Karya ini adalah karya pertama saya. Karya ini saya ambil dengan tema kolosal dunia persilatan yang ada di daerah Nusantara.
Arga adalah seorang anak yang ditinggal mati kedua orangtuanya saat berusia delapan tahun. Arga memiliki adik bernama Ayu Ratih Permana. Arga dan Ayu berguru kepada guru dari kedua orangtuanya dan bertekad untuk membalas dendam kematian orang tuanya serta menjadi pendekar yang terkuat dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran.
Karya ini hanyalah fiktif belaka, hasil khayalan dari penulis, bila ada nama/tempat/waktu yang sama itu hanyalah kebetulan semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Den, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Petunjuk Pedang
Keesokan harinya Arga bangun lebih awal, dia melihat dewa obat juga sudah bangun dan sedang membuat ramuan.
"Maaf mengganggu waktunya paman."
"Ada apa Arga."
"Paman aku ingin meminta bantuan kepada paman. Aku ingin menitipkan Ayu disini, karena ada urusan yang harus aku selesaikan. Aku harap paman dan Jagad bisa menjaganya sementara aku pergi."
"Oh ya paman, aku harap kau merestui hubungan Jagad dengan adikku." sambungnya.
Dewa obat mengangguk dan tidak menanyakan lagi kemana Arga akan pergi. dia berjanji akan menjaga Ayu dengan segenap kemampuannya.
"Arga bawa beberapa ramuan obat ini, paman rasa kau nanti akan membutuhkannya."
Arga mengambil ramuan obat yang diberikan dewa obat lalu dia memberi salam dan langsung pergi meninggalkan kediaman Dewa Obat.
"Aku harap aku bisa menemukan pedang yang dikatakan nenek Mawar Bidara dulu." batin Arga
Memang waktu di gunung Ambar sebelum Arga dan Ayu meninggalkan gunung itu nenek Mawar Bidara menceritakan kepada Arga bahwa ada pedang tersembunyi yang telah bersemayam selama ribuan tahun yang lalu. Pedang ini setingkat dengan pedang kelas dewa. Tetapi pedang ini juga hanya dianggap sebagai legenda dan cerita saja. Nenek Mawar Bidara sendiri mengetahui tentang hal ini dari gurunya dulu. Pedang itu dinamakan pedang tujuh naga.
Konon pedang ini adalah pedang terkuat di dunia persilatan pada masanya. Pedang ini dipakai oleh pendekar yang memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi. Pedang ini telah banyak sekali memakan korban.
Dari cerita nenek Mawar Bidara pemilik pedang tujuh naga selain meninggalkan pedang itu juga meninggalkan ilmu Kanuragan yang tinggi serta ilmu pedang itu sendiri.
Tidak ada yang tahu dimana tempat pedang itu berada tetapi nenek Mawar Bidara mendengar cerita dari gurunya bahwa di sebuah gua yang tersembunyi terletak di dalam hutan lebat ada sebuah petunjuk tentang pedang tujuh naga yang ditinggal oleh pemilik sebelumnya. Hutan itu bernama hutan kematian, konon di dalam gua itu di tempati oleh siluman ular raksasa yang berkekuatan tinggi. Gua ini bernama gua Cengger.
Konon keistimewaan pedang ini adalah dapat berubah menjadi tujuh dan dapat mengeluarkan seekor naga yang berkekuatan sangat dahsyat.
Pedang tujuh naga sendiri diturunkan oleh para dewa dan iblis untuk sebagai bukti bahwa kekuatan dewa dan iblis sangatlah dahsyat.
Sebelum diturunkan, pedang ini di segel oleh kekuatan tujuh dewa kebaikan dan tujuh iblis kematian.
Kekuatan nya tergantung kepada pemiliknya, jika pemakainya berbudi luhur maka kekuatan dewa yang akan muncul, tetapi jika pemiliknya berbudi jahat maka kekuatan iblis yang akan muncul.
*****
Ayu terbangun dari tidurnya, dia keluar kamar dan mendapati dewa obat sedang melatih Jagad ilmu kanuragan.
Jagad dan dewa obat yang melihat ayu sudah terbangun menghentikan latihannya. Melihat hal itu Ayu kemudian mendekati keduanya dan menanyakan keberadaan Arga yang belum terlihat.
"Paman, kakang Arga dimana ya, kok belum kelihatan?.
"Arga tadi pergi meninggalkan tempat ini, dia hanya berpesan kau tidak boleh pergi dari tempat ini sebelum dia pulang." Balas dewa obat.
Ayu mengerutkan dahi, dia mulai menangkap isi pembicaraan dewa obat.
"Paman, bolehkan aku melihat Jagad latihan?.
"Tentu boleh, silahkan duduk disana."
*****
Arga pergi dengan berjalan kaki seperti pemuda biasa, dia memakai topi caping di kepalanya.
Setelah dua hari perjalanan dia sampai di sebuah desa Mergosari. Desa ini merupakan desa yang cukup besar. Kepala desa Mergosari bernama Ki Luwuh Lambe. Ki Luwuh baru menjabat sebagai kepala desa sekitar sembilan bulan yang lalu. Akan tetapi, di bawah kepemimpinan Ki Luwuh, desa Mergosari menjadi desa yang aman, tentram dan makmur. Tetapi hal ini tidak berlangsung lama ketika sekitar tiga bulan setelah kepemimpinan Ki Luwuh, segerombolan perampok datang ke rumah Ki Luwuh untuk mengadakan perjanjian dengannya.
Desa Mergosari memiliki panen padi yang berlimpah, peternakan yang maju membuat desa ini sangat banyak di kunjungi oleh pedagang.
Waktu malam itu saat hujan rintik-rintik turun membasahi desa Mergosari. Ki Luwuh yang sedang tidur bersama istrinya di kamarnya dan seketika dia mendengar ada orang yang mengendap masuk ke dalam rumahnya.
Ada lima orang perampok datang dan memaksa Ki Luwuh untuk mengumpulkan upeti yang di kumpulkan rakyat desa Mergosari menjadi lima kali lipat dari biasanya. Upeti seperti biasa di serahkan kepada Adipati Anom Dwijoyo di Tubun untuk diserahkan ke Kotaraja dan sisanya di serahkan kepada perampok itu.
Ki Luwuh tentu saja menolak permintaan itu, akan tetapi kelima orang perampok itu mengancam akan membunuh kedua anaknya yang sedang terbaring tidur di kamarnya.
Ki Luwuh mengambil keris yang ada di pinggangnya dan mau menusukkan keris itu kepada seorang dari perampok itu.
Akan tetapi, perampok itu bisa menangkis serangan itu dan membuat Ki Luwuh terpental.
"Siapa sebenarnya kalian ini?"
"Bagus kau bertanya lebih dulu siapa kami. Kami adalah lima perampok dari bukit Jali."
"Aku adalah pemimpin mereka Boko Sangit." Sambungnya.
Mendengar nama Boko Sangit, Ki Luwuh mengerutkan keningnya. Tentu saja dia tahu siapa Boko Sangit. Boko Sangit adalah pemimpin dari perampok dari bukit Jali. Kelompok ini bernama lima iblis bukit Jali. Lima iblis bukit Jali adalah perampok yang sangat keji dan tak kenal ampun. Mereka membunuh orang dengan membabi buta dan dengan cara yang sangat kejam.
Mendengar keributan di dalam rumah, istri Ki Luwuh Lambe terbangun dari tidurnya. Saat dia sampai di ruang tamu dia melihat suaminya sedang tersungkur di sudut ruangan sambil memegangi dadanya.
"Kakang, apa yang terjadi." Istri Ki Luwuh berteriak sambil berlari ke arah Ki Luwuh. Dia kemudian melihat ke arah tatapan dari suaminya dan dia melihat lima orang berpakaian hitam-hitam tersenyum kepadanya.
"Istrimu cantik juga Ki Luwuh, kami akan bermain-main malam ini dengannya kalau kau tidak mau menuruti perintah kami." Ucap Boko Sangit
"Jangan kau apa-apakan istri dan anak-anakku. Aku akan menuruti perintah kalian." Ucap Ki Luwuh dengan terpaksa harus menuruti perintah kelompok perampok itu.
"Kami akan membawa kedua anakmu sebagai jaminan kau tidak akan berbuat yang akan membawa kedua anakmu dalam bahaya."
"Jangan, jangan bawa anakku." Ucap Ki Luwuh.
Ki Luwuh di pukul dan di terjang oleh anak buah Boko Sangit sehingga dia terpental lagi.
Saat pengumpulan upeti di tarik, Ki Luwuh dengan berat hati menyampaikan bahwa kebijakan dari Kotaraja meminta untuk menaikkan upeti menjadi lima kali lipat dari biasanya.
Penduduk desa yang mendengar hal itu tentu tidak terima dan berpikir kalau Ki Luwuh ingin menikmati harta mereka sendiri.
Ki Luwuh tidak banyak bicara lagi, setelah menyampaikan hal itu dia kembali ke kediamannya.
"Adik, sungguh malang nasibku ini. Karena aku semua penduduk desa harus merasakan hal seperti ini." Ucap Ki Luwuh dengan nada yang sedih.
"Mau gimana lagi kang, kalau kita tidak berbuat seperti ini maka anak-anak kita yang akan menjadi korbannya." Balas istri Ki Luwuh sambil menenangkan Ki Luwuh.
****Note:
Terima kasih buat kalian yang sudah mengikuti novel ini sampai di 10 chapter pertama ini. Jika kalian menyukai cerita ini, mohon kasih like, comment dan share ke grup maupun media sosial masing-masing.
Tencu✌️✌️✌️****