Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar tidur. Cahaya lampu merkuri memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi. Bang Maman, seorang pria asli Rawabelong dengan kumis melintang yang rapi, sedang menyesap kopi hitam di sebuah warung kelontong pinggir jalan. Di lehernya melingkar sarung kotak-kotak—ciri khasnya kalau sudah lewat tengah malam. Bukan buat gaya-gayaan, tapi buat jaga-jaga kalau masuk waktu Subuh, dia sudah siap melipir ke masjid mana saja.
Maman adalah tipe orang tua yang memegang teguh prinsip "biar miskin asal bener". Di kampungnya, dia dikenal sebagai sopir online yang paling rajin ikut pengajian KH. Syukron. Meskipun hidupnya pas-pasan, Maman tidak pernah mau mengambil uang yang dirasanya tidak berkah.
"Apes bener ya malem ini," gumam Maman sambil menatap layar ponselnya yang retak seribu. "Dua jam nongkrong di Senopati, kagak ada yang nyangkut. Sekalinya nyangkut, dapetnya paket irit ke arah BSD. Jauhnya minta ampun, bayarannya cuma seharga martabak telor spesial."
Maman mengembuskan napas panjang. Dia ingat cicilan motor anaknya dan obat lambung sang istri di rumah. "Ya Allah, niat saya nyari nafkah halal. Bismillah."
Dia memacu mobil LCGC-nya menuju sebuah kelab malam mentereng. Di depan pintu masuk yang dijaga ketat pria bertubuh kekar, terlihat dua orang anak muda—seorang pria berambut klimis dengan kemeja bermerek yang kancing atasnya terbuka, dan seorang wanita dengan gaun mini yang bahannya tampak kurang satu meter. Keduanya sempoyongan, aroma alkohol menyengat bahkan sebelum mereka membuka pintu mobil Maman.
"Pagi, Bang. Ke BSD ya, jangan lama-lama, buru-buru nih," ucap si pria yang namanya di aplikasi tertera sebagai 'Kevin'. Suaranya berat dan tidak jelas, khas orang yang baru saja menenggak minuman keras.
"Iya, Tong. Sesuai aplikasi ya," jawab Maman singkat. Hatinya sudah mulai dongkol. "Tong" adalah panggilan akrab Maman untuk anak muda, tapi kali ini nada bicaranya tidak terlalu ramah. Dia tidak suka bau minuman keras memenuhi kabin mobilnya yang wangi daun pandan asli itu.
Baru saja mobil melaju melewati bundaran Senayan, suasana di jok belakang mulai tidak beres. Maman melirik dari spion tengah. Matanya membelalak. Kevin mulai memeluk si wanita dengan sangat agresif. Si wanita, yang tampak sudah kehilangan kesadaran penuh, hanya tertawa kecil sambil balas memeluk leher Kevin.
"Astagfirullah hal adzim..." desis Maman pelan. Dia mencoba fokus pada jalanan. Mungkin cuma pelukan, pikirnya mencoba berbaik sangka.
Tapi Maman salah besar. Suasana di belakang makin panas. Kevin mulai menciumi leher si wanita dengan suara yang sangat mengganggu. Cup! Muah! Bunyi gesekan kain dan napas yang memburu mulai memenuhi ruang sempit mobil itu. Mobil Maman yang suspensinya sudah agak lemah itu mulai terasa bergoyang tidak wajar karena gerakan mereka yang semakin liar.
"Ehem! Ehem!" Maman berdehem keras sekali, hampir seperti orang mau membuang dahak. "AC-nya kurang dingin, Tong? Apa mau saya matiin aja biar sejuk kena angin jendela?"
Kevin tidak menggubris. Tangannya mulai gerayangan, masuk ke balik gaun si wanita. Si wanita mulai mengeluarkan suara-suara yang membuat kuping Maman panas. Ini sudah keterlaluan. Ini bukan lagi sekadar orang mabuk pulang dugem, ini sudah perzinaan terang-terangan di depan matanya.
Maman merasakan darahnya mendidih. Dia adalah orang Betawi yang besar di lingkungan pesantren kilat. Melihat kemaksiatan sedekat itu di dalam hartanya sendiri—meski mobil itu masih cicilan—rasanya seperti wajahnya diludahi.
"Heh, Tong! Jaga sopan santun lu!" teriah Maman, suaranya mulai naik satu oktav.
"Diem aja sih, Bang. Fokus nyetir aja. Entar saya kasih tip gede deh," jawab Kevin santai tanpa melepaskan pagutannya dari bibir si wanita.
Kata "tip" itu justru menjadi pematik api di kepala Maman. Dia merasa harga dirinya dibeli. Dia merasa seolah-olah mobilnya ini disewa jadi hotel melati berjalan hanya dengan iming-iming uang tambahan.
"Tip lu bilang?!" Maman menginjak rem mendadak di pinggir jalan tol yang agak gelap.
BRAAAKKK!
Dua sejoli itu terjungkal ke depan. Kepala Kevin menghantam sandaran kursi depan dengan cukup keras.
"Aduh! Apa-apaan sih lu, Bang?! Lu mau celakain kita ya?!" Kevin berteriak marah, wajahnya merah padam karena amarah dan mabuk yang campur aduk.
Maman memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap ke belakang. Matanya melotot, kumisnya bergetar. "Apa-apaan lu bilang? Lu yang apa-apaan! Lu berdua jangan kayak babi sama monyet di mobil gue! Kagak punya malu lu ya?!"
"Sori, Bang... sori. Kita kan bayar. Lagian ini kan urusan kita," ucap si wanita sambil membetulkan gaunnya yang hampir melorot dengan wajah belagu.
"Urusan lu?! Lu dengerin gue ya, anak muda! Gue narik begini dari pagi sampe pagi lagi buat nafkahin anak bini gue di rumah. Gue cari duit halal, gue peres keringet biar berkah. Lu malah bawa najis ke mobil gue! Mobil gue ini emang bukan mobil mewah, bukan mobil Mercy kayak yang ada di parkiran kelab tadi, tapi mobil ini gue beli pake doa, gue pake buat anter jemput anak yatim kalau lagi ada santunan!"
Maman menunjuk-nunjuk wajah Kevin dengan telunjuknya yang kasar. "Gue nggak sudi mobil gue jadi saksi bisu lu berbuat mesum! Lu kira gue sopir apaan? Lu kira gue nggak punya iman?!"
"Yaelah, Bang, cuma ciuman doang..." Kevin mencoba membela diri.
"Cuma ciuman lu bilang? Itu pintu gerbangnya setan, Tong! Lu belum nikah kan?! Lu belum halal kan?! Lu tahu nggak, malaikat itu paling benci sama tempat yang dipake buat zina! Gue ini orang Betawi, biar idup susah, sholat lima waktu nggak pernah gue tinggalin. Gue tahu mana yang bener, mana yang kagak! Lu berdua mending turun sekarang!"
"Hah? Turun di sini? Ini jalan tol, Bang!" si wanita mulai panik.
"Bodo amat! Lu mau turun sendiri apa mau gue seret keluar?! Gue nggak mau duit haram lu! Lu mesen paket irit aja udah bikin gue rugi waktu, ditambah kelakuan lu yang kayak binatang begini, malah bikin gue rugi dunia akhirat! Gue nggak mau pas gue lagi narik, tiba-tiba Allah murka terus kita kecelakaan gara-gara lu berdua maksiat di sini!"
Kevin tampak ingin melawan, tapi melihat bodi Bang Maman yang kekar dan aura kemarahannya yang murni karena prinsip agama, dia menciut. Dengan gerutu panjang, Kevin dan si wanita keluar dari mobil.
Kevin sempat mengeluarkan dompetnya, mengambil uang lima puluh ribu, lalu melemparnya ke arah jok depan. "Nih, buat ganti bensin lu yang nggak seberapa itu!"
Maman mengambil uang itu dengan gerakan cepat. Dia keluar dari mobil, mengejar Kevin yang baru berjalan beberapa langkah, lalu melempar uang itu tepat ke wajah si pria.
"Ambil nih duit lu! Gue kagak butuh! Mending lu pake duit ini buat beli kain kafan, siapa tahu entar lu mati dijalan pas lagi maksiat begini, jadi kagak ngerepotin warga! Lu dengerin ya, kalau mau mesum nyari tempat lain, jangan ngotorin mobil orang yang lagi nyari nafkah beneran! Inget akhirat, Tong! Inget orang tua lu di rumah!"
Kevin dan wanita itu hanya bisa melongo melihat kegarangan Maman. Mereka berdiri mematung di bahu jalan tol yang sepi, sementara Maman kembali ke mobilnya.
Di dalam mobil, napas Maman masih tersengal. Dia merasa sangat kesal sekaligus sedih. Sedih melihat anak-anak muda jaman sekarang yang begitu mudahnya mengumbar syahwat tanpa rasa malu sedikit pun. Dia mengambil botol air mineral dari pintu mobil, lalu menyiram jok belakangnya sambil membacakan ayat-ayat perlindungan.
"Naudzubillah min dzalik... Naudzubillah..." Maman mengusap wajahnya.
Dia melihat jam di dasbor. Sudah hampir pukul empat subuh. Tak lama lagi adzan akan berkumandang. Maman mematikan aplikasi ojek online-nya. Dia sudah tidak punya selera untuk mencari penumpang lagi pagi ini. Hatinya terlalu penuh dengan amarah yang perlu ditenangkan dengan air wudhu.
Maman memacu mobilnya menuju sebuah masjid berkubah hijau di pinggiran Jakarta Timur. Dia memarkirkan mobilnya, lalu masuk ke dalam masjid yang masih sepi. Di bawah lampu temaram masjid, Maman bersujud lama sekali. Dia meminta ampun jika amarahnya tadi berlebihan, tapi dia juga bersyukur karena Allah masih memberinya keberanian untuk menegur kemungkaran.
Setelah sholat Subuh berjamaah, Maman duduk di teras masjid. Seorang pengurus masjid, Pak Haji bolot, menghampirinya.
"Tumben, Man, mukanya kayak abis berantem sama macan?" tanya Pak Haji sambil terkekeh.
Maman tersenyum tipis. "Bukan macan, Pak Haji. Tapi babi sama monyet berbaju manusia. Tadi ada penumpang mesum di mobil saya. Saya usir aja di jalan tol."
Pak Haji menepuk bahu Maman. "Bagus, Man. Jangan takut kehilangan rezeki karena mempertahankan prinsip. Rezeki mah udah ada yang ngatur, tapi keberanian buat bilang 'kagak' sama maksiat itu langka jaman sekarang."
Maman mengangguk. Dia merasa lebih tenang sekarang. Meskipun malam ini dia tidak membawa pulang banyak uang, bahkan mungkin denda dari aplikasi karena menurunkan penumpang di tengah jalan, Maman merasa hatinya bersih.
Dia kembali ke mobilnya. Sebelum menyalakan mesin, dia menatap foto istri dan anaknya yang terselip di dasbor. Ayah pulang, Nak. Uangnya nggak banyak, tapi Insya Allah semuanya suci dari debu maksiat, batinnya.
Maman memutar kunci kontak. Saat mobil mulai melaju, dia melihat matahari pagi mulai terbit, membelah langit Jakarta yang abu-abu. Dia percaya, besok akan ada penumpang yang lebih baik. Dia percaya, bahwa kejujuran dan keteguhan iman akan selalu punya jalannya sendiri untuk mendatangkan berkah.
Sambil menyetir pulang, Maman bersenandung kecil lagu Si Doel Anak Sekolahan, hatinya mantap. Biarpun cuma sopir LCGC paket irit, Bang Maman adalah raja atas harga dirinya sendiri. Dan baginya, itu lebih mewah daripada mobil sedan mana pun di dunia ini.