NovelToon NovelToon
BAKTI BUTA SUAMIKU

BAKTI BUTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.

​Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.

​Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.

​Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAKTI BUTA SUAMIKU

​Keheningan yang sejati akhirnya merayap masuk ke dalam rumah kontrakan itu setelah deru motor Bagas perlahan tenggelam ditelan bisingnya jalan raya. Adinda masih berdiri menyandarkan punggungnya di balik pintu tripleks.

Tangannya yang memegang knop pintu perlahan mengendur, terkulai lemas di sisi tubuhnya. Udara siang yang panas dan pengap di dalam ruangan itu kini terasa berbeda; tidak lagi menyesakkan atau membuat dadanya terhimpit beban, melainkan terasa begitu melegakan seolah jeruji besi tak kasat mata yang selama belasan tahun mengurungnya baru saja dipatahkan dengan paksa.

​Adinda berjalan perlahan menuju meja makan kayu. Ia menatap piring dan gelas kosong yang tadi pagi ia siapkan untuk suaminya,sebuah simbol perlawanan kecil yang ternyata menjadi pemicu ledakan besar siang ini. Dengan gerakan yang tenang dan tanpa emosi yang meluap-luap, Adinda membereskan piring-piring itu, mencucinya di bak cuci piring kecil di sudut dapur, lalu menyeka permukaan meja hingga bersih mengkilap.

​Pikirannya melayang pada ketakutan Bagas saat ia menantang pria itu untuk melayangkan tamparan tadi. Adinda tersenyum sinis sembari mengeringkan tangannya dengan kain lap usang. Laki-laki egois seperti Bagas rupanya hanya berani menggertak di balik kata-kata besar dan dalil agama, tetapi nyalinya langsung menciut hingga ke dasar bumi begitu dihadapkan pada konsekuensi hukum yang nyata serta ancaman kehancuran reputasi di depan bos besarnya.

​Setelah memastikan dapur dalam kondisi rapi, Adinda melangkah menuju kamar sekat tripleks. Hawa siang itu kian menyengat, membuat butir-butir keringat kembali membasahi pelipisnya. Ia berlutut di depan lemari pakaian kayu yang engselnya sudah agak longgar dan berderit tipis saat dibuka. Tangannya meraba tumpukan kain sarung di rak paling bawah, lalu menarik sebuah tas jinjing rajut berwarna kusam yang tadi pagi ia gunakan untuk menyembunyikan dokumen-dokumen penting.

​Ia membuka tas tersebut dengan hati-hati. Di dalamnya ada dua buah buku nikah berwarna merah dan hijau, akta kelahiran Dimas, Kartu Keluarga, serta buku agenda mika biru yang sangat berharga. Adinda membuka buku agenda itu, memandangi deretan angka bolpoin merah yang merinci kebohongan keuangan Bagas selama bertahun-tahun. Buku inilah yang akan menjadi senjata pamungkasnya di pengadilan nanti, bukti konkret bahwa suaminya tidak pernah menjalankan kewajiban memberi nafkah dengan benar dan justru memeras keringat istrinya sendiri demi gengsi yang kosong.

​Adinda memasukkan kembali dokumen-dokumen itu dengan tangan yang kini jauh lebih stabil. Ia tahu ia harus bergerak taktis. Meskipun Mas Danu sudah berjanji akan mengurus masalah hukum dari seberang kota, Adinda sadar ia tidak boleh pasif atau lengang sedikit pun. Ia harus mengamankan posisinya dan Dimas sebelum Bagas menyusun rencana lain bersama keluarga besarnya.

​Tepat pada pukul satu siang, di tengah terik matahari yang sedang puncaknya, suara ketukan pelan terdengar di pintu depan.

​Adinda sempat menegang sejenak, refleks tubuhnya masih menyimpan trauma lama, khawatir jika Bagas mendadak kembali lagi untuk melanjutkan keributan yang sempat tertunda. Namun, ketukan itu berpola tiga kali dengan ritme yang lembut ketukan yang sangat ia kenal sebagai tanda kepulangan putranya.

​"Ibu... Ini Dimas, Bu," suara setengah berbisik terdengar dari balik celah pintu.

​Adinda segera bangkit, menyembunyikan kembali tas rajutnya ke dalam lemari, lalu berjalan cepat untuk membuka pintu. Begitu selot pintu digeser, sosok Dimas yang masih mengenakan seragam putih-biru lengkap dengan tas ransel yang menggantung berat di satu bahunya berdiri di sana. Wajah remaja itu tampak kusam dan sedikit berminyak karena sengatan matahari siang, dan peluh membasahi dahinya yang bidang.

​"Lho, Dimas? Kok sudah pulang jam segini, Nak?" tanya Adinda, sedikit heran karena biasanya jam sekolah Dimas baru selesai pukul tiga sore lewat sedikit.

​Dimas melangkah masuk ke dalam rumah sembari menuntun sepedanya, memarkirkannya dengan rapi di sudut ruangan yang sempit. "Hari ini guru-guru ada rapat dinas mendadak untuk persiapan ujian kakak kelas, Bu, jadi murid-murid dipulangkan lebih awal. Ibu... Ibu ndak apa-apa, kan? Tadi... waktu Dimas lewat di gang depan, sempat ketemu beberapa tetangga. Katanya Abah pulang siang-siang tadi dan ada suara orang ribut-ribut dari arah rumah kita."

​Dimas menatap ibunya dengan tatapan mata yang dipenuhi kecemasan yang amat sangat. Matanya dengan cepat memindai seluruh tubuh Adinda, mencari tahu apakah ada bekas air mata yang disembunyikan atau yang paling ia takuti tanda-tanda kekerasan fisik yang menimpa ibunya akibat amarah Abahnya.

​Melihat kekhawatiran yang begitu besar di mata putranya, Adinda merasakan kehangatan yang menjalar dan menguatkan hatinya. Ia melangkah mendekat, mengusap rambut Dimas yang agak lepek karena keringat dengan lembut. "Ibu ndak apa-apa, Nak. Sama sekali ndak apa-apa. Abahmu memang pulang tadi siang, sengaja mau marah-marah dan cari masalah karena urusan sarapan yang kosong dan dia telat masuk kantor."

​"Terus, Abah bentak Ibu lagi? Abah main tangan atau merusak barang?" tanya Dimas, suaranya mendadak meninggi satu oktav. Tangan remajanya mengepal erat di sisi celana seragamnya, menahan rasa geram yang teramat sangat kepada sosok ayahnya sendiri.

​Adinda menggeleng kuat, sebuah senyuman menenangkan dan penuh keyakinan terukir di bibirnya. "Ndak, Dimas. Kali ini Abahmu ndak berkutik sama sekali. Ibu ndak tinggal diam lagi seperti biasanya. Ibu lawan semua ucapan Abah dengan tegas. Ibu katakan langsung ke wajahnya kalau hubungan rumah tangga ini sudah selesai, dan kita berdua akan pisah."

​Dimas tertegun mendengarnya. Sepasang matanya yang bulat melebar, menatap ibunya dengan pandangan tidak percaya sekaligus kelegaan yang luar biasa besar yang terpancar dari binar matanya. "Ibu... Ibu benar-benar mengatakan itu pada Abah? Ibu tidak sedang menghibur Dimas saja, kan?"

​"Iya, Nak. Ibu serius. Ibu sudah lelah hidup dalam kepalsuan dan ketindasan ini. Dan ucapanmu kemarin malam di dapur yang membuat mata Ibu benar-benar terbuka," ucap Adinda dengan ketulusan yang mendalam. "Ibu juga sudah menelepon Pakde Danu tadi pagi. Pakde dan Budemu Anik seratus persen merestui dan mendukung kita. Pakde yang akan bantu urus pengacara dan semua keperluan hukum kita dari luar kota."

​Mendengar penuturan ibunya yang begitu mantap, pertahanan Dimas yang selama ini ia bangun demi terlihat kuat di depan ibunya runtuh seketika. Remaja yang biasanya berusaha tampil tegap dan dewasa itu tiba-tiba menubruk tubuh ibunya, memeluk Adinda dengan sangat erat. Bahunya yang mulai melebar itu bergetar pelan, menahan tangis haru yang akhirnya pecah di pundak ibunya.

Selama bertahun-tahun, Dimas harus menyaksikan ibunya dihina, diperas tenaganya, dan ditindas tanpa bisa berbuat banyak karena statusnya yang masih anak-anak. Hari ini, melihat ibunya berdiri dengan kepala tegak dan mengambil keputusan yang sangat berani, Dimas merasa beban berat tak kasat mata di pundak kecilnya ikut melayang pergi.

​"Terima kasih, Bu... Terima kasih sudah berani ambil sikap," bisik Dimas di sela-sela tangisnya yang mulai mereda. "Dimas janji akan belajar lebih giat lagi. Dimas akan bantu Ibu cari uang buat katering kita. Kita pasti bisa hidup mandiri tanpa Abah."

​Adinda membalas pelukan putranya tidak kalah erat, mengusap punggung Dimas dengan penuh kasih sayang seorang ibu. "Iya, Nak. Kita pasti bisa. Sekarang, kamu ganti baju dulu dengan pakaian santai, terus makan siang. Ibu sudah siapkan lauk sisa katering tadi subuh di lemari makan. Masih bersih dan enak kok."

​Waktu bergeser perlahan menuju sore hari. Matahari yang tadinya garang kini mulai melunak, memancarkan sinar kekuningan yang menerobos masuk dari celah jendela depan. Suasana di dalam kontrakan sekat tripleks itu terasa jauh lebih damai dan tenteram daripada sore-sore biasanya. Biasanya, jam-jam seperti ini adalah waktu di mana Adinda mulai diliputi kecemasan, mengira-ngira suasana hati seperti apa yang akan dibawa Bagas saat pulang kerja nanti, atau bersiap menghadapi makian baru jika ada pelayanan rumah yang dianggap kurang memuaskan.

​Namun sore ini, ketakutan itu menguap sepenuhnya. Adinda tahu persis tabiat suaminya. Seperti yang sudah-sudah, setiap kali Bagas marah besar dengan istrinya atau lebih tepatnya, setiap kali egonya terluka karena tidak bisa mendominasi Adinda pria itu pasti lebih memilih untuk tidak pulang ke kontrakan. Bagas akan melarikan diri dan pulang ke rumah orang tuanya yang terletak di pinggiran kota lain.

​Di sana, di rumah orang tuanya, Bagas selalu bisa bertingkah layaknya korban yang teraniaya. Pria itu akan mengadu kepada ibunya, memutarbalikkan fakta, dan mencari perlindungan serta pembenaran atas segala sikap egoisnya.

Ibunya Bagas, yang memang selalu memanjakan anak laki-lakinya itu dan memandang rendah pekerjaan katering Adinda, pasti akan menyambut aduan itu dengan tangan terbuka, semakin memanaskan suasana dengan mencaci-maki Adinda sebagai istri yang tidak becus melayani suami. Adinda sudah sangat hapal pola menjijikkan itu. Bagas adalah pria dewasa yang mandiri di luar rumah, namun bermental anak kecil yang berlari ke ketiak ibunya setiap kali kalah berdebat.

​"Biarkan saja dia mengadu ke Mama nya," batin Adinda sembari menyeduh segelas teh hangat di dapur. "Justeru bagus kalau dia tidak pulang sore ini. Aku dan Dimas jadi punya waktu untuk bersiap tanpa ada gangguan darinya."

​Adinda membawa gelas tehnya ke meja makan. Di sana, Dimas sudah menunggu dengan pakaian santainya. Remaja itu sudah mengeluarkan buku agenda mika biru milik ibunya dari dalam tas rajut.

​"Bu, selagi Abah ndak ada dan pasti menginap di rumah nenek seperti biasanya kalau dia ngamuk, mari kita periksa lagi catatan ini," ajak Dimas sembari membuka halaman tengah buku agenda tersebut.

​Adinda duduk di samping putranya. Mereka memanfaatkan ketenangan sore itu untuk memeriksa kembali seluruh catatan keuangan yang terkumpul selama bertahun-tahun. Dengan teliti, mereka mencocokkan tanggal-tanggal di mana Bagas memaksa Adinda mencari pinjaman uang ke tetangga, ke koperasi katering, atau bahkan memotong uang modal belanja katering demi memenuhi kebutuhan gaya hidup pribadi Bagas yang tinggi.

​"Lihat ini, Dimas," tunjuk Adinda pada coretan bolpoin merah di bulan beberapa bulan lalu. "Ini waktu Abahmu memaksa Ibu mencairkan seluruh keuntungan katering bulan itu hanya untuk membayar servis berkala motor sportnya dan membeli sepatu kulit bermerek untuk acara kumpul-kumpul temannya. Padahal waktu itu, kita bahkan harus menunggak bayar uang sekolahmu selama dua minggu."

​Dimas memandangi tulisan tangan ibunya dengan rahang yang mengeras. "Semua ini akan jadi bukti yang sangat kuat di depan hakim nanti, Bu. Biar semua orang, termasuk keluarga besar Abah yang selalu membela dia, tahu kalau selama ini Ibu bukan cuma bertindak sebagai istri, tapi sebagai mesin uang yang diperas habis-habisan untuk menutupi gengsi kosong seorang Bagas."

​"Iya, Nak. Ibu sengaja mencatat setiap rupiah yang keluar untuk keperluan pribadi Abahmu, karena jauh di dalam lubuk hati Ibu, Ibu selalu tahu bahwa suatu hari nanti, catatan kecil ini akan menjadi jalan keluar kita. Ibu hanya tidak menyangka kalau hari itu datang secepat ini," ucap Adinda pelan, matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan yang sarat akan keteguhan hati.

​Saat mereka sedang asyik mencocokkan data keuangan, ponsel tua milik Adinda yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar dan berdering nyaring. Layarnya yang sedikit retak menampilkan nama kontak yang sangat berarti bagi mereka: Mas Danu.

​Adinda segera menggeser tombol hijau di layar ponselnya dan menempelkan benda itu ke telinganya. "Assalamualaikum, Mas Danu."

​"Waalaikumsalam, Din. Bagaimana situasinya sekarang di sana? Mas sengaja menelepon lagi sore ini karena kepikiran terus dengan kejadian siang tadi. Bagas ndak balik lagi untuk bikin keributan, kan?" suara Mas Danu di seberang sana terdengar penuh dengan nada protektif dan kecemasan seorang kakak kandung.

​Adinda tersenyum tipis, mendengar suara kakaknya membuat sisa-sisa ketegangan di hatinya runtuh. "Alhamdulillah aman, Mas. Mas Bagas ndak pulang sore ini. Seperti biasa, kalau dia habis kalah berdebat dan marah besar sama Dinda, dia pasti kabur dan memilih pulang ke rumah orang tuanya untuk mengadu ke ibunya."

​Terdengar dengus remeh dari Mas Danu di seberang telepon. "Laki-laki kekanak-kanakan. Sudah kepala tiga tapi kelakuannya masih seperti anak kecil yang lari ke ibunya setiap kali ketahuan salah. Tapi baguslah kalau dia ke sana, Din. Itu artinya kamu dan Dimas punya waktu malam ini untuk beristirahat dengan tenang tanpa perlu makan hati melihat mukanya."

​Mas Danu menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan dengan nada yang berubah menjadi lebih serius dan terstruktur. "Dengarkan Mas baik-baik, Din. Tadi siang, setelah kita selesai bicara, Mas langsung menghubungi salah satu rekan bisnis Mas di kotamu yang punya akses ke jaringan hukum. Mas sudah meminta rekomendasi dan langsung mengamankan jasa seorang pengacara spesialis hukum keluarga yang sangat berpengalaman. Namanya Pak Baskoro."

​Adinda agak terkejut mendengar kecepatan pergerakan kakaknya yang luar biasa. "Pak Baskoro, Mas? Mas Danu sudah bicara langsung dengan beliau?"

​"Sudah, Din. Mas sudah ceritakan garis besar masalah rumah tanggamu, dari soal dia yang tidak menafkahi dengan benar hingga masalah pemerasan ekonomi yang kamu alami. Pak Baskoro siap mendampingi kamu sepenuhnya. Besok pagi, Mas ingin kamu dan Dimas datang ke kantornya di pusat kota untuk konsultasi pertama dan mulai menyusun draf gugatan cerai."

​Rasa haru yang teramat besar kembali membuncah di dada Adinda, membuat tenggorokannya mendadak tercekat. "Mas... Dinda ndak tahu harus bilang terima kasih seperti apa lagi. Mas Danu dan Mbak Anik sudah keluar biaya dan tenaga banyak sekali buat Dinda."

​"Jangan pernah bicara soal biaya atau utang budi di depan Mas, Dinda. Kamu itu adik kandung Mas satu-satunya. Menjaga keselamatan serta kehormatanmu dan Dimas adalah tanggung jawab Mas sebagai pengganti almarhum Bapak. Mbak Anikmu juga tadi wanti-wanti pesan, katanya kamu harus tetap kuat dan jangan sampai goyah kalau nanti Bagas atau ibunya datang lagi dengan taktik menangis atau pura-pura meminta maaf. Ingat, itu cuma manipulasi untuk menarikmu kembali ke lingkaran setan mereka," tegas Mas Danu mengingatkan dengan wibawa yang mutlak.

​"Iya, Mas. Dinda janji ndak akan goyah lagi. Hati Dinda sudah benar-benar mati dan tertutup rapat untuk Mas Bagas," jawab Adinda dengan kelantangan suara yang mencerminkan keteguhan jiwanya saat ini.

​"Bagus. Besok setelah kamu selesai dari kantor Pak Baskoro, langsung hubungi Mas lagi ya. Mas mau tahu perkembangannya. Mas akan kirim alamat kantornya lewat SMS setelah ini. Jaga kesehatanmu dan Dimas. Assalamualaikum."

​"Waalaikumsalam, Mas Danu," Adinda menutup sambungan telepon dengan perasaan yang jauh lebih ringan dan lapang.

​Ia menoleh ke arah Dimas yang sejak tadi menyimak pembicaraan dengan mata yang berbinar penuh harapan. "Pakde Danu sudah siapkan jalan buat kita, Nak. Besok pagi-pagi sekali, kita berdua diminta datang ke kantor pengacara bernama Pak Baskoro di pusat kota untuk menyerahkan semua bukti pembukuan ini dan mengurus berkas gugatan."

​Dimas mengangguk dengan sangat mantap, seulas senyuman tipis namun penuh tekad terukir di wajah remajanya. "Dimas akan temani Ibu besok. Dimas siap lakukan apa saja agar kita bisa segera lepas dari Abah."

​Sinar matahari sore perlahan meredup, digantikan oleh semburat senja kemerahan yang tenang di langit pinggiran kota. Di dalam rumah kontrakan yang dulu penuh dengan air mata tersembunyi itu, kini hanya ada ketenangan yang mendalam. Langkah pertama menuju kebebasan sejati telah mereka jejakkan dengan pasti sore ini, dan tidak akan ada satu hal pun yang bisa memaksa mereka untuk mundur kembali.

1
Zhafran Althaf
mantap dindaaaa
Heni Setiyaningsih
bagus adinda 👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Zhafran Althaf
🤣🤣🤣🤣🤣
Heni Setiyaningsih
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Jetva
keren ceritax...semoga keren hingga akhir..aq suka perempuan yg mandiri dan tak takut suami dgn alasan surga ada pada suami....semangat Thor...
Jetva
istri Danu, Anik apa Anita, Thor..??🤔
blcak areng: iya kak aku keder sendiri 😄😄
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Anonim
BAGAS HALAL DARAH NYA... AYO BUNUH DIA
blcak areng: kak😁🤣🤣
total 1 replies
stela aza
q pingin nya si Bagas itu habis naik jabatan sebentar langsung khilaf trs di pecat jadi gembel biar g belagu trs sombong 🤭 ok Thor ❤️❤️❤️
Zhafran Althaf
hai kak aku mampirrrr😍😍😍
blcak areng: Hay juga kak Terima kasih 🙏
total 1 replies
stela aza
Thor ceritamu hampir mirip kaya kisahnya si abdi dan Disa ,,, yg lakinya manipulatif ,,, bodoh ,, belagu sombong trs so kaya kenyataan nya kere ,,, bergaya yg terlalu di paksakan 🤭
stela aza
rasain,,, syukurin ,,, bergaya tapi g mampu ,,, tinggal nunggu di pecat dr kantor biar jadi gembel ,,,, coba ibunya mau Nerima dia g ,,, kalau udh g kerja pasti bakalan di buang sama ibunya sendiri 🤦
Heni Setiyaningsih
💪💪💪 adinda
Lee Mba Young
bagus lanjutt
Lee Mba Young
bagus lah jng mau jd budak. anak sdh besar.
Heni Setiyaningsih
lbh baik lepaskan suami kyk gitu, hdup berdua dgn anak mu sj drpd dirong-rong terus sama suami pecundang
Heni Setiyaningsih
👍👍👍👍👍👍👍👍👍😍😍
Heni Setiyaningsih
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!