NovelToon NovelToon
Cinta Lama, Dendam Baru

Cinta Lama, Dendam Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Cilia

Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

XXII - Pilihan Terakhir

Radit pergi tidak jauh dari ruang kerja Hartono untuk menenangkan pikirannya yang berantakan.

Ia berjalan mondar-mandir di lorong luar ruang kerja itu selama beberapa menit, dadanya masih sesak oleh apa yang baru saja ia baca. Tapi meninggalkan rumah ini tanpa jawaban dari mulut ayahnya sendiri terasa seperti pengecut yang sama seperti tujuh tahun lalu. Ia kembali masuk, mengambil buku catatan itu lagi dari lemari, lalu duduk menunggu di kursi kerja Hartono.

Waktu terasa berjalan lambat. Ia menghitung detak jantungnya sendiri, mencoba menyusun kalimat pembuka untuk menghadapi pria yang selama ini selalu punya jawaban untuk segalanya. Tidak satu pun kalimat yang ia rangkai di kepalanya, terasa cukup.

Suara langkah kaki yang lemah akhirnya terdengar dari arah kamar tidur.

Hartono muncul di ambang pintu, mengenakan piyama rumah yang jarang sekali ia kenakan, wajahnya masih terlihat pucat. Matanya menangkap sosok Radit di kursi kerjanya, lalu turun ke buku catatan di tangan putranya. Sesuatu berubah di ekspresinya — ia tidak terkejut, wajahnya menunjukkan ketenangan, seolah momen ini sudah ia antisipasi sebelumnya.

"Kau sudah menemukannya," Hartono berkata, suaranya tenang.

"Ayah tidak mau menyangkalnya?" Radit bertanya, dengan suara yang sedikit bergetar.

"Untuk apa aku menyangkal sesuatu yang sudah tertulis jelas dengan tanganku sendiri?" Hartono balik bertanya, melirik sekilas ke buku catatan itu. "Aku sudah menduga, kau pasti akan menemukannya suatu hari."

"Berapa lama Ayah berencana menyembunyikan ini dariku?" Radit bertanya, suaranya makin bergetar. "Selamanya? Sampai aku menikah dengan Valerie dan tidak ada lagi alasan buat aku menggali masa lalu?"

Hartono melangkah masuk, duduk di kursi seberang mejanya sendiri, matanya tetap menatap Radit dengan tajam. "Aku tidak tahu, tapi sekarang… Kau sudah baca sendiri buktinya. Aku hanya melakukan apa yang perlu dilakukan untuk keluarga kita."

"Apa? Apa yang perlu dilakukan?" Radit berdiri dari kursinya, tidak sanggup lagi menahan kemarahan. "Ayah menghancurkan bisnis seorang pria yang tidak bersalah. Ayah menyebabkan kematiannya. Semua itu cuma demi aliansi bisnis dengan keluarga Wijaya!"

"Dan itu berhasil, bukan?" Hartono menjawab, suaranya begitu tenang hingga terdengar mengerikan. "Kau menuruti kata-kataku waktu itu. Kau meninggalkannya tanpa banyak melawan, dan sekarang hubungan bisnis sudah terjalin antara keluarga Wibowo dan Wijaya."

"Aku menurutinya karena Ayah bikin aku percaya kalau bisnis Ayah Kirana runtuh karena kesalahannya sendiri!" Radit membalas. "Ayah nggak pernah bilang kalau Ayah yang merekayasa kehancuran itu!"

Hartono menatap putranya lama, ekspresinya menunjukkan kekecewaan seperti seorang guru yang muridnya gagal memahami pelajaran penting. "Radit, dalam dunia bisnis, kau harus belajar bahwa keputusan besar kadang butuh pengorbanan. Bambang Pradipta menolak dua kali tawaran kerja sama yang menguntungkan kedua belah pihak. Ia terlalu idealis."

"Pak Bambang… Beliau orang baik," Radit menyahut, suaranya bergetar mengingat sosok yang dulu selalu menyambutnya hangat di rumah keluarga Pradipta. "Dia nggak pantas kehilangan segalanya cuma karena dia nggak mau ikut permainan Ayah."

"Orang baik nggak selalu selamat dalam dunia bisnis, Radit," Hartono menjawab datar, tidak sedikit pun luluh oleh nada suara putranya. "Itu pelajaran yang seharusnya sudah kau pahami sejak menjabat sebagai CEO."

"Itu bukan sekadar keputusan bisnis," Radit berkata, suaranya penuh kepedihan. "Itu nyawa manusia, Ayah. Kirana kehilangan ayahnya karena rencana busuk Ayah. Dan aku —" Ia berhenti, napasnya sedikit tercekat. "Aku kehilangan cinta pertamaku karena kebohongan Ayah."

"Kau tidak kehilangan apa pun," Hartono menjawab, nadanya tajam. "Valerie adalah pilihan yang jauh lebih baik untukmu, untuk masa depan Wibowo Group. Perasaanmu tidak sebanding dengan warisan yang bisa kita bangun bersama."

"Ayah masih bisa ngomong soal warisan?" Radit menyahut, suaranya bergetar, "tapi… warisan macam apa yang dibangun di atas kematian orang yang nggak bersalah? Warisan macam apa yang Ayah mau aku terusin?"

Hartono tidak menjawab langsung, hanya menatap putranya dengan rahang mengeras, seolah pertanyaan itu terlalu tidak bisa ia jawab dengan mudah.

Radit menatap ayahnya, menyadari betapa berbedanya pemahaman mereka mengenai pandangan hidup.

Ia teringat masa kecilnya, bagaimana ia dulu mengagumi ayahnya, bercita-cita jadi pemimpin bisnis yang tangguh, bagaimana ia dulu berdiri di ambang pintu ruangan ini, mengintip ayahnya bekerja. Dan sekarang ia sadar, ketegasan itu, tidak memiliki rasa kemanusiaan, ia menganggap nyawa orang lain sebagai salah satu variabel dalam persamaan bisnis.

"Aku nemuin namaku sendiri di buku catatan itu, Ayah," Radit berkata, suaranya lebih tenang meski hatinya masih bergejolak. "Ayah nulis semua ini dilakukan karena hubunganku sama Kirana. Aku alasan kenapa Ayah menghancurkan begitu banyak kehidupan."

Untuk sesaat, sepercik kelembutan muncul di wajah Hartono, tapi kelembutan itu langsung tergantikan lagi oleh ketegasan yang selalu jadi ciri khasnya. "Semua yang kulakukan, kulakukan demi kau, Radit. Demi mastiin kau nggak terjebak dalam pernikahan dengan keluarga yang bakal bangkrut."

"Pengorbanan?" Radit tertawa getir. "Ayah nyebut itu pengorbanan, padahal itu pembunuhan karakter yang direncanakan dengan matang terhadap pria yang tidak bersalah!"

Hartono berdiri dari kursinya, menatap Radit tajam. "Sekarang kau sudah tahu semuanya, Radit. Jadi biar aku tanya langsung — apa yang akan kau lakukan dengan semmua ini? Akankah kau membiarkan satu kesalahan masa lalu menghancurkan segala yang telah keluarga ini bangun selama puluhan tahun? Atau akankah kau memilih melindungi keluargamu sendiri?"

"Ayah minta aku milih antara kebenaran dan keluarga?" Radit bertanya.

"Aku minta kau memilih antara Kirana dan segala yang telah kubangun untukmu," Hartono menjawab, suaranya sedingin es. "Kalau kau pilih ungkap semua rahasia ini, kau nggak cuma ngehancurin reputasiku. Kau juga ngehancurin Wibowo Group, warisan yang seharusnya jadi milikmu, dan masa depan dari ratusan bahkan ribuan karyawan."

Radit menatap ayahnya, mencoba mencari sedikit keraguan di matanya, ia masih berharap, bahwa jauh di dalam hati pria itu masih menyimpan penyesalan. Namun, ia tidak menemukan apa-apa selain ketegasan yang sama seperti yang selalu ia kenal sepanjang hidupnya.

"Dan kalau aku pilih diam?" Radit bertanya, nyaris berbisik.

"Kalau kau pilih diam," Hartono menjawab, nadanya melunak, hampir menyerupai bujukan, "kau bisa lanjutin pernikahanmu dengan Valerie, mewarisi Wibowo Group, dan biarin masa lalu tetap jadi masa lalu. Kirana akan baik-baik saja. Ia udah bangun kembali hidupnya, kan? Buka luka lama cuma bakal nyakitin dia lebih jauh."

Radit berdiri diam, merasakan pilihan yang berat menghimpit dadanya,.

Ia memikirkan Kirana, wajahnya yang terluka, kepercayaan yang begitu sulit ia bangun kembali.

Ia memikirkan ibunya, yang tidak tahu apa-apa soal rencana kejam ini, yang selama ini cuma bisa duduk diam menyaksikan suaminya membuat keputusan demi keputusan tanpa pernah dilibatkan.

Ia memikirkan seluruh karyawan Wibowo Group yang menggantungkan hidup mereka pada perusahaan yang telah dibangun ayahnya selama puluhan tahun.

Tapi di atas semua pertimbangan itu, satu hal terus kembali muncul di pikirannya.

Bagaimana ia bisa terus hidup dengan mudah sembari menatap wajah Kirana, jika ia memilih untuk menyembunyikan kebenaran demi mempertahankan kenyamanannya? Bukankah itu persis seperti yang telah ia lakukan tujuh tahun lalu? Ia hanya mengulang kesalahan yang sama dengan alasan yang sedikit berbeda.

"Semua yang kulakukan demi kamu, Radit," Hartono berkata. "Sekarang tinggal kamu pilih. Semua Keputusan ada di tanganmu."

Radit tidak menjawab. Ia menatap ayahnya lama. Yang ia temukan di sana cuma orang asing yang menyamar dengan wajah yang selama ini ia kenal.

Ia meletakkan buku catatan itu di meja, di antara mereka berdua, lalu meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata pun.

Hartono tidak memanggilnya kembali. Mungkin karena ia yakin, cepat atau lambat, Radit akan kembali dengan jawaban yang ia inginkan. Radit berjalan keluar rumah itu dengan langkah cepat, udara sore menampar wajahnya begitu ia melewati pintu depan, tapi tidak cukup untuk membersihkan berat yang masih menggantung di dadanya.

Ia belum tahu jawaban apa yang akan ia berikan. Yang ia tahu, ia tidak bisa lagi untuk berpura-pura tidak tahu apa-apa.

1
Dian Meilani
bagus kk , pnasaran alurnya gimana
m.marsela
kalau masih sayang, kenapa melepaskan sih duit, kepo banget sama alasannya ninggalin kirana
Ade Chubi
Radit hebat 👍
Ade Chubi
selalu nyerang pihak perempuan nya ,kalo menyerang Radit , Valerie tau akan konsekuensinya 😂😂
Cilia: Radit punya kuasa ka😂
total 1 replies
m.marsela
padahal ada orang baru yang siap untuk selalu ada
tapi orang yang pernah memberi luka justru masih selalu memenangkan ruang di hati.
Cilia: Terlsdang masa lalu selalu menang ka… huhu
total 3 replies
Raudhatul Zannah
buat penasaran kak ceritanya, semangat ya kak
Ery Sithi Badriyyah
seru bgt ceritanya
Ery Sithi Badriyyah
seru ceritanya lanjut yuk
white star ⭐
bikin ketagihan membacanya
mary dice
Nah gitu dong Kirana 🔥🔥 ditunggu gebrakan-gebrakanya melawan m
para musuh 💪💪
Arni Arlinawati pratiwi
semangat anak ku sayang..
helena
lanjut thoor
m.marsela
Fix lanjut baca, penasaran banget
Putri Ayu/PqxxyZ
Sangat merekomendasi ceritanya... Yang belum baca wajib baca sih ini
Cilia
Penjelasannya bisa dibaca di bab-bab selanjutnya! Makin seru loh😆
Putri Ayu/PqxxyZ
terjadi salah paham ya...tapi kenapaa gak dijelasin sih malah ilang 😊
Putri Ayu/PqxxyZ
yuk bisa yuk cari cowok selain Raditya...💪💪 🤭
Cilia
Terimakasih atas dukungannya kak❤️
Raudhatul Zannah
semangat kak
Wawan
Satu iklan dan mawar buat mu Thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!