Negeri Kamboja, 1975.
Langit Phnom Penh berwarna kelabu ketika tentara berpakaian hitam memasuki kota. Mereka menyebut diri Angkar—organisasi tanpa wajah, tanpa nama, tanpa Tuhan. Rakyat dipaksa keluar dari rumah. Rumah sakit dikosongkan. Pasar ditinggalkan. Kota menjadi hantu dalam sehari.
Di antara lautan manusia yang dihalau seperti ternak itu, berjalan seorang lelaki kurus bernama Abdul Karim, seorang Muslim Cham berusia tiga puluh tahun. Di punggungnya tergendong karung kecil berisi mushaf tua dan kain sarung. Di tangannya, jemari kecil anaknya, Yusuf, menggenggam ketakutan.
Istrinya, Mariam, berjalan di belakang, membawa bayi yang belum genap enam bulan.
“Ke mana mereka membawa kita?” bisik Mariam.
Abdul Karim menatap tentara yang berteriak-teriak memerintahkan mereka menuju pedesaan.
“Mereka bilang kita akan membangun negeri baru,” jawabnya pelan. “Negeri tanpa kaya, tanpa miskin.”
Ia tidak tahu bahwa negeri tanpa kaya dan miskin itu juga akan menjadi negeri tanpa Tuhan.
---
Di desa terpencil yang mereka sebut “Zona Baru”, rakyat dipaksa bekerja di sawah dari fajar hingga gelap. Siapa pun yang bertanya dianggap musuh revolusi.
Abdul Karim adalah guru mengaji di kampungnya dulu. Ia bukan politikus. Bukan pejabat. Hanya lelaki sederhana yang percaya pada doa dan kerja keras.
Namun bagi Angkar, agama adalah ancaman.
Suatu malam, seorang kader muda memergoki Abdul Karim berwudu di tepi parit.
“Apa yang kau lakukan?” bentaknya.
“Hanya membersihkan diri,” jawab Abdul Karim hati-hati.
Kader itu menyipitkan mata. “Tidak ada agama di sini. Hanya Angkar.”
Masjid di desa Cham telah dihancurkan. Kubahnya diruntuhkan. Mimbar kayunya dibakar untuk kayu masak. Orang-orang dipaksa memakan babi sebagai bukti kesetiaan. Siapa yang menolak, dicatat namanya.
Abdul Karim menolak dengan cara yang sunyi. Ia pura-pura sakit saat daging itu dibagikan. Ia makan hanya nasi dan daun singkong. Ia menyimpan ayat-ayat Al-Qur’an dalam ingatan, karena mushafnya telah dirampas dan dibakar di depan matanya.
Hari itu ia tidak menangis.
Ia hanya memandang abu yang beterbangan, seperti huruf-huruf yang terbang ke langit.
---
Kelaparan menjadi hukum harian.
Bubur encer dibagikan sekali sehari. Anak-anak mulai kurus seperti bayangan. Yusuf yang dulu ceria kini lebih sering diam, matanya besar di wajah yang menirus.
“Abah, kapan kita pulang?” tanyanya suatu sore.
Abdul Karim terdiam. Pulang ke mana? Rumah mereka sudah tak ada. Kota sudah kosong. Negeri telah berubah menjadi ladang kerja paksa.
“Suatu hari, Nak,” jawabnya, meski ia tak tahu hari itu akan datang atau tidak.
Malam-malam menjadi lebih sunyi, tapi juga lebih menakutkan.
Truk datang tanpa lampu. Nama-nama dipanggil. Orang-orang dibawa pergi dengan alasan “pendidikan ulang”.
Tak pernah kembali.
Suatu malam, nama tetangganya, Haji Musa, dipanggil.
Haji Musa menoleh pada Abdul Karim sebelum naik ke truk. “Jaga imanmu,” bisiknya.
Keesokan paginya, sawah di belakang desa tampak lebih basah dari biasanya.
Abdul Karim mengerti.
---
Tahun 1977, kekejaman meningkat.
Pol Pot memerintahkan pembersihan terhadap etnis Cham yang dianggap tak mau tunduk. Kampung-kampung Muslim dibantai. Orang-orang dipaksa meninggalkan bahasa dan nama mereka.
Abdul Karim dipanggil ke balai desa.
“Mulai hari ini, namamu bukan Abdul Karim,” kata seorang kader. “Namamu Dara. Kau petani revolusi.”
“Aku lahir dengan nama itu,” jawabnya lirih.
Tamparan keras mendarat di pipinya.
“Angkar memberimu hidup baru!”
Ia dipaksa bekerja menggali kanal irigasi tanpa istirahat. Tanah keras seperti batu. Tangan melepuh. Siapa pun yang lambat dipukul cangkul.
Suatu siang, Yusuf jatuh pingsan karena kelaparan.
Abdul Karim berlari menghampiri, tapi seorang tentara menendangnya.
“Biarkan dia! Anak lemah tak berguna bagi revolusi!”
Abdul Karim memeluk tubuh kecil itu.
“Dia hanya anak-anak…”
Tentara itu mengangkat senapan.
Untuk pertama kalinya, Abdul Karim merasa imannya bergetar oleh amarah.
“Ambil aku,” katanya. “Jangan anakku.”
Tentara itu menatapnya lama, lalu tertawa kecil. “Kalian semua akan mati perlahan.”
Yusuf selamat hari itu.
Tapi kelaparan tak pernah benar-benar pergi.
---
Musim hujan datang membawa lumpur dan penyakit. Bayi Mariam batuk tanpa henti. Tak ada obat. Tak ada dokter. Semua dianggap intelektual yang harus dibasmi.
Suatu malam, bayi itu berhenti menangis.
Mariam mengguncangnya pelan. “Bangun… bangun…”
Tak ada jawaban.
Abdul Karim memandangi wajah kecil itu. Ia ingin berteriak. Tapi suaranya seperti terkubur di dada.
Mereka tak diizinkan mengubur dengan ritual. Hanya lubang dangkal di tepi sawah.
Mariam memeluk tanah itu lama sekali.
Sejak hari itu, matanya kosong.
---
Puncak tragedi datang pada suatu malam tanpa bulan.
Angkar mengumpulkan semua lelaki Cham.
“Kalian dituduh menyembunyikan ajaran lama,” kata komandan dengan wajah dingin. “Negeri ini tak butuh Tuhan selain revolusi.”
Mereka diikat berbaris.
Abdul Karim melihat Yusuf berdiri di antara kerumunan perempuan, menangis tanpa suara.
Ia ingin memeluknya sekali lagi.
Di tepi sawah, lubang besar telah digali.
Ia tahu apa artinya.
Di sampingnya, seorang lelaki tua berbisik, “Baca dalam hati. Jangan biarkan mereka merampas yang terakhir.”
Abdul Karim menutup mata.
Ia melafalkan ayat-ayat yang masih ia hafal. Suaranya hanya gema dalam dada.
Tembakan pertama terdengar.
Tubuh-tubuh jatuh seperti padi ditebas.
Ketika gilirannya tiba, sesuatu terjadi—ledakan di kejauhan. Pasukan Vietnam mulai menyerbu perbatasan. Kekacauan pecah. Tentara panik. Beberapa tahanan lari.
Abdul Karim tersungkur ke dalam lubang bersama mayat-mayat lain, pura-pura mati.
Darah hangat mengalir di pipinya—bukan darahnya.
Ia menahan napas.
Langkah-langkah menjauh.
Malam kembali sunyi.
Di bawah timbunan tubuh, ia berdoa.
---
Fajar menyingsing pucat.
Abdul Karim merangkak keluar dari kuburan massal. Bau darah dan tanah basah bercampur.
Ia berlari menuju desa.
Desa kosong.
Gubuk-gubuk terbakar. Tak ada Mariam. Tak ada Yusuf.
Ia berteriak sampai suaranya habis.
Tak ada jawaban.
Pol Pot akhirnya tumbang tahun 1979. Dunia baru tahu skala pembantaian itu—jutaan jiwa melayang. Sawah-sawah berubah menjadi ladang kematian.
Abdul Karim selamat, tapi kehilangan segalanya.
Ia menjadi saksi hidup.
---
Tahun-tahun berlalu.
Di sebuah kamp pengungsi di perbatasan Thailand, Abdul Karim duduk menghadap matahari terbenam. Rambutnya memutih sebelum waktunya.
Seorang relawan asing bertanya pelan, “Bagaimana Anda bisa bertahan?”
Ia terdiam lama.
“Karena mereka boleh membunuh tubuh,” jawabnya lirih. “Tapi tidak bisa membunuh keyakinan.”
Ia tak pernah menemukan Mariam dan Yusuf.
Mungkin mereka mati. Mungkin terpisah dan hidup dengan nama lain.
Setiap malam ia masih mendengar azan dalam mimpinya—azan yang tak pernah boleh dikumandangkan di ladang revolusi itu.
Azan yang terkubur di sawah hitam.
---
Puluhan tahun kemudian, di pengadilan internasional Phnom Penh, para pemimpin Khmer Merah diadili.
Abdul Karim hadir sebagai saksi.
Ruang sidang sunyi ketika ia berdiri.
“Nama saya Abdul Karim,” katanya mantap. “Nama yang pernah ingin mereka hapus.”
Ia menceritakan tentang mushaf yang dibakar, bayi yang mati tanpa kafan, lelaki-lelaki yang ditembak di tepi sawah.
Beberapa hakim menunduk. Beberapa wartawan meneteskan air mata.
“Apakah Anda membenci mereka?” tanya seorang jurnalis setelah sidang.
Abdul Karim memandang langit yang kini biru.
“Aku membenci kezaliman,” jawabnya. “Tapi aku tidak boleh membiarkan kebencian menjadi tuanku.”
Di sudut kota Phnom Penh, masjid kecil berdiri kembali. Kubahnya sederhana. Tak megah. Tapi setiap azan yang berkumandang adalah kemenangan kecil atas sejarah yang ingin menguburnya.
Abdul Karim berdiri di saf paling belakang.
Ketika imam mengangkat takbir, air matanya jatuh.
Bukan hanya untuk yang mati.
Tapi untuk dunia, agar tak lupa.
Karena tragedi Pol Pot bukan sekadar angka dalam buku sejarah.
Ia adalah wajah-wajah yang hilang. Nama-nama yang dipaksa berubah. Doa-doa yang dibungkam.
Dan di antara jutaan yang gugur, ada seorang lelaki yang selamat—
Untuk bersaksi.
Bahwa bahkan di sawah paling hitam sekalipun, iman bisa tetap bernapas.