Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.
Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Malam harinya, deru mesin mobil mewah Regan berhenti di pelataran kediaman megah orang tuanya. Ia melangkah masuk melewati pintu utama tepat saat Farah baru saja berjalan turun dari lantai atas dengan anggun. Di area ruang makan, beberapa pelayan tampak sibuk lalu-lalang merapikan meja dan menyiapkan hidangan untuk makan malam.
"Tumben kamu pulang ke sini?" tanya Farah begitu melihat putra tunggalnya berdiri di lorong utama.
"Emang nggak boleh, Ma? Ini juga rumah aku," jawab Regan datar, melepas kancing teratas kemejanya yang terasa makin menyiksa napasnya.
"Kirain udah lupa," sindir Farah tipis, mengibaskan tangannya memberi isyarat pelan pada para pelayan agar menyelesaikan pekerjaan mereka.
Regan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang terasa lengang.
"Papa belum pulang, Ma?"
"Udah, itu..." jawab Farah seraya menunjuk ke arah tangga.
Gani ampak melangkah turun dari lantai atas dengan pakaian santainya. Langkahnya terhenti sejenak begitu menyadari keberadaan Regan di sana.
"Ada apa?" tanya Gani langsung, nadanya berat dan penuh wibawa.
Regan menatap kedua orang tuanya secara bergantian dengan tatapan tajam dan serius. "Ada yang mau aku bicarain sama Mama sama Papa."
Suasana di ruangan itu mendadak hening dan terasa tegang. Farah yang dapat menangkap keseriusan di raut wajah putranya langsung memotong sebelum perdebatan dimulai.
"Kita makan malam dulu aja," potong Farah tenang sambil mengarahkan tangannya ke meja makan yang sudah tertata rapi.
"Baru ngomong."
Regan mengepalkan tangannya di balik saku celana, lalu mengembuskan napas berat. Walau dadanya bergemuruh, ia mengangguk pelan. Momen ini harus ia jalani dengan kepala dingin agar maksud utamanya tidak kandas begitu saja.
"Baik, kita makan dulu," sahut Regan pendek.
Mereka bertiga bergeser ke meja makan panjang berukir mewah tersebut. Para pelayan dengan sigap menyajikan hidangan hangat sebelum mengundurkan diri dengan tundukan penuh hormat. Berbeda dari biasa saat emosinya membumbung tinggi, Regan kali ini tetap makan dengan tenang dan memakan hidangannya hingga usai, membiarkan suasana makan malam berlalu dalam keheningan yang dingin.
Setelah makan malam usai, mereka bertiga berpindah ke ruang tamu. Gani dan Farah duduk bersisian di sofa kulit mahal, sementara Regan memilih duduk berseberangan, menatap kedua orang tuanya dengan raut wajah yang begitu serius.
Gani menyandarkan punggungnya, menatap putra tunggalnya dengan alis bertaut. "Jadi, ada hal penting apa sampai kamu bela-belain pulang malam-malam begini, Regan?"
Farah melipat kedua tangannya di dada, ikut menatap heran pada perubahan sikap putranya. Keduanya sama sekali belum menebak arah pembicaraan ini.
Regan menegakkan posisi duduknya. Ia menatap lurus tepat ke arah mata papanya, lalu beralih ke mamanya dengan nada suara yang penuh penekanan.
"Aku ke sini cuma mau minta satu hal," ujar Regan tegas.
"Tarik semua orang Papa yang selama ini Papa suruh buat ngawasin Arin... dan cucu kalian."
Farah memiringkan kepalanya sedikit, menatap Regan dengan dahi berkerut bingung.
"Ngawasin gimana? Mama sama sekali nggak ngerti maksud kamu apa, Regan," ucap Farah dengan raut wajah heran.
Gani ikut menyela, menatap putranya tenang. "Iya, lagian kamu ini... Papa juga udah biarin kamu pergi dari kantor buat ketemu Arin dan Zayyan, kan? Papa nggak pernah larang kamu."
Regan tertawa hambar, menatap kedua orang tuanya dengan tatapan tak percaya dan penuh kekecewaan.
"Mama kan dalang di balik Arin pergi sembilan tahun lalu! Mama yang ngancam dia!" tekan Regan dengan suara bergetar menahan emosi. "Mama tahu nggak, dia itu istri aku, Ma! Dan sekarang setelah aku ketemu dia lagi, Mama mau ngusir dia lagi?"
"Maksud kamu apa, Regan?!" potong Gani keras, raut wajahnya mengeras tersinggung.
"Jangan fitnah Mama kamu seperti itu!"
"Aku cuma bilang kenyataannya, Pah!" balas Regan tak mau kalah, matanya menatap tajam sang papa.
"Stop! Ini nggak benar!" potong Farah tegas, suaranya mulai bergetar.
"Mama nggak pernah ada niatan buat larang kamu dekat sama siapa pun. Mama nggak pernah tahu dulu kamu punya istri, dan tiba-tiba sekarang kamu bilang Mama yang usir istri kamu? Kan nggak masuk akal!"
Farah menarik napas panjang, mengusap dadanya yang naik-turun sebelum melanjutkan dengan jujur.
"Oke, kalau soal memata-matai... iya, benar Mama memata-matai mereka," aku Farah pelan.
"Tapi Mama cuma mau mereka aman, Regan. Mama juga kangen lihat cucu Mama... Makanya Mama pasang orang buat ngawasin. Mama cuma belum siap buat ketemu langsung sama cucu Mama..."
Regan terpaku di tempatnya. Kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut mamanya menghantam kesadarannya bagai petir di siang bolong. Matanya menatap Farah dengan tatapan tak percaya, mencoba mencari kebohongan di sana, namun raut wajah sang mama hanya memancarkan kejujuran dan rasa bersalah.
"Belum siap?" bisik Regan, suaranya mendadak serak.
"Jadi... selama ini Mama nggak pernah usir Arin?"
"Demi Tuhan, Regan! Mama bahkan baru tahu kamu punya anak setelah kamu keluyuran nggak jelas beberapa bulan lalu!" potong Farah dengan suara meninggi, matanya mulai berkaca-kaca.
"Dulu kamu cuma bilang mau pergi dari rumah, kamu nggak pernah cerita kalau kamu udah nikah diam-diam sama wanita itu! Gimana bisa Mama ngusir orang yang keberadaannya aja Mama nggak tahu?!"
Gani menghela napas berat, menepuk bahu istrinya pelan untuk menenangkan, lalu menatap Regan dengan pandangan menusuk.
"Kamu denger sendiri, kan?" tegur Gani tegas.
"Selama sembilan tahun ini kamu nyalahin Mama kamu atas kehancuran rumah tangga kamu sendiri? Kamu lempar semua kesalahan ke orang tua kamu cuma buat menutupi ketidakmampuan kamu menjaganya?"
Pernyataan Gani menghantam dada Regan begitu telak. Tubuh pria itu meragid. Bayangan sembilan tahun lalu mendadak berputar kembali di kepalanya saat Arin tiba-tiba menghilang tanpa meninggalkan surat perpisahan dan tanpa penjelasan yang jelas. Selama ini, asumsi terbiasa dan prasangkanya langsung mengarah pada sang mama, mengingat betapa ketatnya Farah dalam urusan pasangan hidupnya dulu.
Ia selalu mengira mamanya yang memberi tekanan hingga Arin melarikan diri. Namun kenyataannya...
"Kalau bukan Mama..." Regan memegang pelipisnya yang mendadak berdenyut hebat.
"Kenapa Arin bilang... kenapa dia begitu takut sama keluarga ini?"
Farah menyapu air mata di sudut matanya, lalu menatap Regan dalam-dalam. "Mama nggak tahu apa yang ada di pikiran Arin, Regan. Tapi yang pasti, orang-orang yang Mama suruh ikuti dia dari jauh itu murni buat memastikan dia dan Zayyan nggak kekurangan atau dalam bahaya. Mama cuma mau memastikan cucu Mama tumbuh dengan baik, meskipun Mama belum punya keberanian buat berdiri di depan anak itu."
"Tapi Arin bilang... dia nggak mau kembali sama aku karena dia takut sama keluarga ini," gumam Regan lirih, suaranya sarat akan kebingungan yang makin menumpuk. Ia menatap kedua orang tuanya bergantian.
"Dia sangat yakin kalau Mama dan Papa nggak akan pernah bisa terima dia dan Zayyan."
Gani melipat kedua tangannya di depan dada, dadanya mengembang menahan napas panjang. Sorot matanya yang tajam kini dipenuhi ketegasan seorang kepala keluarga yang mencium adanya ketidakberesan.
"Kalau begitu ada yang nggak beres," ucap Gani tegas, suaranya berat dan penuh wibawa.
"Pasti ada pihak lain yang bermain di balik semua ini dan memanfaatkan nama keluarga kita."
Gani berdiri dari duduknya, menatap Regan lurus-lurus. "Biar Papa yang selidiki masalah ini sampai tuntas. Papa akan suruh orang-orang kepercayaanku buat melacak siapa yang pernah menemui atau mengancam Arin sebelum dia pergi. Papa nggak akan biarkan nama keluarga kita dipakai buat merusak hidup kamu."
Farah mendadak menutup mulutnya dengan sebelah tangan, matanya membelalak lebar seolah baru saja teringat sesuatu yang sangat krusial.
"Jangan-jangan..." bisik Farah dengan suara bergetar, menatap suami dan anaknya bergantian.