(Bagian I – Undangan Pink yang Terlalu Manis)
Tidak ada yang terasa menyeramkan dari warna pink.
Itu yang kupikirkan sebelum semuanya dimulai.
Namaku Nara Adistya Wulandari, mahasiswa semester akhir jurusan Psikologi di Bandung. Aku tidak percaya hantu. Tidak percaya mitos. Tidak percaya boneka bisa berpindah tempat sendiri. Semua punya penjelasan.
Sampai aku menerima undangan itu.
Amplopnya berwarna pink pastel. Di pojok kiri atas ada gambar Hello Kitty tersenyum—pita merah, mata hitam bulat tanpa ekspresi. Tanpa mulut.
Itu detail pertama yang membuatku berhenti.
Hello Kitty memang tidak punya mulut. Tapi entah kenapa, sore itu, aku merasa senyumnya terlalu… sunyi.
Undangan itu datang ke kosku tanpa nama pengirim. Hanya tertulis:
> Reuni kecil SMA Angkatan 2019
> Villa Sakura – Lembang
> Jumat, 18.30
> Dresscode: Pink atau putih.
Di bawahnya ada tulisan tangan kecil:
> Datang ya, Nara. Kita harus menyelesaikan yang belum selesai.
Tanganku langsung dingin.
Angkatan 2019.
Tahun di mana Mika meninggal.
Mika—teman sebangkuku di SMA. Penggemar berat Hello Kitty. Kamar, tas, case HP, bahkan botol minumnya selalu pink. Dia pernah bercanda ingin menikah dengan tema Hello Kitty.
Tiga bulan setelah kelulusan, dia ditemukan meninggal di kamar kosnya.
Gantung diri.
Polisi menyimpulkan bunuh diri. Kasus ditutup cepat. Orang tuanya tak banyak bicara. Kami semua shock, tapi pelan-pelan hidup berjalan lagi.
Kecuali satu hal.
Di hari terakhir sekolah, Mika sempat bilang padaku:
“Ra, kalau aku mati, kamu bakal percaya nggak kalau aku nggak sengaja?”
Aku tertawa waktu itu. Mengira dia hanya bercanda gelap.
Sekarang, amplop pink ini seperti jawaban yang datang terlambat.
---
Aku hampir tidak datang.
Tapi rasa ingin tahu lebih berbahaya dari ketakutan.
Villa Sakura berdiri di ujung jalan kecil berkabut. Bangunannya bergaya Jepang modern, dengan jendela lebar dan lampion gantung. Dari luar terlihat hangat. Cahaya kuning menyala lembut.
Ada mobil terparkir. Artinya aku tidak sendirian.
Saat masuk, aroma manis seperti permen stroberi menyambutku.
Ruang tamu sudah dihias. Balon pink, pita putih, bahkan taplak meja bermotif Hello Kitty. Terlalu detail untuk sekadar reuni spontan.
“Ra!”
Aku menoleh.
Itu Dimas. Ketua kelas dulu. Masih tinggi, masih percaya diri, tapi wajahnya terlihat lebih tegang dari biasanya.
Di belakangnya ada Tasya, Farel, dan Nadine.
Lima orang.
Jumlah yang sama dengan kelompok pertemanan inti kami dulu.
Jumlah yang sama saat Mika masih hidup.
“Siapa yang bikin acara ini?” tanyaku.
Mereka saling pandang.
“Aku kira kamu,” kata Tasya.
Aku menggeleng.
“Undangannya nggak ada nama pengirim,” tambah Nadine pelan.
Kami semua menerima amplop yang sama.
Sama persis.
Hello Kitty di pojok kiri.
Tanpa mulut.
---
Malam turun lebih cepat di Lembang.
Kami memutuskan tetap tinggal. Mungkin hanya prank aneh. Mungkin salah satu dari kami terlalu niat.
Villa itu memiliki empat kamar di lantai atas. Salah satunya—paling ujung—bernomor 304.
Pintunya tertutup.
Di gagangnya tergantung boneka Hello Kitty ukuran sedang.
Aku merasa ada yang aneh.
“Ini dulu nomor kamar Mika waktu study tour ke Jogja,” gumam Tasya tiba-tiba.
Kami semua terdiam.
Itu benar.
Mika memang pernah bilang angka 304 adalah angka favoritnya. Tanggal lahirnya 3 April.
3/04.
Dimas mencoba membuka pintu kamar itu.
Terkunci.
“Aneh,” katanya. “Pemilik villa bilang semua kamar bisa dipakai.”
“Siapa yang booking?” tanyaku lagi.
Dimas mengangkat bahu. “Transfernya atas nama anonim. Tapi DP lunas.”
Listrik tiba-tiba berkedip.
Satu kali.
Dua kali.
Lampu ruang tamu mati sesaat.
Saat menyala kembali—
Boneka Hello Kitty di pintu kamar 304 sudah tidak tergantung.
Boneka itu sekarang duduk di lantai, tepat di tengah lorong.
Menghadap ke arah kami.
“Siapa yang pindahin?” suara Farel terdengar terlalu tinggi.
Tak ada yang menjawab.
Aku yakin. Yakin sekali.
Tadi boneka itu masih tergantung.
---
Kami memutuskan makan malam untuk menenangkan diri.
Tapi suasana tidak pernah kembali normal.
Di meja makan ada kue besar berbentuk kepala Hello Kitty.
Dengan tulisan icing merah:
> WELCOME BACK, 5.
Lima.
Bukan enam.
Tanganku gemetar.
“Ini nggak lucu,” bisik Nadine.
Tiba-tiba ponsel kami berbunyi bersamaan.
Notifikasi grup WhatsApp lama yang sudah bertahun-tahun tidak aktif.
Nama grupnya: KITTY GIRLS & BOYS.
Foto profil grup berubah.
Foto lama kami berenam.
Tapi wajah Mika—dicoret tinta hitam.
Pesan masuk.
Nomor tak dikenal.
> Kenapa cuma berlima?
Jantungku seperti dihantam palu.
Dimas langsung mengetik: Siapa ini?
Balasan datang cepat.
> Kalian lupa sesuatu di kamar 304.
Listrik mati lagi.
Kali ini lebih lama.
Kami hanya diterangi cahaya layar ponsel.
Dan dalam gelap itu—
Terdengar suara.
Pelan.
Seperti kuku menggesek kayu.
Dari lantai atas.
Dari arah kamar 304.
---
Kami naik bersama. Tidak ada yang berani sendirian.
Pintu 304 kini terbuka sedikit.
Padahal tadi terkunci.
Di dalam gelap.
Aroma stroberi semakin kuat. Manis. Eneg.
Dimas mendorong pintu.
Lampu kamar menyala sendiri.
Dan di tengah ranjang—
Duduk boneka Hello Kitty ukuran besar.
Lebih besar dari sebelumnya.
Di leher boneka itu terikat tali.
Persis seperti cara Mika ditemukan.
Tasya menjerit.
Aku tidak.
Aku terlalu sibuk memperhatikan sesuatu yang lain.
Di dinding, ada tulisan merah.
Bukan cat.
Lebih kental.
Lebih gelap.
> AKU TIDAK BUNUH DIRI.
Ruangan mendadak dingin.
Farel mundur. “Ini pasti prank sick banget!”
Tiba-tiba pintu kamar menutup keras di belakang kami.
Lampu mati lagi.
Gelap total.
Lalu—
Suara perempuan tertawa kecil.
Lembut.
Persis seperti suara Mika dulu.
“Ra…”
Aku membeku.
Suara itu tepat di belakang telingaku.
“Ra… kamu kan janji.”
Janji?
Aku berusaha mengingat.
Hari terakhir sebelum kelulusan.
Mika menangis di toilet sekolah.
Dia bilang ada sesuatu yang salah.
Dia bilang dia takut.
Dan aku—
Aku bilang:
“Udahlah, Mik. Jangan lebay.”
Aku meninggalkannya sendirian hari itu.
Lampu menyala kembali.
Kami berlima berdiri terpisah.
Boneka di ranjang kini menghadap ke arahku.
Tali di lehernya bergerak pelan.
Seolah tertiup angin.
Padahal jendela tertutup rapat.
Dan di tanganku—
Entah sejak kapan—
Ada pita merah kecil.
Basah.
Lengket.
Seperti… darah.
---
Kami berhasil keluar dari kamar 304 setelah Dimas mendobrak pintu.
Begitu keluar, semuanya terasa normal lagi.
Tidak ada tulisan di dinding.
Tidak ada boneka besar.
Kamar kosong. Bersih.
Seolah kami berhalusinasi bersama.
“Ini nggak masuk akal,” gumamku.
Sebagai mahasiswa psikologi, aku tahu histeria massal mungkin terjadi.
Tapi lima orang mengalami detail yang sama?
Dan pita merah ini?
Aku menyembunyikannya di saku.
Tiba-tiba terdengar suara notifikasi lagi.
Pesan baru di grup.
> Satu dari kalian tahu kebenarannya.
Jantungku berhenti sepersekian detik.
Pesan berikutnya muncul.
> Dan satu dari kalian tidak akan pulang besok.
Tasya mulai menangis.
Farel memaki.
Dimas mencoba rasional.
Tapi aku melihat sesuatu yang lain.
Nadine.
Dia pucat. Terlalu pucat.
Tangannya gemetar hebat.
Dan saat mata kami bertemu—
Dia berbisik hampir tanpa suara.
“Aku lihat dia waktu itu.”
“Lihat siapa?” tanyaku.
Nadine menelan ludah.
“Mika… malam sebelum dia mati. Dia nggak sendirian.”
Hening.
Detak jam terdengar keras.
“Dia sama siapa?” tanyaku lagi.
Nadine membuka mulut—
Tiba-tiba—
Lampu pecah.
Kaca berhamburan.
Dan dari lantai atas—
Terdengar suara benda jatuh keras.
Kami semua menoleh ke tangga.
Perlahan.
Pelan sekali.
Sesuatu menggelinding turun.
Berhenti tepat di kaki kami.
Itu kepala boneka Hello Kitty.
Terpisah dari tubuhnya.
Dan di dahinya, tertulis dengan tinta hitam:
> NADINE BERBOHONG.
Nadine menjerit.
Lalu pingsan.
Dan saat aku mendongak ke atas tangga—
Aku melihat sosok berdiri di ujung lorong.
Rambut panjang.
Gaun putih.
Pita merah di kepala.
Tanpa wajah.
Hanya kulit kosong.
Seperti Hello Kitty.
Tanpa mulut.
Tanpa mata.
Hanya lubang gelap.
Sosok itu mengangkat tangan.
Menunjuk ke arahku.
Lalu menghilang.
Dan di ponselku—
Pesan terakhir malam itu muncul.
> Kita mulai dari yang paling bersalah.
---
Bersambung…