Tegalrejo, 1825.
Angin sore menyapu ladang tebu dan padi yang menguning, membawa aroma tanah basah dan keringat para petani. Di kejauhan, azan Magrib mengalun lembut dari langgar kecil beratap rumbia. Desa itu tampak damai—terlalu damai untuk sebuah negeri yang diam-diam sedang menahan amarah.
Di bawah pohon asem tua, seorang pemuda bersorban sederhana berdiri memandangi jalan setapak. Namanya Raden Jayeng Rana—putra bangsawan kecil dari Yogyakarta yang memilih hidup di antara rakyat jelata. Di pinggangnya terselip keris warisan leluhur. Di dadanya, tersimpan bara yang tak pernah padam.
Ia bukan prajurit resmi keraton. Ia bukan pula pemberontak. Ia hanya seorang ksatria yang tak tahan melihat tanah kelahirannya diinjak-injak.
Dan sore itu, yang ia tunggu bukan musuh.
Melainkan seorang gadis desa bernama Sekar Ayu.
Sekar datang membawa bakul berisi singkong rebus. Rambutnya dikepang panjang, matanya jernih seperti embun pagi di lereng Merapi. Ia bukan putri bangsawan. Ia anak petani yang sawahnya baru saja dipatok Belanda untuk proyek jalan baru.
“Mas Jayeng,” ucapnya lembut, menyerahkan bakul itu. “Bapak bilang, pasukan Belanda mulai masuk ke dusun sebelah.”
Jayeng mengangguk pelan. “Aku sudah dengar. Mereka memaksa warga kerja rodi lagi.”
Sekar menunduk. “Apakah benar… Pangeran Diponegoro akan mengangkat senjata?”
Nama itu terucap seperti doa sekaligus badai.
Pangeran Diponegoro—putra Sultan yang menolak tunduk pada keserakahan kolonial. Tanah leluhurnya dipatok untuk pembangunan jalan tanpa izin. Pajak mencekik rakyat. Para pejabat pribumi bersekutu dengan penjajah. Dan agama dipinggirkan.
Jayeng menatap Sekar dengan sorot yang berbeda dari biasanya. “Jika beliau bangkit, aku akan ikut.”
Kalimat itu seperti petir di siang bolong.
Sekar menggenggam kain jariknya. “Lalu aku?”
Hening menggantung.
Jayeng mencintainya sejak pertama kali melihatnya mengajar anak-anak mengaji di langgar. Tapi cinta di zaman itu bukan perkara dua hati saja. Ada tanah yang harus dibela. Ada kehormatan yang harus dijaga.
“Aku tak bisa diam saat bumi ini dirampas,” ucapnya pelan. “Tanah ini bukan sekadar sawah. Ini warisan leluhur. Ini amanah.”
Air mata Sekar jatuh tanpa suara.
“Kalau kau pergi,” bisiknya, “pulanglah dalam keadaan hidup… atau dalam nama yang terhormat.”
---
Perang itu meletus seperti api yang disiram minyak.
Tahun 1825, Tegalrejo menjadi saksi. Pasukan Belanda menyerbu kediaman Diponegoro. Rumah-rumah terbakar. Rakyat mengungsi ke hutan. Diponegoro bersama para pengikutnya, termasuk Kyai Maja—ulama kharismatik yang menjadi penopang spiritual perjuangan—memilih bergerilya.
Jayeng berada di barisan depan ketika sumpah setia diikrarkan.
“Perang ini bukan hanya soal tahta,” kata Diponegoro lantang. “Ini perang melawan ketidakadilan. Perang sabil membela agama dan tanah air!”
Teriakan takbir menggema di antara pepohonan.
Jayeng merasakan darahnya berdesir. Ia bukan lagi pemuda desa yang jatuh cinta. Ia kini bagian dari sejarah.
Hari-hari berikutnya dipenuhi pertempuran. Strategi gerilya membuat Belanda kewalahan. Hutan, sungai, dan bukit menjadi sahabat. Rakyat menyuplai makanan. Para santri membawa pesan dan doa.
Jayeng dikenal sebagai ksatria yang gesit dan berani. Ia menolak membunuh tanpa alasan, tapi tak pernah ragu menebas saat kehormatan diinjak.
Namun di setiap jeda pertempuran, ia membuka kain kecil berisi selendang Sekar. Aroma bunga kenanga masih samar terasa. Di situlah ia mengingat alasan ia berperang—bukan demi kematian, tapi demi masa depan.
---
Tahun-tahun berlalu.
Perang Jawa menjadi salah satu perlawanan terbesar yang pernah dihadapi Belanda. Biaya perang membengkak. Ribuan nyawa melayang. Desa-desa rata dengan tanah.
Belanda mulai menggunakan siasat licik. Mereka menawarkan perundingan.
Pada 1830, Diponegoro diundang berunding di Magelang dengan jaminan keselamatan.
Jayeng merasa ada yang tak beres.
“Penjajah tak pernah tulus,” katanya pada Kyai Maja.
Sang Kyai mengangguk pelan. “Namun kadang kita diuji bukan dengan pedang, melainkan dengan kepercayaan.”
Hari itu, Jayeng ikut mengawal dari kejauhan.
Yang terjadi kemudian menjadi luka sejarah.
Diponegoro ditangkap saat perundingan. Pengkhianatan terang-terangan. Teriakan protes menggema. Pasukan Belanda mengepung.
Jayeng berusaha menerobos, tapi dihantam popor senapan. Dunia berputar gelap.
Ketika ia sadar, tangannya telah terikat.
Ia termasuk yang dianggap pengikut inti.
“Buang mereka jauh,” perintah seorang pejabat Belanda. “Agar api ini benar-benar padam.”
Jayeng diasingkan bersama rombongan Diponegoro dan Kyai Maja. Perjalanan panjang membawa mereka ke tanah asing—Manado, lalu sebagian dipindah ke tempat lain. Rantai membelenggu kaki. Tapi tidak keyakinan.
Di kapal pengasingan, Jayeng memandang laut luas tanpa tepi. Ia tak tahu apakah akan pernah kembali.
“Apakah kita kalah, Kyai?” tanyanya lirih.
Kyai Maja tersenyum tenang. “Perjuangan tak diukur dari menang atau kalah hari ini. Tapi dari benih yang kita tanam di hati generasi setelah kita.”
Jayeng terdiam.
Ia teringat Sekar. Apakah gadis itu masih menunggu? Atau sudah menikah dengan lelaki lain demi bertahan hidup?
Hatinya perih. Tapi ia tak menyesal.
---
Bertahun-tahun di pengasingan menggerus tubuh, tapi tidak semangat.
Jayeng mengajar anak-anak setempat membaca dan mengaji. Ia menceritakan tentang Jawa, tentang sawah hijau, tentang perjuangan melawan ketidakadilan.
“Kenapa kalian melawan, Paduka?” tanya seorang anak kecil di Manado.
“Karena manusia diciptakan merdeka,” jawabnya. “Dan tanah air bukan warisan penjajah.”
Waktu berjalan.
Suatu hari, kabar samar sampai ke telinganya melalui pelaut yang baru datang dari Jawa.
“Di Yogyakarta,” kata pelaut itu, “ada seorang perempuan membuka madrasah kecil. Katanya ia tunangan seorang ksatria yang tak pernah kembali dari perang.”
Jantung Jayeng berdetak keras.
“Namanya Sekar Ayu.”
Dunia seperti berhenti.
Sekar tak menikah.
Ia memilih mengajar anak-anak desa tentang agama dan sejarah perjuangan. Ia menolak tunduk pada rasa takut. Ia menolak melupakan.
Air mata Jayeng jatuh untuk pertama kalinya sejak ditangkap.
Cinta mereka tak pernah sempat bersatu dalam rumah tangga. Tapi menyatu dalam cita-cita.
---
Tahun-tahun berikutnya, satu per satu para tokoh perjuangan wafat dalam pengasingan. Diponegoro menghembuskan napas terakhir di Makassar. Kyai Maja lebih dulu pergi.
Jayeng, yang kian renta, menatap langit senja suatu hari dengan tubuh yang melemah.
“Aku mungkin tak pulang,” gumamnya. “Tapi semoga tanahku suatu hari bebas.”
Ia memejamkan mata dengan selendang Sekar di tangan.
---
Yogyakarta, puluhan tahun kemudian.
Di sebuah madrasah sederhana, Sekar Ayu yang telah beruban duduk dikelilingi murid-murid.
“Anak-anak,” katanya lembut, “perjuangan bukan cuma tentang perang. Tapi tentang menjaga jati diri.”
Seorang murid bertanya, “Apakah ksatria itu benar-benar mencintai Nyi Guru?”
Sekar tersenyum, menatap jauh ke luar jendela.
“Cinta sejati bukan soal memiliki,” jawabnya. “Tapi soal berani berkorban untuk yang lebih besar.”
Ia tak pernah tahu Jayeng wafat dengan namanya di bibir.
Namun setiap kali angin sore berembus dari arah selatan, ia merasa ada doa yang sampai.
---
Hari ini.
Dua abad kemudian.
Seorang mahasiswa Gen Z berdiri di makam Diponegoro di Makassar. Ia memegang ponsel, merekam video untuk tugas sejarah.
“Guys,” katanya pada kamera, “Perang Jawa itu bukan cuma cerita buku. Ini tentang harga diri bangsa.”
Ia membaca nama-nama pengikut yang terukir di batu tua. Salah satunya: Jayeng Rana.
Nama yang nyaris hilang dari ingatan.
Mahasiswa itu terdiam sejenak.
“Kalau mereka berani berjuang tanpa teknologi, tanpa kenyamanan, masa kita kalah cuma karena malas belajar dan cinta tanah air?”
Angin berembus pelan.
Seolah membawa bisikan masa lalu.
Bahwa cinta pada seseorang bisa menjadi awal. Tapi cinta pada tanah air dan iman adalah alasan untuk bertahan.
Di antara sejarah dan senja, kisah Jayeng dan Sekar tak pernah benar-benar usai.
Karena setiap generasi selalu diuji—
Apakah kita hanya akan menjadi penonton sejarah?
Atau penerusnya?