Namanya dahulu Anurak Phanich, lelaki tulen dari distrik Nonthaburi yang tubuhnya tegap dan sorot matanya tajam seperti mata burung elang yang melintas di atas Sungai Chao Phraya. Ia anak kedua dari penjual buah di pasar pagi. Ayahnya sering berkata, “ลูกผู้ชายต้องเข้มแข็ง” — luk phuchai tong khem khaeng — lelaki harus kuat.
Anurak tumbuh dengan bahu bidang dan rahang tegas. Banyak gadis desa meliriknya ketika ia membantu mengangkat karung beras atau mendorong gerobak mangga ibunya. Namun di dalam dadanya, ada suara lain. Suara yang lirih namun terus-menerus, seperti gamelan kecil yang tak henti berdentang di sudut hati.
Suara itu berkata: kau bukan ini.
Sejak remaja ia lebih senang memandangi kain sutra ibunya daripada sepatu bola milik teman-temannya. Ia iri melihat lengkung anggun perempuan menari di festival Loy Krathong. Ia sering berdiri lama di depan cermin, menyentuh wajahnya sendiri, membayangkan garis pipi yang lebih halus.
Di Bangkok, ketika ia bekerja sebagai pelayan restoran di Silom, dunia tampak berbeda. Kota itu memeluk segala kemungkinan. Di sana ia bertemu komunitas yang memanggil diri mereka kathoey. Mereka tertawa keras, memakai lipstik merah terang, dan berjalan dengan kepala terangkat.
Salah satunya adalah Pimchanok, yang berkata suatu malam,
“ถ้าใจเธอเป็นผู้หญิง ก็จงเป็นเถอะ” — Tha jai ter pen phuying, ko jong pen thoe.
Jika hatimu perempuan, maka jadilah.
Kalimat itu seperti pintu terbuka.
---
Proses itu panjang. Suntikan hormon. Operasi. Rasa sakit yang tak terperi. Tubuhnya berubah pelan-pelan, seperti sungai yang mengikis batu. Anurak menjadi Anong Phanich. Wajahnya lembut. Tubuhnya ramping. Rambutnya panjang hitam mengilap.
Ia memandangi dirinya di cermin rumah sakit Bangkok dengan mata berkaca-kaca.
“สวยไหม?” — Suay mai? Cantikkah aku?
Perawat tersenyum. “สวยค่ะ” — Cantik.
Namun dunia luar tak sesederhana cermin.
Suatu malam, seorang pria asing bernama Kritsada menghampirinya di klub malam Sukhumvit. Wajahnya bersih, bajunya mahal. Ia memuji Anong tanpa ragu.
“Kamu berbeda. Kamu cantik, tapi ada sesuatu yang kuat.”
Anong tersenyum. Hatiku akhirnya diakui, pikirnya.
Hubungan itu berjalan cepat. Mereka bertemu di apartemen sewaan Kritsada. Di situ Anong merasa dicintai tanpa syarat. Ia membuka dirinya — bukan hanya tubuhnya, tetapi juga sejarahnya.
Namun rahasia tak pernah benar-benar diam.
Suatu malam, setelah pertemuan yang intim dan melelahkan, Kritsada menemukan bekas dokumen medis di laci Anong. Ia membaca. Wajahnya berubah.
“Kamu… dulu laki-laki?”
Suara itu tidak lagi lembut.
Anong terdiam. Ia mencoba meraih tangan Kritsada. “Aku tetap aku.”
Namun yang datang bukan pelukan, melainkan tawa pahit.
“โกหก!” — Kohok! Bohong!
Kritsada mendorongnya menjauh, wajahnya memerah antara malu dan marah. “Kau meniduriku tanpa bilang siapa dirimu sebenarnya?”
Anong merasa tubuhnya membeku. Seolah semua operasi, semua rasa sakit, runtuh menjadi serpihan tak berarti.
Kritsada pergi malam itu juga. Ia meninggalkan Anong dengan pintu yang dibanting keras.
---
Berita menyebar cepat di lingkaran pergaulan klub malam. Bisik-bisik. Tatapan sinis. Seorang pria yang pernah memujinya kini berkata di depan teman-temannya,
“Dia bukan perempuan sungguhan.”
Kalimat itu menancap seperti paku.
Anong mulai sulit tidur. Ia duduk lama di balkon apartemennya, menatap lampu-lampu Bangkok yang berkilau seperti bintang palsu. Kota yang dulu terasa ramah kini seperti hutan beton yang dingin.
Di tengah kegelisahan itu, hadir seorang lelaki lain: Thanawat, mahasiswa hukum dari Chiang Mai. Ia bertemu Anong di toko buku. Ia tidak tahu masa lalu Anong. Ia hanya melihat perempuan yang membaca puisi Sunthorn Phu dengan mata sendu.
“Kamu percaya takdir?” tanya Thanawat suatu sore.
Anong tersenyum. “Aku percaya pilihan.”
Mereka berpacaran. Thanawat penuh perhatian, sederhana, dan jujur. Ia sering menggenggam tangan Anong sambil berkata,
“ฉันรักเธอ” — Chan rak ter. Aku mencintaimu.
Kata-kata itu seperti hujan di musim kemarau.
Namun cinta yang dibangun di atas rahasia adalah rumah dengan fondasi retak.
Anong berkali-kali ingin berkata jujur. Lidahnya kelu. Ia takut kehilangan lagi. Ia takut dihina lagi.
Setiap kali Thanawat berbicara tentang masa depan — tentang menikah, tentang keluarga — dada Anong terasa sesak. Bayangan masa lalu menghantuinya seperti bayang sendiri yang tak pernah bisa dilepas.
Suatu malam, setelah makan malam sederhana, Thanawat memegang kedua pipi Anong.
“Orangtuaku ingin bertemu. Aku sudah bilang aku punya pacar perempuan yang baik.”
Perempuan.
Kata itu bagai pedang bermata dua.
Anong pulang dengan kepala berat. Ia menatap cermin. Wajah yang cantik itu tiba-tiba terasa asing.
Siapa aku sebenarnya?
---
Trauma lama bangkit seperti arwah yang tak selesai dikubur. Ia teringat kata-kata ayahnya: lelaki harus kuat. Ia teringat tawa Kritsada. Ia teringat rasa sakit meja operasi.
Ia mulai mengalami serangan panik. Napasnya pendek. Jantungnya berdebar kencang. Ia menolak keluar rumah. Thanawat bingung.
“Ada apa? Kau berubah.”
Anong hanya tersenyum tipis. “ไม่เป็นไร” — Tidak apa-apa.
Padahal hatinya seperti ladang yang terbakar.
Suatu sore, hujan deras turun di Bangkok. Anong memutuskan menulis surat. Bukan kepada Thanawat, bukan kepada Kritsada, tetapi kepada dirinya sendiri — kepada Anurak yang dulu gagah dan tegap.
“Apakah kau membenciku?” tulisnya.
“Apakah aku membunuhmu demi menjadi seseorang yang bahkan tak diterima?”
Air mata jatuh membasahi kertas.
Ia sadar: yang paling keras menghakiminya bukan dunia, melainkan dirinya sendiri.
---
Hari pertemuan dengan orang tua Thanawat semakin dekat. Anong tak sanggup lagi memikul rahasia.
Di taman Lumphini, di bawah pohon besar yang daunnya gugur perlahan, ia akhirnya berkata,
“Thanawat… aku harus jujur. Aku tidak lahir sebagai perempuan.”
Angin berhenti sejenak. Dunia seperti menahan napas.
Thanawat menatapnya lama. Tidak ada teriakan. Tidak ada tawa pahit.
Hanya diam.
“Apa maksudmu?”
“Aku dulu bernama Anurak.”
Nama itu meluncur seperti batu dari dalam sumur.
Wajah Thanawat memucat. Ia berdiri. Berjalan beberapa langkah. Kembali lagi.
“Kenapa kau tak bilang dari awal?”
“Karena aku takut.”
Hujan tipis mulai turun. Seperti adegan yang terlalu sering dalam film, namun kali ini nyata.
Thanawat menutup wajahnya. “Aku mencintaimu… tapi aku tak tahu siapa dirimu lagi.”
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada makian.
Ia pergi tanpa menoleh.
---
Anong duduk sendiri di taman, basah oleh hujan dan air mata. Ia sadar: operasi mengubah tubuhnya, tetapi tidak menghapus sejarahnya. Ia bukan lagi Anurak sepenuhnya, tapi juga tak pernah sepenuhnya diterima sebagai Anong.
Di sanalah ia melihat kenyataan yang pahit: ia telah mengejar bayangan, berharap dunia akan menyesuaikan diri dengan definisinya tentang diri.
Trauma itu membuatnya mencari bantuan. Ia menemui konselor di Bangkok. Perlahan ia belajar menerima seluruh lapisan dirinya — bukan memilih satu dan membunuh yang lain.
“เธอไม่ใช่ความผิดพลาด” — Ter mai chai khwam phitphlat. Kau bukan kesalahan, kata terapis itu.
Anong menangis lama.
---
Beberapa bulan kemudian, ia pindah ke Chiang Mai. Ia membuka toko kecil yang menjual kerajinan tangan dan buku puisi. Ia tidak lagi berusaha menjadi sempurna di mata siapa pun.
Kadang ia masih terbangun malam-malam, mengingat Kritsada, mengingat Thanawat. Luka itu belum sepenuhnya sembuh. Tapi ia tak lagi berlari dari bayangannya sendiri.
Di tepi Sungai Ping, ia berdiri memandang air yang mengalir.
“Anurak,” bisiknya pelan.
“Anong.”
Dua nama. Satu jiwa.
Dan untuk pertama kalinya, ia tak merasa perlu memilih salah satu.
Ia tahu dunia mungkin tetap menghakimi. Lelaki mungkin tetap menghina. Cinta mungkin tetap rapuh.
Namun ia belajar bahwa penyesalan bukan akhir, melainkan pintu menuju pengertian yang lebih sunyi.
Langit Chiang Mai senja itu berwarna jingga lembut. Anong tersenyum tipis.
Bukan karena hidupnya sempurna.
Tetapi karena akhirnya ia berani menatap cermin tanpa membenci bayang yang berdiri di sana.