Laras menyeka peluh yang bercucuran di dahi dengan punggung tangan yang mulai kasar. Di tangannya, sebuah sikat lantai masih menari-nari di atas ubin marmer yang mengilap. Apartemen di kawasan Mid-Levels, Hong Kong ini adalah puncak dari segala kemewahan yang pernah ia bayangkan, namun bagi Laras, setiap jengkal kemilau di sini terasa seperti jeruji besi yang dingin. Laras adalah seorang janda muda berusia dua puluh empat tahun. Suaminya, seorang buruh bangunan, meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan kerja yang tragis, meninggalkan Laras dengan setumpuk utang rumah sakit dan seorang anak laki-laki bernama Adit yang kini berusia tiga tahun.
Sebagai generasi sandwich, beban di pundak Laras bukan hanya tentang membesarkan Adit. Di kampung halaman, ia memiliki dua orang tua yang sudah lansia. Ibunya menderita diabetes kronis yang membutuhkan pengobatan rutin, sementara ayahnya sudah lama tidak bisa bekerja karena saraf terjepit. Laras adalah satu-satunya harapan. Tak ada pilihan lain selain terbang ke negeri beton, meninggalkan tangis Adit yang memilukan di pelukan neneknya demi selembar dolar Hong Kong yang ia harapkan bisa mengubah nasib keluarganya.
Majikannya adalah Madam Wong, seorang perempuan tua berusia tujuh puluh tahun yang merupakan janda dari seorang taipan tekstil. Madam Wong sangat kaya, namun ia hidup dalam kesepian di tengah kemewahan. Kepulangan Laras ke rumah itu sebenarnya disambut baik oleh Madam Wong, namun tidak oleh ketiga anak Madam Wong: Raymond, Tiffany, dan Marcus. Mereka bertiga adalah manusia-manusia yang sudah kehilangan nurani karena gila harta. Mereka menganggap setiap dolar yang dikeluarkan ibu mereka untuk membayar ART adalah pengurangan dari jatah warisan mereka kelak.
Konflik dimulai sejak hari pertama Laras menginjakkan kaki di apartemen tersebut. Ketiga anak Madam Wong menolak memberikan kamar pembantu yang layak bagi Laras. Kamar tersebut, yang seharusnya menjadi hak Laras, justru mereka penuhi dengan tumpukan koper bermerek, koleksi sepatu mahal, dan kardus-kardus berisi barang-barang tak terpakai milik mereka. Mereka sengaja menciptakan kondisi agar Laras merasa tidak betah dan pergi. Namun, Laras bertahan. Ia butuh uang untuk obat ibunya dan susu Adit.
Akhirnya, dengan angkuhnya, Tiffany menunjuk ke arah sebuah kamar mandi tamu yang terletak di sudut paling belakang dekat dapur. Kamar mandi itu cukup luas, namun tetap saja sebuah tempat untuk membuang hajat. Di sanalah Laras harus tidur. Sebuah kasur lipat tipis digelar di samping kloset duduk yang dingin. Setiap malam, Laras harus mencium aroma pembersih lantai yang tajam dan mendengar suara tetesan air dari keran yang bocor. Di ruangan sempit tanpa jendela itulah, Laras menghabiskan malam-malamnya dengan menangis sambil menatap foto Adit di layar ponselnya yang retak.
Laras melakukan pekerjaannya dengan sangat telaten. Ia tidak hanya membersihkan rumah, tapi juga merawat Madam Wong dengan penuh kasih sayang—sesuatu yang tidak dilakukan oleh anak-anak kandungnya sendiri. Suatu hari, Madam Wong terjatuh di kamar mandi pribadinya saat anak-anaknya sedang sibuk berdebat di ruang tamu mengenai pembagian saham perusahaan yang baru saja dilepaskan. Tak satu pun dari mereka mendengar teriakan lirih sang ibu. Hanya Laras yang mendengarnya. Dengan sigap, Laras mendobrak pintu dan menggendong tubuh ringkih Madam Wong, lalu membawanya ke rumah sakit sendirian dengan taksi.
Selama seminggu di rumah sakit, Laras tidak pernah meninggalkan sisi Madam Wong. Ia menyuapi, mengganti pakaian, hingga memijat kaki sang nyonya besar. Sementara itu, Raymond, Tiffany, dan Marcus hanya datang sekali-sekali, itu pun hanya untuk menanyakan apakah sang ibu sudah menandatangani surat kuasa keuangan. Di sana, di atas ranjang rumah sakit, Madam Wong mulai melihat kebenaran yang selama ini ia tutup-tutupi. Ia melihat ketulusan pada diri seorang janda muda yang ia paksa tidur di dalam toilet, dan melihat kekejian pada darah dagingnya sendiri yang dibesarkan dengan kemewahan.
Setelah kembali ke apartemen, perlakuan anak-anak Madam Wong semakin menjadi-jadi. Mereka merasa terancam dengan kedekatan Laras dan ibu mereka. Suatu malam, Raymond dengan sengaja menumpahkan kopi panas ke punggung Laras, sementara Tiffany menuduh Laras mencuri sebuah kalung berlian yang sebenarnya ia sembunyikan sendiri di bawah kasur lipat Laras di toilet. Mereka berharap Madam Wong akan segera mengusir Laras tanpa pesangon.
Malam itu, di dalam toilet yang menjadi kamarnya, Laras bersimpuh. Ia merasa tidak kuat lagi. Tubuhnya sakit, batinnya hancur karena difitnah. Ia merindukan Adit. Ia merindukan masakan ibunya meski hanya tempe goreng. Ia bertanya-tanya pada Tuhan, mengapa orang-orang kaya ini begitu jauh dari-Nya? Mengapa mereka yang punya segalanya justru memiliki hati yang begitu kering? Mengapa ia, yang berusaha jujur dan beriman, harus tidur di samping kloset untuk menyambung nyawa?
Namun, jawaban Tuhan datang dengan cara yang tak terduga. Keesokan paginya, Madam Wong memanggil semua anak-anaknya dan Laras ke ruang tengah. Wajah Madam Wong terlihat lebih tegas dari biasanya. Ia mengeluarkan sebuah rekaman suara dari ponselnya. Ternyata, selama ini Madam Wong memasang kamera tersembunyi dan alat perekam di beberapa sudut rumah untuk mengawasi anak-anaknya. Rekaman itu memutar suara Tiffany yang merencanakan fitnah pencurian kalung, serta suara Raymond yang tertawa setelah menyiksa Laras.
Anak-anaknya terdiam, wajah mereka pucat pasi. Madam Wong kemudian mengeluarkan selembar dokumen yang sudah dilegalisir. Ia menyatakan bahwa mulai hari ini, ia mencabut semua akses kartu kredit anak-anaknya dan mengeluarkan mereka dari struktur perusahaan. Yang lebih mengejutkan, Madam Wong mengumumkan bahwa ia telah membeli sebuah unit apartemen kecil di bawah namanya yang khusus diperuntukkan bagi Laras dan keluarganya untuk tinggal jika mereka ingin pindah ke Hong Kong, atau sebagai jaminan masa depan Laras.
Laras menangis sejadi-jadinya. Bukan karena harta, tapi karena akhirnya ada orang yang melihat harga dirinya sebagai manusia. Madam Wong kemudian meminta maaf secara pribadi kepada Laras karena telah membiarkannya tidur di toilet. "Aku ingin tahu sejauh mana anak-anakku bertindak kejam, dan sejauh mana kamu bisa bersabar. Kamu adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menjagaku di masa tuaku, Laras," bisik Madam Wong.
Kisah Laras menjadi viral di kalangan komunitas TKW di Hong Kong. Ia tidak menjadi serakah. Meski kini ia memiliki posisi penting dalam mengurus kebutuhan pribadi Madam Wong dengan gaji yang jauh di atas standar, Laras tetaplah sosok yang rendah hati. Ia berhasil melunasi semua utang di kampung, membiayai operasi katarak ibunya, dan membangun rumah yang layak untuk Adit. Laras membuktikan bahwa meski ia pernah tidur di samping kloset, martabatnya tetap setinggi bintang di langit.
Anak-anak Madam Wong akhirnya diusir dan dipaksa bekerja dari nol untuk merasakan bagaimana susahnya mencari uang. Sementara itu, Laras tetap setia mendampingi Madam Wong. Ia sering membawa Adit dan orang tuanya berlibur ke Hong Kong. Laras sadar bahwa kekayaan bukan tentang seberapa banyak emas yang dimiliki, tapi tentang seberapa besar syukur yang mampu dipanjatkan saat berada di titik terendah. Ia percaya bahwa setiap air mata yang jatuh di lantai toilet itu kini telah diubah Allah menjadi permata kebahagiaan bagi keluarganya.
Laras kini mengerti bahwa iman tidak menjamin seseorang akan selalu bergelimpangan harta di dunia, karena dunia adalah ladang ujian. Bagi orang kaya, ujiannya adalah berbagi dan tidak sombong. Bagi orang seperti dirinya, ujiannya adalah sabar dan tetap jujur di tengah himpitan. Dan di akhir cerita, Laras menemukan bahwa "istana" sesungguhnya bukanlah apartemen mewah di Mid-Levels, melainkan senyum Adit dan doa orang tuanya yang terjawab lewat perjuangan panjang yang bermula dari sebuah kasur lipat di dalam kamar mandi.
Kini, setiap kali melihat toilet, Laras tidak lagi merasa sedih. Ia justru tersenyum, mengingat bahwa di tempat paling rendah itulah, ia justru menemukan jalan menuju derajat yang paling tinggi. Ia tetap menjadi sosok yang taat, selalu mengingatkan Madam Wong untuk bersyukur, dan menggunakan sebagian rezekinya untuk membantu sesama TKW yang mengalami nasib malang. Laras telah berubah dari seorang "pelayan di toilet" menjadi "ratu di hatinya sendiri".