalukan kami!" balas Tuan Lee dengan suara tegas tapi menggelegar. "Pilihlah, Do-yun. Menikahlah dengan Yoo-ra dan amankan posisimu, atau keluar dari ruangan ini dengan gadis pelayan ini dan jangan pernah membawa nama belakang 'Lee' lagi. Kau akan menjadi orang miskin yang sama hancurnya dengan keluarga gadis sampah itu!"
Yoo-ra mencondongkan tubuh, berbisik cukup keras agar Da-eun mendengar. "Pikirkan, Da-eun. Jika kau mencintai lelaki itu, kau pasti akan melepaskannya. Kau itu 'sandwich generation', kan? Kau terjepit di tengah. Jangan tarik Do-yun masuk ke dalam jeratan kemiskinanmu yang menyedihkan itu. Kau hanya akan menjadi parasit baginya. Memalukan sekali!!!"
Da-eun menatap Do-yun. Ia melihat konflik di mata pria itu—antara cinta dan pengabdian pada keluarga. Da-eun berdiri, air mata menggenang namun ia menolak untuk menjatuhkannya di depan Yoo-ra.
"Anda benar, Nyonya," suara Da-eun tenang namun bergetar. "Saya memang berada dalam dilema di tengah. Saya menanggung masa lalu orang tua saya dan masa depan keponakan saya. Tapi setidaknya, di tengah semua tekanan itu, saya masih punya hati yang baik dan tulus. Sesuatu yang tidak bisa Anda beli dengan uang atau saham perusahaan Anda."
Da-eun berbalik dan lari meninggalkan ruangan yang mewah, megah dan berkilauan itu, mengabaikan teriakan lelaki yang teramat mengasihinya, Do-yun. Ia berlari menuju lift, merasa bahwa oksigen di puncak gedung itu terlalu tipis untuk paru-parunya yang terbiasa dengan debu jalanan.
"Selamat tinggal sayang... " Hatinya hancur! Takdir terlalu kejam kepada si miskin sepertinya. Bagaimanapun, cintanya tak akan bisa bertepuk kedua tangan. Dunia mereka terlalu jauh. Jaraknya sangat menganga. Seharusnya dari awal aku tak bermimpi muluk-muluk! Pangeran tampan pewaris kerajaan itu bukanlah untukmu, Da-eun! Kau bukan Cinderella dari Seoul di zaman sekarang! Batinnya menjerit sambil tangannya menghapus air matanya dengan kasar. Tinggal kepingan kenangan bersama Do-yun yang tersisa dalam hatinya. Bangunlah dan terima realita hidupmu! Da-eun tersungkur di dalam lift itu sendirian.