NovelToon NovelToon
Pegasus From Diamond Planet

Pegasus From Diamond Planet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:378
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Saat Planet Diamond runtuh menjadi abu akibat amukan monster legendaris Typhon, sebuah pengorbanan darah terakhir mengirim dua benih harapan ke Planet Bumi. Namun, badai dimensi memisahkan takdir mereka secara kejam.
Alan, bocah Pegasus berusia tujuh tahun yang cerdas, terdampar di danau sebuah kastil kuno. Ia ditemukan oleh Jacob, sang Raja Vampir penguasa malam yang mematikan. Di dunia yang dipenuhi predator berdarah dingin, Alan harus bertahan hidup, menyembunyikan sayapnya, dan tumbuh bersama seorang Pangeran Vampir misterius.
Sementara itu, di belahan kota seberang, seorang bayi perempuan berambut seputih salju terlahir dari kristal pualam ajaib di tengah hutan. Dirawat oleh sepasang petani miskin yang menamainya White Crystal, bayi itu menyembunyikan rahasia besar: setiap kali kulitnya menyentuh air, udara musim panas mendadak membeku menjadi es.
Dua penyintas terakhir. Dua klan bumi yang saling bertolak belakang—Vampir yang dingin dan Petani yang naif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Terbang Bersama Alan

Sudah satu minggu penuh Alan menghabiskan hari-harinya di dalam benteng batu hitam kastil milik Raja Jacob. Berkat kecerdasan adaptasi bawaan klan Pegasus yang luar biasa tinggi, bocah berambut putih itu kini sudah mulai bisa menyesuaikan diri dengan hukum dan lingkungan barunya yang asing di Bumi.

Semenjak kaki kecilnya menapak di Luminara, Alan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermain dan belajar bersama Justin.

Hubungan mereka berdua berakselerasi dengan sangat cepat, berubah menjadi keakraban yang teramat erat. Alan bahkan sudah menganggap Justin layaknya saudara kandungnya sendiri, terutama setelah Raja Jacob secara formal mengadakan ritual sumpah darah untuk mengadopsi Alan sebagai putra keduanya di kastil malam tersebut.

Malam ini, kegelapan Luminara terasa berbeda. Alan dan Justin sedang berada di area terbuka di halaman belakang kastil, tepatnya duduk di atas batuan besar di tepi danau buatan tempat Alan pertama kali terlempar dari kristal merahnya.

Mereka berdua duduk santai sembari mendongakkan kepala, menikmati pesona langit malam yang bersih dari awan. Saat ini, atmosfer kastil terasa jauh lebih lengang dari biasanya; Raja Jacob sedang tidak berada di tempat karena harus memimpin delegasi klan untuk pergi ke luar kota, menemui kerabat sekutunya di wilayah terisolasi bernama Moon Island selama beberapa hari ke depan.

Sementara itu, kesunyian kastil semakin bertambah karena Lily, pengasuh setia Justin, juga sedang mengajukan izin untuk pulang ke kampung halaman manusianya di kota Nymeria.

Sebagai seorang anak yang memendam esensi biologis vampir di dalam tubuhnya, Justin memang secara natural jarang sekali merasakan kantuk atau tidur pada malam hari.

Begitu pula dengan Alan; klan Pegasus di Planet Diamond sudah terbiasa terjaga di bawah naungan bintang, membuat kehidupan malam di Bumi terasa seperti rumah kedua baginya.

"Apakah kau tahu, Alan? Sebenarnya selama bertahun-tahun hidup di sini, aku jarang sekali berani menapakkan kakiku pergi ke danau di belakang kastil Ayah ini sendirian karena aku didera rasa takut yang hebat," ucap Justin tiba-tiba, memecah keheningan malam.

Justin memutar kepalanya, menatapi Alan yang duduk di sampingnya, sibuk mencabuti helai demi helai rumput liar di depan ujung sepatunya dengan ekspresi santai.

"Memangnya ada masalah apa dengan tempat ini? Dan hal mengerikan apa yang membuat seorang pangeran vampir sepertimu takut pada genangan air danau ini?" tanya Alan serius, sepasang mata ungunya menatap lurus penuh rasa penasaran yang murni.

Sebelum mulai menuturkan ceritanya, Justin secara refleks mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling area danau yang remang. Sikap tubuhnya mendadak berubah menjadi teramat waspada, seolah-olah dia khawatir bahwa makhluk mitos yang sedang mereka bicarakan akan mendadak muncul dari dalam air dan menyeret mereka ke dasar kolam.

"Aku sudah terlampau banyak mendengar bisik-bisik cerita horor dari para pelayan senior di dalam kastil, Alan," bisik Justin, mencondongkan tubuhnya ke arah sahabatnya. "Mereka bilang... di kedalaman danau mati ini, bersemayam sesosok monster air kuno raksasa bernama Nessie."

"Monster Nessie? Apa lagi itu?"

Alan mengernyitkan dahinya yang kecil, menaikkan sebelah alis matanya dengan raut wajah yang berpadu antara bingung sekaligus tertarik pada legenda lokal Bumi.

"Monster Nessie itu digambarkan memiliki ukuran tubuh yang teramat masif, lehernya panjang menjulang melebihi dahan pohon, dan memiliki deretan punuk kasar yang selalu menonjol di atas permukaan air saat dia berenang mencari mangsa," jelas Justin, volumenya masih ditahan setengah berbisik untuk menjaga kerahasiaan.

"Apakah kau benar-benar memercayai dongeng konyol seperti itu, Justin? Mengapa kau harus melarikan diri ketakutan?"

Alan mendadak bersuara dengan nada lantang yang sengaja ditinggikan, hingga gaung suaranya memantul membelah kesunyian permukaan air danau.

Anak Pegasus itu tersenyum miring, menatap geli sahabatnya. "Kau ini adalah seorang vampir penghisap darah yang tangguh! Jika monster air itu berani muncul ke permukaan, kau tinggal melompat ke punggungnya, tancapkan sepasang taring tajammu, lalu isap saja seluruh jatah darah di tubuhnya sampai dia kurus kering dan mati!"

Alan melontarkan untaian kalimat ekstrem tersebut tanpa memendam rasa takut atau intimidasi sedikit pun di wajah tampannya.

Struktur psikologis Alan memang telah ditempa oleh kengerian nyata; bagi seorang anak yang pernah menyaksikan monster ular berkepala belasan seperti Typhon menghancurkan sebuah planet, ancaman mitos monster air di Bumi terasa tidak lebih dari sekadar hewan peliharaan yang lucu.

"Aku terpaksa memercayainya karena salah satu penjaga malam pernah melihat siluet lehernya keluar dari air! Dan apa yang kau katakan itu terdengar mudah di teori, Alan! Aku memang seorang vampir, tapi struktur anatomi monster itu pasti dilapisi oleh sisik purba yang sekeras baja! Aku hanya takut sepasang taring bayiku ini akan langsung copot dan patah saat mencoba menggigit kulit tebalnya! Bisa dipastikan aku akan bertransformasi menjadi seorang Pangeran Vampir ompong seumur hidup jika kehilangan taring utamaku!"

Justin menuturkan kalimat sanggahannya dengan ekspresi wajah yang teramat serius dan mata yang membelalak cemas. Sementara di sisi lain, Alan mengerahkan seluruh kekuatan otot wajahnya untuk menahan tawa yang menggelitik perutnya. Namun, pertahanan Alan runtuh dalam hitungan detik.

Tawa lepas Alan akhirnya pecah, menggema memenuhi halaman belakang kastil. "Ahahaha! Demi Tuhan, Justin! Pasti akan menjadi pemandangan yang teramat lucu di seluruh semesta melihat seorang Pangeran Vampir Luminara berjalan dengan mulut ompong! Tapi tenang saja, Paman Gustav pasti punya ramuan sihir untuk membuat gigimu tumbuh kembali dengan cepat."

Justin mengerucutkan bibir bawahnya, wajah pucatnya menekuk cemberut karena merasa seluruh ketakutan jujurnya baru saja dijadikan bahan lelucon konyol oleh sahabatnya sendiri.

Pria kecil berambut hitam itu mendengus kencang, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain dengan gusar. "Itu sama sekali tidak lucu, Alan! Ya sudah, terserah apa katamu saja jika kau memilih untuk tidak mempercayai peringatanku!"

Alan yang menyadari bahwa gurauan spontannya telah melukai harga diri Justin segera menghentikan tawanya. Sisa-sisa senyumnya memudar, digantikan oleh rasa bersalah.

"Maafkan aku, Justin. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk mengejek atau menertawakan ketakutanmu," tutur Alan tulus, menyentuh lengan Justin untuk memperbaiki keadaan. Dia tidak mengira bahwa psikologis anak vampir Bumi bisa sesensitif ini.

Namun, Justin tetap bergeming, menutup mulutnya rapat-rapat dan mengabaikan eksistensi Alan karena sisa rasa kesalnya belum menguap sepenuhnya.

Sebenarnya, di balik perdebatan mereka, mitos mengenai keberadaan monster air Nessie di danau kastil Luminara itu bukanlah sekadar bualan pelayan semata. Entitas kuno itu memang benar-benar eksis dan memilih danau mati tersebut sebagai tempat peraduan tidurnya.

Monster tersebut memiliki pola biologis khusus di mana dia hanya akan menampakkan wujud raksasanya pada malam-malam spesifik tertentu, seperti saat fenomena bulan purnama tiba—dan secara kebetulan, malam ini langit di atas mereka sedang memamerkan rembulan bulat sempurna yang bersinar dengan pendaran cahaya keperakan yang teramat benderang.

"Justin, ayolah, jangan menekuk wajahmu seperti itu lagi. Bagaimana kalau sebagai bentuk permintaan maafku, kita pergi jalan-jalan keluar menembus batas hutan untuk mengelilingi wilayah teritori milik Ayahmu? Aku akan mengeluarkan sayapku dan membawamu terbang melintasi awan, kau mau?" tawar Alan mencoba memberikan kompensasi yang menggiurkan.

"Apakah... apakah kau sedang serius dengan ucapanmu?"

Justin yang semula cemberut mendadak memutar kepalanya secepat kilat, sepasang mata hitamnya kini berbinar-binar penuh dengan riak antusiasme yang masif.

"Tentu saja aku serius!" Alan terkekeh lebar, memamerkan deretan giginya yang putih bersih dan rapi.

Tanpa membuang waktu lebih lama, Alan memejamkan matanya sesaat, mengonsentrasikan sisa energi magis Pegasus di dalam jantungnya.

SWOOSHH!

Sepasang sayap berbulu seputih salju murni yang teramat megah dan lebar mendadak melesat keluar dari balik punggung Alan, memancarkan pendaran aura ungu tipis yang menawan.

Dengan gerakan sigap, Alan meraih kedua ketiak tubuh Justin, mengepakkan sayapnya dengan satu sentakan kuat, dan melesat tinggi membelah gravitasi udara menuju ke angkasa malam Luminara.

Mereka berdua melayang dengan kecepatan stabil, terbang rendah mengelilingi kanopi hutan berkabut yang membentang luas tidak jauh dari batas luar kastil batu hitam milik Raja Jacob.

"Justin... kenapa kau malah menutup kedua matamu dengan rapat sejak kita lepas landas? Buka matamu dan lihatlah ke bawah, pemandangan lanskap bumi dari atas sini benar-benar teramat indah!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!