Lantai marmer rumah mewah itu berkilau tertimpa cahaya lampu kristal, tapi suasana hati Bram jauh dari kata terang. Ia duduk di sofa kulit dengan kaku, seperti terpidana mati yang menunggu ketukan palu hakim. Di hadapannya, Papa—seorang pensiunan jenderal yang masih punya hobi memerintah seolah dunia adalah barak militer—sedang menyesap kopi pahit dengan wajah yang sulit dibaca. Papa baru saja menjatuhkan bom atom dalam bentuk kalimat sederhana: "Papa sudah menemukan perempuan yang tepat untukmu, Bram. Besok dia datang untuk makan malam."
Bram ingin protes. Ia ingin berteriak bahwa ini tahun 2026, zaman di mana orang mencari jodoh lewat algoritma aplikasi, bukan lewat insting seorang pria tua yang hobi mengoleksi keris. Namun, menatap mata Papa yang setajam silet, nyali Bram ciut. Selama ini, pilihan Papa selalu buruk bagi kebebasan Bram. Dulu, Papa memilihkan jurusan Akuntansi (Bram benci angka), lalu Papa memilihkan mobil (Bram ingin sedan, Papa membelikan jip raksasa agar "gagah"), dan sekarang, seorang istri. Bram membayangkan sosok perempuan pilihan Papa: mungkin seorang anak rekan bisnis yang memakai kacamata tebal, bicaranya tentang investasi saham, dan memiliki selera berpakaian seperti ibu-ibu pejabat tahun delapan puluhan.
Keesokan harinya, drama dimulai sejak pagi. Papa memerintahkan seluruh asisten rumah tangga untuk membersihkan setiap sudut rumah seolah-olah Presiden akan berkunjung. Bram dipaksa memakai batik sutra yang sangat licin dan celana kain yang membuatnya sulit bernapas. "Ingat, Bram," kata Papa sambil membenahi kerah baju putranya dengan kasar, "perempuan ini punya kualifikasi yang tidak dimiliki perempuan-perempuan yang pernah kamu bawa ke rumah. Dia disiplin, punya visi, dan yang paling penting, dia bisa menjinakkan keras kepalamu."
Pukul tujuh malam tepat, bel rumah berbunyi. Jantung Bram berdegup kencang. Ia sudah menyiapkan skenario dalam kepalanya: ia akan bersikap sangat dingin, membosankan, dan kalau perlu, ia akan berpura-pura memiliki gangguan saraf agar si perempuan lari ketakutan. Papa berjalan ke pintu dengan langkah tegap, membukanya, dan menyambut tamu itu dengan tawa yang jarang sekali Bram dengar.
Lalu, masuklah dia.
Nama perempuan itu Siska. Penampilannya benar-benar di luar ekspektasi Bram. Dia tidak memakai kebaya kuno. Dia memakai gaun hitam simpel yang elegan dengan potongan rambut bob yang sangat modern. Wajahnya cantik, tapi bukan cantik yang manja; ada aura ketegasan di matanya. Bram tertegun sejenak, namun ia segera mengaktifkan mode "pertahanan diri". Ia menyalami Siska dengan tangan yang lemas seperti ikan mati.
"Senang bertemu denganmu, Bram. Papamu banyak cerita tentang... koleksi jam tanganmu yang katanya lebih banyak daripada prestasi kerjamu?" Siska tersenyum manis, tapi kata-katanya menusuk tepat di ulu hati.
Bram tersedak ludahnya sendiri. "Oh, Papa memang suka melebih-lebihkan. Dan saya dengar, Anda adalah pilihan terbaik Papa. Biasanya selera Papa... agak antik."
Makan malam berlangsung dengan tensi tinggi. Papa duduk di ujung meja sebagai moderator yang jelas memihak pada tamu. Setiap kali Bram mencoba melontarkan lelucon untuk mencairkan suasana—atau lebih tepatnya, untuk mengejek situasi—Siska selalu punya jawaban yang lebih tajam. Saat Bram membanggakan proyek startup-nya yang baru saja gagal, Siska dengan santai memberikan analisis SWOT dalam tiga menit yang membuat Bram merasa seperti anak magang yang sedang disidang.
"Bram, Siska ini bukan sembarang perempuan. Dia baru saja menyelesaikan kontrak sebagai konsultan restrukturisasi perusahaan di Singapura," puji Papa dengan bangga.
"Hebat ya. Jadi, Siska, apakah Papa menyewamu untuk me-restrukturisasi hidupku juga?" tanya Bram sinis.
Siska meletakkan garpunya perlahan. "Kalau harganya cocok, kenapa tidak? Tapi melihat kondisimu sekarang, sepertinya butuh likuidasi total sebelum membangun ulang."
Papa tertawa terbahak-bahak sampai tersedak parunya sendiri, sementara Bram hanya bisa menatap piringnya dengan dendam. Namun, di balik kekesalan itu, ada sesuatu yang aneh. Bram biasanya cepat bosan dengan perempuan yang hanya mengiyakan kata-katanya. Siska berbeda. Dia adalah lawan yang sepadan. Dia adalah badai di tengah hidup Bram yang biasanya hanya gerimis membosankan.
Plot twist pertama terjadi tepat setelah hidangan penutup. Seorang pria asing tiba-tiba masuk ke ruang makan tanpa permisi. Penampilannya berantakan, nafasnya terengah-engah, dan ia langsung berlutut di depan Siska. "Siska, tolong! Jangan lakukan ini! Aku tahu aku salah, aku akan berubah!" teriak pria itu.
Bram melongo. Papa tampak tenang-tenang saja, seolah-olah drama ini adalah bagian dari paket hiburan makan malam. Ternyata, pria itu adalah mantan tunangan Siska yang baru saja ia putuskan karena ketahuan selingkuh. Bagaimana dia bisa tahu alamat rumah Papa? Ternyata, Papa-lah yang membocorkannya!
"Papa?" Bram menoleh ke ayahnya.
"Seorang pria sejati harus diuji dalam situasi krisis, Bram. Dan seorang perempuan hebat harus tahu cara membuang sampah," sahut Papa santai sambil menyeruput tehnya.
Siska berdiri, menatap mantan tunangannya dengan dingin, lalu menunjuk ke arah Bram. "Maaf, Rangga. Aku sudah menemukan penggantimu. Dia memang sedikit kurang pintar dan seleranya payah, tapi setidaknya dia tidak selingkuh karena dia terlalu malas untuk mengatur jadwal dengan dua orang."
Bram tidak tahu harus merasa tersanjung atau dihina. Sebelum ia sempat bereaksi, si mantan tunangan yang emosional itu mencoba menyerang Bram. Di sinilah kejutan berikutnya muncul. Siska, dengan gerakan cepat yang tidak terduga, melakukan kuncian aikido yang membuat pria itu tersungkur di lantai dalam hitungan detik.
"Jangan ganggu makan malam kami," ucap Siska datar.
Bram terpana. Ia jatuh cinta pada detik itu juga—bukan pada kecantikannya, tapi pada kemampuan Siska membanting orang. Papa bertepuk tangan kecil. Satpam rumah segera masuk dan menyeret si mantan tunangan keluar.
Suasana kembali tenang, tapi Bram masih syok. "Siska, kamu... kamu benar-benar pilihan Papa?"
Siska duduk kembali, merapikan gaunnya, lalu menatap Bram dengan tatapan yang sulit diartikan. "Sebenarnya, Bram, ada yang harus kamu tahu. Aku tidak dipilih oleh Papamu. Akulah yang memilihmu."
Inilah plot twist terbesar malam itu. Siska menjelaskan bahwa dialah yang mendekati Papa Bram beberapa bulan lalu. Dia adalah putri dari musuh bebuyutan Papa di dunia bisnis dulu. Selama bertahun-tahun, kedua keluarga ini bersaing ketat. Siska awalnya mendekati Papa dengan niat untuk membalas dendam lewat jalur keluarga—ingin menghancurkan reputasi keluarga Bram dari dalam.
"Tunggu, jadi ini semacam drama Korea?" sela Bram, bingung. "Kamu mendekati Papa, pura-pura jadi calon menantu ideal, hanya untuk menghancurkan kami?"
Siska mengangguk, tapi kemudian wajahnya melunak. "Itu rencana awalnya. Tapi setelah aku menyelidiki hidupmu, aku sadar satu hal: kamu bukan ancaman. Kamu hanya pria yang tersesat di bawah bayang-bayang ayahnya yang terlalu dominan. Dan entah kenapa, itu malah membuatku penasaran. Papamu tahu siapa aku sebenarnya sejak hari pertama aku menemuinya. Kami membuat kesepakatan."
Bram menoleh ke Papa. Pria tua itu tersenyum tipis, senyuman yang biasanya ia simpan untuk kemenangan perang. "Papa tahu dia anak si tua saingan itu. Tapi Papa juga tahu, keluarga kita butuh darah baru yang berani. Siska jujur pada Papa. Dia bilang dia ingin menghancurkan kita, tapi Papa bilang: 'Cobalah kalau bisa'. Ternyata, dia malah jatuh hati pada potensimu yang terpendam, Bram. Bukan pada mobil atau uangmu."
Bram merasa kepalanya berputar. Jadi, perempuan pilihan Papa ini sebenarnya adalah "musuh" yang berubah menjadi pengagum rahasia yang kemudian membuat kesepakatan dengan targetnya? Ini terlalu dramatis untuk kenyataan.
"Lalu, apa sekarang?" tanya Bram lirih.
Siska berdiri, mengambil tasnya, lalu berjalan mendekati Bram. Dia membisikkan sesuatu di telinga Bram yang membuat bulu kuduk pria itu berdiri. "Besok pagi jam delapan, aku jemput. Kita akan mulai memperbaiki bisnismu yang berantakan itu. Dan setelah itu, kita akan berkencan secara normal tanpa campur tangan jenderal tua ini."
Siska berpamitan pada Papa dengan hormat dan meninggalkan rumah. Bram masih terpaku di kursinya. Ia menatap Papa yang kini sedang menyalakan cerutu dengan wajah puas.
"Gimana, Bram? Masih mau protes soal selera Papa?" tanya Papa sambil mengembuskan asap.
Bram menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis. "Dia gila, Pa. Dia berbahaya, sombong, dan hampir membuatku kena serangan jantung."
"Jadi?"
"Jadi... dia memang yang terbaik buat aku."
Papa tertawa keras, suara tawanya menggema di seluruh ruangan. Malam itu, Bram belajar bahwa terkadang, orang tua memang tahu apa yang kita butuhkan, meskipun cara mereka memberikannya harus melibatkan mantan tunangan yang histeris, ancaman balas dendam keluarga, dan teknik bantingan aikido. Bram akhirnya mengerti bahwa perempuan pilihan Papa bukan sekadar pendamping, tapi sebuah tantangan yang akhirnya membuat ia ingin menjadi pria yang lebih baik—atau setidaknya, pria yang cukup tangguh agar tidak dibanting oleh istrinya sendiri di masa depan.