Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.
Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.
Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.
Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?
Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13.
Sebuah mobil polisi terparkir di depan pagar rumah. Kehadiran kendaraan itu cukup membuat suasana di sekitarnya seketika berubah mencekam.
Dua orang petugas polisi wanita keluar dari dalam mobil, bertepatan dengan Ayah Bastian, Mami Mia, Zeya, Daniel, serta dua utusan Pak Kades yang baru saja melangkah keluar dari kediaman Dr. Rangga.
Ayah Bastian menghentikan langkahnya, saat kedua petugas tersebut berjalan kian dekat.
"Kami siap menjalankan tugas, Pak," lapor salah seorang polisi wanita dengan sikap hormat.
Ayah Bastian menganggukkan kepala. "Silakan."
Kedua petugas polisi itu segera berjalan menuju ke pintu rumah. Langkahnya tegas memecah keheningan yang masih menyesakkan di dalam ruang tamu.
"Selamat siang," sapa salah satunya dengan sopan. "Kami datang untuk menindaklanjuti laporan yang telah dibuat oleh Pak Bastian."
Dr. Rangga dan Bu Safira menoleh bersamaan tanpa mampu menjawab sapaan kedua petugas tersebut. Lidah mereka terasa kelu, seakan setiap kata yang ingin keluar tersangkut di kerongkongan.
Pandangan kedua petugas itu lantas beralih kepada Maura. "Nona Maura, mohon ikut bersama kami ke kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan."
Kalimat itu terdengar tenang, tetapi bagaikan palu yang menghantam jantung mereka, terutama Maura.
Gadis yang sedari tadi berlagak angkuh itu seketika merasakan lututnya melemas. Kesombongan di wajahnya mulai retak lalu perlahan kehilangan warna. Matanya bergerak gelisah menatap sang ayah dengan pandangan memohon yang mendesak. Ia meraih lengan ayahnya dengan tangan gemetar.
"Papa..." Suara itu begitu lirih, kedua matanya mulai dipenuhi airmata.
Tak ada lagi senyum sinis, atau tatapan penuh kebencian. Yang tersisa hanyalah seorang gadis yang mulai menyadari bahwa setiap perbuatannya memiliki konsekuensi.
"Papa... tolong aku. Jangan biarkan mereka membawaku, Pa!" suaranya pecah, hilang sudah segala keangkuhan yang tadi ia tunjukkan.
Dr. Rangga memejamkan mata beberapa saat. Dadanya terasa sesak, tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Di hadapannya berdiri putri yang telah dia besarkan dengan penuh kasih sayang. Anak yang dulu selalu berlari memeluknya sepulang bekerja. Anak yang selalu dia banggakan.
Namun... anak itu juga telah mencoreng mukanya. Dan hari ini putrinya mengakui sendiri semua kesalahan yang sudah diperbuatnya.
"Papa..." Suara Maura kembali memohon. "Aku nggak mau dibawa polisi..."
Dr. Rangga membuka mata perlahan. Menatap Maura dengan sorot mata berkaca-kaca.
Sebagai seorang ayah, nalurinya ingin melindungi putrinya. Namun sebagai seseorang yang memahami arti benar dan salah -- membiarkan Maura lolos dari konsekuensi hanya akan menghancurkan masa depannya lebih jauh.
Pria itu memeluk Maura. Tangannya perlahan mengusap kepala putrinya lembut. "Maafkan Papa... Sayang. Papa sangat menyayangimu." Suaranya terdengar serak.
Airmata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Tapi kali ini... Papa nggak bisa membelamu."
Maura membeku. Matanya membelalak tak percaya, lalu dengan reflek melepaskan pelukan. Ia berharap pendengarannya tidak salah. "Papa..."
Dr. Rangga menelan ludah yang terasa begitu pahit. "Setiap kesalahan harus dipertanggungjawabkan, Nak."
"Kalau hari ini Papa menyelamatkanmu dari akibat perbuatanmu sendiri... berarti Papa telah gagal menjadi orang tua." Ditepuknya pundak putrinya pelan.
Airmata Maura akhirnya jatuh tanpa mampu dibendung. "Tapi... Pa?"
"Jalani semuanya. Anggap ini sebagai pelajaran paling berharga dalam hidupmu." Suara Dr. Rangga bergetar hebat. Tangannya perlahan terlepas dari pundak Maura.
Bukan karena tak ingin memegang putrinya. Melainkan karena takut dirinya akan berubah pikiran.
Bu Safira berdiri mematung tak jauh dari sana. Tubuhnya gemetar hebat, airmata terus mengalir tanpa henti. Di satu sisi, Maura adalah anak yang telah ia besarkan dan sayangi seperti anak kandungnya sendiri. Namun, di sisi lain, Zeya merupakan darah dagingnya yang selama ini terluka akibat ulah Maura.
Ia ingin sekali melangkah maju, memohon agar Maura dimaafkan. Namun, dirinya sadar betul betapa besar luka yang telah ditimbulkan Maura pada anak kandungnya sendiri. Ia tak berhak lagi meminta keringanan, meski hatinya terasa remuk redam melihat nasib anak tirinya itu.
Wanita yang seolah sedang berdiri di persimpangan jalan itu, hanya bisa menutup wajah dengan kedua tangan. Tak berdaya menahan segala rasa yang berkecamuk di dada.
Perlahan Bu Safira melepas kedua tangan dari wajahnya, lalu menoleh ke arah Maura yang kini benar-benar kehilangan nyalinya.
"Maafkan ibu..." gumamnya lirih disela isakannya. "...ibu nggak bisa berbuat apa-apa."
Untuk pertama kalinya sejak semua pengakuannya terungkap, Maura benar-benar merasa sendirian. Ia menatap bergantian wajah ayah dan ibu sambungnya, berharap masih ada salah seorang dari mereka yang akan berdiri di depannya dan menghentikan semua ini.
Namun, harapan itu perlahan runtuh, saat salah seorang polisi wanita melangkah mendekat.
"Nona Maura, mari ikut bersama kami." Suaranya tetap profesional meski sangat lembut.
Maura tak mencoba melawan, tetapi airmatanya jatuh berderai membasahi pipinya. Dengan langkah yang terasa begitu berat, ia mengikuti kedua petugas tersebut keluar dari rumah.
Sementara di luar rumah...
Ayah Bastian, Mami Mia, Daniel, dan Zeya berdiri dalam diam.
Tak seorang pun dari mereka mengucapkan sepatah kata. Mereka menatap ke arah pintu dan menyaksikan Maura keluar diapit oleh dua petugas polisi wanita. Langkah gadis itu terhenti saat berada di hadapan Zeya. Ia menatap saudara tirinya itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
Zeya balas memandang Maura dengan tatapan yang dipenuhi rasa kecewa. Tak ada kemenangan dalam tatapannya.
Tak ada pula kebencian. Yang ada hanyalah kesedihan mendalam karena seseorang yang pernah ia anggap saudara ternyata memilih memelihara kebencian terhadapnya selama bertahun-tahun.
Daniel mengembuskan napas panjang. Merangkul bahu sempit istrinya lebih erat.
"Semoga setelah ini... dia benar-benar berubah menjadi lebih baik," ucapnya penuh harap.
Mami Mia menyilangkan kedua tangan di dada.Tatapan matanya tetap dingin.
"Kadang seseorang memang harus jatuh lebih dulu sebelum akhirnya belajar berdiri dengan cara yang benar," ujarnya diplomatis.
Ayah Bastian tak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Rahangnya mengeras. Bukan karena puas melihat Maura dibawa pergi. Melainkan karena dirinya sadar, keputusannya ini pasti meninggalkan luka bagi banyak orang.
Kedua polisi wanita kemudian membuka pintu belakang mobil dinas. "Nona Maura, silakan masuk," ucapnya tegas.
Maura berhenti sesaat. Perlahan ia menoleh ke arah rumah. Pandangan matanya bertemu dengan ayah dan ibu sambungnya yang masih berdiri di ambang pintu.
Tangisnya kembali pecah. "Papa..." Suara itu lirih, nyaris tak terdengar.
Dr. Rangga hanya mampu menganggukkan kepala pelan. Meski airmata terus mengalir di wajahnya, dia memaksakan diri untuk tetap berdiri tegak. Seolah ingin mengatakan kepada Maura bahwa dirinya akan tetap menjadi putri kesayangan... tetapi bukan yang membenarkan kesalahan.
Dengan tubuh gemetar, Maura akhirnya masuk ke dalam mobil. Pintu ditutup perlahan. Hingga beberapa detik kemudian, mobil polisi itu mulai bergerak meninggalkan halaman rumah Dr. Rangga.
Semua orang hanya mampu memandangnya hingga kendaraan tersebut menghilang di ujung jalan. Tak ada tepuk-tangan. Karena hari itu, tidak ada yang benar-benar menjadi pemenang.
.emaknya datang😁