Sarwendy Gunung Kawi (Part 5)
Mentari pagi yang muncul di balik kabut polusi Jakarta tidak membawa kehangatan bagi Sarwendy. Di dalam Penthouse lantai delapan puluh yang kini terasa seperti sangkar emas yang pengap, ia menatap bay
0
1
The Life of Vante
Ini kisah tentang Vante. Pemain biola tampan yang sayangnya harus kehilangan nyawa karena kecelakaan kapal Titanic. Kecelakaan maritim paling memilukan di sepanjang sejarah. Kisah ini bermula saat Van
0
0
Sang Fajar Itu Milik Senja
Sejak awal musim itu, siapa yang akan menduga semua akan menjadi awal dalam cerita baru milik senja, yang biasanya hanya duduk di tepi danau dengan kertas origami, dan akan menjelma menjadi angsa-angs
0
0
Saya Bukan Komunis!
20 Oktober 1965 Pagi ini seperti biasa aku dan bapakku sarapan dengan lauk seadanya. Hari ini bapakku tidak melaut seperti nelayan-nelayan lainnya, ia bilang khusus hari ini ingin istirahat. Sehingga
0
0
Akulah Tulang Rusukmu
Perlahan, kristal-kristal bening mengucur tenang di pelipis gadis itu. Wajahnya tetap memeancarkan keteduhan, walau sinar terik matahari menyiram seluruh inci bagian wajahnya. Cerahnya biru terang ter
0
0
Hari Raya Pandemi
Setelah virus covid-19 berhasil menggegerkan dunia. Tak ada lagi kerumunan terlihat di sepanjang mata memandang. Semua orang menjaga jarak. Sekedar takut tertular oleh virus yang cukup menakutkan. Tak
0
0
Aku Menyesal Terlahir Sebagai Perenpuan
Dulu, aku teramat membencimu, sungguh. Kau telah melabrak keputusan Tuhan. Bukankah kita sama-sama telah dianugerahi dua gunung mustika dan satu gua permata yang ketika dijamah rasanya lebih nikmat ke
0
0
Mimpi Yang Sirna
“Mas, tolong bantuin Fikri cari Kartu Keluarga kita dong!” ujar adikku yang sejak siang kebingungan mencari Kartu Keluarga di rak buku kami yang sudah dimakan oleh umur. “Iya sebentar, Mas masih ada t
0
0
Menelan Takdir Tuhan
Bangunan letter U berdinding gribig bambu itu mendadak membisu. Sepuhan angin sejuk dari arah selatan pegunungan sana terasa hambar. Derap langkah kaki-kaki jenjang nampak terseok berjalan ke arah mas
0
0
Surat dari Ibu tak Kunjung Sampai
Laki-Laki tanpa mata kanan, Dal, itulah orang-orang menyebutnya. Sungguh, laki-laki tanpa mata kanan itu sangat teramat terkenal sekali: hanya pelancong sajalah yang tak kenal laki-laki itu, Dal! Dal,
0
0
Bunga Mawar Merah
Namaku Nadya Larasati. Saat ini, aku masih kelas 2 SMA dan berumur 16 tahun. Aku adalah orang yang sangat ceria dan suka tertawa. Aku memiliki sahabat yang bernama Kinan. Dia orang yang ceria dan dia
0
0
Puing Reruntuhan Kramat Tunggak
Sejak kawasan pel*curan Kramat Tungak ditutup pada tahun 1999, bertebaran cafe-cafe baru disekitar wilayah Jakarta Islamic Center. Di situ dapat dijumpai wanita-wanita berdandan menor bercengkrama men
0
0
A Clown
Suara deru motor dan klakson-klakson yang bergema di sepanjang jalan, memperkeruh suasana pagi. Aku terkejut ketika seseorang menyiramku dengan air, ternyata dia pemilik toko ini. Aku sontak terbangun
0
0
Selamat Tinggal Semuanya (Part 1)
Pagi hari itu aku terbangun dari mimpiku yang hampir membunuhku secara perlahan, padahal itu adalah hari Minggu dimana hari yang seharusnya aku bangun siang. Aku bangun dan duduk sebentar di atas kasu
0
0
Memanggil Rasa
Kala itu malam tak berawan di pelabuhan. Langit musim kemarau nampak cerah berhias ribuan bintang gemintang. Udara dingin terasa membekukan. Jauh dari tempat ini, sekitar tiga kilometer dari pelabuhan
0
0
Kehilangan Dimasa Pandemi
Hai, perkenalkan nama saya ida umurku 20 tahun dan aku masih duduk diperkuliahan dan aku punya teman bernama hesi, yuni dan rendi. Singkat perkenalan. Kami sedikit cerita tentang bagaimana rasanya Keh
0
0
Rintihan Hatiku
Jangan tanya siapa aku. Itu tidak penting. Kalian tak perlu tahu namaku, seperti apa rupaku, alamat rumahku, dimana aku sekolah. Cukup kalian dengarkan ini saja. Ini tentang apa yang selalu menjadi be
0
0
Depression (I’m LOSING Myself) 1 – Kacau Balau (Part 1)
“Jangan ganggu aku,” ucapku. Kalimat itu sudah sangat sering aku ucapkan. Tapi, mereka masih saja menggangguku tanpa habis-habisnya. Mereka sangat keterlaluan, aku diam pun diganggu. Mereka juga suka
0
0
Sebuah Kesalahan
Ia hanya dapat duduk diam. Ratapannya hanya dapat terkunci dalam hatinya. Angin membawa lantunan pengantar akhir. Air mata wanita itu mengalir perlahan menuju pipinya. Ia menatap sendu ke arah pelangi
0
0
Seperti Bukan Negeriku
Hari itu aku ingat sekali bagaimana wajah ayahku pulang dari kantor dengan wajah yang begitu marah dan menyedihkan. Aku ingat sekali bagaimana ibu menyambut ayah dengan tangisan yang tidak biasa. Aku
0
0