luka diam-diam seorang sahabat.
..
Senja di Jakarta selalu punya cara untuk terlihat menyakitkan bagi mereka yang sedang menyimpan rahasia. Bagi Tio, langit berwarna oranye keunguan sore itu terasa seperti memar yang dipaksakan. Ia duduk di bangku taman kota, memutar-mutar ponsel di tangannya, menunggu dua orang paling penting dalam hidupnya, Fani dan Lala.
Mereka bertiga adalah "Segitiga Bermuda," begitu julukan yang mereka buat saat SMA. Ke mana pun satu pergi, dua lainnya pasti mengekor. Namun, bagi Tio, segitiga itu tidak pernah benar-benar sama sisi. Ada satu sudut yang selalu ia pandang dengan detak jantung yang berbeda. Sudut itu bernama Lala.
"Tio! Bengong aja lo, kesambet penunggu taman tahu rasa!"
Suara cempreng itu membuyarkan lamunan Tio. Fani datang dengan langkah lebar, menyenggol bahu Tio hingga cowok itu hampir terjungkal.
"Sialan lo, Fan. Kebiasaan," gerutu Tio, meski bibirnya tersenyum.
"Lala mana?" tanya Fani sambil duduk di sebelah Tio, membuka botol air mineralnya.
"Lagi jalan ke sini katanya. Tadi ada urusan bentar di kampus," jawab Tio singkat. Ia berusaha menetralkan suaranya agar tidak terdengar terlalu antusias—atau terlalu cemas.
Tak lama, sosok yang ditunggu muncul. Lala berlari kecil dengan rambut panjangnya yang terikat asal, namun di mata Tio, ia selalu tampak seperti puisi yang paling indah.
"Sori, sori! Dosennya hobi banget nambah jam," ucap Lala terengah-engah. Ia langsung duduk di sisi lain Tio, membuat Tio kini berada di tengah-tengah kedua sahabatnya.
"Santai, La. Tio juga baru sampai, kok," bohong Fani sambil melirik Tio dengan tatapan penuh arti yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.
Tio berdeham, mengalihkan pandangan. Fani adalah satu-satunya orang yang tahu bahwa Tio mencintai Lala sejak kelas dua SMA. Fani juga yang selalu menjadi "tong sampah" curhatan Tio setiap kali Lala menceritakan cowok lain yang ia taksir.
■ Rahasia yang Membuncah
Malam itu, mereka memutuskan untuk makan malam di warung tenda langganan. Suasana riuh, aroma sate kambing menusuk hidung, dan tawa mereka pecah berkali-kali. Namun, Tio menyadari ada yang berbeda dari Lala. Gadis itu terus menatap ponselnya dengan senyum kecil yang tertahan.
"La, lo kenapa sih? Senyum-senyum sendiri kayak orang kurang sajen," celetuk Fani.
Lala mendongak, wajahnya mendadak merona merah. Ia melirik Tio sebentar, lalu beralih ke Fani. "Gue... gue mau ngomong sesuatu sama kalian."
Jantung Tio berdegup kencang. Ada firasat buruk yang mulai merayap di tengkuknya.
"Ngomong aja kali, kayak sama siapa aja," kata Tio, berusaha terdengar santai meski tangannya di bawah meja meremas celana jinsnya sendiri.
Lala menarik napas dalam-dalam. "Gue... gue jadian. Sama Kak Aris."
Hening.
Dunia Tio seolah berhenti berputar selama beberapa detik. Nama itu—Aris—adalah kakak tingkat mereka yang memang sudah lama mendekati Lala. Tio selalu berpikir ia punya waktu. Ia selalu berpikir bahwa menjadi "sahabat terbaik" adalah garis start yang paling menguntungkan. Ternyata, ia hanya diam di tempat sementara orang lain sudah mencapai garis finis.
"Demi apa?!" teriak Fani, berusaha menutupi keterkejutannya. Ia langsung melirik Tio dengan tatapan iba yang sangat tidak diinginkan Tio.
"Iya, tadi siang dia nembak gue di perpustakaan. Dan gue... gue juga suka sama dia," lanjut Lala dengan mata berbinar. Kebahagiaan itu tulus, dan itu yang membuat hati Tio semakin hancur.
"Wah, selamat ya, La. Akhirnya nggak jomblo karatan lagi," suara Tio keluar begitu saja. Stabil. Terlatih. Sebuah topeng yang ia bangun selama bertahun-tahun sebagai sahabat.
"Makasih, Yo! Lo emang sahabat terbaik gue," ucap Lala sambil merangkul pundak Tio sekilas. Sentuhan itu terasa seperti luka bakar.
■ Luka di Balik Hujan
Beberapa minggu berlalu, dan dinamika mereka berubah. Lala lebih sering menghabiskan waktu dengan Aris. Jika pun mereka berkumpul bertiga, Lala tak henti-hentinya menceritakan betapa manisnya Aris, betapa perhatiannya cowok itu.
Suatu malam, saat hujan deras mengguyur kota, Tio sedang berada di apartemen Fani. Mereka sedang mengerjakan tugas akhir bersama.
"Yo, lo nggak capek?" tanya Fani tiba-tiba, meletakkan laptopnya.
"Capek kenapa? Tugas ini emang ribet," jawab Tio tanpa menoleh.
"Bukan tugasnya, bego. Hati lo. Sampai kapan lo mau dengerin cerita dia tentang Aris sambil masang muka tembok kayak gitu?"
Tio terhenti. Ia meletakkan pulpennya.
■ Ruangan itu mendadak terasa sempit.
"Terus gue harus apa, Fan? Ngamuk? Bilang ke dia kalau gue sayang sama dia dan minta dia putusin Aris? Itu egois," bisik Tio.
"Tapi lo nyakitin diri sendiri, Yo! Lo liat tadi sore? Dia nangis karena berantem sama Aris, dan siapa yang nenangin? Lo. Siapa yang beliin dia cokelat biar dia senyum lagi? Lo. Tapi yang dia kangenin tetep Aris!" suara Fani meninggi.
"Karena itu tugas sahabat, Fan. Gue nggak mau kehilangan dia. Kalau gue jujur dan dia menjauh, gue bakal kehilangan semuanya. Sekarang, seenggaknya gue masih bisa ada di samping dia."
Fani menggelengkan kepala. "Lo itu bukan sahabat, Yo. Lo itu martir. Lo ngebakar diri lo sendiri cuma buat kasih dia kehangatan yang bahkan nggak dia sadari asalnya dari mana."
Tio terdiam. Di luar, petir menyambar, menerangi wajahnya yang nampak sangat lelah.
■ Titik Nadir
Puncaknya terjadi saat ulang tahun Lala yang ke-21. Tio sudah menyiapkan kado spesial: sebuah kamera analog yang sudah lama diincar Lala. Ia menabung berbulan-bulan untuk itu.
Namun, di pesta itu, Aris memberikan kejutan yang lebih besar. Di depan semua orang, Aris memberikan sebuah kalung dan mencium kening Lala. Semua orang bersorak. Lala tampak seperti putri paling bahagia di dunia.
Tio berdiri di sudut ruangan, memegang kotak kado kecilnya yang kini terasa tidak berarti. Fani menghampirinya, tidak mengatakan apa-apa, hanya menepuk punggungnya pelan.
Lala kemudian menghampiri mereka dengan wajah berseri-seri. "Yo, Fan! Liat nih, bagus nggak kalungnya?"
"Bagus banget, La. Pas di lo," jawab Fani singkat.
"Yo, kado dari lo mana?" tanya Lala manja.
Tio memaksakan senyum. Ia menyerahkan kotak itu. "Ini. Selamat ulang tahun ya, La. Semoga bahagia terus sama... sama pilihan lo."
Lala membuka kadonya dan memekik senang. "Tio! Ini kan yang gue mau! Kok lo inget sih? Lo emang yang paling ngerti gue!"
Lala memeluk Tio erat. Di dalam pelukan itu, Tio menutup matanya rapat-rapat. Ia mencium aroma parfum Lala yang selalu sama, merasakan kehangatan yang seharusnya terasa nyaman namun kini terasa seperti sembilu.
Gue inget semuanya, La, batin Tio. Gue inget makanan favorit lo, lagu yang lo dengerin pas lagi sedih, sampai ukuran sepatu lo. Tapi gue juga sadar, seberapa banyak pun gue inget tentang lo, lo nggak akan pernah inget buat ngelihat gue sebagai laki-laki.
■ Akhir dari Sebuah Perjalanan
Setelah pesta itu, Tio memutuskan untuk menarik diri pelan-pelan. Bukan karena ia membenci Lala, tapi karena ia butuh menyembuhkan dirinya sendiri.
Suatu sore, Lala menemui Tio di kantin kampus. "Yo, lo kok akhir-akhir ini susah diajak ketemu? Fani juga bilang lo sibuk terus."
Tio menatap Lala. Gadis itu tampak cemas. "Gue lagi banyak urusan magang, La. Sori ya."
"Gue kangen tahu, Yo. Aris lagi sibuk juga, gue jadi ngerasa kesepian."
Tio tersenyum tipis. Kalimat itu—gue ngerasa kesepian—selalu menjadi alasan Lala mencarinya. Bukan karena ia spesial, tapi karena ia adalah pengisi celah saat orang utama dalam hidup Lala tidak ada.
"La, lo punya Aris. Lo nggak sendirian," kata Tio lembut.
"Tapi Aris beda sama lo, Yo. Lo itu sahabat terbaik gue. Gue nggak bisa bayangin hidup gue tanpa lo."
Tio menarik napas panjang. Inilah saatnya. "La, mungkin itu masalahnya. Gue nggak bisa selamanya jadi orang yang cuma lo cari saat lo kesepian."
Lala mengerutkan kening. "Maksud lo apa?"
"Gue sayang sama lo, La. Lebih dari sekadar sahabat. Dan ngelihat lo sama Aris itu... sakit. Gue butuh waktu buat biasa aja lagi."
Lala tertegun. Matanya membelalak.
"Yo... gue... gue nggak tahu."
"Gue tahu lo nggak tahu. Dan itu bukan salah lo," Tio berdiri, menyampirkan tasnya. "Gue cuma perlu jaga jarak sebentar. Bukan buat benci lo, tapi buat sayang sama diri gue sendiri."
Tio melangkah pergi, meninggalkan Lala yang terpaku di kursinya. Untuk pertama kalinya, Tio tidak menoleh ke belakang. Air matanya jatuh, tapi pundaknya terasa lebih ringan.
Ia tahu, patah hati karena sahabat adalah jenis luka yang paling lama keringnya. Namun ia juga tahu, terus berpura-pura adalah cara paling cepat untuk mati perlahan. Di sore yang mendung itu, Tio akhirnya memilih untuk berhenti menjadi bayangan, meski ia harus berjalan sendirian di bawah hujan.