Abimana Rahardjo adalah putra pemilik sebuah pesantren dan merupakan penerus dari pondok pesantren milik keluarganya karena dia merupakan putra satu-satunya keluarga tersebut.
Sejak kecil dia telah di jodohkan dengan seorang gadis yang merupakan putri asuh keluarga Rahardjo yakni Kemala Putri Dewi yang merupakan putri sahabat kedua orangtuanya.
Kemala yang telah lama jadi yatim piatu sejak usia 10 tahun harus merelakan cita-citanya yang ingin jadi dokter karena sebuah balas budi.
Pernikahan karena dijodohkan itu benar-benar mencekik Kemala dikarenakan sang suami yang rupanya memilih poligami dengan perempuan yang telah lama ada dihati Abimana.
Hati Kemala hancur karena cinta suami yang tak kunjung dia dapatkan dan karena kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga mereka.
Hingga suatu hari, seorang pemuda mampu menggoyahkan hati Kemala.
Laki-laki yang dianggap urakan dan bertato layaknya preman.
simak kisahnya di Memeluk Bayangan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pergi
Lama, Kemala menatap amplop yang tadi diserahkan oleh Ummi Dewanti.
Dadanya begitu sesak.
Ada amarah dan kecewa disana yang tak bisa ia ungkapkan meski sangat ingin.
Dipandanginya lagi layar ponsel yang menampilkan pesan dari Sean.
Pesan yang mengajaknya untuk pergi bersama.
Tidak!
Kemala memang menyukai Sean, namun untuk bersama, rasanya ini belum saatnya.
Hatinya masih terlalu sakit.
Berkali-kali Kemala mengingkari jika dia membenci Abimana, namun nyatanya, ada cinta yang terselip diantara rasa benci itu.
Harusnya dia tidak mengkhianati suaminya.
Harusnya dia lebih sabar lagi.
Namun, sisinya sebagai perempuan lemah yang haus akan kasih sayang justru lebih mendominasi.
Dengan tenang, Kemala membalas pesan itu.
Dia menolak ikut dengan Sean dan setelahnya, Kemala memblokir nomor laki-laki itu.
Sean berhak mendapatkan yang jauh lebih baik darinya.
Ketukan di pintu mengalihkan perhatian Kemala.
Dengan langkah berat, Kemala menuju pintu.
Darahnya berdesir.
Ada Abimana di sana, berdiri dengan wajah dingin.
"Mas...?"
"Saya, hanya ingin menyerahkan ini... Surat dari pengadilan yang akan memutuskan sidang pertama kita" ujar Abimana menyerahkan amplop putih berlogo pengadilan agama.
Hati Kemala makin teriris sakit.
Segitu cepatnya surat ini datang dan diantar langsung oleh Abimana.
Kemala jadi bingung, apa dia harus tertawa atau menangis.
Suaminya sudah tak sabaran ingin mengusirnya dari sini.
"Baiklah... Terima kasih sudah mau repot mengantar langsung" sahut Kemala menerima surat tersebut.
Abimana masih berdiri disana seperti menunggu sesuatu.
"Apa ada yang ingin mas katakan lagi?" tanya Kemala akhirnya.
Tatapan Abimana sungguh tak bisa dibaca oleh Kemala.
Tapi kali ini, ada yang berbeda dari mata laki-laki yang menemaninya selama beberapa bulan ini.
"Saya hanya ingin tahu, kenapa kamu melakukan hal itu? Apa kurang nafkah yang saya berikan selama ini?" akhirnya kalimat itu keluar juga dari bibir Abimana.
"Ini bukan soal nafkah mas... Ini masalah harga diri. Harga diri seorang istri yang bahkan tak pernah dihargai kehadirannya oleh suaminya sendiri... Saya bagai perempuan janda tapi masih berstatus istri dari seseorang yang bahkan tak pernah menatap kearah saya...." suara Kemala terasa asing dan berat ditelinga Abimana.
Ponsel Abimana berdering.
Kemala bisa melihat dilayarnya.
Nama Kirana muncul dengan emoji love.
Dada Kemala semakin sesak.
"Pergilah... Temui istri tercintamu. Jangan sampai dia menangis dan membahayakan kandungannya. Saya tidak ingin disalahkan lagi..." ucap Kemala yang langsung menutup pintu rumahnya.
Tak lama, terdengar pagar yang dibuka.
Abimana berjalan sedikit tergesa sembari menjawab panggilan tersebut.
"Bahkan di saat-saat terakhir pun kamu tak menanyakan kabarku, mas..." bisik Kemala yang mengintip lewat jendela.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tok... tok.... tok...
Palu hakim diketuk tiga kali.
Putusan itu dibacakan dengan jelas dan lantang oleh hakim ketua.
Abimana ditemani oleh dua orang pengacara sementara Kemala, hanya pasrah menerimanya.
Abimana memberikan nafkah iddah yang dinilai cukup untuk hidup Kemala selama beberapa bulan kedepan.
Kemala melangkah dengan tenang keluar dari ruang sidang.
Tak menoleh kepada Abimana yang masih berdiri diambang pintu.
Saat berada didalam taksi, runtuh sudah pertahanan Kemala.
"Mbak...Anda baik-baik saja?" tanya supir taksi kepada Kemala.
"Ya pak... Maaf ya...." ucap Kemala.
Supir taksi tidak lagi bertanya.
"Abimana.." Abah menepuk bahu putranya, "Kini istri mu tinggal Kirana, dan Abah harap, kau bisa menjaga rumah tanggamu dan juga calon bayi kalian..." nasehatnya dengan suara lembut namun tegas.
"Iya Bah... Saya akan menjaga mereka..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kemala tiba disebuah rumah sederhana yang ia dapat dari salah satu akun sosmednya.
Rumah kontrakan itu tidaklah besar tapi setidaknya sudah cukup untuknya berteduh.
Koper-koper milik Kemala masih teronggok di pojok ruangan.
Kemala mengukir senyum di bibirnya.
Senyum yang terasa lega tapi juga menyakitkan.
"Tak apa Kemala... Kamu pasti bisa melewatinya..."
Kemala menatap lantai keramik yang mulai memudar warnanya.
"Pelan-pelan saja, tidak usah terburu-buru..." lirihnya.
Sementara itu, di rumah kediaman Abah dan Ummi sedang diliputi mendung.
"Abah... Ummi takut jika sesuatu yang buruk menimpanya..." isak Ummi, "Dia tidak pernah hidup jauh dari kita...."
Abah memeluk bahu istri tercintanya.
Berusaha menenangkan meski hatinya juga diliputi rasa cemas dan kegundahan.
"Dia sudah dewasa... Dan semoga, dimana pun dia berada, Abah berharap semoga Allah selalu melindunginya..." sahut Abah Adi mencova menguatkan istrinya dan tentu saja untuk dirinya sendiri.
Abimana yang berdiri diambang pintu penghubung ruang tangah dan ruang tamu hanya bisa terdiam.
Tangannya mengepal kuat disisi badannya.
"Kamu lebih memilih pergi bersama laki-laki itu dari pada tinggal disini Kemala..." batinnya.
"Mas... " suara Kirana berhasil mengalihkan perhatian Abimana.
"Kenapa sayang...? Apa ada yang sakit?" tanyanya setengah berlari kearah Kirana.
"Tidak.... Hanya saja, dedek bayinya mau ketemu terus... Tapi,,..." Kirana menggantung kalimatnya.
"Tapi apa? Bicaralah, mas akan mendengarkan"
Kirana meraih tangan Abimana dan meletakkannya telapak yang dingin itu dipipinya. Mengecupnya dengan hangat.
"Tapi, saya takut kalau kamu masih bersedih, makanya saya hanya bisa memendamnya dan mengatakan pada bayi kita agar memaklumi ayahnya yang sedang bersedih..."
Abimana membelai lembut kepala Kirana lalu mengecup keningnya.
"Maafkan mas sayang... Maaf karena masalah mas dengan Kemala, hingga tak sengaja mengabaikanmu.."
"Tidak apa mas.... saya paham..."
Abimana membawa Kirana dalam dekapan hangatnya seolah istrinya itu tidak boleh terluka sedikit pun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jika Kemala sedang berusaha bangkit, menata hidupnya kembali, berbeda dengan Sean.
Laki-laki itu justru uring-uringan karena mau berapa kalipun dia mencoba menghubungi nomor Kemala, tetap tidak tersambung.
Pesannya hanya menumpuk tanpa dibaca atau bahkan tak terkirim.
Sean melempar ponselnya ke atas kasur empuknya.
"Sean.. Are okey?" Deniz, sahabat sekaligus mentor Sean mengusik kegundahan hatinya.
"Den... Apa kamu pernah jatuh cinta?" tanya Sean dengan wajah seriusnya.
Deniz mengerutkan dahi.
Dan sedetik kemudian, laki-laki berambut gondrong itu tertawa terbahak-bahak.
Sean berdecak kesal karena di ledek demikian.
"Si*lan... Saya bertanya tamu kamu mengejek dengan tawamu yang jelek itu...!"
"Sorry... Saya hanya kaget, tak bermaksud meledekmu..." ucap Deniz disela-sela tawanya.
"So, who is she?" Deniz memasang wajah serius.
Sean menatapnya lama.
"Hanya perempuan biasa yang selalu murung..." ucapnya yanh terdengar seperti gumaman.
"Dari pesantren?" tebak Deniz
Sean mengangguk.
"Jika kamu menyukainya, maka kejarlah.. Kamu pasti bisa mendapatkannya seperti biasa..."
Sean menggeleng lemah, "Dia berbeda..."
"Apanya? Perempuan kan sama saja...Kamu hanya beri dia setumpuk uang atau hadiah-hadiah mewah, pasti mereka luluh..."
Sean tersenyum miring.
"Tidak akan mempan... Bahkan saat saya mengajaknya untuk pergi bersama-sama saja. dia menolak mentah-mentah... Dan sepertinya, dia memblokir nomor saya..." ucapnya menundukkan kepala.
Deniz menepuk bahu sahabatnya tanpa berkata apapun karena sebanyak apapun kalimat penenang yanh diucapkan takkan mampu menyembuhkan hati Sean yang sedang patah.
Mungkin semuanya hanya perlu waktu pikir Deniz
bersambung...