Namanya Alana Paramitha Lestari. Perempuan dengan garis wajah tegas dan langkah yang selalu tahu ke mana harus menuju. Setidaknya begitu kesan yang ia bangun bertahun-tahun lalu—saat ia memutuskan meninggalkan seorang lelaki yang mencintainya terlalu sederhana.
Arga Alfauzi bukan lelaki penuh ambisi. Ia bekerja sebagai dosen muda di sebuah kampus swasta di Jakarta Selatan, cukup cerdas, cukup tampan, cukup mapan untuk ukuran awal tiga puluhan. Tapi “cukup” tak pernah cukup bagi Alana.
Dulu, mereka menikah dengan keyakinan polos bahwa cinta bisa menambal apa pun. Mereka bertemu di sebuah seminar, bertukar pikiran tentang buku dan masa depan, lalu jatuh cinta tanpa banyak drama. Arga menyukai cara Alana berbicara: cepat, tajam, penuh keyakinan. Alana menyukai cara Arga mendengarkan: utuh, tanpa memotong.
Tiga tahun pernikahan mereka berjalan tenang. Terlalu tenang, mungkin.
Ketika surat penerimaan S2 di London datang, Alana merasa seperti menemukan versi dirinya yang lebih besar. Dunia yang lebih luas. Karier yang lebih tinggi. Ia berdiri di ruang tamu apartemen kecil mereka sambil memegang email itu dengan tangan gemetar.
“Aku dapat, Ga,” katanya.
Arga tersenyum. Senyum yang selalu ia berikan setiap Alana mencapai sesuatu. “Aku tahu kamu pasti bisa.”
“Beasiswanya full. Tapi… aku harus berangkat tahun ini.”
“Berapa lama?”
“Dua tahun.”
Keheningan datang seperti tamu tak diundang. Mereka tahu, dua tahun bukan waktu yang pendek. Terlebih mereka belum punya anak—keputusan yang selalu ditunda karena Alana merasa belum siap.
“Kita bisa LDR,” kata Arga akhirnya.
Alana menatapnya. Ada cinta di sana. Ada ketulusan. Tapi ada juga jarak yang mulai tumbuh bahkan sebelum ia berangkat.
“Aku nggak mau kamu nunggu,” ucapnya pelan.
Arga mengernyit. “Nunggu apa?”
“Aku nggak tahu aku akan jadi seperti apa nanti. Aku nggak mau kamu terjebak dengan versi lama aku.”
Perceraian mereka terjadi tanpa teriakan. Tanpa piring pecah. Tanpa orang ketiga. Hanya dua orang dewasa yang merasa sedang berjalan ke arah berbeda. Mereka menandatangani berkas dengan tangan dingin, lalu makan malam terakhir dengan percakapan yang terlalu sopan.
“Aku tetap di sini kalau kamu butuh apa-apa,” kata Arga saat mengantarnya ke taksi menuju bandara.
Alana mengangguk. “Jangan terlalu baik, Ga. Nanti aku susah move on.”
Arga tertawa kecil. “Kita bukan musuh.”
Dan memang, mereka bukan musuh. Mereka hanya dua orang yang kalah oleh waktu.
---
London mengubah Alana.
Ia belajar tentang strategi bisnis global, bekerja paruh waktu di firma konsultan, berjejaring dengan orang-orang dari berbagai negara. Dunia terasa cepat dan kompetitif. Ia menyukainya. Ia tumbuh di sana.
Tapi setiap ulang tahunnya, sebuah pesan selalu masuk tepat pukul 00.01 waktu Indonesia.
Selamat ulang tahun, Lan. Semoga kamu tetap jadi perempuan paling berani yang aku kenal. – Arga
Tak pernah lebih. Tak pernah kurang.
Alana membalas singkat. Terima kasih, Ga. Semoga kamu bahagia.
Mereka tidak pernah benar-benar putus komunikasi. Kadang Arga mengirim foto kucing liar yang sering singgah di teras rumahnya. Kadang Alana mengirim foto salju pertama yang ia lihat. Percakapan mereka ringan, bersih dari nostalgia yang berlebihan.
Setelah dua tahun, Alana memperpanjang kontrak kerjanya. Ia tak pulang.
Ia mulai berkencan dengan seorang kolega asal Spanyol. Cerdas, ambisius, penuh rencana. Tapi hubungan itu tak pernah sedalam yang ia miliki dengan Arga. Terlalu banyak ego. Terlalu banyak kompetisi.
Akhirnya, di tahun keempatnya di luar negeri, Alana memilih pulang. Bukan karena gagal. Justru karena ia merasa sudah menang cukup banyak.
Ia kembali dengan gelar, jabatan regional manager, dan kepercayaan diri yang lebih tajam dari dulu.
Bandara Soekarno-Hatta menyambutnya dengan udara lembap dan suara bahasa yang ia rindukan. Ia menghirupnya dalam-dalam.
Jakarta tak banyak berubah. Tapi ia merasa asing di dalamnya.
Dua minggu setelah kepulangannya, ia tak sengaja melihat unggahan di Instagram seorang teman lama. Foto Arga sedang menggendong bayi, berdiri di samping seorang perempuan berhijab krem dengan senyum lembut.
Caption-nya sederhana: Keluarga kecil yang lengkap. Bahagia selalu, Ga!
Alana terpaku.
Tangannya membeku di atas layar. Jantungnya berdetak terlalu keras untuk sebuah fakta yang sebenarnya wajar.
Arga menikah lagi.
Dan kini punya anak.
Ia memperbesar foto itu. Perempuan itu cantik. Bukan cantik yang mencolok, tapi hangat. Tatapannya pada Arga penuh cinta yang tak diragukan. Arga terlihat… berbeda. Lebih matang. Lebih tenang. Bahagia.
Alana menutup aplikasi itu, tapi bayangan foto tersebut tak ikut tertutup.
Malamnya, ia membuka kembali galeri lama di ponselnya. Foto pernikahan mereka. Arga mengenakan setelan abu-abu, menatapnya seperti dunia berhenti di sana. Mereka tertawa di bawah hujan konfeti kertas.
“Aku janji nggak akan bikin kamu merasa kecil,” kata Arga dulu, saat mereka baru menikah.
“Aku janji nggak akan berhenti berkembang,” jawab Alana.
Janji yang terdengar indah. Tapi mungkin, berkembang tak selalu berarti berjalan bersama.
---
Seminggu kemudian, Alana menerima pesan WhatsApp dari nomor yang tak asing.
Lan, aku dengar kamu sudah pulang. Welcome back.
Arga.
Alana menatap layar cukup lama sebelum membalas. Iya, baru dua minggu. Congrats ya… aku lihat fotonya.
Beberapa menit kemudian, balasan masuk.
Terima kasih. Kalau ada waktu, kita ngopi? Sekadar catch up.
Alana hampir menolak. Tapi sesuatu dalam dirinya—entah apa—mendorongnya mengetik: Boleh.
Mereka bertemu di sebuah kafe di Kemang. Tempat yang dulu sering mereka datangi saat masih menikah. Anehnya, Arga yang memilih tempat itu.
Saat Arga masuk, Alana merasa waktu terlipat. Ia masih lelaki yang sama, tapi ada garis-garis baru di wajahnya. Kedewasaan yang berbeda.
“Kamu kelihatan sukses,” kata Arga setelah mereka duduk.
“Kamu kelihatan bahagia,” balas Alana.
Mereka tertawa kecil. Canggung, tapi tidak asing.
“Anaknya lucu,” kata Alana, mencoba terdengar santai.
Arga tersenyum lebar. “Iya. Namanya Aksa.”
“Mirip kamu.”
“Katanya sih begitu.”
Ada jeda. Alana mengaduk kopinya, walau tak perlu.
“Dia cantik,” ucapnya pelan, merujuk pada istri Arga.
“Iya,” jawab Arga tanpa ragu. “Dia baik.”
Jawaban itu seperti titik. Tegas. Tanpa koma.
Mereka berbicara tentang pekerjaan, tentang dunia luar, tentang perubahan Jakarta. Tak ada yang menyinggung masa lalu secara langsung. Tapi masa lalu itu duduk di antara mereka, seperti tamu tak terlihat.
Saat pertemuan hampir selesai, Arga berkata pelan, “Lan… aku nggak pernah marah sama kamu.”
Alana menatapnya.
“Aku tahu kamu harus pergi. Kamu memang bukan tipe yang bisa diam di satu tempat.”
“Aku egois,” bisik Alana.
“Kita cuma beda prioritas waktu itu.”
Kata “waktu itu” terasa berat. Seolah ada kemungkinan lain jika waktunya berbeda.
Sebelum berpisah, Arga berkata, “Istriku tahu aku mau ketemu kamu.”
Alana terdiam.
“Dia nggak masalah,” lanjut Arga. “Karena dia tahu, kamu bagian dari masa laluku. Dan masa lalu nggak bisa dihapus, cuma bisa diterima.”
Kalimat itu terdengar dewasa. Terlalu dewasa.
---
Hari-hari berikutnya, Alana mencoba kembali ke rutinitas. Ia bekerja di kantor barunya di kawasan Sudirman, memimpin tim, menghadiri rapat. Tapi pikirannya kerap melayang.
Ia membayangkan hidup yang tak ia pilih.
Jika ia tak pergi.
Jika ia dan Arga bertahan.
Apakah kini ia yang menggendong bayi itu?
Pertanyaan-pertanyaan itu datang tanpa undangan.
Suatu sore, saat hujan turun deras, Alana menerima pesan lagi dari Arga.
Lan, bisa ketemu lagi? Ada yang mau aku kasih.
Mereka bertemu di tempat berbeda kali ini. Arga membawa sebuah kotak kecil.
“Apa ini?” tanya Alana.
“Barangmu yang ketinggalan dulu.”
Alana membukanya. Di dalamnya ada buku jurnal cokelat tua. Buku yang dulu sering ia pakai menulis mimpi-mimpinya.
“Aku simpan,” kata Arga. “Kupikir suatu hari kamu akan ambil.”
Alana menelan ludah. “Kamu nggak pernah buang?”
Arga tersenyum samar. “Beberapa hal nggak untuk dibuang.”
Hujan di luar makin deras.
“Lan,” Arga memulai, suaranya berubah lebih serius. “Aku perlu jujur sama kamu.”
Jantung Alana berdegup tak wajar.
“Istriku… dia tahu semuanya tentang kita. Tentang kenapa kita cerai. Tentang betapa aku dulu sangat mencintaimu.”
Alana menunduk.
“Dan?” tanyanya pelan.
Arga menarik napas panjang. “Dia juga tahu… kalau waktu kamu kirim pesan tahun lalu bilang kamu mungkin pulang, aku sempat goyah.”
Dunia seperti berhenti sepersekian detik.
“Apa maksudmu?”
“Aku sempat mikir… gimana kalau kamu pulang lebih cepat? Gimana kalau kita dulu nggak menyerah?”
Alana menatapnya, napasnya tercekat.
“Tapi aku sudah punya keluarga sekarang,” lanjut Arga. “Dan aku memilih mereka. Sepenuhnya.”
Kalimat itu seperti tamparan lembut. Tidak menyakitkan secara kasar, tapi cukup membuat dada sesak.
Alana memaksakan senyum. “Itu yang seharusnya.”
Arga mengangguk. “Iya. Tapi aku ingin kamu tahu, perasaan itu pernah ada. Supaya kita sama-sama nggak hidup dengan tanda tanya.”
Keheningan menyelimuti mereka.
Di luar, hujan mulai reda.
Alana berdiri. “Terima kasih sudah jujur.”
Ia melangkah pergi dengan langkah yang terasa lebih berat dari saat ia meninggalkan Arga bertahun-tahun lalu.
Di dalam mobil, ia membuka jurnal cokelat itu. Di halaman pertama, tertulis dengan tulisannya sendiri:
Aku ingin menjadi perempuan yang tak takut memilih.
Tangannya gemetar.
Ponselnya bergetar. Pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Halo, Mbak Alana. Saya Nara, istrinya Arga. Maaf menghubungi langsung. Saya cuma ingin bilang terima kasih sudah datang kembali…
Alana membaca cepat.
Karena sejak Mbak pulang, Arga jadi sering melamun. Dan tadi dia bilang mau jujur pada Mbak tentang sesuatu yang belum pernah dia ceritakan pada saya.
Jantung Alana seperti jatuh.
Pesan berikutnya masuk.
Dia bilang… Aksa lahir prematur dan golongan darahnya langka. Kami masih mencari donor yang cocok untuk kemungkinan terburuk. Dan Arga bilang, dulu Mbak punya golongan darah yang sama dengannya.
Alana membeku.
Layar ponselnya terasa panas di tangan.
Pesan terakhir muncul.
Besok kami ke rumah sakit untuk tes lanjutan. Arga belum tahu saya menghubungi Mbak. Tapi entah kenapa, saya merasa Mbak harus tahu.
Hujan berhenti sepenuhnya. Jakarta terasa terlalu sunyi.
Alana menatap kaca depan mobilnya, melihat bayangan dirinya sendiri—perempuan yang memilih pergi, yang kini kembali, dan tiba-tiba dihadapkan pada sesuatu yang jauh lebih besar dari cinta lama.
Ia mengetik satu pesan pada Arga:
Ga, besok aku ikut ke rumah sakit.
Titik-titik tiga muncul di layar.
Lalu hilang.
Tak ada balasan.
Cerita mereka, rupanya, belum benar-benar selesai.
Dan untuk pertama kalinya, Alana tak tahu—ia akan menjadi apa dalam bab berikutnya: mantan istri, penyelamat, atau justru orang asing yang kembali terlalu terlambat.