Celine selalu menyukai Ares. Dia mengabadikan seluruh momen laki-laki itu di sebuah buku kecil. Ratusan foto. Lalu kini buku itu hilang, menyisakan perasaan khawatir yang menghantui Celine setiap malam.
Celine hanya tidak tahu, buku itu berada di tangan Ares. Di simpan baik-baik, menunggu waktu yang tepat untuk membuka kedok Celine.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suziehloranda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Usaha Gabriel
"Bisa nggak sih kamu berhenti ngikutin?!" Jaket yang dipegang Celine dilempar ke wajah Gabriel. "aku tuh pengen sendiri, jangan jahil deh!"
Gabriel mendelik. Ia berkata, "Pede banget, siapa yang ngikutin coba?"
Celine menarik napas panjang, mencoba untuk bersabar, kepalanya akan semakin berat jika meladeni laki-laki di depannya. "Trus ngapain sampai masuk ke halaman rumahku? Kalau ada yang mau disampaikan, bilang aja!" cetusnya, ia melipat kedua tangan di dada. Wajah congkak Gabriel membuatnya teringat Jasmine yang terus menguntit Ares.
Sama ngeselinnya!
"Sensi amat, aku datang ke sini bukan buat kamu juga," kata Gabriel. Ia menepis bahu Celine yang menghalanginya. "Mau nengok Herry, aku bawa makanan buat dia, kalau ngarepin kamu mah keburu matahari terbit dari barat."
"Maksud kamu apa?!" pekik Celine, ia ikut masuk ke dalam.
Dari sudut matanya Celine memperhatikan bagaimana Gabriel tersenyum, ketika menghampiri Herry. Sejak kejadian di minimarket, anak laki-laki itu lebih menyukai Gabriel. Celine berdecak kesal, duduk di salah satu sofa, lumayan jauh dari tempat keduanya.
"Banyak banget makanannya kak, makasih ya!" seru Herry, ia tenteng satu kresek besar. Senyumnya merekah, duduk berjongkok di karpet dengan kepala yang digoyangkan. Gabriel mengelus lembut rambutnya.
Celine memicingkan matanya, kemudian kembali sibuk ke ponselnya. Namun bibirnya tak bisa berhenti menggerutu, "Nyogok sih itu, biar apa coba? Kurang kerjaan banget, kasihan kamu Herry, diperdaya laki-laki banci itu."
"Kakak jangan nuduh Kak Herry yang enggak-enggak!" Herry melotot, mainan robotnya ditudingkan ke depan Celine. Akan tetapi gadis itu tak berkutik, seolah keberadaan Herry luput dari penglihatannya.
"Kakak jahat," Ia tunjuk Celine, kemudian beralih ke arah Gabriel. "Kakak baik."
"Yaudah mulai sekarang dia aja deh yang jaga kamu, entar aku bilangin sama mama coret kau dari kartu keluarga." Celine belum juga mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Herry meledak, ia menangis sejadi-jadinya, membuat Gabriel kelimpungan. Ditatapnya Celine yang kini mengalihkan pandangan hanya untuk merengut. Pembelaan keluar dari bilah bibirnya, "Cengeng banget, gak gentle!"
"Udah Celine, kasihan Herry dibuat nangis mulu," kata Gabriel tegas. Ia bawa anak kecil itu ke dalam pelukannya. "Udah ya, jangan nangis lagi."
Celine merotasikan bola matanya.
***
Celine banyak melamun sejak bertengkar dengan Herry. Sebentar ia lihat ponselnya kemudian berdecak kesal, nyatanya tak ada pesan yang dia nantikan sedari tadi. Gadis itu menenggelamkan kepalanya di lipatan lutut, merasa lelah.
Gabriel menghentikan langkahnya yang sedang menuruni anak tangga. Baru saja ia mengantar Herry, karena anak itu katanya mengantuk. Ia menggenggam penyangga tangga erat, bisa diduganya penyebab suasana hati Celine buruk.
Si berengsek Ares itu lagi, huh!
Gabriel membawa langkahnya menuju tempat di sebelah Celine, perempuan itu tidak bergeming setelah ia duduk di sana. Gabriel berdehem canggung yang membuat gadis itu mendongak, alisnya menukik tajam penuh perhitungan.
"Belum pulang juga?" tanya Celine. "Herry juga udah tidur, kan?"
"Bentar lagi, kulihat kamu dari tadi kayak frustasi banget. Lagi banyak utang, ya?" Gabriel tertawa pendek, tapi hal itu malah menjadi garing karena Celine mendatarkan wajahnya. Seolah berkata, enggak lucu.
"Oke, gak bercanda lagi, di rumah sepi banget."
"Mending kamu pulang aja dulu," kata Celine, ia pijit pelipisnya yang terasa pening. "Aku lagi gak punya waktu buat menanggapi argumen kamu yang bisa buat darah tinggi."
Celine menghela napas panjang, karena Gabriel mengabaikannya. Ah udahlah, terserah deh!
Celine menyesal tidak mengusir laki-laki di sampingnya secara paksa. Ia menutup telinganya rapat-rapat. "Berisik banget, kecilin dulu volume ponselnya," katanya. "Kalau mau main game mah bukan di sini, ganggu orang aja."
Gabriel abai. Dia masih sibuk dengan satu pertandingan yang mendebarkan, sedikit lagi usahanya untuk meruntuhkan pertahanan lawan akan berbuah hasil. Senyumnya mengembang begitu notifikasi kemenangan terdengar.
"Yeah, itu menang gara-gara aku, harusnya kalian berbangga diri karna udah satu tim denganku," ucapnya terlampau percaya diri. Celine yang melihatnya menatap sinis.
"Udah? Main game aja seribut itu, alay!" maki Celine, kemudian beranjak dari sofa.
Ia melangkah menuju dapur, berniat memasak sesuatu karena sejujurnya perutnya sudah lapar. Makanan yang tersedia di meja makan tidak membuatnya berselera, mau makan pedas, pikirnya.
Gadis itu mengambil satu bungkus mie instan, ia akan membuat mie goreng super pedas. Ia mulai meracik bumbu dan memotong sawi dan daun bawang.
"Harumnya," katanya begitu mencium aroma bawang yang ditumis. Senyumnya merekah tanpa disadari, sekejap masalah yang menggerogoti pikirannya sedari tadi hilang.
Seporsi mie goreng tampak menggugah selera begitu Celine mematikan api kompor. Dia mengulum bibirnya, merasa puas dengan hasil kerjanya. Kemudian perempuan itu menata mie di piring yang telah disiapkan.
"Tambah laper, makan sama nasi deh, dikit aja," katanya tertawa kecil.
Celine duduk di bangku, siap untuk menyantap mie goreng, tapi perhatiannya disita begitu terdengar bunyi notifikasi dari ponselnya. Satu pesan singkat yang membuat jantungnya berdebar, bibirnya melengkung ke bawah.
Celine—Ares
Celine mencoba mengabaikan, masih terselip kekesalan di dalam hatinya. Dia letakkan ponselnya kemudian meraih garpu.
Ting
"Apa lagi sih?" tanyanya, ia mendengus, tapi tak urung tetap memeriksa beranda chat.
Tolong jawab dengan jujur, ini dari kamu?
Ares mengirimkan foto bekal yang dia berikan.
Celine terpaku.
Bukan!—Celine
"Dih apaan, tadi aja sok gak kenal, kenapa sekarang malah nanya!" cetusnya. Tiba-tiba saja mie goreng yang tadinya begitu menggugah selera, kini hanya segumpalan mie instan yang biasa.
Masa?—Ares
Celine geram, ia mengetikkan hal yang membuatnya kepikiran sejak tadi, tanpa pertimbangan.
Berharap itu aku? Mana tahu dari Jasmine, dari tadi lengket banget perasaan. Emang aku ada apa sama kamu, sampai spesial banget kasih bekal. Aku nggak kurang kerjaan.
Celine merutuki kebodohannya, ia berniat menarik chat itu kembali dengan cara menghapusnya. Namun Ares ternyata sudah lebih dulu membaca, ia mengetik saat ini. Sejenak Celine menjauhkan ponselnya.
"Bilang apa dia lagi?" gumamnya, ia intip sedikit layar yang menyala.
Matanya terbelalak.
Ada apa? Bukannya kamu suka aku, wajar dong aku pikir itu kamu. Nggak mungkin Jasmine juga ...
"Ngeselin banget, kok kesannya sekarang dia jadi narsis, ya?" ujar Celine.
Kalo dari aku emang kenapa?
Lagi-lagi Celine mengetik tanpa berpikir dua kali.
Kamu marah, ya?
Celine mendengus, sekali ini saja dia ingin membuat keputusan berdasarkan hati nuraninya. Gadis itu memblokir nomor milik Ares, tidak peduli penyesalan di akhir nanti.
Di sisi lain Ares mengerutkan kening begitu poto profil Celine tiba-tiba menghilang, laki-laki itu mengirimkan ping dan sesuai dugaannya, chat itu centang satu.
Salut banget sih author lucu gemes