NovelToon NovelToon
SANTET PRING SEDAPUR: Kaurebut Suamiku, Kurenggut Nyawamu

SANTET PRING SEDAPUR: Kaurebut Suamiku, Kurenggut Nyawamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

Aryo Pradana adalah seorang pengusaha sukses, namun sayang berada di puncak pencapaian dengan bergelimang harta tak lantas membuatnya jadi suami bersyukur. Ia memilih mengkhianati Sekar—istri setianya yang berasal dari garis keturunan dukun terkuat di sebuah desa terpencil asal Banyuwangi.

Demi ambisi dan gairah, Aryo menikah siri dengan Maya, gadis kota, muda, namun ambisius. Alih-alih meratap dan menangisi nasibnya, Sekar yang mengetahui pengkhianatan ini justru memilih mundur dengan keheningan yang mematikan.

​Ketika Maya mulai mengandung anak Aryo dan menuntut posisi sebagai istri sah satu-satunya, teror gaib yang legendaris, Santet Pring Sedapur, mulai dikirimkan.

Di balik keputusasaan Aryo untuk menyelamatkan istri mudanya, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menyerahkan kembali jiwanya pada Sekar—atau mati bersama seluruh keturunannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 - Boneka

​Keputusan Aryo membawa Maya pulang dari rumah sakit diambil secara tergesa-gesa pada hari ketiga perawatan. Menolak saran tim dokter yang menganggap tindakannya sebagai bentuk kelalaian medis, Aryo membayar seluruh tagihan perawatan dengan satu gesekan kartu kredit tanpa memedulikan tatapan heran para perawat.

Di dalam mobil sedan mewahnya yang melaju kembali menuju rumah mewahnya, Maya hanya bisa meringkuk diam di kursi penumpang, berselimut tebal dengan pandangan mata yang kosong menatap kaca jendela berembun.

​Bagi Aryo, membiarkan Maya terbaring di rumah sakit yang steril justru terasa lebih berbahaya. Di sana, mereka terisolasi di bawah lampu neon yang asing. Sementara di rumah, setidakya Aryo memiliki kendali atas privasinya.

Namun, begitu roda mobil melintasi gerbang besi tempa dan berhenti di pelataran rumah baru tersebut, atmosfer mencekam yang familier langsung menyambut mereka. Rumah mewah itu tidak lagi terasa seperti sebuah pencapaian sukses, melainkan sebuah makam megah yang menanti penghuninya.

​"Kita sudah sampai, Sayang," bisik Aryo lembut sambil memapah tubuh Maya yang terasa sangat ringan, seolah-olah seluruh daging dan energinya telah dihisap habis oleh janin di dalam rahimnya.

​Maya tidak menyahut. Ia berjalan dengan langkah terseret, dipandu oleh Aryo menaiki anak tangga marmer teras.

Bekas guratan gosong menyerupai tiga ujung jari manusia yang terbakar pada daun pintu jati depan masih ada di sana, meski Aryo telah menyuruh pelayannya menggosok dengan cairan pembersih terbaik. Noda hitam itu menolak hilang, justru mengeluarkan bau apak samar yang konstan.

​Sesampainya di kamar tidur utama lantai dua, Aryo perlahan merebahkan tubuh Maya di atas ranjang. Tubuh wanita muda itu langsung gemetar begitu kulitnya bersentuhan dengan sprei sutra marun mereka.

​"Dingin, Mas ... di sini dingin sekali," keluh Maya, giginya bergemeletuk meskipun pendingin ruangan telah dimatikan sepenuhnya oleh Aryo.

​"Tunggu sebentar, aku ambilkan minyak penghangat dan selimut tambahan di lemari bawah," kata Aryo, mencoba menenangkan.

"Tidak. Jangan pergi, Mas. Aku tidak mau sendirian." Maya mencegah tangan suaminya.

"Tidak apa-apa, May. Mas hanya sebentar."

​Namun, baru saja Aryo hendak membalikkan badan, penciumannya mendadak menangkap sesuatu yang sangat mengganggu. Bau anyir bunga kantil layu yang sempat menghilang selama mereka di rumah sakit, kini kembali menyeruak dengan intensitas yang berkali-kali lipat lebih kuat.

Kali ini, bau itu tidak datang dari lubang AC atau dari balik gorden jendela, melainkan menguar kuat tepat dari arah bawah ranjang tempat Maya berbaring.

​Bau itu begitu tajam, busuk, dan lembap, seolah-olah ada bangkai mahluk besar yang telah membusuk berminggu-minggu di dalam kamar tidur mereka.

​Maya ikut mengendus udara, dan detik berikutnya, matanya membelalak lebar penuh ketakutan.

"Bau ini ... Mas! Baunya datang dari bawah kasur! Pasti ada sesuatu di bawah sana!" jerit Maya histeris, langsung merangkak mundur hingga punggungnya menempel rapat pada headboard ranjang.

​Aryo merasakan jantungnya berdegup kencang bagai tabuhan genderang perang. Amarahnya memuncak bercampur dengan rasa ngeri yang teramat sangat.

Ia tidak bisa terus-menerus hidup dalam ketakutan di rumah yang ia beli dengan uangnya sendiri.

Dengan rahang yang mengatup rapat, Aryo memantapkan kakinya. Ia berlutut di atas karpet wol Persia, melongokkan kepalanya, dan menyapu pandangan ke kegelapan di bawah kolong ranjang tiang empat tersebut.

​Awalnya, ia tidak melihat apa-apa selain bayangan hitam yang pekat. Aryo merogoh saku celananya, menyalakan lampu senter dari ponselnya. Berkas cahaya putih melesat membelah kegelapan kolong kasur.

​Di tengah-tengah kolong, tepat di bawah posisi tubuh Maya biasanya tidur, terdapat sebuah gundukan kecil yang tidak wajar.

​Aryo merangkak sedikit masuk, mengabaikan bau busuk yang kian menusuk paru-parunya hingga membuatnya mual. Tangannya terulur, meraih benda yang berada di atas gundukan tersebut.

Begitu jemarinya menyentuh material benda itu, rasa dingin yang luar biasa menyerupai es langsung merambat naik melalui saraf lengannya, membuat tangan Aryo gemetar.

​Ia menarik benda itu keluar ke bawah pendar cahaya lampu kamar yang benderang.

​"Astaga ...," ucap Aryo, wajahnya seketika pucat pasi.

​Di atas lantai marmer, kini tergeletak sebuah media sihir hitam yang sangat mengerikan. Benda itu adalah sebuah boneka yang dirajut kasar dari serat-serat pohon pisang yang sudah kering dan menghitam.

Ukurannya sebesar bayi prematur. Bagian seluruh tubuh boneka itu dililit erat oleh jalinan helaian rambut manusia yang sangat panjang—rambut hitam lebat yang persis sama dengan yang dimuntahkan Maya malam itu.

​Yang membuat bulu kuduk berdiri, boneka serat pisang itu diletakkan di atas seonggok tanah merah basah yang tampaknya sengaja dibawa dari tanah kuburan atau hutan rimba.

Di bagian perut boneka yang sengaja dibuat membuncit menyerupai wanita hamil, tertancap sebilah keris kecil tanpa hulu yang karatan dan tiga buah paku bumi yang melesak sedalam lima sentimeter ke dalam rajutan serat pohon pisang.

Dari sela-sela tusukan paku tersebut, merembes keluar cairan kental berwarna hitam kemerahan yang menjadi sumber dari segala bau busuk di dalam kamar.

​"Itu ... itu aku, Mas ..," ratap Maya yang melihat benda itu dari atas ranjang.

Suaranya melengking pecah, air matanya tumpah ruah.

"Perempuan itu ... Sekar ... dia menanam mayatku di bawah tempat tidurku sendiri! Buang benda itu, Mas! Buang!"

​Aryo berdiri dengan tubuh gemetar hebat. Kemarahan menguasai logikanya. Ia meraih selembar kain sisa gorden, membungkus boneka jahanam itu bersama tanah merahnya, lalu bergegas membawanya turun ke halaman belakang rumah.

​Di atas pelataran semen dekat kolam renang, Aryo melemparkan bungkusan boneka itu. Ia mengambil sebotol minyak tanah dari gudang, menyiramkannya hingga basah kuyup, lalu menyalakan korek api.

​Wusss!

​Api berkobar besar, melalap kain bungkusan dan boneka serat pisang di dalamnya. Namun, ada hal ganjil yang terjadi.

Biasanya, serat pohon pisang kering akan hangus terbakar dalam hitungan detik. Akan tetapi, boneka ini menolak untuk terbakar dengan mudah. Api yang melilitnya justru berwarna kebiruan, dan dari dalam kobaran api, terdengar suara desisan halus seperti daging segar yang sedang dipanggang, mengeluarkan asap hitam pekat yang baunya sangat anyir.

​Di tengah kepulan asap hitam itu, telinga Aryo mendengar suara pekikan halus seorang wanita yang sedang menertawakannya dari kejauhan—suara tawa yang sangat halus, anggun, namun penuh dengan racun kemenangan.

​“... perjanjian wis sah, Mas ... ora bakal bisa kobong ....”

​Suara bisikan itu berembus bersama angin malam, memadamkan kobaran api secara mendadak, menyisakan boneka serat pisang yang hanya menghitam sedikit di bagian ujungnya, namun tetap utuh sempurna di atas tanah.

Paku-paku berkarat di perutnya justru tampak berkilau kemerahan, memantulkan sisa cahaya malam yang dingin.

​Aryo jatuh terduduk di atas semen pekarangan, menatap boneka yang menolak hancur itu dengan tatapan kosong. Ia menyadari satu kenyataan pahit: membuang atau membakar medianya tidak akan pernah menghapus kutukan yang sudah telanjur merayap di dalam darah mereka.

1
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Siapa sebenarnya yang di gunung salak ini?
Seseorang yang bisa memutus santett Pring sedapur Ki demangkah ??
shafira 🥰
bagus banged... ceritanya sungguh menarik.seruuuuu.. karna aq juga tinggal di banyuwangi....
Buna: woah, ada tetangganya Sekar. 😄
terima kasih penilainnya, yaaaa. ❤
total 1 replies
shafira 🥰
lanjuttttttt.... thorrrr
shafira 🥰
lanjutttttt thorrrrrr.... seruuuuuu.... l
Buna: siap, kak. hari ini sudah 3 bab. insyaallah besok lanjut lagi. terima kasih sudah mampir, ya. ♥︎
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Aryo terlalu egois !!
Dia tidak mau "menjatuhkan" dirinya di hadapan Sekar.
tapi ....
pada akhirnya azab yang akan memaksa dia untuk "jatuh" ..... sejatuh jatuhnya
Shusand MaiTtimu
habis kan saja Thor,, si Aryo nya juga
dasar laki laki tidak tau diri
kinoy
ttp y mnt tanggungjwb Aryo sbg pelaku utama y
kinoy
Bnr2 DAh..keren ni crt
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Emang kemana tujuanmu sekarang, Aryo??

Rumah Sekar? atau
alas Purwo?
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻: Ngadi Ngadi authornya 😄
total 2 replies
kinoy
egois si Aryo..BKN y sadar
Mifta Afandi
orang kayak Aryo ma Maya moga GK ada yq nolongin
kinoy
ngeri y..adakah yg BS nolongin Aryo..ato EMG kudu metong
Inna Mirna AR
suka sama karyamu thor, serasa lagi nonton film horror
Buna: terima kasih, kak. selamat membaca. ♥︎
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
ibaratnya ....
Aryo yang berbuat
tapi Maya yang menanggung siksa jiwa dan raga atas ulah Aryo.

Aryo menderita dan hampir gila dengan menyaksikan semua penderitaan Maya yang terkena santett Pring Sedapurr
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Meski jangkar sudah diputus oleh Danu, tapi tetap saja tidak bisa menolong Maya .
Maya sudah hampir menjadi Pring/bambu yang kering dan mati .
kinoy
dah lah speechless AQ..nr x ni baca crt mistis tp penjelasannya runtut jls
kinoy
ah tmbh seru aj ni crt
kinoy
cerdik x tuh detektif
Buna
ya Allah, jauh amat typo-nya. dari sekarat ke sejarah 😆😆😆
kinoy
wah..mulai ancur2an ni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!