Gymora Sasami seorang mahasiswa yang terkenal akan kepintarannya, dia juga putri tunggal keluarga kaya.
Dia selalu dipuji dan dieluh-eluhkan di kampus.
Namun, citra yang sebelumnya sudah dibangun olehnya terancam dihancurkan oleh seorang Badboy kampus yang tidak sengaja memergoki dirinya digudang saat sedang memuaskan dirinya sendiri.
Pagi itu digudang, Draka Nilon mengambil alat yang ada ditangan Gymora, hal itu membuat Gymora yang akan mencapai titik kepuasannya terkejut.
"Aku tidak menyangka, seorang wanita cantik yang terkenal pintar dan jual mahal di kampus melakukan hal yang tidak terpuji seperti ini," sindir Draka.
Gymora langsung menutup tubuh bagian bawahnya.
"Draka aku mohon, jangan sebarkan video itu!" pinta Gymora.
Melihat Draka yang diam, Gymora terus memohon.
"Karena kamu terus memohon dan berlutut, baiklah kita buat kesepakatan. Kalau kamu ingin aku tidak menyebarkan videomu itu. Kamu harus melayaniku!"
Kedua bola mata Gymora membelalak, mengingat dia belum pernah melaku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21.
Walaupun Gymora menyuruhnya tetap tenang karena menghormati privasi.
Tapi ia teringat janjinya setelah merenggut kesucian Gymora waktu itu, Draka berjanji akan selalu terbuka?
Gymora berdiri di tepi pantai, pandangannya tertuju jauh ke cakrawala yang berbaur antara biru laut dan langit senja.
Angin lembut menggerakkan helai rambutnya yang terurai, seolah mencoba menghapus jejak air mata yang baru saja mengalir di pipinya.
Ia sengaja berjalan menjauh dari Draka, kekasihnya, agar tak terlihat lemah dan rapuh.
Beberapa hari lalu, ia baru saja menebar abu jenazah ayahnya ke laut yang sama ini.
Kini, dalam sunyinya, ia seperti melihat bayangan senyuman hangat sang ayah menyapa dari kejauhan, membelai jiwa yang tengah terluka.
Waktu berlalu tanpa terasa, sekitar tiga puluh menit kemudian, Draka perlahan mendekat.
Matanya menatap penuh perhatian, tanpa kata ia menyadari kesedihan yang coba disembunyikan Gymora.
Saat Draka berdiri di sampingnya, Gymora buru-buru mengusap air matanya dengan punggung tangan, berusaha menata wajah yang mulai berantakan oleh emosi.
Draka tahu, Gymora adalah gadis yang tidak mau menunjukkan kesedihannya. Dan ia tidak ingin menyulitkan Gymora.
Setelah itu Draka melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Gymora.
Gymora menoleh, walaupun hanya perlakuan sederhana.
Tapi hal itu mampu menembus ke dalam relung hatinya yang terdalam.
Belum ada orang yang memperlakukannya setulus ini selain ayahnya, bahkan Wiliam sendiri selama ini tidak pernah peduli padanya.
Pernah waktu itu, ia pergi mengunjungi nenek Willy atas permintaan Wiliam sendiri.
Setelah dari rumah nenek Willy dan bersiap pulang, tiba-tiba Wiliam mendapatkan telepon dari seseorang lalu menurunkan dirinya di pinggir jalan begitu saja, padahal waktu itu gerimis dan ia hanya mengenakan pakaian tipis.
Untungnya rumah nenek Willy komplek perumahan mewah kelas atas yang dijaga banyak satpam.
Jadi ia tidak perlu takut kalau sampai ada pria mesum yang menggodanya dan berbuat jahat padanya.
Saat akan memesan taxi online, hujan yang awalnya hanya gerimis tiba-tiba berubah deras.
Gymora kehujanan, untungnya ada satpam yang berpatroli menggunakan mobil.
Satpam itu membantunya memesan taxi online, karena ponselnya kemasukan air.
Setelah itu ia sakit selama berhari-hari. Tapi Wiliam tidak peduli, bahkan tidak menanyakan kabarnya apalagi menjenguknya.
Tiba-tiba lamunan Gymora buyar sesaat setelah mendengar ucapan Draka.
"Ayo masuk mobil, aku tahu kamu lapar!! Kita makan ayam Rhicese kesukaanmu dulu!" suara Draka mengalir hangat, penuh perhatian sekaligus penuh keyakinan.
Gymora menatapnya dengan ragu, bibirnya bergetar kecil, "Dari mana kamu tahu?" tanyanya lirih, suaranya masih berat oleh kesedihan yang belum sepenuhnya hilang.
"Kalau aku suka sekali dengan makanan itu," imbuhnya dengan suara bergetar, bahkan kedua bola matanya sedikit berkaca-kaca.
Tidak ada yang tahu makanan kesukaannya itu selain ayahnya.
Saat ayahnya gajian, ayahnya selalu mengajaknya ke kedai ayam Rhicese ini. Walaupun di kedai makanan unggulan mereka ayam pedas, tapi ayahnya selalu memesankan ayam bumbu madu.
"Maafkan ayah, hanya bisa membelikan ini untuk menyenangkan mu. Nanti kalau ayah naik pangkat, ayah pasti akan memberikan sesuatu yang berharga untuk mu." Kata ayahnya waktu itu seraya mengelus- elus pucuk kepalanya.
Mengingat hal itu Gymora sedih, walaupun awalnya ia tidak begitu menyukai ayam tepung itu. Tapi karena setiap bulan selalu makan disana selama bertahun-tahun lamanya.
Ia jadi terbiasa. Bahkan ayam Rhicese bumbu madu itu seperti mengingatkan dirinya tentang sosok ayahnya.
cerita nya seruuu👍