Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Dia memfokuskan pendengarannya hanya pada para bandar judi yang memakai seragam rompi hitam.
"Kita mulai dari mana, Nona Astiana."
Raka bertanya sambil menatap deretan meja permainan yang sangat padat.
"Kita cari meja rolet yang paling sepi dan memiliki batas taruhan paling tinggi."
Astiana menunjuk sebuah meja rolet di sudut ruangan yang dijaga oleh seorang bandar pria berwajah dingin.
Hanya ada dua orang pria paruh baya yang sedang duduk bermain di meja tersebut dengan wajah tegang.
"Selamat malam, apakah kami boleh ikut bergabung di meja ini."
Raka menyapa bandar itu sambil menarik dua kursi kosong untuknya dan Astiana.
"Silakan duduk, Tuan, batas taruhan minimum di meja ini adalah seratus juta rupiah."
Bandar itu menjawab dengan nada profesional sambil merapikan tumpukan koin cip di depannya.
Astiana tidak menjawab dan langsung meletakkan lima gepok uang seratus ribuan ke atas meja.
Brak.
"Tukarkan uang ini dengan cip bernilai seratus juta semua."
Astiana memberikan perintah singkat yang membuat dua pria paruh baya di sebelahnya menelan ludah.
Bandar itu mengangguk dan segera memberikan lima keping cip emas kepada Astiana.
"Silakan pasang taruhan Anda, Nona."
Bandar itu memutar roda rolet dengan tangan kanannya dan bersiap melempar bola besi putih kecil.
Astiana memusatkan pendengarannya menembus dahi bandar pria tersebut.
"Roda ini sudah aku atur kemiringannya dengan tombol rahasia di bawah meja."
Suara hati bandar itu terdengar sangat tenang dan licik di telinga Astiana.
"Bola ini pasti akan berhenti di angka warna hitam dua belas."
Astiana tersenyum tipis mendengar informasi gratis yang bocor dari pikiran curang bandar tersebut.
Dia mendorong kelima cip emasnya tepat ke atas angka dua belas berwarna hitam.
Srek.
Raka yang melihat hal itu hampir saja jantungan dan ingin menarik tangan Astiana.
"Kau gila, kenapa kau mempertaruhkan semua modal kita di satu angka spesifik."
Raka berbisik panik di telinga Astiana.
"Peluang menangnya cuma satu berbanding tiga puluh enam, kau pasti kalah."
"Diam dan lihat saja, Tuan Muda."
Astiana menjawab santai dan bersandar ke kursinya.
Bandar itu melempar bola putih kecil ke dalam roda yang berputar kencang.
Tuk tuk tuk.
Bola itu memantul berkali-kali menabrak sekat-sekat angka di dalam roda rolet.
Wajah bandar itu langsung berubah menjadi tegang saat melihat bola mulai melambat.
"Tunggu, kemiringan rodanya terasa sedikit berbeda dari yang aku atur."
Suara hati bandar itu mulai panik namun dia tidak bisa menghentikan putaran roda.
Klak.
Bola putih itu berhenti tepat di dalam kotak angka dua belas berwarna hitam.
Persis seperti yang direncanakan oleh kelicikan mesin itu sendiri yang berhasil dibaca oleh Astiana.
"Hitam, angka dua belas."
Bandar itu mengumumkan hasilnya dengan suara yang bergetar menahan kaget.
Kedua pria paruh baya di sebelah Astiana langsung memegang kepala mereka karena kalah taruhan.
"Mustahil, bagaimana gadis ini bisa menebak angka spesifik dengan tepat di putaran pertamanya."
Pikiran bandar itu berteriak tidak percaya saat dia harus membayarkan kemenangan Astiana.
Tiga puluh enam kali lipat dari lima ratus juta rupiah.
Bandar itu dengan tangan gemetar mendorong delapan belas miliar cip emas ke arah Astiana.
Srek srek.
Raka melongo menatap tumpukan cip emas yang menggunung di depan mereka hanya dalam waktu satu menit.
"Kau benar-benar monster perjudian, Nona Astiana."
Raka berbisik kagum dengan mata berbinar-binar melihat kekayaan instan tersebut.
"Ini baru pemanasan, Tuan Muda Raka."
Astiana mengambil seluruh cip emas bernilai delapan belas miliar itu.
"Mari kita pindah ke meja kartu Baccarat, aku ingin membuat manajer kasino ini turun gunung."
Astiana berdiri dan berjalan menuju area meja kartu yang dibatasi oleh tali pita merah.
Bandar rolet tadi langsung menekan tombol komunikasi rahasia di kerah bajunya.
"Lapor bos, ada seorang gadis muda yang menang delapan belas miliar di putaran pertama rolet."
Suara laporan bandar itu terdengar jelas di telinga Astiana yang sedang berjalan menjauh.
"Awasi dia terus, jangan sampai dia membawa kabur uang kita malam ini."
Terdengar suara balasan dari radio bandar tersebut.
Astiana tersenyum miring menyadari bahwa pancingannya sudah berhasil menarik perhatian hiu yang lebih besar.
Dia tiba di depan meja kartu Baccarat yang dijaga oleh seorang bandar wanita cantik berbaju merah.
Di meja itu, duduk seorang pria botak bertato yang sedang merokok cerutu dengan gaya arogan.
"Meja ini sudah penuh, pergilah cari meja recehan di tempat lain, anak kecil."
Pria botak itu mengusir Astiana dengan nada suara yang sangat merendahkan.
Astiana tidak mempedulikan usiran itu dan langsung meletakkan seluruh cip emasnya di atas meja.
Klotak klotak.
"Saya bertaruh delapan belas miliar untuk sisi Banker."
Astiana berbicara dengan suara lantang yang mengalahkan suara bising mesin slot di sekitarnya.
Semua orang di sekitar meja itu langsung terdiam kaku menatap tumpukan cip emas tersebut.
Pria botak itu hampir saja tersedak asap cerutunya sendiri.
Uhuk uhuk.
"Gila, gadis ini mau membuang uang delapan belas miliar dalam satu permainan kartu."
Suara hati pria botak itu langsung berubah dari sombong menjadi sangat ciut.
Bandar wanita berbaju merah itu menelan ludahnya dan melirik ke arah kamera CCTV di atas meja.
Dia menunggu instruksi dari ruang kendali sebelum membagikan kartu.
"Bagikan kartunya, pastikan kartu Banker kalah di putaran ini."
Suara instruksi manajer kasino terdengar dari earphone rahasia milik bandar wanita tersebut.
Namun sayangnya, Astiana juga mendengar instruksi curang itu dengan sangat jelas di dalam kepalanya.
"Silakan, Nona, taruhan sudah ditutup."
Bandar wanita itu mulai membagikan dua kartu tertutup untuk sisi Player dan dua kartu untuk sisi Banker.
Astiana menatap tangan bandar itu yang sedang menukar posisi kartu dari bawah tumpukan dengan gerakan kilat.
Sret.
"Tunggu."
Astiana tiba-tiba menggebrak meja dengan sangat keras membuat bandar wanita itu tersentak kaget.
Brak.
"Ada apa, Nona, permainannya sudah dimulai."
Bandar itu berusaha mempertahankan senyum palsunya yang terlihat mulai bergetar.
"Aku merubah pikiranku, aku memindahkan semua taruhanku ke sisi Player."
Astiana menarik seluruh cip emasnya dan mendorongnya ke kotak Player di detik terakhir.
"Tapi Nona, taruhan sudah ditutup, Anda tidak bisa merubahnya sekarang."
Bandar wanita itu mulai panik karena kartu yang dia bagikan sudah diatur agar Player yang menang.
"Kau belum membuka kartunya sama sekali, jadi aku berhak merubah taruhanku."
Astiana memberikan tatapan membunuh yang membuat nyali bandar wanita itu menciut seketika.
"Buka kartunya sekarang juga, atau aku akan melaporkan kasino ini atas tuduhan penipuan pengaturan kartu."
Bandar wanita itu tidak punya pilihan lain selain membuka kartu di atas meja dengan tangan gemetar.
Srek srek.
Kartu sisi Banker bernilai total tiga, sedangkan kartu sisi Player bernilai total delapan.
"Player menang."
Suara bandar wanita itu terdengar seperti orang yang sedang menangis.
Astiana baru saja memenangkan tiga puluh enam miliar rupiah tunai dalam waktu kurang dari lima menit.
Orang-orang yang berkerumun di sekitar meja langsung bersorak kegirangan melihat kekalahan telak pihak kasino.
Hooo.
Raka bertepuk tangan kencang sambil tertawa terbahak-bahak merasa sangat puas.
Di ruang kendali kamera keamanan, seorang pria berjas abu-abu membanting gelas minumannya ke lantai.
Prang.
Pria itu adalah manajer utama kasino Mutiara Laut.
"Gadis jalang itu pasti membawa alat pendeteksi curang, bawa dia ke ruang eksekusi sekarang juga."
Manajer itu berteriak marah melalui saluran radio ke seluruh penjaga elit di lantai kasino.
Ratusan penjaga berjas putih langsung bergerak serentak mengepung meja Baccarat tempat Astiana berdiri.
Astiana menoleh ke arah Raka dan memberikan senyuman miring yang sangat dingin.
"Tuan Muda Raka, siapkan dirimu, pesta yang sesungguhnya baru saja akan dimulai."
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣