Di sebuah lorong rumah sakit yang biasanya tenang, suasana mendadak riuh. Bisik-bisik perawat dan pasien terdengar di mana-mana. Penyebabnya satu: Esa, aktor muda yang sedang naik daun, baru saja dilarikan ke ruang VIP karena kelelahan kronis dan cedera saat syuting.
Nitya, seorang perawat muda dengan wajah yang memancarkan kecantikan alami meski tanpa polesan make-up tebal, hanya bisa menggelengkan kepala. Baginya, semua pasien sama. Ia merapikan seragam putihnya yang bersih dan melangkah masuk ke kamar 402 dengan baki obat di tangannya.
Pertemuan Pertama yang Beku
Di dalam kamar, Esa sedang bersandar pada bantal. Wajahnya memang setampan di layar kaca—rahang tegas, hidung mancung, dan mata yang tajam. Namun, tatapannya kosong dan dingin. Ia tidak menoleh sedikit pun saat Nitya masuk.
"Selamat pagi, Mas Esa. Saya Nitya, perawat yang bertugas pagi ini. Waktunya cek tekanan darah dan ganti infus," ucap Nitya lembut. Esa hanya bergumam pendek, "Hmm." Ia tetap fokus pada ponselnya, bersikap seolah Nitya hanyalah bagian dari furnitur ruangan.
Sikap dingin Esa sudah melegenda. Dimedia, ia dikenal sebagai "The Ice Prince". Ia jarang tersenyum dan sangat tertutup. Nitya tidak ambil pusing. Dengan cekatan dan penuh kesabaran, ia melakukan tugasnya. Ia tidak meminta foto atau tanda tangan seperti perawat lain yang mencuri-curi kesempatan.
Ketulusan dalam Kesederhanaan
Tiga hari berlalu. Esa mulai memperhatikan sesuatu yang berbeda dari Nitya. Perawat ini tidak pernah berlebihan. Ia sederhana, suaranya menenangkan, dan ia adalah satu-satunya orang di rumah sakit ini yang tidak memandangnya dengan tatapan memuja.
Suatu malam, Esa mengalami demam tinggi. Ia menggigil hebat. Nitya yang sedang berjaga segera masuk. Dengan telaten, Nitya mengompres dahi Esa, mengganti pakaiannya yang basah oleh keringat, dan memastikan sang aktor tetap terhidrasi.
"Kenapa kamu tidak minta foto seperti yang lain?" tanya Esa dengan suara parau di tengah rasa sakitnya.
Nitya tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat manis namun bersahaja. "Karena di sini, Mas adalah pasien saya yang sedang butuh bantuan, bukan seorang aktor. Tugas saya adalah membuat Mas sehat kembali agar bisa menyapa penggemar lagi."
Esa terdiam. Kalimat sederhana itu menghantam hatinya. Selama ini, ia merasa hanya dicintai karena ketampanan dan perannya di film. Baru kali ini, ada seseorang yang memperlakukannya sebagai manusia biasa dengan tulus.
Mencairnya Sang Es
Sejak malam itu, sikap Esa perlahan berubah. Meski tetap kalem dan tidak banyak bicara, matanya selalu mengikuti ke mana pun Nitya bergerak. Ia mulai sering bertanya hal-hal kecil kepada Nitya.
"Nitya, kamu tidak lelah kerja lembur?" tanya Esa suatu sore saat Nitya sedang merapikan tempat tidurnya.
"Sudah risiko pekerjaan, Mas. Melihat pasien sembuh itu sudah cukup membayar rasa lelah saya," jawab Nitya tulus.
Esa menatap Nitya lekat-lekat. Kecantikan Nitya yang sederhana, jiwanya yang bersih, dan pengabdiannya yang tanpa pamrih membuat dinding es di hati Esa runtuh. Ia yang biasanya dingin, kini merasa hangat setiap kali Nitya memasuki ruangan.
Sebuah Akhir, Sebuah Awal
Hari kepulangan Esa tiba. Di depan kamar, manajernya dan beberapa pengawal sudah bersiap. Penggemar pun sudah mulai berkumpul di luar gerbang rumah sakit.
Esa berdiri di ambang pintu, mengenakan kacamata hitam dan kembali ke image dinginnya. Namun, sebelum melangkah pergi, ia berbalik arah menuju meja perawat. Ia menghampiri Nitya yang sedang menulis laporan.
Esa melepaskan kacamata hitamnya, menatap Nitya dengan tatapan yang sangat lembut—sesuatu yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun sebelumnya.
"Terima kasih untuk semuanya, Nitya. Kamu... adalah bagian terbaik dari sakit saya kali ini," bisik Esa pelan agar tidak terdengar yang lain.
Ia menyerahkan sebuah kartu kecil yang terselip di dalam sebuah buku catatan sederhana. Di dalamnya tertulis nomor telepon pribadinya dan pesan singkat:
"Bolehkan saya mengenal Nitya yang hebat, bukan sebagai pasien, tapi sebagai seorang pria yang ingin belajar tentang kesederhanaan darimu?"
Nitya terpaku, wajahnya merona merah. Esa hanya memberikan senyum tipis yang tulus sebelum berlalu pergi. Sang aktor dingin itu akhirnya menemukan tempat di mana hatinya bisa pulang: pada ketulusan seorang perawat sederhana bernama Nitya.