Bagian III – Tanpa Mulut
Farel sudah mati.
Tidak ada yang berani menyentuh tubuhnya.
Darah tipis mengalir dari pelipisnya, kontras dengan lantai kayu terang. Pita merah kecil di dahinya terlihat seperti tanda.
Tanda siapa berikutnya.
Tasya muntah di sudut ruangan. Nadine gemetar tanpa suara. Dimas berdiri terpaku—rahangnya mengeras, pikirannya bekerja.
Aku justru merasakan sesuatu yang berbeda.
Bukan hanya takut.
Tapi sadar.
Pola ini terlalu rapi.
Terlalu teatrikal.
Enam cangkir.
Rekaman CCTV.
Tulisan di dinding.
Boneka sebagai simbol.
Ini bukan hantu liar.
Ini seseorang yang ingin kami mengingat.
Dan menghukum.
“Ini bukan Mika,” kataku pelan.
Semua menoleh.
“Kalau ini arwah, kenapa pakai CCTV? Kenapa pakai rekaman? Kenapa pakai teknologi?”
Dimas menatapku lama.
“Jadi menurut kamu siapa?”
Aku tidak langsung menjawab.
Karena potongan memori itu akhirnya utuh.
Hotel Sakura. Jogja. Study tour.
Kamar 304.
Malam itu Nadine mabuk. Tasya ikut-ikutan. Farel dan Dimas bercanda kelewatan. Mika merekam. Awalnya cuma iseng. Lalu jadi sesuatu yang memalukan.
Video itu menunjukkan Nadine yang tak sadar diri, Farel yang menyentuh tanpa izin, Dimas tertawa, Tasya memprovokasi.
Aku?
Aku yang bilang, “Udah, simpan aja buat lucu-lucuan.”
Mika satu-satunya yang merasa itu salah.
Dia bilang video itu harus dihapus.
Kami menolak.
Beberapa bulan kemudian, video itu tersebar anonim di sekolah.
Nadine hampir pindah sekolah.
Farel diskors.
Dimas selamat karena orang tuanya punya koneksi.
Dan Mika?
Semua orang menuduh dia penyebarnya.
Padahal bukan.
Dia dihujat.
Di-bully.
Dibilang haus perhatian.
Dan kami?
Diam.
Kami membiarkan dia jadi kambing hitam.
Itu yang belum selesai.
---
## 1
“Aku tahu siapa ini,” suaraku hampir berbisik.
Semua menatapku.
“Nadine.”
Wajahnya langsung pucat total.
“Apa?”
“Video itu cuma ada di HP Mika dan… kamu.”
Tasya terperanjat. “Serius?”
Nadine mundur satu langkah.
“Aku nggak—”
“Kamu paling panik waktu itu. Kamu takut orang tuamu tahu. Kamu pernah bilang ke aku kamu butuh hapus semua jejak.”
Nadine menangis.
“Itu bukan aku!”
“Tapi kamu satu-satunya yang punya akses ke akun grup kita. Kamu yang bikin grup itu dulu.”
Dimas ikut bicara pelan, “Dan hoodie di CCTV… tinggi badannya mirip kamu.”
Ruangan mendadak terasa lebih sempit.
Nadine gemetar hebat.
“Kalian pikir aku bunuh Mika?” suaranya pecah.
“Bukan bunuh,” kataku. “Tapi kamu temui dia malam itu. Kamu minta videonya. Kalian bertengkar.”
“Dia nggak mau hapus!” Nadine menjerit. “Dia bilang suatu hari kebenaran harus keluar!”
Sunyi.
Tasya terisak. “Jadi… kamu ngapain?”
Nadine menutup wajahnya.
“Aku cuma dorong dia. Cuma sedikit. Dia jatuh. Kepalanya kena meja.”
Napas kami tercekat.
“Dia masih hidup,” lanjut Nadine. “Tapi dia pingsan. Aku panik. Aku takut. Aku… aku atur tali itu.”
Tasya menjerit.
Dimas membeku.
Aku merasakan mual.
“Jadi kamu—”
“Aku nggak niat bunuh!” Nadine histeris. “Aku cuma takut! Kalian semua juga bersalah!”
Kata-kata itu seperti pisau.
Karena benar.
Kami semua bersalah.
Kami membunuhnya pelan-pelan jauh sebelum tali itu dipasang.
---
## 2
Tiba-tiba terdengar tepuk tangan.
Pelan.
Dari arah pintu utama.
Kami semua menoleh.
Di sana berdiri seorang perempuan.
Berjas hitam. Rambut diikat rapi. Wajah familiar.
Aku butuh beberapa detik untuk mengenali.
“Kakaknya Mika,” bisik Dimas.
Perempuan itu melangkah masuk dengan tenang.
“Bagus,” katanya datar. “Akhirnya ada yang jujur.”
Nadine terhuyung.
“K-kak…”
“Polisi waktu itu cepat sekali menutup kasus,” lanjutnya. “Terlalu cepat. Tapi aku tidak.”
Dia mengangkat sebuah tablet.
“Villa ini punya sistem CCTV internal. Aku yang pasang. Aku yang kirim undangan. Aku yang atur semuanya.”
“Farel?” suara Tasya gemetar.
“Dia tidak sengaja,” jawabnya tenang. “Dia panik, lari ke atas, terpeleset.”
Dimas berbisik, “Ini gila…”
“Tidak,” kata perempuan itu dingin. “Ini adil.”
Dia menatap kami satu per satu.
“Kalian semua meninggalkan adikku sendirian.”
Matanya akhirnya berhenti padaku.
“Termasuk kamu, Nara. Kamu yang paling dia percaya.”
Aku tidak membela diri.
Karena tak ada yang bisa dibela.
Nadine terisak. “Aku siap ke polisi…”
“Sudah,” jawab kakak Mika. “Rekaman pengakuanmu barusan sudah tersimpan.”
Hening panjang.
Lalu—
Dia tersenyum kecil.
“Hello Kitty tidak punya mulut,” katanya pelan. “Karena dia tidak pernah membela diri.”
Tubuhku merinding.
“Itu kenapa adikku menyukainya. Dia merasa seperti itu.”
Sunyi menekan.
Kakaknya Mika berbalik menuju pintu.
“Sampai jumpa di pengadilan.”
Dia pergi.
Pintu terbuka.
Udara dingin masuk.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, kabut terasa seperti kabut biasa.
---
## 3 – Twist
Kami pikir semuanya selesai.
Nadine terduduk lemas.
Tasya menangis tanpa henti.
Dimas mengusap wajahnya.
Aku berdiri, memandangi kepala boneka di lantai.
Kasus ini logis.
Terencana.
Manusia.
Bukan hantu.
Aku hampir merasa lega.
Lalu—
Ponselku berbunyi.
Pesan baru.
Nomor tak dikenal.
> *Bagus, Ra. Kamu akhirnya ingat.*
Aku membeku.
Nomor itu bukan milik kakaknya Mika.
Aku yakin.
Pesan kedua masuk.
> *Tapi satu detail masih salah.*
Jantungku berdebar keras.
> *Mika memang jatuh. Tapi dia belum mati saat Nadine pergi.*
Tanganku gemetar.
Pesan terakhir muncul.
> *Orang terakhir yang menyentuh tali itu bukan Nadine.*
Darahku terasa membeku.
Perlahan, sangat pelan—
Sebuah memori terakhir muncul.
Aku kembali malam itu.
Bukan karena marah.
Bukan karena peduli.
Tapi karena ingin memastikan video itu benar-benar hilang.
Mika terbaring lemah.
Tali sudah ada di sana.
Aku panik.
Aku takut skandal itu menghancurkan masa depanku.
Aku melihat tubuhnya yang hampir tak sadar.
Dan aku…
Menarik kursi itu.
Sedikit.
Saja.
Suara gesekan kayu.
Krek.
Krek.
Persis seperti suara yang kami dengar tadi malam.
Tanganku terlepas dari ponsel.
Layar jatuh ke lantai.
Di refleksi hitamnya—
Aku melihat sesuatu di belakangku.
Sosok perempuan.
Gaun putih.
Pita merah.
Tanpa wajah.
Tapi kali ini—
Ada mulut.
Tipis.
Tersenyum.
Dan di dinding villa—
Tulisan baru muncul perlahan.
Seolah digores tangan tak terlihat.
> **KAMU YANG PALING BERSALAH.**
Lampu padam total.
Dan sebelum semuanya gelap sepenuhnya—
Aku mendengar bisikan tepat di telingaku.
“Sekarang kamu ingat.”
---
Tamat