NovelToon NovelToon
KAKAK TIRIKU JODOHKU

KAKAK TIRIKU JODOHKU

Status: tamat
Genre:Teen / Action / Romantis / Tamat
Popularitas:718.3k
Nilai: 4.8
Nama Author: Lusica Jung 2

Aster Jung adalah gadis cantik dan satu-satunya putri dalam keluarga Jung. Aster memiliki teman masa kecil bernama Zian Rey. Awalnya semua baik-baik saja tapi persahabatan mereka perlahan merenggang saat keduanya beranjak remaja hingga Rey dan Aster menjadi musuh bebuyutan.

"Zian Rey, aku tidak akan pernah kalah darimu. Akan ku buktikan pada dunia jika aku lebih baik darimu."

Banyak yang menyayangkan renggangnya persahabatan mereka termasuk keluarga besar Rey dan Aster. Mereka ingin mereka bisa bersatu. Hingga sebuah keputusan besar pun diambil, Aster dan Rey menjadi saudara tiri.

Dan seiring berjalannya waktu benih-benih cinta tumbuh di hati mereka berdua. Rey dan Aster saling mencintai namun sama-sama tidak ada yang menyadari perasaan masing-masing. Dan Rey baru menyadari betapa besar arti kehadiran Aster setelah wanita itu pergi dari hidupnya.

Enam tahun kemudian Aster kembali dengan seorang gadis kecil bernama Hanyeon.

"Sebenarnya dia adalah Putri kandungmu. Benih yang malam itu kau tanam di dalam rahimku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 "Buncis Vs Mentimun"

Keduanya pun tersentak dan melepaskan tautan bibirnya dengan refleks. Di sana Aster berdiri menatap keduanya dengan pandangan terluka. Wajah cantiknya penuh air mata, Hoya yang merasa terkejut segera menghampiri Aster dan mencoba menjelaskan padanya

"Aster, dengarkan penjelasanku dulu. Ini semua tidak seperti yang kau lihat, percayalah jika aku dan, Minna, kami hanya-"

"Hanya apa?" Aster menyela ucapan Hoya. "Kau memintaku untuk tidak salah paham? Bagaimana bisa aku tidak salah paham saat melihat kekasihku sendiri berciuman dengan wanita lain dan parahnya lagi wanita itu adalah sahabatku. Di mana otak kalian berdua, bisa-bisanya kalian menghianatiku dan menurusku dari belakang. PARK HOYA, MINNA, KALIAN BENAR-BENAR KETERLALUAN."

Rey tiba-tiba muncul di sana. Tanpa sepatah kata pun pemuda itu menarik lengan Aster dan membenamkan wajahnya pada dada bidangnya. "Lepaskan dan jangan ditahan, menangislah sepuasmu karna bahuku selalu ada untukmu." Ucap Rey sambil mengusap punggung Aster dengan gerakan naik turun.

Iris coklatnya kemudian bergulir dan menatap Hoya serta Sohee dengan pandangan membunuh. "Sebaiknya pergi dari sini atau, Aster, akan semakin terluka." Tanpa sepatah kata pun Hoya dan Sohee pergi dari sana.

Tanpa sengaja mata coklat milik Rey melihat siluet seseorang yang sedang bersembunyi dibalik semak-semak yang tak jauh dari tempat ia dan Aster berada. "Park Aria." Gumam Rey tak yakin. Rey melepaskan pelukkannya kemudian menghampiri orang tersebut. "Park Choa, jadi kau orangnya? Bagaimana bisa ponsel, Aria berada padamu.?" Tanya Rey pada orang itu yang ternyata adalah Choa, sahabat dekat Aster juga saudari kembar Aria

Choa pun menjelaskan pada Rey kenapa ponsel Aria berada padanya dan alasan dia mengirim pesan-pesan itu pada Aster. "Sungguh, aku tidak memiliki niat buruk. Sebagai seorang sahabat aku merasa kasihan pada, Aster. Sebenarnya sejak lama aku ingin memberi taunya tentang hal ini tapi aku takut dia tidak mempercayaiku.

Apalagi setelah hubungan kami sedikit renggang karna fitna, Minna. Dia mengatakan pada, Aster, jika aku memiliki perasaan dan hubungan khusus dengan, Hoya. Itulah kenapa aku meminjam ponsel, Aria, dan semua ini semata-mata aku lakukan karna aku peduli pada sahabatku." Ujar Choa panjang lebar.

Aster yang mendengar penjelasan Choa langsung menghampiri sahabatnya itu kemudian memeluknya. Berkali-kali Aster meminta maaf pada Choa karna sudah beburuk sangka padanya dan lebih mempercayai Minna.

Selain Rey, Choa dan Aria adalah sahabat yang Aster miliki sejak kecil. Tapi mereka sempat berpisah karna Choa dan Aria pindah ke Inggris bersama keluarganya dan menetap di sana selama sepuluh tahun. Dan baru lima tahu mereka bersama lagi.

"Tidak apa-apa, tidak perlu minta maaf lagi. Lagi pula ini bukan salahmu juga, karna kita berdua sama-sama korban di sini." Ujar Choa lalu melepaskan pelukkannya. Pandangan Choa bergulir pada Rey, kedua matanya membelalak melihat sisi wajah Rey berlumur darah. "Rey, kau terluka." Pekiknya membuat Aster menoleh seketika. Dan dia tak kalah kagetnya dari Cho.

"Rey, apa yang terjadi? Bagaimana kau bisa terluka seperti ini?" Panik Aster melihat darah terus mengalir dari atas alis kanan Rey. Aster mengeluarkan sapu tangannya kemudian membebat kening Rey dengan sapu tangan itu

"Tetaplah di sini, aku akan segera kembali. Choa titip dia dulu ne." Aster beranjak dan meninggalkan mereka berdua begitu saja.

Choa menoleh dan menatap pemuda disampingnya. "Jadi kau berfikir yang mengirim pesan itu adalah, Aria?" Tanya Choa memulai percakapan

"Karna yang tau perselingkuhan, Hoya, hanya aku, Aria, Rio, Ren dan Jimin. Aku berfikir jika itu dia setelah, Aster, menunjukkan nomor itu padaku. Tapi aku tidak mengatakan apapun padanya." Tutur Rey.

Dan perbincangan mereka di intrupsi oleh Aster yang kembali dengan sebuah bingkisan yang didalamnya berisi kapas, alkohol, obat merah, perban, gunting dan plaster. Aster duduk disamping Rey dan mulai membersihkan lukanya

"Tahan, Rey. Ini akan sedikit perih." Aster membersihkan darah pada lukanya sambil sesekali meniupnya.

Setelah memastikan darahnya benar-benar bersih, kemudian Aster menutupnya dengan kasa yang dilanjutkan dengan perban. Dan perban putih terlihat membebat kening Luhan dengan rapi dengan bercak darah tepat diatas alis kanannya. Dan darah itu membuktikan jika luka tersebut masih baru.

Sepanjang Aster mengobati lukanya. Tak sedikit pun Rey meloloskan tatapannya dari gadis bermarga Jung tersebut. Meskipun air matanya tidak menetes lagi, tapi luka dan kecewa bisa Rey lihat dari sorot matanya.

Choa melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya dan berpamitan untuk pulang. Di sana hanya menyisahkan Rey dan Aster. "Kau masih ingin di sini atau pulang?" Tanya Rey memastikan.

"Kita pulang saja, tiba-tiba aku merasa kurang enak badan." Aster bangkit dari duduknya dan meninggalkan Rey begitu saja. Pemuda itu mendesah berat. Melangkahkan kakinya dan menyusul Aster yang semakin menjauh.

.

.

.

Rey menatap gadis yang sedari tadi duduk melamun di ruang keluarga dengan tatapan tak terbaca. Pemuda itu beranjak dari tempatnya dan menghampiri Aster yang tak terlihat baik-baik saja. "Kau baik-baik saja?" tanyanya memastikan. Aster menggeleng. Kemudian Rey meraih kepala belakang Aster dan menyandarkan pada dada bidangnya. "Jika ingin menangis, sebaiknya jangan ditahan. Menangislah sepuasnya agar beban didadamu sedikit berkurang."

Aster mencengkram t-shirt Rey dibagian dadanya tanpa peduli jika kain berharga mahal tersebut akan kusut karna ulahnya. Air matanya yang sedari tadi Aster tahan perlahan turun dan memasahi wajahnya

"Sakit, Rey." Jerit Aster dengan suara paraunya. "Hiks, kenapa mereka tega sekali menghinatiku? Kenapa mereka melakukan itu padaku, KENAPA? Hiks, apa salahku pada mereka sampai-sampai mereka begitu jahat." Aster semakin membenamkan wajahnya, air matanya tumpah begitu saja.

Rasanya seperti ada bongkahan batu besar yang menghimpit dadanya yang membuat sesak hingga Aster merasa sulit untuk bernafas. Ia tidak menyangka bila sahabat dan kekasihnya sendiri akan menghianatinya. Rasanya Aster benar-benar tidak percaya.

"Jangan pernah mempercayai laki-laki hanya dari penampilannya saja. Karna apa yang kau kira baik belum tentu baik dan yang kau kira buruk belum tentu buruk. Jadikan semua ini pelajaran, sebaiknya jangan pernah meneteskan air matamu lagi hanya untuk laki-laki brengsek seperti dia. Jangan tunjukkan padanya jika kau itu lemah." Ujar Rey panjang lebar.

Rey melepaskan pelukkannya. Jari-jarinya menyeka air mata Aster yang membasahi wajah cantiknya. "Tersenyumlah, kau terlihat jelek jika menangis," Aster meninju pelan dada Rey.

"Menyebalkan, dasar rusa jelek. Bisa-bisanya kau meledekku disaat seperti ini. Sebaiknya masakan untukku, aku lapar." Renggek Aster sambil memegangi perutnya.

Pemuda itu mendengus geli. Menjitak gemas kepala coklat Aster kemudian bangkit dari duduknya. Aster menarik sudut bibirnya. Semenyebalkan apapun seorang Zian Rey, tetap dia satu-satunya laki-laki yang paling memahami dirinya.

.

.

Hari-hari berlalu dengan cepat. Perlahan Aster mulai bisa melupakan kesedihannya dan menjalani hari-harinya seperti biasa setelah dua hari mengurung diri. Saat ini dirinya dan Rey sedang berada dipusat perbelanajaan, mereka terpaksa harus berbelanja karna stok makanan yang mereka miliki sudah semakin menipis. Dan bukan Rey dan Aster namanya jika tidak memiliki bahan untuk diperdebatkan.

Aster menolak keras ketika Rey mengambil mentimun dan memasukkan ke dalam keranjang belanaja mereka. "Jangan masukkan mentimun dalam daftar belanja kita. Aku tidak suka!" kata Aster menegaskan. Rey mengambil mentimun itu kembali lalu memasukkan ke dalam keranjang belanja

"Aku yang membayar semua belanjaan ini, jadi terserah aku." jawabnya acuh tak acuh.

"Tidak boleh , tidak boleh, tidak boleh. Lebih baik buncis." Aster mengeluarkan kembali mentimun itu lalu memasukkan sebungkus buncis ke dalam keranjang belanja mereka.

Rey mendecih dan mengeluarkan kembali buncis dari keranjang lalu mengembalikan ke tempat semula. "Tidak, Aster Jung! Kau tau bukan jika aku tidak menyukai buncis. Aku ingin membuat acar dan aku membutuhkan mentimun."

"Sekali tidak tetap tidak. Kau tidak boleh memasukkan mentimun itu dalam daftar belanja kita apapun alasannya." Tegas Aster menegaskan.

"Terserah. Suka tidak suka aku akan tetap membeli mentimun ini." Tegas Rey.

"Aku tidak mau, pokoknya tidak boleh ada mentimun dan ganti dengan buncis."

"Sekali tidak tetap tidak. Apapun alasannya tetap Mentimun."

"Buncis,"

"Mentimun."

"Buncis."

"Mentimun."

"Buncis."

"Mentimun."

Kini mereka berdua menjadi pusat perhatiannya para pengunjung lain karna perdebatan konyol karna buncis dan mentimun. Sadar di perhatikan Rey mendecih dan memutar mata jengah, mengabaikan omelan Aster dan kembali memasukkan mentimun itu ke dalam keranjang

"Yakk! Zian Rey, kau benar-benar menyebalkan." Teriak Aster seraya menghentakkan kakinya. Dengan kesal Aster menyusul Rey yang berjalan mendahuluinya. "Dasar Rusa Jelek menyebalkan. Jelek, jelek, jelek." Aster terus saja menggerutu tidak jelas. Kesal karna Rey selalu bertingkah seenaknya.

Tapp!

Aster tiba-tiba menghentikan langkahnya saat iris hazelnya tanpa sengaja menangkap sesuatu yang membuat sesak dadanya. "Tutup matamu dan berpura-puralah seolah-olah kau tidak melihat apapun." Di saat bersamaan seseorang tiba-tiba menutup matanya dari belakang dengan telapak tangannya yang besar.

Aster tentu mengenali dengan jelas siapa pemilik suara tersebut.

Kemudian Aster menurunkan tangan itu dari matanya, lalu ia berbalik dan menatap sendu pemuda yang berdiri didepannya. "Bisa kita pulang sekarang?" Tanyanya memohon, suara serak dan kedua matanya terlihat berkaca-kaca. Pemuda itu 'Rey' mengangguk dan keduanya berjalan beriringan meninggalkan pusat perbelanjaan.

Sepanjang perjalan, tak sepatah kata pun keluar dari bibir Aster. Gadis itu terus saja menatap keluar dengan tatapan sendunya. Sesekali Rey menoleh dan menatap gadis disampingnya yang jelas tidak baik-baik saja.

'CKITTTTT...!!'

"Ayam, ayam." Teriak Aster yang kaget karna tiba-tiba Rey mengerem secara mendadak "Yakk! Rusa, apa kau sudah gila! Bagaimana bisa kau mengerem mendadak seperti itu." Amuk Aster pada pemuda disampingnya. Rey menyeringai tipis

"Siapa suruh melamun terus." Balas Rey meenimpali.

Aster mencurutkan bibirnya, dan bibirnya terus saja berkomat-kamit tidak jelas. Rey benar-benar membuatnya kesal setengah mati. Mengabaikan Aster yang terus saja mengoceh, Rey menghidupkan kembali mesin mobilnya dan melanjutkan perjalanan mereka yang sempat tertunda.

Setibanya di rumah, Aster langsung turun dari mobil Rey dan pergi begitu saja. Bahkan gadis itu tidak membantu Rey sedikit pun dalam membawa semua belanjaan mereka. Rey mendengus berat, dengan terpaksa dia membawa semua barang belanjaan itu sendiri.

Rey meletakkan semua belanjaan itu di atas meja dapur begitu saja. Mengeluarkan sebuah minuman bersoda dan membawanya ke sofa ruang keluarga. Rey mendaratkan pantatnya di sana, pemuda itu meletakkan minuman yang masih utuh itu di atas meja kemudian membaringkan tubuhnya.

Tiba-tiba kepalanya terasa pusing, ini adalah hari ketiga pasca kecelakaan yang ia alami tapi perban belum mau beranjak dari kepalanya.

"Rey, apa kau tidur?" tanya Aster saat melihat pemuda itu berbaring sambil menutup matanya.

"Hn."

"Apa kepalamu pusing lagi?" Tanya Aster memastikan.

"Hn."

"Tunggulah sebentar, aku akan mengambilkan obat pereda rasa sakit untukmu."

Kata 'Hn' yang keluar dari bibir Rey dapat Aster pahami dengan sangat baik. Gadis itu meninggalkan Rey sendiri di ruang keluarga dan tak lama setelahnya Aster kembali dengan beberapa butir obat dan segelas air yang kemudian dia berikan pada Rey. "Minum dulu obatnya dan setelah ini pergilah kekamarmu untuk istirahat. Kau terlihat pucat."

Melihat Rey yang terlihat kesakitan membuat Aster merasa cemas. Meskipun Rey sangatlah menyebalkan tapi tetap saja Aster tidak bisa tidak peduli padanya.

Setelah meminum obatnya yang diberikan oleh Aster. Rey langsung pergi kekamarnya untuk beristirahat, sedangkan Aster pergi ke dapur untuk menata semua belanjaan yang ia dan Rey beli hari ini. Dan soal makan malam, Aster bisa memesannya dari luar.

Ia tidak ingin sampai mengalami diare karna memakan masakannya sendiri yang begitu buruk. Bukan lagi rahasia umum bila Aster memang payah dalam hal memasak.

Dikamarnya, sebenarnya Rey tidak benar-benar tidur, pemuda itu saat ini tengah berdiri di balkon kamarnya. Kedua tangannya bertumpuh pada pagar yang terasa hangat karna sinar mentari. Rey menekan dada kirinya yang tiba-tiba terasa sesak, entah apa alasannya dia merasa begitu sakit ketika melihat air mata mengalir dan membasahi pipi Aster.

Mungkinkah karna Rey masih sangat peduli padanya sebagai seorang teman masa kecil atau mungkin karna hal lain? Entahlah, hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Rey menoleh saat mendengar ponsel miliknya berdering kemudian ia beranjak dari sana dan menerima panggilan dari Lia. "Ada apa kau menghubungiku?" Tanyanya to the poin. Suaranya terdengar dingin dan tidak ada hangat-hangatnya sedikit pun membuat seseorang diseberang sana merenggut karnanya.

'Jahat, beginikah kau menyambutku ketika menelfon..!'

"Tidak perlu berbasa-basi, langsung aja katakan apa keperluanmu menghubungiku." Rey menyela ucapan Lia dan membuat gadis itu mendesah berat karnanyal "Baiklah, jika tidak ada yang penting aku tutup telfonnya." Rey memutuskan sambungan telfonnya begitu saja, bahkan dia tidak peduli dan tidak berniat mengangkatnya kembali meskipun tau jika Lia menghubunginya lagi.

Rey pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sudah jam lima sore dan ia berencana membuat makan malam untuk dirinya sendiri juga Aster. Rey tidak ingin sampai kelaparan karna tak mungkin juga dirinya mengandalkan gadis itu yang jelas-jelas sangatlah payah dalam hal memasak.

Setelah selesai mandi dan mengganti pakaiannya. Rey bergegas turun dan pergi ke dapur. Tidak ada yang special pada penampilannya, sebuah jeans belel hitam serta kaos putih tanpa lengan. Rey menghampiri Aster yang sedang sibuk membersihkan buah-buahan di dapur dan kedatangan pemuda itu di sana mengalihkan perhatiannya.

"Rey, aku fikir kau sedang tidur. Apa kau ingin membuat makan malam untuk kita?" tanya gadis itu memastikan

"Hn." sahut Rey.

"Aku fikir kita bisa memesannya dari luar, bukankah kau bilang jika kepalamu pusing. Sebaiknya tidak perlu memasak, aku akan pesan makanan dari luar saja." ujar Aster

"Kau yakin?" Aster mengangguk.

"Baiklah terserah kau saja." Rey meninggalkan dapur dan pergi keruang keluarga.

Kemudian Aster datang dengan sebuah kotak p3k. Ia berencana untuk mengganti perban pada kening Rey. Meskipun sudah tiga hari, tapi lukanya belum kering sepenuhnya dan itulah kenapa Rey tetep menutupnya dengan kasa

"Sepertinya lukanya agak dalam, Rey. Buktinya saja masih belum membaik meskipun sudah tiga hari." celoteh Aster sambil memeriksa luka dikening Rey, tapi tidak ada tanggapan. Aster mengoleskan salep luka kesekitar lukanya sebelum menutupnya kembali dengan perban berukuran sedikit lebar dan tebal.

Tatapan tak biasa Rey membuat Aster sedikit salah tingkah. Pasalnya pemuda itu menatapnya begitu dalam dan lekat. Tak sanggup menatap lama-lama mata Rey, Aster memutuskan untuk menghindar. Dan lagi-lagi Rey menatap kepergian Aster dengan tatapan tak terbaca.

.

.

BERSAMBUNG.

1
Rohimatul Amanah
Luar biasa
EndRu
ada Luhan dan Jessika di sini .. hemmm
EndRu
Aster kok bermarga Xi
Dan typo lain . ada Jian juga. haduh
EndRu
Tiba tiba ada Jia. Jesica
typo Thor 🙏
EndRu
visual Rry pakai eyepact seperti apa ya
EndRu
Drakor nya keren banget
EndRu
sering banget typo Jessika.. terus siapa lagi.itu
EndRu
Rey kayak Ketua mafia ya
EndRu
dijadikan berkedel mereka nanti. beraninya mengusik Rey
EndRu
misal pakai pengawal mungkin lebih aman Rey
EndRu
mbayangin cantik dan nggemesinjya Hanyeon
EndRu
perjuangan Aster luar biasa.
Rey akan selalu merasa bersalah mengingat beratnya perjuangan Aster. berbahagialah sekarang
EndRu
haru begini...
rengekan sang putri akhirnya membuat Naluri seorang Ibu luluh..
keputusan yang tepat Aster.
putrimu berhak tahu siapa ayahnya
EndRu
Nyesek yak
EndRu
mewek aku Kak 😭😭😭
EndRu
baru NGEH..
Choa ternyata laki laki
Ellnara: Choa itu cewek kakak
total 1 replies
EndRu
ini kayaknya nih sengaja deh. ditinggal berdua di rumah biar akur gitu..
EndRu
aria6 mana tahu klo kamu sebenarnya memendam rasa kepada adik tiri mu sendiri Rey
EndRu
Rey ga ambil fotonya Aster nih. kan cakep tuh
EndRu
ini di negeri mana ya?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!