Kabut tebal menggantung di atas lautan, menyelimuti perahu kayu Sky seperti kain sutra yang menyembunyikan wajah seorang wanita cantik. Sky, dengan rambutnya yang basah oleh embun laut dan mata yang tetap seperti mata elang walau dipenuhi kesedihan, mendayung perahunya dengan kuat menembus kesunyian yang menyelimuti lautan. Ia memang dikenal sebagai seorang petualang dan penjelajah lautan yang selalu mencari arti di setiap ombak dan badai yang dilaluinya. Namun, kali ini, ia tidak mencari petualangan atau makna hidup — ia mencari Iris.
Iris, perempuan tinta yang selalu membawa buku catatan dan pena besi di mana pun dia pergi. Ia selalu merekam setiap detail dunia di sekitarnya: tentang laut yang luas, tentang langit yang tak bertepi, tentang cinta yang tulus, dan tentang kehilangan yang menyakitkan. Sky memang akhirnya berhasil mendekatinya setelah bertemu beberapa kali di pulau terpencil itu. Ia menemukan bahwa rumah kayu reyot di tepi pantai adalah tempat tinggal Iris yang selalu sendirian. Mereka mulai berbagi cerita tentang laut, berbagi mimpi tentang dunia yang lebih luas, dan perlahan-lahan, berbagi hati satu sama lain. Namun, pada suatu pagi yang dingin dan berkabut, Iris menghilang tanpa jejak — tidak ada surat, tidak ada pesan, hanya tinggalkan buku catatannya yang tergeletak di mejanya.
Sky tidak menyerah untuk mencari dia. Ia menyusuri setiap sudut lautan yang pernah mereka bahas, mengunjungi setiap pulau kecil yang mungkin ia datangi dan bertanya pada setiap orang yang pernah melihatnya. Bulan demi bulan berlalu, dan harapan mulai memudar, hingga akhirnya, ia menemukan sebuah petunjuk yang membuat hatinya berdebar kencang: sebuah buku catatan yang jelas milik Iris tergeletak di bibir ombak, basah oleh air laut namun sebagian besar tulisannya masih terbaca dengan jelas.
Sky membuka buku itu dengan hati yang penuh rasa takut dan harapan. Di dalamnya, terdapat catatan-catatan Iris tentang perasaannya yang dalam, tentang masa lalunya yang ia sembunyikan, dan tentang sebuah rahasia yang membuatnya terkejut.
Di halaman terakhir yang masih bisa dibaca dengan jelas, Iris menulis tentang Orion, adik tiri Sky yang selalu mengikuti mereka dalam diam:
"𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘵𝘢𝘵𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘖𝘳𝘪𝘰𝘯. 𝘐𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘬𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘯𝘺𝘢𝘮𝘢𝘯. 𝘈𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘳𝘪𝘨𝘢 𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘰𝘣𝘴𝘦𝘴𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘣𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶. 𝘉𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪-𝘩𝘢𝘵𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘚𝘬𝘺."
Sky terkejut mendengar hal itu. Ia tidak bisa percaya bahwa adik tirinya sendiri akan melakukan sesuatu yang membahayakan Iris. Namun, keraguan mulai menghantui pikirannya. Ia ingat bagaimana Orion selalu menatap Iris dengan tatapan aneh setiap kali mereka bersama, bagaimana ia selalu berusaha mendekati Iris setiap kali Sky harus pergi untuk mengambil sesuatu atau membantu penduduk desa.
Setelah berpikir panjang dan mendengar suara hati yang mengatakan bahwa ia harus mencari tahu kebenaran, Sky memutuskan untuk menghadapi Orion. Ia menemukan adik tirinya di sebuah gua tersembunyi di tepi pantai yang sering mereka kunjungi saat masih kecil. Orion sedang duduk di depan tungku api unggun yang kecil, menatap lautan dengan tatapan kosong yang sulit ditebak apa yang ada di dalam pikirannya.
"Orion," kata Sky dengan suara dingin namun tegas saat memasuki gua. "Di mana Iris?"
Orion tidak menjawab. Ia hanya mengangkat wajahnya perlahan dan tersenyum sinis yang membuat bulu kuduk Sky merinding. "Iris? Dia sudah pergi jauh dari sini," jawabnya dengan nada mengejek yang membuat darah Sky mendidih. "Dia tidak mencintaimu, Sky. Dia mencintaiku dan memilih untuk pergi bersamaku."
Sky menggenggam tangan dengan kuat, coba menahan emosinya. Ia tahu Orion tidak mengatakan yang sebenarnya. 'Apa yang terjadi pada Iris, Orion?' tanyanya dengan suara yang tegas dan penuh kekhawatiran..."
Orion tertawa dengan suara yang menembus ke telinga. "Aku tidak melakukan apa-apa padanya. Dia sendiri yang memilih untuk pergi bersamaku dan meninggalkanmu."
Sky merasa amarahnya meluap, namun ia berusaha tetap tenang. Ia menghampiri Orion dengan tegas, namun emosi yang tinggi membuat kedua orang itu saling mendorong dan bertengkar hebat. Akhirnya, Orion tidak mampu mengendalikan emosinya dan terjatuh, tergeletak tidak berdaya di tanah basah gua.
"Katakan padaku di mana dia, Orion!" desak Sky dengan napas tersengal-sengal.
Orion terengah-engah sambil menatap Sky dengan tatapan penuh kebencian. "Dia tidak bisa kembali lagi, Sky," bisiknya dengan penuh kesedihan dan penyesalan. "Aku tidak sengaja... tapi aku bertanggung jawab atas apa yang terjadi padanya. Tubuhnya terbawa arus ke dasar laut yang dalam. Dia ada di dasar laut yang dalam."
Sky terkejut dan merasa seperti dunia runtuh di hadapannya. Ia tidak bisa percaya bahwa adik tirinya yang pernah dia sayangi tega menghilangkan nyawa orang yang dicintainya. Ia merasa hancur berkeping-keping — kehilangan orang yang paling dicintainya karena ulah keluarga sendiri.
Dengan hati yang penuh kesedihan dan rasa sakit, Sky membawa Orion ke kantor polis terdekat. Orion mengaku bersalah atas tindakannya yang menyebabkan hilangnya Iris dan dihukum penjara seumur hidup sebagai konsekuensi dari apa yang telah ia lakukan.
Sky kembali ke rumah kayu reyot Iris di tepi pantai sendirian. Ia duduk di depan rumah, menatap ombak yang terus menyapu pantai dengan tatapan kosong. Ia merasa bersalah karena tidak bisa melindungi Iris, merasa marah pada Orion karena telah merenggut kebahagiaannya, dan merasa hilang tanpa tujuan hidup.
Namun, di tengah kesedihan yang mendalam itu, Sky menemukan secercah harapan. Saat membersihkan barang-barang Iris yang tertinggal, ia menemukan sebuah amplop kecil tersembunyi di antara halaman-halaman buku catatan yang ia temukan di bibir ombak. Di dalam amplop itu terdapat sebuah surat yang ditulis oleh Iris:
"𝘓𝘢𝘶𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘯𝘢𝘮𝘢𝘮𝘶, 𝘚𝘬𝘺, 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘯𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘶𝘮𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘳𝘯𝘢 𝘫𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘩. 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪, 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘣𝘶𝘪𝘩 𝘰𝘮𝘣𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘤𝘢𝘩, 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘵𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘫𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘣𝘶𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘪𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘶𝘴𝘢𝘪.
𝘒𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘥𝘢𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮, 𝘭𝘢𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘭𝘶𝘢𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘶𝘱𝘢𝘩𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶, 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘪𝘵 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵 𝘵𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘯𝘢𝘳.
𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘪𝘯𝘥𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶, 𝘚𝘬𝘺. 𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘳𝘪𝘯𝘥𝘶𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘮𝘶𝘥𝘦𝘳𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘱𝘪, 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘬𝘶𝘳. 𝘉𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘨𝘶𝘮𝘪𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘫𝘢𝘶𝘩, 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘳𝘦𝘮𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘣𝘶𝘮𝘪 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢.
𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘬𝘦𝘳𝘵𝘢𝘴, 𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘵𝘶𝘢𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘶𝘯𝘨𝘪 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢. 𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘥𝘪𝘵𝘢𝘬𝘥𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘦𝘥𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘣𝘶𝘩 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶.
𝘋𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘭𝘦𝘮𝘣𝘢𝘳 𝘤𝘢𝘵𝘢𝘵𝘢𝘯𝘬𝘶, 𝘯𝘢𝘮𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘬𝘪𝘳 𝘢𝘣𝘢𝘥𝘪. 𝘚𝘬𝘺, 𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘪𝘴𝘵𝘦𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘬𝘶𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯, 𝘱𝘶𝘪𝘴𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘬𝘶𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘳𝘶𝘴𝘢𝘬.
𝘔𝘦𝘴𝘬𝘪𝘱𝘶𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘪𝘴𝘢𝘩 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘫𝘢𝘳𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶, 𝘬𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪𝘭𝘢𝘩, 𝘚𝘬𝘺, 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘨𝘶𝘮𝘪𝘮𝘶. 𝘚𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢."
Sky membaca surat itu dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. Tiba-tiba, kenangan tentang masa lalunya terlintas di pikirannya — saat ia pertama kali melihat Iris dan merasa tidak nyaman dengan perhatiannya yang terus mengikutinya. Ia lalu mengambil pena besi dan kertas yang ada di mejanya, menulis sebuah puisi sebagai bentuk penghormatan dan permintaan maaf:
"𝘋𝘶𝘭𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘯𝘤𝘪𝘮𝘶, 𝘐𝘳𝘪𝘴. 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘵𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘶𝘮𝘱𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨𝘬𝘶, 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘶𝘬𝘪𝘳 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘶 𝘤𝘢𝘵𝘢𝘵𝘢𝘮𝘶, 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘶𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘣𝘶𝘴 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘥𝘪𝘩𝘢𝘯. 𝘓𝘢𝘶𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪 𝘣𝘪𝘴𝘶 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘯𝘤𝘪𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘶.
𝘒𝘢𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘶𝘩𝘪𝘯𝘥𝘢𝘳𝘪, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘴𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘯𝘺𝘪, 𝘮𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯. 𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘬𝘶, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘭𝘢𝘯 𝘰𝘮𝘣𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘯𝘺𝘢𝘱 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘦𝘬𝘢𝘴.
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘯𝘤𝘪𝘮𝘶, 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘥𝘪𝘳 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘴𝘶𝘥𝘶𝘵 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯𝘬𝘶. 𝘒𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘯𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘯𝘵𝘶𝘪𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮, 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪𝘬𝘶 𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪.
𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘤𝘪 𝘤𝘢𝘳𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘵𝘢𝘱𝘬𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩, 𝘤𝘢𝘳𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵, 𝘤𝘢𝘳𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘭𝘢𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘤𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨𝘮𝘶, 𝘐𝘳𝘪𝘴. 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢!
𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪, 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘯𝘤𝘪𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘪𝘵𝘶, 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘩𝘪𝘯𝘥𝘢𝘳𝘪: 𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘨𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮, 𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘳𝘵𝘢𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘶𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯, 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘶𝘱𝘢𝘩𝘢𝘮𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶, 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘣𝘢𝘴𝘢𝘯𝘬𝘶.
𝘒𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪. 𝘒𝘦𝘣𝘦𝘯𝘤𝘪𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮, 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘥𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘰𝘣𝘢𝘵𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘳𝘪𝘯𝘥𝘶𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘬𝘴𝘢 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘥𝘶𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶, 𝘐𝘳𝘪𝘴."
Setelah menulis puisi itu, Sky menyadari bahwa Iris adalah seorang wanita yang penuh kasih yang hanya ingin mencintai dan dicintai. Ia juga menyadari bahwa Orion adalah seorang pemuda yang kesepian dan tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaannya dengan benar. Dengan hati yang sudah mulai pulih, Sky memutuskan untuk memaafkan Orion — ia tahu bahwa memaafkan tidak akan menghidupkan kembali Iris, tetapi ia percaya bahwa itu adalah satu-satunya cara untuk berdamai dengan keadaan dan melanjutkan hidup.
Sky mengunjungi Orion di penjara beberapa bulan kemudian. Ia berdiri di depan jeruji besi dan mengatakan dengan suara yang tenang bahwa ia telah memaafkannya. Orion menangis dengan penuh kesedihan dan menyesali perbuatannya yang telah merusak hidup banyak orang. Ia mengaku bahwa ia memang mencintai Iris, tetapi tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya dengan benar sehingga akhirnya melakukan hal yang salah.
Sky dan Orion berpelukan melalui jeruji besi, menangis bersama sambil berduka atas kehilangan Iris yang telah menyatukan mereka dalam kesedihan. Namun, dari dalam kesedihan itu, mereka berdua menemukan kedamaian dalam hati mereka dan memahami bahwa cinta yang salah arah bisa merusak banyak hal.
Sky kembali ke lautan yang telah menjadi rumahnya. Ia melanjutkan petualangannya menjelajahi lautan luas, tetapi kali ini ia tidak lagi mencari Iris. Ia mencari arti dalam dirinya sendiri, mencari cara untuk menghormati kenangan Iris dengan baik, dan mencari cara untuk menjalani hidup dengan penuh cinta dan kedamaian seperti yang selalu diajarkan Iris melalui tulisannya.
Setelah beberapa tahun berlalu, Sky akhirnya menemukan kedamaian sejati di dalam dirinya. Ia belajar untuk menerima kehilangan Iris sebagai bagian dari hidupnya, belajar untuk memaafkan diri sendiri dan Orion, serta belajar untuk mencintai dirinya sendiri dengan lebih baik.
Beberapa tahun kemudian, saat singgah di sebuah pulau terpencil yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya, Sky bertemu dengan seorang wanita yang sedang duduk di atas batu besar di tepi pantai, mencatat sesuatu di buku catatannya dengan penuh fokus. Saat wanita itu mengangkat wajahnya, Sky terkejut melihat wajahnya yang memiliki kesamaan dengan Iris — mata yang lembut saat melihat laut, senyum yang hangat, dan tangan yang ramping menggenggam pena.
Wanita itu memperkenalkan diri dengan nama Luna. Ia adalah seorang penulis muda yang memilih tinggal di pulau terpencil untuk mencari inspirasi dari alam dan lautan. Sama seperti Iris, Luna mencintai setiap warna dan gerakan ombak, serta suka menuliskan segala sesuatu yang dilihatnya dalam buku catatannya.
Seiring berjalannya waktu, Sky dan Luna mulai saling mengenal lebih dekat. Mereka berbagi cerita tentang laut, tentang tulisan, dan tentang kehidupan yang penuh dengan suka dan duka. Sky tidak pernah menyembunyikan kenangan tentang Iris dari Luna — ia bercerita tentang perempuan tinta yang telah mencuri hatinya, tentang cinta yang mereka bagi, dan tentang bagaimana ia belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik karena kehilangannya.
Luna mendengarkan dengan penuh perhatian dan pemahaman. Ia tidak merasa bersaing dengan kenangan Iris, melainkan menghargai peran pentingnya dalam kehidupan Sky. "Dia adalah bagian dari dirimu yang membuatmu menjadi orang yang kamu cintai sekarang," ujar Luna dengan lembut saat mereka duduk menyaksikan matahari terbenam bersama.
Lama kelamaan, cinta tumbuh di antara mereka. Sky jatuh cinta pada Luna bukan karena dia mirip dengan Iris, melainkan karena dia adalah dirinya sendiri — seorang wanita yang kuat, penuh kasih, dan melihat dunia dengan cara yang sama dalam dan indahnya seperti dirinya. Mereka menikah di tepi pantai pulau itu, dengan suara ombak sebagai iringan dan buku catatan yang pernah mereka tulis sebagai bukti cinta yang tumbuh dari kedamaian dan pemahaman dan penghormatan pada masa lalu.
Mereka hidup bahagia bersama, menjelajahi lautan dan menulis cerita tentang dunia yang luas. Sky tidak pernah melupakan Iris — ia selalu menyimpan salah satu buku catatannya di kapal mereka, dan setiap malam sebelum tidur, ia akan membaca salah satu tulisannya sebagai bentuk penghormatan pada perempuan tinta yang telah mengajarkannya arti cinta sejati.
Di suatu malam yang bulan purnama bersinar terang di atas laut, Sky berdiri di dek kapal sambil memegang buku catatan Iris. Ia melihat ke arah lautan yang luas dan berkata dengan lembut, "Terima kasih telah datang ke dalam hidupku, Iris. Kau telah mengajarkanku untuk mencintai dengan penuh hati dan memaafkan dengan lapang dada. Aku tahu kau selalu bersamaku, di setiap ombak yang menyapa, di setiap senja yang kita saksikan, dan di dalam hati yang terus mencintaimu."
Di kejauhan, ombak seolah merespon dengan membentuk buih yang indah di permukaannya — seolah Iris sedang tersenyum dan mengucapkan selamat tinggal pada pria yang selalu dicintainya, tahu bahwa dia akhirnya menemukan kedamaian dan cinta yang layak baginya di tengah lautan yang tak pernah terlupakan.