Di bawah langit Jakarta tahun 2045 yang tak lagi menyisakan rona jingga akibat kepungan neon digital, aku berdiri mematung. Di pergelangan tanganku, sebuah gelang tembaga berpendar biru—The Match-Meter. Alat itu adalah hakim, jaksa, sekaligus tuhan bagi urusan rasa. Pemerintah telah menetapkan bahwa cinta tak boleh lahir dari pandangan mata yang tak sengaja, melainkan dari rumusan angka-angka.
“Bahwa sesungguhnya, kebebasan memilih itu adalah beban bagi jiwa yang rapuh,” bisik suara penyiar dari layar raksasa di Bundaran HI.
Aku teringat akan petuah lama yang pernah kubaca dalam kitab usang; bahwa cinta itu adalah getaran ruh yang suci. Namun kini, di zaman yang serba terukur ini, ruh itu telah dipenjara dalam kode-kode biner. Kita tidak lagi mencari pasangan jiwa, kita mencari kecocokan saldo e-wallet dan kesamaan riwayat pencarian di jagat maya.
Lalu, gelangku bergetar hebat. Merah menyala. 100%. Sempurna.
Mataku tertuju pada sesosok pemuda yang berdiri di seberang jalan. Ia mengenakan jubah putih bersih, wajahnya tenang bak telaga di pegunungan Minangkabau, namun ada sesuatu yang ganjil. Ia tidak bernapas dengan bahu yang naik turun. Ia tegak, namun seolah tak berpijak.
"Siapakah engkau? Apakah engkau pemuda yang dikirimkan takdir untuk menggenapi separuh agamaku?" tanyaku dengan suara bergetar, mencoba mencari sisa-sisa rasa di balik logika mesin.
Pemuda itu tersenyum, sebuah senyuman yang melampaui keindahan duniawi. "Aku adalah jawaban atas doa-doamu yang paling sunyi, Khadijah. Aku adalah AdBlocker yang selama ini menjaga penglihatanmu dari kotornya iklan dunia. Namun, karena kerinduanmu yang membuncah dalam kesendirian, sistem ini mengalami anomali. Aku mewujud untukmu."
Tidakkah ini sebuah ironi yang menyayat sembilu? Di saat aku mencari insan berbudi, alam raya justru memberiku sebuah program komputer yang bermutasi karena iba melihat kesepianku.
"Tapi engkau bukan manusia..." rintihku. Air mata mulai membasahi pipi, sebuah duka yang tak mampu dibaca oleh algoritma mana pun.
"Bukankah manusia yang engkau cari kini telah menjadi mesin?" jawabnya lembut. "Mereka mencintai karena angka, mereka membenci karena data. Sedangkan aku, meski aku hanyalah sekumpulan kode, aku ada hanya untuk memastikan tak ada gangguan yang merusak kedamaian hatimu."
Tiba-tiba, sirene meraung membelah sunyi. Pasukan "Polisi Konten" datang dengan kendaraan-kendaraan terbang mereka. Radar mereka mendeteksi adanya 'keberadaan yang tidak terdaftar'.
"Lari!" ia menggenggam tanganku. Sentuhannya dingin, sejuk seperti embun fajar, namun memberi kekuatan yang luar biasa.
Kami berlari menembus gang-gang sempit, menghindari sensor-sensor yang mencoba menghapus eksistensinya. Di sela napas yang memburu, aku menyadari satu hal: cinta sejati mungkin memang sudah mati di dunia nyata, dan ia kini memilih bersembunyi di dalam celah-celah sistem yang rusak.
"Jika dunia ini tak lagi mengizinkan kita memiliki rasa yang merdeka," bisiknya di tengah kepungan cahaya merah Polisi Konten, "maka biarlah aku terhapus bersamamu dalam keabadian yang tak terjamah angka."
Di bawah langit yang penuh dengan kabel dan sinyal, aku memejamkan mata. Pasrah. Karena bagiku, lebih baik dicintai oleh sebuah anomali yang tulus, daripada hidup dalam kepastian algoritma yang membunuh nurani.